Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 26


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


"E-eh maaf maksudnya Aku, Aku gapapa," ujar Salma gugup.


Jaka melirik sekilas lalu kembali menatap jalanan dengan tatapan kosong. Sedangkan Salma memilih fokus menyetir.


Woy ada yang telfon!


Tiba-tiba terdengar suara panggilan masuk dari ponsel Jaka. Pria itu mulai merongoh saku celananya, "Papah?" gummannya sambil mengernyitkan keningnya heran ketika melihat layar ponselnya.


"Siapa?" tanya Salma yang masih fokus menyetir.


"Papah kamu telfon nih," jawab Jaka.


"Ya udah angkat," ujar Salma yang langsung di turuti oleh Jaka.


Call on.


"Hallo Assalammu'alaikum, Pah." sapa Jaka.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Salma mana? Papah telfon dia gak aktif, untung ada nomor kamu. Ya udah Papah langsung telfon kamu aja," ucap Pak Devan si seberang sana.


"Salma ada kok Pah, ini dia lagi nyetir. Kita mau berangkat kerja," jawab Jaka.


"Ya udah kamu tolong kasih handphonenya ke Salma dulu, Papah mau ngomong sama dia," pinta Pak Devan.


"Iyah bentar Pah."


"Papah mau ngomong sama kamu," ucap Jaka kepada Salma pelan.


Salma hanya mengangguk, Jaka mulai mendekatkan ponselnya ke telinga istrinya yang masih fokus menyetir.


"Assalamu'alaikum, Pah. Oma gimana kabarnya? Papah sama Mamah juga kapan pulang?" tanya Salma kepada Papahnya.


"Ya gitulah Nak, Oma kamu gak mau makan, gak mau minum obat. Malah mintanya yang aneh-aneh mulu," jawab Pak Devan.


"Ya ampun Oma, ya udah nanti pulang kerja Salma mampir ke sana. Oma mau minta apa Pah? Nanti sekalian Salma bawain," ujar Salma khawatir.


"Beneran? Oma mintanya yang aneh-aneh lho," tanya Pak Devan meyakinkan.


"Iyahlah Pah, pokoknya Oma mau apa-apa juga Salma bakal turutin. Apa sih yang gak buat Oma kesayangan Salma," ujar Salma.


"Tapi Oma mintanya cicit dari cucu kesayangannya. Emangnya kamu bakal mau nurutin permintaannya?" sahut Pak Devan sambil bertanya.


"Oh cuman cicit doang toh," ucap Salma yang belum nyadar.

__ADS_1


"APA?! CICIT?!" teriak Salma yang langsung mengerem secara mendadak.


Ckitt!


Dug!!


"Aww!"


"Kamu kenapa sih malah rem mendadak? Sakit tau," gerutu Jaka yang tidak di hiraukan oleh Salma.


'Omah ada-ada aja deh, bukannya minta mobil kek, rumah kek, uang kek pasti bakal aku kasih. Lah ini malah minta cicit, emangnya bikin anak itu gampang gitu. Kalau aku turutin juga mau bikin sama siapa coba? Masa sama si cowok kampung ini sih?' gerutu Salma dalam hati sambil menatap wajah Jaka kesal.


"Salma, hei! Kamu kenapa sih malah melamun," ucap Jaka sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Salma.


"Kenapa sih?" tanya Salma.


"Ini Papah nanyain kamu lagi," ujar Jaka yang ingin memberikan ponselnya.


"Udah matiin, bilangin aja nanti pulang kerja kita ke sana!" pinta Salma yang langsung di turuti oleh Jaka.


Setelah selesai menghubungi Papahnya. Salma pun kembali melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka. Salma yang sedang menyetir sedari tadi melamun saja memikirkan permintaan Omanya.


"Kamu kenapa sih abis telfonnan sama Papah malah jadi kayak gini? Dari tadi melamun terus. Emangnya Papah bilang apa?" tanya Jaka.


"Papah tadi bilang, katanya Oma sakit. Dia gak mau makan, gak mau minum obat. Malah minta yang aneh-aneh," jawab Salma.


"Ya tinggal di turutin aja biar Omanya mau makan sama minum obat," sahut Jaka.


"Tinggal di bikinin aja apa susahnya?" ujar Jaka santai.


"Lo pikir bikin anak itu gampang apa?!" gerutu Salma.


"Hmmm," gumman Jaka dingin.


Tak lama mobil yang di kemudi oleh Salma pun telah sampai di parkiran kantor. Jaka bergegas turun yang di ikuti oleh Salma. Namun sebelum turun Salma mengingatkan Jaka terlebih dahulu.


"Ingat yah, ini di kantor. Artinya kalau kamu hanya sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi, gak lebih!" tutur Salma.


"Hhmm," respon Jaka dingin dan langsung turun dari mobil begitu saja tanpa pamit.


"Jaka kenapa sih? Jadi aneh gitu, biasanya juga banyak omong lah ini jadi dingin. Apa dia marah yah karena gue udah gak ngomong aku kamu lagi?" pikir Salma heran.


"Auk ah."


Salma pun langsung bergegas turun dan langsung menyusul Jaka. Mereka berjalan berdampingan yang menjadi bahan perhatian para pegawai di sana.


"Eh itu kan Bu Salma sama sekretaris barunya, mereka kok bisa bareng sih? Kelihatan akrab juga lagi," ucap salah satu pegawai.


"Iyah, mereka serasi banget yah. Kayak pasutri," sahut pegawai lainnya.

__ADS_1


"Eh btw bukannya Bu Salma itu selalu gak mau yah punya sekretaris cowok? Kok kali ini dia mau sih, langsung deket juga lagi," ujarnya lagi.


"Ya mana bisa dia nolak, secara kan sekretarisnya ganteng begitu. Kalau saya di posisi Bu Salma, beh langsung di embat aja."


"Eh kalian tau gak, kemarin gue gak sengaja lihat. Sekretarisnya Bu Salma itu, ganteng-ganteng tapi pake motor butut. Gak malu apa, hahaha ..."


"Beneran?"


"Ekhem ... Ini kantor atau apaan sih? Mana ada karyawan nge gosipin Bosnya sendiri," sindir Salma sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Bukannya kerja malah ngurusin hidup orang! Atau sekalian aja kantor ini di ganti jadi PERUSAHAAN GOSIP KARYAWAN. Gitu yang kalian mau?" tegurnya sambil menatap tajam.


"Eng-enggak Bu, k-kita semua minta maaf. K-kita janji gak bakal ngulangin lagi," ucap pegawai yang ngegosipin sambil menunduk.


"Ingat yah, kalau sampai saya dengar kalian ngegosipin saya lagi. Saya gak akan segan-segan menyuruh kalian untuk angkat kaki dari sini. Sekarang kembali kerja yang bener! Jangan bisanya ngurusin hidup orang mulu!" tegas Salma.


"I-iyah Bu kalau gitu kita permisi dulu," ucap para pegawai tersebut langsung pergi begitu saja karena takut. Memang baru kali ini Salma semarah itu sama pegawainya, karena paling gak kalau ada yang nge gosipin dia cuek. Tapi kali ini gak tau kenapa dia bisa marah-marah begitu.


Salma yang merasa kesal langsung pergi menuju ruangan sambil marah-marah tidak jelas.


"Argghhh! Kenapa sih semuanya gak ada yang nyenengin?! Bikin gak mood aja!" gerutu Salma kesal sambil membantingkan tubuhnya di sofa setelah sampai di dalam ruangannya.


"Kamu teh kenapa sih marah-marah mulu?" tanya Jaka dingin.


"Gue tuh lagi kesel, udah pusing mikirin permintaan Oma, mikirin Lo, sekarang ada-ada aja karyawan gue malah nge gosip di depan gue sendiri. Emangnya bener Lo kemarin pake motor butut?" ujar Salma.


"Iyah, emangnya kenapa? Butut-butut juga berharga lho buat saya," jawab Jaka.


"Auk ah pusing gue. Sekarang ada meeting gak? Dan coba gue lihat berkas-berkas yang kemarin! Gimana pengembangan kantor ini?" Salma langsung mengalihkan pembicaraannya.


Karena sudah membahas soal pekerjaan, Jaka pun serius. Ia mulai mengecek jadwal Salma hari ini. Pria itu membawa berkas lalu kembali menghampiri Salma yang ada di sofa. Jaka menunjukkan berkasnya sambil menjelaskan. Walaupun Jaka cowok Kampung, tetapi ia mengerti akan soal pekerjaan kantor. Karena memang dulu ia sempat kuliah, namun karena di kampung susah cari kerjaan. Makannya Jaka hanya berkerja memeras susu sapi selama di kampung.


Kini wajah mereka sangat dekat, sedari tadi Salma tidak mendengarkan apa yang di jelaskan Jaka. Ia malah memperhatikan wajah tampan lelaki di hadapannya.


"Itu saja yang ingin saya jelaskan," ucap Jaka yang berniat ingin menjauh diri dari Salma. Namun tidak sengaja kakinya malah tersandung dengan kaki Salma yang membuat Jaka langsung terjatuh di atas tubuh wanita di hadapannya.


"Aww!"


Tatapan mereka saling beradu.


Deg-deg-deg!


'Aduh jantung gue kenapa yah? Kok kayak abis lari maraton gitu? Apa jangan-jangan gue sakit jantung? Wah gawat harus di periksa ini mah. Kalau gak yang ada gue bakal mati muda,' batin Salma sambil terus memandang wajah tampan suaminya.


Dag-dig-dug!


'Aduh ini jantung kenapa sih dag-dig-dug kayak gini? Ini lagi apa di bawah kayak kenyal-kenyal gitu,' Batin Jaka yang berniat ingin melihat benda kenyal yang berasa di bawah dadanya.


Cklek!

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Dan tampaklah seorang Pria tampan yang terdiam memaku melihat pasutri dadakan itu yang ia kira mereka sedang bermacam-macam.


>Bersambung.....


__ADS_2