Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 7


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Pagi hari Jaka pamit kepada Bu Sazkia dan Pak Devan untuk pulang ke kampungnya, ia berniat untuk mengambil barang yang ketinggalan sekalian ingin undurkan diri dari pekerjaannya di kampung.


"Mah, Pah Jaka izin pulang ke kampung, mau ambil barang-barang Jaka yang ketinggalan. Sekalian mau undurin diri dari pekerjaan di kampung, sekarang Jaka kan sudah tinggal di Jakarta. Jadi Jaka mau cari pekerjaan lagi aja di sini," ucap Jaka dengan sopan.


"Iyah, kamu ke kampung naik apa? Kalau mau pake mobil Papah aja," tawar Pak Devan.


"Makasih, tapi gak usah Pah. Jaka naik Bis aja," tolak Jaka dengan lembut.


"Daripada kamu naik bis ribet harus ke halte dulu mending pake mobil," ujar Pak Devan.


"Tapi masalahnya Jaka gak bisa bawa mobil Pah, hehehe," ucap Jaka sambil nyengir yang membuat Bu Sazkia yang dari tadi diam aja langsung menyenggol lengan suaminya.


"Ya udah terserah kamu, oh iyah ini ada uang buat ongkos," ucap Pak Devan sambil memberikan beberapa lembar uang bewarna merah.


Jaka yang melihat itu hanya tersenyum sambil berkata, "Ah terimakasih Pah, tapi maaf Jaka gak bisa terima itu. Jaka pake uang tabungan Jaka aja. Gak usah repot-repot," lagi-lagi Jaka menolaknya dengan halus.


"Udah terima aja, biar uang tabungan kamu simpan aja buat cadangan," ucap Pak Devan sambil mengoper alih uang yang ia pegang ke tangan Jaka.


"Makasih Pah, maaf Jaka jadi nyusahin," kata Jaka merasa tidak enak.


"Udah gapapa, eh sebelumnya kamu gak mau sarapan dulu?"


"Gak Pah nanti Jaka beli sarapan di jalan aja. Ya udah kalau gitu Mah, Pah Jaka berangkat dulu yah, Assalamu'alaikum!" pamit Jaka sambil menciumi punggung tangan mertuanya.


"Wa'alaikumsalam, oh iyah Jaka Salma mana?" tanya Bu Sazkia yang mengehentikan langkahnya.


"Tadi abis shalat subuh langsung tidur lagi Mah, katanya mumpung libur kerja. Jadi mau bermalas-malasan," jawab Jaka yang memang kebetulan Salma masih cuti dan hari ini adalah hari terakhir ia libur.


"Anak itu kebiasaan ..." ucap Bu Sazkia sambil geleng-geleng kepala, "Eh iyah tumben dia mau shalat. Biasanya kalau shalat subuh susah banget di bangunin. Kamu apain sampai dia mau bangun?" lanjutnya terheran-heran.


"Ya gitulah Mah," jawab Jaka sambil tersenyum.


"Gitu gimana?"


"Ya gitu di lembutin aja nanti juga bangun, Jaka berangkat sekarang yah Mah, Pah. Assalamu'alaikum," Jaka kembali berpamitan.


Jaka pun mulai melangkahkan kakinya menuju keluar rumah dan saat sampai di halaman rumah ia bertemu dengan Pak Mamat yang sedang menyapu halaman sambil bersenandung.


~Hayang Kawin win win win Hayang kawin.


Geus teu tahan mang tauntaun bubujangan.


Hayang Kawin win win win Hayang kawin.


Geus teu kuat beurang peuting duh ngajablay.

__ADS_1


Era ku tatangga, eujeung babaturan.


Loba nu nyeletuk, cenah kuring bujang galapuk .


Isin ku pa RT, isin ku pa RW,


Sering ngalelewe cenah teu payu ka awewe.


Hayang Kawin win win win


Hayang kawin euy.


Ha,e ... Tarik sissssss


~Digeboy geboy mujair


Nang ning nong, Nang ning nong ...


Pat gulipat, bangdung ding ser ...


Mustofa jadi nggak kuat


Mustofa tergila gila


Mustofa jatuh cinta sama seorang biduan ...


Digeboy geboy mujair


Nang ning nong, Nang ning nong ...


Jaka menghampiri Pak Mamat yang sedang nyanyi sambil berjoget-joget tidak jelas. Ia menepuk pundaknya pelan, namun karena kaget membuat Pak Mamat langsung melemparkan sapu yang sedang ia pegang ke atas.


"Eh kodok terbang! Kodok terbang!" latah Pak Mamat sambil melemparkan sapu lidi ke atas.


"Emangnya ada yah Pak ko--"


Ucapan Jaka terpotong karena tidak lama setelah sapu melayang ke atas tiba-tiba ia kembali terjatuh tepat di kepala Pak Mamat.


Dug!


"Aww!" teriak Pak Mamat yang langsung terjatuh.


"Pak, Bapak gapapa?" tanya Jaka sambil membantu Pak Mamat berdiri.


"Aduh den pagi-pagi udah bikin orang jantungan aja, untung saya gak punya riwayat penyakit jantung," dumel Pak Mamat sambil berusaha berdiri di bantu oleh Jaka.


"Ya maaf Pak, abisnya daritadi saya liat Bapak kenapa sih? Nyanyi sambil joget-joget gak jelas kayak gitu," sahut Jaka.


"Biasalah Den, efek jomblo ya gini. Eh ngomong-ngomong Aden mau kemana pagi-pagi udah rapi?" jawab Pak Mamat dan bertanya.


"Mau pulang ke kampung Pak, mau jemput Memet," jawab Jaka.

__ADS_1


"Ngapain di jemput Den, saya kan sudah ada di sini?" tanya Pak Mamat terkekeh.


"Maksud saya Memet Pak, nama Ayam saya yang di kampung," jelas Jaka.


"Oh kitu, kirain Mamat ternyata Memet toh. Abis nama Ayamnya hampir sama dengan nama saya den," kekeh Pak Mamat.


"Hehehe iyah Pak, kalau gitu saya pamit yah. Seperti yang tadi saya bilang mau jemput Memet sekalian mau bawa Ujang juga ke sini," ucap Jaka.


Pak Mamat mengerutkan keningnya heran, "Siapa lagi itu, Den?" tanyanya penasaran.


"Ujang itu nama motor saya," jawab Jaka.


"Wah namannya keren banget Den, pasti motornya juga keren," sahut Pak Mamat.


"Ya iyah dong Pak, makannya saya mau bawa dia ke sini karena itu adalah motor satu-satunya punya saya yang paling terkeren," ucap Jaka dengan sombongnya.


"Kalau gitu boleh dong nanti saya pinjem, biasa buat cari pasangan," ujar Pak Mamat sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya.


Jaka mengacungkan jempolnya, "Boleh dong, pasti manjur deh pake si Ujang untuk cari pasangan," ucapnya terkekeh.


Tidak lama bel pun berbunyi dan terlihatlah seorang wanita sekitar empat puluh tahunan yang sedang berdiri di depan gerbang.


"Permisi, Assalamu'alaikum!"


"Ahay ... Pucuk di cinta ulam pun tiba," ucap Pak Mamat sambil merapikan rambutnya bergaya dan bersiul-siul tidak jelas.


Ia mulai melangkahkan kaki meninggalkan Jaka yang masih terdiam di halaman rumah, Jaka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Wikwiw ... Eh ada bidadari cantik, ada keperluan apa pagi-pagi sekali ke sini? Pasti mau cari saya kan?" tanya Pak Mamat dengan pedenya.


"Sa--"


"Udah gak usah basa-basi, kamu gak bilang pun saya sudah tahu pasti kamu mau cari saya," belum selesai orang itu berbicara Pak Mamat sudah memotongnya dengan kepedean.


"Pak sifat pedenya buang dulu jauh-jauh deh, siapa tahu si Mbak nya ada hal penting yang mau di sampaikan atau apalah. Jadi jangan pede dulu, malu-maluin aja," ujar Jaka.


"Eh iyah perkenalkan saya Inez, saya adalah asinten rumah tangga baru di rumah ini," ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Jaka, namun dengan gercep Pak Mamat langsung menerima uluran tangannya.


"Mamat," sahut Pak Mamat yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Mbak Inez.


"Inez," balas Inez sambil mengencangkan genggamannya yang membuat Pak Mamat kesakitan.


"Eh kalau gitu saya berangkat sekarang yah Pak, Mbak," ucap Jaka sambil membungkukkan badannya, "Assalamu'alaikum."


"Wa-wa'alaikum ... salam Den, hati-hati," jawab Pak Mamat kesakitan karena kuku panjang Bi Inez dengan sengannya nancap di telapak tangan Pak Mamat.


"Wa'alaikumsalam," sahut Bu Inez sambil tersenyum ke arah Jaka.


Jaka membalas senyumannya dan setelah itu ia memilih untuk segera pergi karena benar-benar sudah kangen dengan Memet dan Ujang.


>Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2