Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 20


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


Sepanjang perjalanan Jaka menjadi bahan perhatian orang-orang karena penampilannya kantoran, tetapi ia masih aja pake motor butut. Jaka yang tidak mau ambil pusing tidak menghiraukannya. Ia masih fokus mengendarai motor bututnya sampai tidak sadar ternyata di depan ada razia.


"Ada apa tuh rame-rame?" gumman Jaka heran melihat banyak polisi dan pengendara lainnya di sana.


Ketika ingin melewati jalanan tersebut, tiba-tiba salah satu polisi tersebut menghentikannya.


"Pagi Pak, ada keperluan apa yah Pak?" tanya Jaka dengan polosnya.


"Kenapa Anda tidak memakai helm? Dan kenapa juga Anda memakai motor butut kayak gini?" polisi itu malah bertanya balik dengan tegas.


"Walau butut kayak gini juga Tapi ini sangat berharga bagi saya Pak. Tapi kalau masalah helm. Mmm, anu Pak ..."


"Anu apa?" tanya Pak polisi.


"Ketinggalan di kampung Pak, hehehe ..." jawab Jaka sambil nyengir seperti kuda.


"Alesan saja! Udah sekarang tunjukin SIM dan STNK nya!" ucap Pak polisi itu tegas.


"Anu ... Itu juga ketinggalan di kampung Pak, hehehe ..." sahut Jaka beralasan.


"Banyak alasan kamu! Kalau gitu kamu harus membayar denda, cepet bayar!" ujar Pak polisi tegas.


"Dompet saya juga ketinggalan lho Pak. Tuh di sini gak ada, di sini juga gak ada. Saya lupa membawanya," ucap Jaka sambil merogoh semua saku celananya yang ternyata benar tidak ada isinya.


"Haduh! Motor butut, gak pake helm, SIM dan STNK juga gak ada. Uang gak punya, penampilan aja gaya kayak orang kaya. Tapi nyatanya? Mmm, hadeh pusing ... pusing ..." oceh Pak polisi sambil memijit-mijit pelipisnya.


"Uang ada kok Pak, mau saya ambiliin dulu di kampung? Hmm kalau saya ambil dulu masalahnya sih pasti bakal lama, palingan besok deh saya sampai sininya. Bahkan kalau bisa saya gak bakal balik lagi ke sini," ujar Jaka polos.


"Hadeh, udah deh sekarang juga kamu push up 100 kali!" pinta Pak polisi.


"Gak kurang Pak?" tanya Jaka santai.


"200 kali!"


"Masih kurang itumah Pak."


"Hadeh, 90 kali!" ucap Pak polisi tanpa sadar.

__ADS_1


"Kurang banyak Pak."


"50 kali!"


"Itu juga masih kurang Pak!"


"500 kali!" ucap Pak polisi itu malah menaikkannya lagi.


"Duh kurangnya masih banyak banget Pak."


"Ya udah 5 kali! Cepet lakuin sekarang jangan nawar terus!" ucap Pak polisi masih tidak sadar.


"Asssiapp ... Pak," sahut Jaka sambil hormat dan langsung menuruti perintah dari Pak polisi.


"Satu ... Dua ... Tiga ... Empat ... Li ... Ma ... Udah Pak!"


"Kenapa cuman lima?" tanya Pak polisi heran.


"Tadi kan permintaan terakhir Bapak lima, coba deh bapak inget-inget lagi. Saya gak salah dengar lho Pak," sahut Jaka dengan wajah tanpa dosa.


Pak polisi terdiam memikirkan ucapan terakhirnya yang menyuruh Jaka untuk push up, "Bener juga yah, tadi yang terakhir saya katakan sama kamu itu Lima!" ucapnya sambil manggut-manggut kepala.


"Nah benerkan Pak?"


"Assiappp Pak, nanti saya buang ke dalam rumah aja deh. Jangan ke tong sampah bau," sahut Jaka. "Kalau gitu saya pamit yah Pak, Assalammu'alaikum!" ucapnya senang karena bisa bebas juga. Ia langsung pergi begitu saja.


***


Sekitar satu jam kemudian. Jaka baru saja sampai di perusahaan 'Alexander group'. Karena tidak hapal jalan membuatnya harus membutuhkan waktu sedikit lama untuk sampai di sana.


"Duh, pake telat segala lagi. Pasti bakal kena amuk lagi inimah," ucap Jaka gelisah yang masih berada di parkiran.


"Eh lihat tuh, itukan cowok yang kemarin sama Tuan Devan. Masa sekarang dia ke kantor naik motor butut kayak gitu sih? Pfffttt ..." ucap salah satu karyawan kepada temannya yang tidak sengaja melihat Jaka memakai motor bututnya.


"Iyah, baru kali ini ada orang yang berani pake motor kayak gitu yah. Hahaha ..." sahut temannya.


Sedangkan Jaka tidak menghiraukan itu, ia memilih untuk segera menuju ruangan Salma. Karena walau gimana pun juga dia sudah menjadi pegawai di kantor istrinya, dia tidak boleh seenaknya saja.


Dengan perasaan masih gelisah Jaka langsung memasuki lift tanpa ada rasa takut. Yang ia takutkan sekarang dengan kemarahan Salma, karena kalau soal pekerjaan pasti dia akan sangat serius.


"Huftt ... Kamu harus tenang Jaka jangan panik!" ucap Jaka sambil menghela nafas panjang yang baru saja sampai di depan pintu ruangan Salma.


Tok ... Tok ... Tok ...!

__ADS_1


Jaka mengetuk pintu ruangan tersebut dengan sangat hati-hati sambil memejamkan matanya.


"Masuk!" terdengarlah suara Salma dari seberang sana yang menyuruhnya untuk segera masuk.


Dengan perlahan pintu itu terbuka dan terlihatlah Salma yang sedang asyik berkutat dengan leftop dan berkas-berkasnya.


Jaka mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju Salma, "Permisi Bu ... Ma--" belum selesai Jaka ngomong Salma sudah memotongnya.


"Lo!? Lo darimana aja sih jam segini baru datang?! Lihat noh sekarang udah jam berapa?! Oh gue tahu, apa karena mentang-mentang Lo suami gue. Lo bisa seenaknya saja datang terlambat! Gitu maksudnya?!" oceh Salma sambil melipat kedua tangannya di atas dada.


"Maaf Bu, tadi ada rajia. Jadinya saya telat kayak gini, sekali lagi saya minta maaf Bu ..." sahut Jaka sambil menunduk.


"Halah gak usah banyak alasan deh Lo?! Rajia apa? Rajia orang yang suka bermalas-malasan? Gitu? Lagian tadi gue lewat juga adem-adem aja kagak ada rajia atau apalah!" ujar Salma tegas.


"Maaf Bu, saya benar-benar minta maaf. Saya janji tidak akan di ulangi lagi," ucap Jaka meminta maaf.


"Ya udah karena kali ini gue lagi baik, jadi gue maafin! Sekarang cepat Lo kerjain tugasnya! Awas aja sampai di ulangi lagi!" pinta Salma.


"Baik Bu!" ucap Jaka yang langsung menuruti perintah Salma.


Mereka pun kembali fokus dengan tugasnya masing-masing. Namun tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.


Cklek!


"Hai Sal, Lo pakabar?" sapa seorang Pria tampan yang baru saja masuk.


Salma yang masih fokus dengan pekerjaannya langsung mendongak secara perlahan, "Siapa yah? Eh Reza, Lo kemana aja sih. Gue kangen," ucapnya sambil beranjak dari tempat duduknya dan langsung berhambur masuk ke dalam pelukan Pria yang bernama Reza tersebut.


Sedangkan Reza hanya tersenyum sambil membalas pelukan dari Salma, "Gue gak kemana-mana kok, hehehe. Gue juga kangen, bahkan kangen gue lebih berat daripada Lo," sahut Reza setelah melepaskan pelukannya.


"Ah Lo bisa aja."


"Eh bentar-bentar, d-dia siapa?" tanya Reza sambil menunjuk ke arah Jaka yang terlihat masih fokus dengan pekerjaannya.


Salma menautkan kedua alisnya sambil menoleh ke arah yang di tunjuk Reza, "Oh dia sekretaris gue," jawab Salma santai.


'Wajahnya? Sekilas wajahnya hampir mirip dengan Papah. Apa dia anaknya? Tapi mana mungkin, setau gue kan Papah gak punya anak lagi selain gue dan Rara. Gue aja sama Rara yang anaknya gak ada mirip-miripnya, malah kita lebih mirip sama Mamah. Apa ini hanya kebetulan saja mirip?' batin Reza bingung ketika melihat wajah Jaka yang hampir mirip dengan Papahnya.


"Hei, Reza! Malah bengong," ucap Salma membuyarkan lamunan Pria di hadapannya.


"A-ah iyah kenapa?"


>Bersambung .....

__ADS_1


__ADS_2