Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
Episode 58


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


๐Ÿฃ๐Ÿฃ๐Ÿฃ


Reza membanting setirnya, pikirannya sangat kacau sekarang. Ada sesuatu yang ia sembunyikan selama ini. Ia juga tidak tahu harus melakukan apa.


"Gimana ini? Gak mungkin juga kan aku pergi gitu aja setelah enak berbuat? Gimana kalau dia hamil? Waktu itu aku kan sedang mabuk, dan gak tau ngeluarinnya di luar tau di dalam. Agrhh ... Lihat Salma sedang hamil tanpa seorang suami saja aku sudah tidak tega! Bagiamana juga dengan dia? Jika dia sedang hamil pasti akan sedih sekarang! Tapi aku gak tau siapa dia ..." Pria itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Namun tiba-tiba teringat sesuatu.


"Eh tunggu-tunggu, ke-kenapa wajah perempuan bersama Jaka pas di kafe waktu itu tidak asing yah?" pikirnya.


Reza menghentikan mobilnya secara tiba-tiba melihat kedua orang yang tak asing baginya sedang mengobrol di pinggir jalan. Karena rasa penasaran yang amat dalam ia memilih untuk memarkirkan mobilnya dan menghampiri mereka. Menanyakan sedang membicarakan apa.


Saat Reza berniat ingin menghampiri mereka, namun niatnya ia urungkan ketika mendengar percakapan mereka yang sepertinya serius. Ia mengumpet di pinggir mobil Papahnya sambil menguping semua apa yang mereka bicarakan.


Terkejutnya Reza ketika mengetahui ternyata Jaka adalah benar-benar saudaranya. Dan selama ini Papahnya hilang begitu saja ternyata membawa saudara beda Mamahnya itu pergi dengan kondisi hilang ingatan.


Reza terdiam memaku dengan air mata yang sudah mengalir dari tadi.


"J-jadi ternyata benar Jaka itu anak Papah?!" tanyannya karena tidak tahan lagi dengan perbuatan Papahnya.


Pak Doni monoleh, "Reza?!" ia langsung terdiam menatap Reza tak tenang. Begitupun dengan Jaka yang terkejut mendengar Reza memanggil Pak Doni, Papah.


"Aku udah dengar semuanya Pah, ternyata benar dugaanku kalau Jaka memang anak Papah. Tapi kenapa Papah tidak mengatakannya dari dulu? Kalau aku tahu dia anak Papah, pasti aku tidak akan sekejam itu memfitnah dia dulu! Karena apa?! Karena dia juga saudaraku Pah!" ujar Reza.


"Aku kecewa sama Papah, kenapa Papah malah bawa dia pergi jauh dari sini pas saat dia hilang ingatan? Apa Papah tidak mikir? Itu malah membuat semuanya menderita! Salma menderita karena kehilangan suaminya, termasuk aku, Mamah sama Rara juga. Mamah aja sampe sakit karena mikirin Papah yang hilang gitu aja, dan pastinya Jaka juga menderita karena dirinya Papah ubah! Lebih parahnya, sampe-sampe Papah mau menikahkannya dengan orang lain!" lanjutnya sambil bertanya.


Pak Doni menghela nafas lalu menjawabnya, "Karena kamu! Papah juga sayang sama kamu! Papah pikir dengan Papah membawa Jaka pergi, kamu akan bahagia bersama Salma! Papah sengaja bawa dia pergi jauh dari sini, Papah juga berniat untuk membahagiakannya! Menebus kesalahan Papah yang dulu udah tega ninggalinnya pas waktu masih di dalam kandungan," rilihnya.


"Itu salah Pah, justru itu malah membuat aku tidak tega melihat Salma yang terus-terusan sedih karena kehilangan suaminya. Apalagi kondisinya yang sedang hamil! Jika saja Papah dulu tidak membawanya pergi, pasti aku ikhlas membiarkannya bahagia bersama Salma. Karena aku memang tidak pantas buat Salma! Aku memang seorang pengecut yang mau mendapatkan perempuan dengan cara licik! Aku sudah sadar sekarangPah, kalau perbuatanku dulu itu sangat keterlaluan!" tutur Reza.


'Jadi Reza adalah saudaraku?' tanya Jaka dalam hati yang masih terdiam menatap kedua orang tersebut.


"Papah minta maaf, Papah memang salah! Hikss ... Saya memang gak pantas jadi Papah kalian!"


"Ceritakan semuanya!" pinta Reza datar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kebetulan jalanan ini sangat sepi, hanya satu atau dua kendaraan yang lewat.

__ADS_1


"Yang mana?" tanya Pak Doni sambil mengurutkan keningnya heran.


"Masa lalu Papah yang udah ninggalin Jaka dan ibunya!"


"Huftt ... Oke Papah akan menceritakan semuanya," ujarnya. "Jangan ada yang memotong pembicaraan Papah!" Reza dan Jaka hanya mengangguk.


Pak Doni menghapus air matanya, menghela nafas panjang. Lalu mulai menceritakan semuanya, "Jadi ... Dulu pas Papah ke kampung, Papah ketemu Mamahnya Jaka dan sempat punya hubungan sama dia setelah lama kenal. Kita saling mencintai, sampai-sampai Papah khilaf melakukan sesuatu terlarang. Hingga Mamahnya Jaka hamil, Papah berjanji akan menikahinya. Namun sayangnya Opa kalian malah menyuruh Papah pulang ke Jakarta dan mengatakan kalau mereka ingin menikahkan Papah dengan anak temannya, yaitu Mamah kamu. Mendengar itu Papah langsung menolak, tidak memperdulikannya."


"Namun ternyata setelah beberapa hari Opa kalian datang ke kampung dan mengajak Papah pulang. Papah menolak, dan Papah bilang tidak mau di jodohkan karena Papah bilang sudah mencintai seseorang. Tapi Opa kalian tidak memperdulikannya itu, sudah katakan beberapa kali kalau Papah sudah mencintai seseorang dan menghamilinya! Dia tetap tidak peduli dan malah menyuruh Papah memutuskannya dan menyuruh Mamahnya Jaka untuk menggugurkan kandungannya ..."


"Kalau Papah cinta kenapa malah menyerah gitu aja? Kenapa gak di perjuangkan?" tanya Reza.


"Papah gak bisa bantah Opa kamu, karena percuma saja jika Papah membantahnya! Dia akan tetap memaksa!"


โ˜˜๏ธ Flashback on beberapa tahun yang lalu โ˜˜๏ธ


"Mas aku hamil," rilih seorang perempuan sambil menundukkan kepalanya.


"H-hamil?"


"Kenapa Mas? Gak suka aku hamil? Dan gak mau bertanggung jawab atas perbuatan Mas sendiri?" tanya wanita tersebut yang tak lain adalah Bu Ipah.


Namun tiba-tiba ponsel Pria itu berdering, menyatakan ada panggilan masuk. Dengan segera ia mengangkatnya dan menjauh dari tempat itu setelah mengetahui ternyata Papahnya yang menelpon.


Call on.


"Kamu dimana?" tanya orang di seberang sana.


"Masih di kampung Pah, ada apa?"


"Pulang sekarang juga! Kita mau bahas acara pernikahan kamu! Papah mau menjodohkan kamu dengan anak teman Papah!"


"Gak Pah, aku gak mau! Pokoknya aku gak mau! Biarkan aku cari pilihanku sendiri!"


Tut-tut-tut!


Setelah mematikan panggilannya ia kembali menghampiri Bi Ipah dengan senyuman palsu.

__ADS_1


"Siapa yang telfon Mas?" tanya Bi Ipah penasaran.


"Ah itu tadi Papah, udah gak usah di pikirin. Ayo mendingan sekarang kita jalan-jalan, kamu mau apa? Gak ngidam!" tanyannya sambil tersenyum.


Beberapa hari kemudian ...


"Doni!" panggil seseorang kepada anaknya yang terlihat sedang bermesraan bersama seorang perempuan.


"Papah?!" pria yang bernama Doni itu terkejut melihat keberadaan Papahnya.


"Papah suruh kamu pulang, kenapa masih di sini?!"


"Aku gak mau pulang Pah, aku mau di sini saja!" jawab Doni.


"Pokoknya kamu harus pulang! Papah mau nikahkan kamu dengan anak teman Papah!"


"Pah aku gak mau! Aku mencintai Ipah, dan sekarang dia sedang hamil. Aku mau menikahinya Pah," ujar Pak Doni.


"Papah gak peduli, ngapain juga kamu nikah sama perempuan kampung kek dia. Udah gak cantik, dekil, miskin lagi! Suruh dia gugurin aja kandungannya!" ucapnya yang membuat hati Bi Ipah terasa sakit seperti di tusuk-tusuk.


"Pah, Papah gak usah ngomong kayak gitu!" ucap Pak Doni yang langsung di tarik oleh Papahnya untuk segera pulang.


"Bentar Pah, izinin aku ngomong dulu sama Ipah!" pinta Pak Doni


"Oke lima menit!"


Pak Doni menghampiri wanita yang sedang mengandung anaknya. Terlihat wanita itu sedang menangis sambil menunduk.


"Ipah maafin aku yah, aku terpaksa ngelakuin ini. Sebenarnya aku juga gak tega sama kamu, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Ini ada sedikit uang, jika kamu gak mau anak yang kamu kandung lahir tanpa seorang ayah. Kamu gugurin aj--"


"Gak perlu Mas! Kamu jahat! Kamu bilang kamu bakal tanggung jawab dan nikahin aku! Tapi kenapa sekarang kamu tega menyuruh aku untuk gugurkan anak ini?! Kamu jahat Mas! Aku benci kamu!! Pergi saja kamu dari kehidupan aku! Aku sudah muak!" Bi Ipah langsung berlari pergi sambil terisak.


"IPAH!"


"Udah gak usah di pikirin, ayo mendingan sekarang kita pulang!"


โ˜˜๏ธ Flashback offโ˜˜๏ธ

__ADS_1


>Bersambung.....


Maaf yah guys jika di eps ini ada kata" kurang enak atau apa. author belum sempet cek lagi, buru" mau latihan volly pagi. Mau di fisik ๐Ÿ˜ญ


__ADS_2