
Bubur sumsum dalam gelas
Assalamu'alaikum, guys ...
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
"Assalamu'alaikum," ucap Salsa dan Gibran serempak setelah sampai di rumahnya.
"Wa'alaikumsalam, eh anak-anak Bunda udah pulang? Tumben bareng?" sahut Salma sambil menghampiri Putra-putrinya. Salsa dan Gibran hanya tersenyum lalu mencium punggung tangan Bundanya.
"Ya ampun sayang, ini wajah kamu kenapa pada memar kayak gini?!" tanya Salma khawatir sambil melihat-lihat wajah Putranya yang memar bekas di baku hantam tadi.
"Aww Bunda, Gibran gapapa kok. Ini tadi Gibran nolongin anak kecil yang lagi di palak di pinggir jalan. Namun pas aku tolongin tukang palaknya malah mukulin aku. Untung tadi ada Kak Salsa kebetulan lewat," jawab Gibran sambil tersenyum melirik Salsa yang sedang memasang wajah datarnya.
"Kamu ini lain kali hati-hati yah. Ya udah ayo Bunda obatin dulu lukanya," ujar Salma.
"Gak usah Bunda, udah di obatin kok tadi sama Kak Salsa. Udah di bersihin juga lukanya," ucap Gibran yang membuat Salma heran.
"Beneran?"
"Hmm, Salsa ke kamar dulu yah Bunda. Mau istirahat, capek!" ucap Salsa dingin yang langsung berlalu pergi meninggalkan Adek dan Bundanya.
"Kapan yah Bunda bisa lihat Kakak kamu kayak dulu lagi. Yang cerewet dan selalu ceria. Gak kayak sekarang yang dingin dan cuek banget. Ngobrol sama Bunda aja jarang, dia kayak benci gitu sama kita," rilih Salma sambil menatap kepergian Putrinya.
"Bunda yang sabar yah, Gibran yakin Kakak pasti bakal berubah kok. Buktinya tadi Gibran seneng banget bisa denger Kakak ngoceh. Ya walaupun ngocehnya sambil marah-marah, tapi Gibran yakin dia marah karena khawatir sama Gibran. Bunda jangan sedih lagi yah, Gibran janji bakal buat Kak Salsa berubah dengan perlahan," ujar Gibran sambil mengelus-elus pundak Bundanya seakan memberikan kekuatan.
"Hmm, semoga aja bisa yah. Ya udah sekarang kamu ke kamar mandi terus Sholat, abis itu makan. Nanti kalau mau makan sekalian panggil Kakak kamu suruh dia makan juga," suruh Salma yang di angguki oleh Putranya.
"Siappp Bunda, kalau gitu Gibran ke kamar dulu yah Bunda," sahut Gibran yang langsung berlalu pergi.
Setelah mandi, Sholat dan memanggil Kakaknya untuk makan bersama. Hanya ada keheningan di saat mereka makan, di tambah lagi Kakaknya yang diam saja yang membuat Gibran merasa canggung. Ingin sekali ia lebih dekat dengan Kakaknya, namun ia tidak tahu harus mulai darimana.
"Mmm ... Kak--"
__ADS_1
"Lagi makan jangan bicara!" potong Salsa dingin.
Gibran hanya bisa diam, mungkin ia akan berbicara nanti setelah mereka selesai makan. Namun sayangnya setelah selesai makan dan mencuci piring, Salsa langsung kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa memperdulikan Adeknya.
"Sayang kamu kok di sini? Udah selesai makannya? Kakak kamu mana?" tanya Salma yang melihat Putranya sedang duduk sendirian di ruang keluarga.
"Udah kok Bun, Kakak langsung ke kamar tadi abis makan," jawab Gibran.
"Hmm ..." Salma mendudukkan dirinya di samping Gibran, namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Ya ampun ini kan jadwal Kakak kamu terapi. Kenapa sampai lupa sih," tutur Salma yang langsung beranjak dari tempat duduknya berniat menuju kamar Salsa.
"Bunda! Biar Gibran aja yang panggilin Kak Salsa," ujar Gibran.
"Ya udah kamu panggilin yah, Bunda mau siap-siap dulu," sahut Salma yang langsung berlalu pergi menuju kamarnya.
Sedangkan Gibran berjalan menuju kamar Kakaknya dan dengan ragu ia mengetuk pintunya pelan.
Tok-tok-tok!
"Masuk aja!" sahut Salsa di dalam kamar.
Gibran membuka pintunya dengan perlahan, "Ada apa?" tanya Salsa dingin yang sedang fokus menatap layar leftopnya.
"Mmm, Bunda nyuruh Kakak siap-siap untuk ke rumah sakit sekarang. Hari ini kan jadwal Kakak terapi," ujar Gibran.
"Gak perlu, percuma di terapi juga! Gak bakal sembuh!" ucap Salsa datar.
"Kak, ngomong apaan sih?! Aku yakin Kakak pasti sembuh. Kakak gak boleh gampang menyerah kayak gini aku gak suka! Mending sekarang Kakak siap-siap yah, nanti aku juga mau ikut temenin Kakak!"
"Hmm, ngapain kamu peduli sama aku?" tanya Salsa dingin tanpa melihat ke arah Adiknya.
"Ya karena kamu Kakak aku! Aku sayang sama Kakak, Ayah sama Bunda juga sayang sama Kakak. Tapi kenapa sih Kakak seperti tidak mengaggap kita ada, kenapa Kakak selalu cuek sama kita? Orang lain boleh Kakak cuekin, tapi tolonglah kita jangan! Dari kecil aku ngerasa gak pernah di anggap sama Kakak. Kak Salsa selalu cuekin aku, padahal aku pengen banget main dan lebih dekat dengan Kakak. Kenapa Kak? Apa alasannya Kakak seperti ini?" tutur Gibran sudah benar-benar tidak tahan dengan sikap Kakaknya.
"Ada apaan sih berisik banget? Gibran kamu kenapa? Tadi kan Bunda suruh panggilin Kakak kamu, kenapa malah marah-marah?" tanya Salma yang baru saja datang.
__ADS_1
"Aku kecewa sama Kak Salsa Bun. Padahal kita peduli karena kita sayang sama dia, tapi apa? Dia seakan tidak mengaggap kasih sayang yang kita berikan. Kita keluarga, tapi dia seperti mengaggap kita hanya orang asing!" ujar Gibran yang langsung berlalu pergi dengan mata yang sudah memerah karena menahan tangis.
'Maafin Kakak, maaf ... Kakak gak bermaksud seperti ini. Memang enggak seharusnya aku seperti ini. Aku kira kalian tidak sayang kepadaku, tapi ternyata kasih sayang yang kalian berikan sangat besar,' batin Salsa sambil menatap sendu kepergian Adiknya. Dan tidak terasa air matanya lolos membasahi pipi mulusnya.
"Sayang kamu kenapa nangis? Udah yah gak usah di pikirin, mungkin Adik kamu terbawa emosi tadi. Maklum masih bocil, mana ngerti dia," ucap Salma mencoba menenangkan sambil memeluk tubuh mungil Putrinya.
"Hikss ... Ini memang salah Salsa Bunda. Gak seharusnya Salsa terus-terusan seperti ini kepada kalian! Maafin Salsa yang selama ini selalu cuek dan seperti tidak mengaggap kalian. Tapi asal Bunda tahu, Salsa sebenarnya sangat sayang sama kalian. Namun karena keegoisan Salsa, membuat Salsa malah seperti ini. Sebenarnya Salsa juga tidak enak terus-terusan seperti ini, Salsa selalu merasa kesepian. Salsa benar-benar menyesal," ucap Salsa sambil terisak.
"Bunda ngerti sayang, udah yah gak usah nangis lagi. Jadikan masalah ini sebagai pelajaran, dari ini semua seharusnya kamu tahu. Bukan karena kondisi kamu seperti ini kamu malah down dan langsung berpikir negatif bahwa kita semuanya tidak sayang lagi sama kamu. Seharusnya kamu bersyukur, kamu berterimakasih kepada Allah karena masih di berikan kesehatan. Karena masih banyak di luaran sana yang tidak punya tangan, tidak punya kaki dan bahkan tidak punya kedua-duanya. Kamu masih beruntung sayang. Dan orang tua mana sih yang tidak sayang kepada anaknya sendiri hanya karena memiliki kekurangan? Kamu seperti ini kan karena kecelakaan, Bunda yakin kamu juga bakal sembuh kembali. Percayalah, tidak ada yang tidak mungkin!"
"Udah jangan nangis lagi yah, siap-siap gih. Bunda anter kamu ke rumah sakit yah," pinta Salma sambil tersenyum mengelap air mata Putrinya.
"Makasih Bunda, sekali lagi maafin Salsa yah," ucap Salsa sambil memberikan kecupan manis di pipi Bundanya.
Salma hanya mengangguk sambil tersenyum. Dan tidak lama setelah Salsa siap-siap, mereka pun memilih untuk segera berangkat ke rumah sakit karena hari sudah semakin sore. Dan urusan Gibran nanti aja dah membujuknya. Namun, belum sempet mereka pergi Jaka baru saja pulang dari kantor.
"Assalamu'alaikum, para bidadariku yang cantik ... Mau kemana udah rapih gini?" ucap Jaka.
"Wa'alaikumsalam, tumben udah pulang? Ini mau anter Salsa terapi. Tadi kelupaan," jawab Salma sambil menyalami tangan suaminya begitupun dengan Salsa.
"Wah kebetulan sekali, ya udah ayo aku antar!" tawar Jaka.
"T-tapi Ayah kan baru pulang kerja, pasti capek?" ucap Salsa merasa tidak enak.
"Gapapa sayang, apa sih yang enggak buat kamu! Ya udah ayo nanti keburu sore," ajak Jaka.
Tidak mau membuang-buang waktu akhirnya mereka pun segera berangkat ke rumah sakit untuk mengantar Salsa terapi di Dokter langganannya.
>Bersambung.....
Guys maaf yah kalian ngerti gak sih yang aku bahas? Hahaha mungkin karena udah lama banget gak up jadi lupa alur ceritanya yah😀 Ceritanya juga terlalu bertele-tele juga yak guys. Oke deh nanti insyaallah di percepat aja lah☺️
__ADS_1
Oh iyah sinopsisnya di rubah lagi yah, itu tuh masih di review ☝️