
Assalamu'alaikum.
~HAPPY READING~
🐣🐣🐣
"Kenapa Papah gak pulang-pulang yah?" tanya Daniel sambil bolak-balik tak jelas di teras rumahnya.
Karena khawatir Daniel pun memilih untuk segera mencarinya. Ia mengambil kunci mobil dan segera pergi meninggalkan rumahnya. Sepanjang perjalanan ia terus saja panik takut terjadi sesuatu dengan Papahnya. Memang sudah dua hari setelah pergi dari kafe sampai sekarang dia tidak pulang-pulang.
Itu yang membuat dia khawatir karena terakhir pergi adalah bersama orang yang sudah berani menonjok dan memarahinya di depan umum tanpa ia tahu masalahnya apa.
Pria itu membuka pintu mobil, menengok kanan kiri siapa tahu Papahnya sedang berada di pinggir jalan. Matanya membulat sempurna ketika melihat ibu-ibu yang sedang asyik telfonnan di pinggir jalan tanpa di sadari ada mobil sedan dari berlawanan arah yang melaju sangat kencang dan sepertinya rem nya blong. Terlihat mobilnya melaju dengan oleng hingga membuat Daniel langsung turun dari mobil.
"Aaaaaaaa!" teriak Ibu itu yang baru sadar dengan keberadaan mobil yang sudah dekat.
Daniel berlari menuju Ibu-ibu tersebut berniat untuk menolongnya. Ia mendorong tubuh Ibu itu ke rumput di pinggir jalan agar terhindar dari kecelakaan itu. Namun karena tidak sempat menghindari justru dirinya sendiri yang malah tertabrak hingga terpental ke aspal.
BRUK!
"AHKK!"
Setelah menabrak Daniel mobil itu pun kembali oleng hingga menabrak sebuah pohon.
"Mamah?! Mamah gak papa kan?" tanya Salma sambil membantu Mamahnya berdiri. Ternyata orang yang di selamatkan Daniel adalah Bu Sazkia, Mamahnya Salma.
"Sayang, d-dia ...?" Bu Sazkia menunjuk ke arah Daniel yang tergeletak tak sadarkan diri dengan berlumuran darah segar yang terus mengalir di kepalanya.
Salma menoleh, mulutnya terbuka lebar dan langsung berlari kecil menghampirinya. "Ya ampun Daniel?! Daniel bangun ... TOLONG! MAH CEPET CARI BANTUAN!" teriak Salma meminta tolong sambil terus menepuk-nepuk pipi Daniel pelan berusaha untuk membangunkannya.
"Iyah sayang tunggu sebentar!" Bu Sazkia beranjak pergi berniat untuk mencari bantuan karena kebetulan jalanan sangat sepi. Mungkin karena masih pagi.
"Ada apa Mbak?" tak lama Bu Sazkia pun datang dengan membawa warga.
"Pak tolongin teman Saya, itu mobilnya sedikit jauh dari sini. Tolong bantu angkat dia masuk ke dalam mobilnya yah Pak!" pinta Salma yang langsung di turuti oleh warga.
"Mamah bisa nyetir kan?" Bu Sazkia mengangguk, "Plisss Mah kali ini saja, tolong bantu bawa dia ke rumah sakit. Ayo Mah ..."
"Iyah sayang ayo, Mamah juga sangat berterimakasih sama dia. Kalau gak ada dia pasti yang terluka sekarang Mamah, bukan dia!" sahut Bu Sazkia.
__ADS_1
Gak mau membuang-buang waktu Bu Sazkia dan Salma segera menghampiri warga, "Pelan-pelan sayang, kamu lagi hamil!"
"Iyah Mah."
"Bapak-bapak semua makasih yah udah bantuin angkat teman saya. Kalau gitu kita permisi ke rumah sakit, oh iyah. Tolong bantuin juga mobil yang nambrak pohon itu yah, tolong panggilin ambulans."
"Siap Bu, hati-hati yah."
Bu Sazkia dan Salma hanya mengangguk lalu segera meluncur menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Salma terus saja terisak tidak tega melihat Pria yang berbaring di pangkuannya dengan berlumuran darah segar di keningnya.
"Mah ayo cepetan dong Mah!!! Salma gak mau dia kenapa-napa!" pinta Salma.
"Iyah sebentar sayang, jalanannya macet!" sahut Bu Mamahnya.
Mendengar macet membuat Salma semakin cemas. Ia menatap wajah Daniel sendu, rasanya sangat sesak melihat Pria di hadapannya terluka seperti itu.
Tak tau kenapa rasa takutnya kembali muncul membayang-bayanginya. Ia takut dia akan kehilangannya lagi, ia ikhlas Pria itu bersama wanita lain asal ia bisa melihat wajahnya.
*****
"Udahlah sayang jangan nangis lagi," ucap Bu Sazkia sambil mengelus-elus punggung anaknya lembut. Saat ini mereka sedang berada di dalam ruangannya Daniel.
Daniel menggerak jari-jemarinya, dan mulai membuka matanya secara perlahan. Ia menatap sekelilingnya heran lalu pandangannya terhenti tepat di kedua perempuan yang sedang berpelukan.
"S-Salma?" tanyanya pelan yang membuat mereka langsung menoleh.
"Daniel?! Kamu udah sadar? Kamu gapapa kan? Ada yang sakit? Mau aku panggilin Dokter?" tanya Salma bertubi-tubi.
Pria itu mengernyitkan dahinya heran, lalu ia memejamkan matanya berusaha untuk mengingat semuanya, "Ahkk!" ringisnya merasa kepalanya sangat sakit.
"Daniel kamu kenapa? Kamu harus diam dulu yah, jangan banyak gerak. Aku panggilin Dokter dulu," Salma berniat melangkahkan kakinya untuk memanggil Dokter. Namun dengan cepat Pria itu meraih tangannya.
Salma mengerutkan keningnya yang di balas gelengan kepala oleh Daniel, "Ngg-nggak usah."
"Hmm, ya udah deh gak jadi," Salma kembali duduk di kursinya. "Mau makan?" tanyanya lagi yang di balas anggukan kecil oleh Daniel.
Salma mengambil semangkuk bubur di atas nakas lalu mulai menyuapinya.
"Sayang Mamah pamit duluan yah, Papah nelpon terus nih daritadi," ucap Bu Sazkia yang di angguki oleh Salma.
__ADS_1
"Ya udah Mamah permisi, Nak Daniel mari," ucapnya lagi sebelum benar-benar pergi meninggalkan mereka berdua.
'Ternyata selama ini aku hilang ingatan, dan mereka ...? Mereka malah sengaja memanfaatkan ini semua, mereka sengaja membohongi.' Daniel menatap dalam wajah Salma yang sedang menyuapinya.
'Ingin sekali sekarang juga aku berhambur memelukmu dan mengatakan maaf. Maaf yang sebesar-besarnya karena udah tega ninggalin kamu dan juga calon anak kita. Tapi aku tidak bisa, untuk sementara aku harus berpura-pura menjadi Daniel dulu untuk menyelesaikan semuanya. Maafin aku sekali lagi Sal, aku memang laki-laki br*ngs*k yang udah tega ninggalin istrinya yang sedang hamil dan malah tega ingin menikah lagi dengan wanita lain.' rilihnya dan tak terasa air matanya lolos membasahi pipinya.
"Daniel kamu nangis?" tanya Salma.
"A-ah enggak, i-ini tadi mataku tiba-tiba perih. Ia perih karena kelilipan," sahutnya sambil mengucek-ngucek matanya.
"Sini aku tiup," Salma mendekati wajahnya dan memajukan bibirnya meniup-niup mata Pria di hadapannya.
Daniel terdiam menatap wajah Salma yang sangat dekat, 'Bibir itu, aku kangen bibir mungil yang manis itu Sal. Pipi imut itu, aku juga kangen mengecupnya setiap pagi. Aku kangen memelukmu saat tidur, aku kangen semuanya Sal. Aku juga sangat ingin mengelus-elus perut buncit kamu yang sedang mengandung calon anak kita. Tapi ini bukan waktu yang tepat buat melakukan semuanya.'
🍁🍁🍁
Di sisi lain, Sherin, kedua orang tuanya dan Abangnya sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Mih, Pih, ayo dong kita harus ke rumah Pak Doni. Kita harus bahas semuanya, pernikahan aku dan Daniel harus di percepat," pinta Sherin.
"Kamu kenapa sih? Niat kamu ke Singapur kan mau meraih impian kamu menjadi Dokter. Tapi kenapa pulang-pulang bawa cowok dan malah nyuruh kita cepat-cepat nikahin kamu. Ada apa sih sebenarnya Nak? Daniel aja santai-santai aja tuh gak mau buru-buru," ujar Mamihnya.
"Tau tuh, kebelet nikah kali Mih," sahut Abangnya Sherin.
Sherin tidak menghiraukan perkataan abangnya. Namun tiba-tiba ia merasa perutnya mual, ia segera beranjak dari sofa dan berlari menuju wastafel.
"Huwekkk ... Huwekkk ..."
"Kenapa akhir-akhir ini aku selalu mual yah? Apa jangan-jangan ..." Sherin berpikir lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak ... Nggak mungkin, gak mungkin waktu itu aku benar-benar melakukan. Waktu itu kan kondisiku sedang mabuk, argghhh!" ia mengacak-acak rambutnya frustasi, "Kalau memang aku beneran hamil, sepertinya pernikahan aku dan Daniel harus segera di percepatan. Ya walaupun ini bukan anaknya, tapi mereka pasti tidak akan curiga jika aku sudah menikah dengannya."
"Huwekkk ... Huwekkk ..." Sherin kembali mual.
"Kamu kenapa Dek?" tanya Abangnya khawatir.
>Bersambung ...
Holla guys, oh iyah aku mau kasih tau. Jadi kenapa Pak Doni membawa Jaka/ Daniel pergi dan balik lagi ke sini karena apa? Jadi niatnya ke Indonesia mau bahas tentang pernikahannya dengan Sherin, yg kebetulan ortu Sherin ada di Indonesia. Dah pokonya gitu 🙃
__ADS_1