Suamiku Anak Pembantu

Suamiku Anak Pembantu
S2~ Episode 80


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


~HAPPY READING~


🐣🐣🐣


"Hai, boleh duduk di sini?" sapa Refan tanpa basa-basi langsung mendudukkan dirinya di samping wanita yang di bicarakannya tadi.


Wanita itu hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap bukunya lagi tanpa memperdulikan Refan.


"Mmmm, kenalin Aku Refan ..." ucapnya sambil menjulurkan tangannya. Namun gadis itu hanya cuek bebek saja.


'Ngeselin banget sih nih cewek, masa gue di cuekin. Awas aja nanti juga bakal klepek-klepek Lo sama gue. Belum tahu siapa gue sih,' gerutu Refan dalam hati.


Ia menghela nafas lalu menarik lengannya kembali sambil tersenyum palsu, "Oh iyah kam--"


"Jika tidak ada yang penting gak usah temui saya!" ucapnya dingin dan berlalu pergi meninggalkan Refan sendirian.


"Huftt ... tenang Refan ini belum seberapa, Lo pasti bisa dapatin hatinya. Baru kali ini ada cewek yang berani cuekin gue. Jadi makin penasaran gue," gumman Refan.


"Ha-ha-ha ... Rasain Lo Bos! Dicuekin kan? Gue bilang juga apa. Udahlah nyerah aja, percuma gak bakal bisa Lo dapatin hatinya!" ledek Gio yang baru saja datang bersama Ciko.


"Ckkk, ngeremehin gue yah Lo! Lihat aja nanti dia pasti bakal klepek-klepek ama gue. Gue itu bukan tipe orang yang gampang menyerah! Gue bukan pecundang! Lagian taruhannya juga masih berlaku satu bulan lagi," ujar Refan serius sambil menatap tajam ke arah Gio.


"Hmm kantin yok, laper gue!" ucap Ciko mengalihkan pembicaraan mereka.


"Nah ini nih yang gue demen. Dengan senang hati, ayoklah gaskeunnn!" sahut Gio antusias kalau mendengar soal makanan.


"Tapi Lo yang bayarin yah," ucap Ciko yang membuat wajah senang Gio langsung berubah.


"Lah gimana sih katanya kaya tapi minta gue yang bayarin. Tau sendiri kan gue ntuh orang miskin, mau makan aja harus jual rumah dulu. Hikss ... Lo mau buat gue makin menderita setelah bayarin Lo makan," ucap Gio berpura-pura sok sedih.


Pletak!


"Aww! Hikss ... tega yah Lo ama gue, sakit tau! Main jitak aja pala gue!"


"Lebay banget Lo! Kali-kali kek bayarin kita berdua! Lagian dompet gue juga ketinggalan," ujar Ciko orang yang tadi menjitak Gio.


"Udah gue bilang kalau gu---"

__ADS_1


"Berisik Lo pada! Udah ayo gue yang bayarin, keburu masuk nih!" sahut Refan.


"Oh dengan senang hati! Ayo silahkan Bos Lo duluan," ucap Gio sambil membungkukkan badannya dan mempersilahkan Refan untuk jalan duluan.


*****


Pulang ngampus.


"Eh Bos, calon cewek lu tuh!" ucap Gio sambil menepuk pundak Refan. Ia menunjuk ke arah seorang wanita cantik yang sedang berdiri di halaman kampus, sepertinya sedang menunggu jemputan.


"Sapa sih!"


"Itu tuh yang tadi udah cuekin Lo. Samperin napa, kayaknya dia mau pulang tuh. Lo anterin aja, itung-itung pendekatan," ujar Gio.


"Sebenarnya sih gue ogah, tapi terpaksa deh," sahut Refan dengan malasnya pergi menghampiri wanita tersebut.


"Hai, mau pulang yah? Bareng aja yuk! Keb--"


"Gak perlu, udah ada yang jemput!" ucapnya dingin lalu berlalu pergi dan masuk ke dalam sebuah mobil bewarna putih yang baru saja datang.


"Ckkk, nyebelin amat tuh cewek!"


"Eh Pak berhenti!" ucapnya kepada Pak supir.


"Ada apa Non?" tanya Pak supir yang langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kebetulan jalanannya juga sepi.


"Itu bukannya Gibran yah?" ujarnya sambil menunjuk ke luar jendela yang terlihat Pria yang bernama Gibran sedang di baku hantam oleh dua orang.


"Oh iyah Non, itu Den Gibran," sahut Pak Jay, supir pribadinya.


"Temani saya samperin ke sana!" ajak Salsa dingin yang di turuti oleh Pak Jay.


Mereka pun keluar dari mobil dan menghampiri ketiga pria yang sedang berantem tersebut.


"Gibran!" panggil Salsa yang membuat semuanya langsung menoleh.


"Kak Salsa?"


"Kalian berdua pergi dari sini atau saya teriakk!" pinta Salsa dingin. Yang tanpa basa-basi kedua pria itu langsung pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Gibran kamu gapapa kan? Sakit gak? Ini sampai pada memar gini," tanya Salsa khawatir.


Gibran tidak menjawab, ia malah bengong. Masih tidak percaya Kakaknya yang selama ini selalu cuek dan tidak peduli kepadanya. Ternyata mengkhawatirkannya.


"K-kakak khawatir sama Aku?" tanya Gibran masih tidak percaya yang membuat Salsa langsung terdiam dan mengalihkan pandangannya.


"Hmm, ayo kita pulang! Motor kamu biar nanti Pak Jay sama Mang Ujang aja yang ambil!" ujar Salsa yang kembali dingin.


Gibran hanya menurut, mereka pun kembali masuk ke dalam mobil. Karena kasihan melihat wajah Adeknya terluka akhirnya Salsa pun membuang gengsinya.


Ia membersihkan luka di wajah dan sudut bibir Gibran dengan tisu basah. Lalu mengambil kotak P3k yang kebetulan ada di dalam mobil.


"Ahkk Kak, pelan-pelan sakit!" ringis Gibran yang tidak di gubris oleh Salsa. Setelah selesai membersihkan lukanya, ia langsung mengambil obat merah di kotak P3k.


"Lagian kenapa sih, pulang sekolah bukannya langsung pulang. Malah keluyuran, pake berantem segala lagi. Kamu buat masalah yah sama mereka?! Gak mungkin juga kan mereka tiba-tiba nge baku hantam kamu gitu aja tanpa alasan! Untung aja Kakak keburu datang tadi, kalau enggak udah abis tuh kamu," oceh Salsa tanpa melihat ke arah Gibran yang terlihat kesusahan membuka tutup botol obat merah.


"Sini Kak biar Gibran aja," ucap Gibran lembut sambil tersenyum.


Salsa mendongak, "Ngapain kamu senyum-senyum?"


"Aku cuman senang aja lihat Kakak kayak gini. Yang cerewet, perhatian, gak kayak biasanya yang selalu dingin dan cuek sama aku. Hmm bahkan aku sampe mengira kalau Kakak itu gak sayang sama aku, aku kira Kak Salsa gak mau anggap aku adek Kakak!" ujar Gibran yang membuat Salsa terdiam.


'Selama ini Kakak cuek bukan berarti Kakak gak sayang sama kamu. Memang dulu Kakak kesal dan iri sama kamu. Karena setelah kamu lahir Ayah sama Bunda gak perhatian lagi sama aku. Tapi asal kamu tahu, sebenarnya Kakak ini sayang banget sama kamu. Ingin sekali Kakak memelukmu dan mengatakan kalau Kakak sayang sama kamu, tapi Kakak sadar diri. Kakak kira dengan kondisi Kakak seperti ini kamu bakal malu punya Kakak sepertiku. Tapi ternyata malah sebaliknya, sepertinya kamu ingin sekali di anggap adek olehku dan sepertinya kamu ingin sekali melihatku tidak cuek lagi kepadamu.' batin Salsa sambil menatap wajah Gibran sendu.


"Mmm Kakak boleh tanya gak sama kamu?"


"Dengan senang hati, mau tanya apa Kak?" sahut Gibran senang.


"S-sebebarnya k-kamu ..."


"Aku kenapa Kak?" tanya Gibran tidak sabar apa yang ingin di katakan Kakaknya.


"Sebenarnya kamu sa-- ... Hmm kamu buat masalah apa tadi sama mereka sampe babak belur kayak gitu?" ujar Salsa dingin sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


'Sebenarnya dia ingin menanyakan apa? Mukanya saja tadi tampak serius, tapi kenapa sekarang langsung berubah! Aku yakin bukan ini yang ingin di tanyakan Kak Salsa. Pasti ada hal lain yang ingin dia tanyakan, tapi mungkin dia tidak berani mengatakannya,' batin Gibran sambil menatap wajah Kakaknya yang sepertinya sedang menahan tangis.


>Bersambung ....


Mon maaf jika banyak typo bertebaran dan mom maaf jika ceritanya gaje;v

__ADS_1


Dahlah semangat puasanya yah guys bagi yang menjalankan 😀 Jan lupa sebelum/sesudah membaca biasakan pencet tombol LIKE karena LIKE itu gratis lho guys 🥰


__ADS_2