
"Dell..." Panggil Mas Apit.
"Apa Mas?" Deli penasaran.
"Mas mau bilang sesuatu sama kamu."
"A-apa Mas?" Binar Deli.
"Kamu----"
Deli memelototkan matanya dan melebarkan telinganya untuk mendengar sesuatu yang akan di ucapkan oleh Mas Apit.
Hingga tanpa sadar Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat karena rasa antusias yang memuncak.
"Akuu... Aku kenapa Mas?" Potong Deli tak sabaran.
"Kamu gak boleh bicara seperti tadi pada April dan karyawan Bartender."
Deli menganga tak percaya. Angannya yang setinggi langit terhempas begitu kuat hingga membuatnya mematung. Tak menyangka dan tak di kira,ternyata Mas Apit malah mengatakan hal yang membuat mood Deli berantakan.
"Ja-jadi, Mas Apit menarikku ke sini,ke tempat sepi hanya mau menceramahiku?" Ucap Deli setelah mengatupkan bibirnya.
"Kau pikir aku mau bicara apa haa?" Tanya Mas Apit heran.
"Yaa... Emmmm... Yaa nggak ta-tauu." Malu Deli merutuki pikirannya yang melalang buana terlalu jauh.
"Sudah jangan bahas hal itu dulu. Ada hal yang lebih penting." Sergah Mas Apit memasang wajah serius.
Deli pun jadi tegang seketika.
"A-apa Mas?" Gagap Deli.
"Kamu gak boleh bicara seperti itu pada Bartender. Kamu sama saja merendahkan posisi Bartender kalau begitu Del."
"Hahh?" Kejut Deli masih loading.
"Ucapanmu sangat gak pantas kamu lontarkan pada Febi dan April tadi. Kita disini sama-sama cari uang,jadi jangan menjatuhkan teman." Kata Mas Apit.
"Lohhh loh lohh... Kok Mas Apit jadi bela mereka sih? Kan apa yang aku ucapkan memang benar kan? Tak ada yang salah bukan?" Sergah Deli membela diri.
"Cara penyampaianmu sangat tidak mengenakkan di hati Del. Apa kamu gak nyadar? Kalau ucapanmu itu sangat gak pantas? Kamu seolah meninggikan posisimu,lalu menjatuhkan posisi orang lain." Ucap Mas Apit lagi.
Deli mencibir kesal pada Mas Apit yang membela April.
"Kamu harus minta maaf pada April dan Febi. Kita disini rekan kerja yang sudah seperti saudara. Jadi jangan sampai karena perkataanmu, April dan Febi memusuhimu."
"Lagian kenapa sih Mas Apit belain April terus? Mas Apit suka sama April? Ingat Mas ingat !!! Kamu sudah punya istri yang setiap malam menantikan kepulanganmu." Ketus Deli.
"Kaaauuuu .... Jaga ucapanmu Deli !!! Sebenarnya aku tak tega berkata kasar kepadamu,karena kamu sudah ku anggap Adik bagiku. Tapi melihat sikapmu yang begini,aku tak akan sungkan lagi." Mata Mas Apit menajam.
Urat di pelipisnya nampak muncul. Pasalnya Mas Apit sedang berusaha meredam emosinya agar tak menjadu keributan di tempat kerja.
"Cihhh alasann." Deli memalingkan muka sembari melipat tangan didada.
"Minta maaflah kepada Febi dan April setelah ini. Jika tidak,kamu akan menerima akibatnya."
"Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu yang omong kosong itu?" Sombong Deli.
"Kamu lupa aku ini siapa? Jika kamu lupa maka akan aku ingatkan. Aku adalah Apit adik kandung dari Mas Tono manager kita." Mas Apit tersenyum smirrk menatap paras Deli yang mulai memucat.
"Ka-kamu tidak boleh memgadu seperti itu." Protes Deli menurunkan lipatan tangannya.
"Kenapa? Kamu takut?" Deli hanya diam tak bisa menjawab.
"Minta maaflah kepada mereka,maka aku akan diam saja dan bersikao seolah olah aku tak mengetahui apapun."Tawar Mas Apit.
"Ba-baiklah." Pasrah Deli menurunkan sifat angkuhnya.
Ckkk.... Dimana sikap angkuhmu tadi? Kenapa saat mendengar nama Mas Tono,nyalimu mulai menciut bagaikan karet yang terbakar? Tak kusangka ternyata kamu memiliki sifat seperti ini. Ternyata aku salah menilaimu selama ini. Batin Andi menatap Deli.
"Tunggu apa lagi? Sok atuh silahkan !" Ejek Mas Apit.
Dengan kesal Deli meninggalkan Mas Apit. Deli berjalan dengan menghentakkan kakinya kuat-kuat.
__ADS_1
"Ha ha ha...Rasakan...." Senang Mas apit.
Mas Apit hanya berdiri bersandar di pintu belakang menatap Deli yang hendak meminta maaf.
Delu menileh melihat Mas Apit yang memandangnya dengan wajah songong.
"Ckkk..." Deli mendengus lalu memalingkan wajah.
"Prill... Feb.... Maaf ya,tadi aku hanya bercanda,jadi jangan dimasukkan ke hati." Ucap Deli dengan wajah yang dibuat setulus mungkin.
"A-aaa... I-iya. Lagian kami juga tau kok kalau tadi hanya bercanda. jadi santai saja kali." Jawab April canggung.
Sedangkan Febi hanya diam saja. Agaknya ucapan Deli sudah terlanjur membekas di hati Febi.
April menyikut pelan lengan Febi agar Febi merespon permintaan maaf Deli.
"Ah... I-iya." Singkat Febi terhenyak.
"Yasudah aku keluar dulu." Pamit Deli langsung melenggang pergi.
"Hahhh?" Febi melongo. Tangannya menggapai udara gemas ingin menjambak jilbab Deli.
"Udahh biarin aja !" Ucap April menurunkan gerakan tangan Febi.
"Aku sebel sama dia tauk Pril. Sok banget tau nggak." Sebal Febi.
"Udah gak pap-"
"Prill... Lantainya pel kamu sama Febi yah." Seru Mbak Resa yang mengelap tangannya.
"Yahh kok kita sih Mbak." Protes Febi.
"Ckk... Cuman tinggal ngepel aja masih protes. Tuh liat,semua udah aku beresin,udah aku cuci pula." Sebal Resa.
"He he he...." Cengir Febi menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Gara-gara si Deli tuh,kita jadi paling akhir kan selesai beberesnya." Sambung Febi sebal.
Terlihat beberapa karyawan yang sudah selesai beberes dan berjalan keluar menenteng tasnya masing-masing hendak pulang.
"Lah lah lah kok udah pada pulang sih." Protes Febi.
"Ckk... Makanya cepetan ngepelnya,biar kita juga cepet pulang." Sebal April masih terya mengepel lantai.
10 menit kemudian pun lantai sudah kinclong.
"Akhirnya selesaii.. Fyuhh.." Lega Febi.
April tak menggubris Febi,Ia langsung bersih-bersih dan ke kamar mes untuk mengambil tasnya.
"Noh tas mu ." April melempar pelan tas milik Febi.
"Thankk bree..." Febo menangkap tasnya.
April berjalan keluar hendak menuju arena bermain. Tempat dimana Vani,Deli,Devi dan su'am menunggunya selesai bersih-bersih.
Ternyata mereka sudah bangkit hendak menuju parkiran.
"Vani dimana Dev?" Tanya April karena tak melohat batang hidung Vani.
"Loh bukannya tadi dia kebelakang buat bylang sama kamu kalau dia pulang duluan?" Heran Devi.
"Eh? Gak ada tuh."
"Tapi tadi Vani udah pulang duluan. Dijemput calon suaminya." Jelas Su'am.
"Ha? Kok gitu sih." Protes April.
Yang lain hanya menggidikkan bahu tak mengerti.
"Yasudah... Aku pulang bareng kalian ya?" Pinta April.
April yang buta jalan sama sekali belum berani jika harus pulang sendirian.
__ADS_1
Rute yang berbelok-belok membuat April takut jika menyasar. Karena biasanya Vani lah yang selalu mengemudi di depan. April memang bodoh jika harus mengingat rute jalan.
"Kami mau ke alun-alun kota dulu." Ucap Devi.
"Yahhh..." Desah April kecewa.
"Kamu ikut aja gimana? Nanti pulangnya bareng." Jak Devi.
April melihat jam dipergelangan tangannya. sudah pukul 10.15 malam,ini sudah terlalu malam bagi April jika harus ikut nongkrong di alun-alun.
"Ini sudah malam,aku takut di cari orang tua di rumah." Elak April.
"Ya terus gimana? Kamu berani pulamg sendiri?" Tanya su'am yang agaknya sedikit khawatir.
Mereka tau jika April sulit mengingat rute jalan.
"Berani kok." Ucap April ragu.
"Yasudah kalau begitu kami duluan yah." Pamit mereka yang langsung menyalakan motornya.
April mengangguk lemah.Ia bingung bagaimana pulangnya.
"Kamu yakin berani pulang sendiri?" Tanya su'am sekali lagi sebelum benar-benar pergi.
April hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
"Ati-ati yah.." Ucap s'am lalu ikut pergi.
Tinggallah April sendirian di tempat parkir.
"Kamu gak pulang Pril?" Tanya Febi yang sedang memakai helm.
April juga lanhsung naik ke motornya,memakai helmnya.
"Iya,ini mau pulang." Jawab April singkat.
"Yaudah aku duluan yah,kita kan beda arah,jadi gak bisa barengan deh." April mengangguk. Febi pun pergi.
Kosong sudah parkiran. Menyisakan suara sayup-sayup karyawan yang tidur di mess yang sedang bersendau gurau di belakang.
"Nagaimana aku pulangnya? Aku hafal rute jalannya gak ya? Duhh gimana ini,pasti gangnya sudah sepi." Gumam April.
Ia sedikt jengkel dengan Vani. Vani yang paham dirinya,tapi malah meninggalkan dia sendirian disini.
April merogoh ponselnya,lalu membuat status di whatsapp.
Gimana pulangku? Help me pleaseee......
Begitulah caption yang ditulis April yang ditambahkan lampiran berupa foto jalanan yang bercahayakan rwmang-remang.
April mendesah bingung. Disandarkannya kepalanya di stang motor.
Drrttt Drtttt Drtttt.
Pinsek April berbunyi tanda panggilan masuk.
.
.
.
Bersambung.
Jangan lupa like
komen
vote
serta favorit yah..
Terimakasih..
__ADS_1