
" Itu yang kakak pakai apa? Kok Aila gak pakai sepelti itu?" Ucapnya khas logat anak kecil.
"Ini ? " April memegang sesuatu yang dipertanyakan Aira.
" Iya Kakak."
" Ini namanya cadar sayangg." April mencubit pipi gembul Aira dengan gemas.
" Untuk apa Kakak memakai itu?" Tanya Aira polos.
" Memangnya Aira mau tahi banget ya?" Goda April. Aira mengangguk dengan antusias.
" Perempuan memakai cadar untuk melindungi dirinya dari pandangan laki-laki yang bukan mahromnya."
Rupanya penjelasan April sangat sulit untuk diterima oleh anak-anak seusia Aira. Terlihat dari dahi Aira yang berkerut tanda tak paham. Dapat dipastikan, sebentar lagi pasti Aira akan kembali bertanya.
" Mahlomm itu apa Kak?" Tanya Aira dengan jari telunjuk menempel di dagunya serta bola mata yang mengarah ke atas.
"Mahrom itu adalah semua laki-laki yang tidak boleh menyentuh dan melihat aurat Aira, kecuali Ayah, Kakak dan Adik laki-laki kandung Aira." Jelas April sabar.
April menyingkap sedikit ujung cadar bagian bawahnya. April memasukkan cendok yang berisi makanan ke arah mulutnya melalui sedikit celah yang Ia buka.
" Lalu, aulat itu apa Kakak ?" Tanya Aira lagi.
April mangap tertahan. Tangannya tak jadi menyuapkan nasi ke mulutnya. April kembali meletakkan sendok ke pincuk nasi pecel.
" Airaa... Jangan bertanya terus, biarkan Kakak makan dulu." Tegur Nenek tak enak. Pasalnya sedari tadi, April tak jadi melahap makanannya karena Aira terua bertanya.
" Tak apa Nek, anak seusia Aira memang rasa penasrannya tinggi." Ucap April penuh pengertian.
" Ini, ini, ini dan ini. Itu semua adalah aurat perempuan." April menunjuk semua bagian tubuh Aira, kecuali wajah, telapak tangan serta telapak Kaki.
" Belalti lambut Aila juga aulat ya Kak?" Tanya Aira.
" He um." April mengangguk.
" Belalti Aila gak boleh kuncir kepang 2 lagi dong." Ucap Aira sedih sembari menarik ujung rambutnya yang di kepang 2.
" Tentu saja boleh, tapi setelah di kepang harua ditutupi jilbab. Biar Aira makin tambah cantik." April kembali melanjutkan makannya.
" Kakak kalau makan susah. Halus angkat cadalnya dulu, makannya halus ngumpet-ngumpet. Kayak Aila yang takut di malahin Nenek kalau ketahuan makan coklat." Celetuk Aira terkikik, tangan mungilnya menutup mulutnya yang tertawa.
April dan Nenek hanya tersenyum. April melanjutkan makannya hingga tandas, bersih tanpa tersisa satu bukis nasi pun.
April memang begitu, tak pernah meninggalkan sebutir nasi atau appapun di piringnya sehabis makan. April takut jika berkah yang Allah berikan berada pada satu bulir nasi yang Ia buang.
" Aila kalau sudah besal juga mau pakai cadal ah. Bial cowok-cowok gak bisa lihat wajah cantik dan imut Aila pastinya." Ucap Aira sombong dengan senyum manisnya.
" Ha ha ha... Bisa aja kamu cantik." Kikik April gemas.
__ADS_1
April melanjutkan makannya yang tertunda. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul 10 malam. Ternyata Ia sudah satu jam berada di luar Rumah sakit.
"Aku harus segera kembali, pasti mereka di dalam nyariin aku." Gumam April percaya diri. Atau lebih tepatnya terlalu berharap.
April melipat bungkus daun jati bekas makannya lalu membuangnya ke tempat sampah. April menengguk air mineral untuk menghilangkan rasa pedas.
" Sudah Nek, jadi berapa?" Tanya April sembari tersenyum.
" Nasi pecelnya 4000, air minrralnya 3000. Jadi totalnya 7000 saja Nak." Jelas Nenek menghitung.
April menyerahkan selembar uang 10.000 kepada Nenek. Karena memang hanya uang itu yang Ia punya sekarang.
" Ini Nek."
" Sebentar, kembaliannya." Nenek merogoh kain jarik yang di lilitkan dipinggangnya.
Kebkasaan orang tua jaman dulu. Suka sekali menyimpan uang di dalam jarik atau angkin ( Kalau bahasa Indonesianya stagen. Bukan stagen yang moderen, tapi stagen yang kuno, kain yang sangat panjang dililitkan di perut.)
" Tak usah Nek, kembaliannya ambil saja." Tolak April lembut.
" Jangan Nak.." Tolak Nenek tak enak.
" Gak apa apa Nek, biar buat jajan Aira."
"Aila mau jajann.." Sorak Aira senang.
" Aira gak boleh negitu ! Tidak sopan !" Tegas Nenek mengingatkan sang cucu. Aira langsung kicep diam menunduk.
" Tak apa Nak, 3000 pun sudah bisa buat beli tempe untuk makan satu hari." Ucap Nenek.
Bisa di bayangkan betapa harus berhematnya Nenek dan Aira.
" Kalau begitu, April pamit dulu ya Nek. Sudah terlalu lama April pergi, takutnya nanti di cariin." Ucap April dengan tersenyum.
" Dadah Aira sayang." April melambaikan tangannya.
" Kakak kakak." Aira malah berlari menuju April.
" Mau tiumm..." Ucap Aira menggemaskan.
Tak kuasa, April langsung mengangkat tubuh gadis mungil itu. Aira langsung mengecup pipi kakan dan pipi kiri April yang tertutup cadar. April pun balik mencium pipi gembul Aira.
" Dadah Kakak cantik, semoga kita beltemu lagi yaaa..." Ucap Aira dengan senyum merekah serta tangan melambai.
April mengangguk lalu pergi ke dalam untuk kembali ke tempat Om Damar dirawat.
Sedangkan di depan ruang operasi, mereka semua sedang membereskan sisa makanan tadi. Ardi memunguti sampah tempat bungkus nasi.
" Mbak April kenapa gak di ajak Mas?" Tanya Ardi saat berada di depan Andi.
__ADS_1
" Astagfirullah...." Pekik Andi cukup kuat.
Ardi yang berada tepat di depan Andi pun kaget. Ardi terjengkang ke belakang dengan mulut menganga serta tangan yang memegang dadanya yang berdegup kencang.
Semua mata menatap Andi dengan heran. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba Andu berteriak seperti orang kesetanan.
" Kamu itu apa-apaan sih An ? " Bentak Ayah.
" Aprill Yah, April dimana?" Tanya Andi panik. Matanya menjelajah ke segala penjuru Arah.
" Ya Allah... Bagaimana bisa kita melupakan April." Pekik Ayah yang ternyata baru juga tersadar.
" Memangnya tadi Mbak April ikut ke sini ya?" tanya Ahmad.
" Iku Mad, tadi dia ke sii bersamaku." Jelas Andi.
" Kok aku gak tau?"
" April pakai gamis berwarna coklat susu, serta jilbab dan cadar berwarna abu-abu." Rinci Andi.
" Berarti.... Perempuan yang duduk di ujung kanan tadi?" Tanya Ahmad memastikan.
" Dimana?" Tanya Andi.
" Tadi saat aku membagi makanan. Ada gadis bergamis coklat susu serta jilbab dan cadar berwarna abu-abu sedang duduk menunduk di sana." Ujar Ahmad sambil menunjuk arah duduk April tadi.
" Berarti selama kita makan, April hanya melihat kita makan?" Tanya Andi makin panik.
"Aku tak tahu jika itu Mbak April. Dulu kan dia gak bercadar. "
" Cepat cari April !! Ini sudah jam 10 malam." Pinta Ayah.
" April tak tau daerah sini Yah. Bagaimana jika April hilang." Panik Andi lalu berlari mencari keberadaan April.
" Dimana kamu sayangg ?" Gumam Andu di tengah larinya.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen, vote serta favorit dan berikan hadiah yah readerss..
Happy reading
__ADS_1
dann..
Sampai jumpa..😊😄