Takdirku?

Takdirku?
Limpahkan semua ke April


__ADS_3

April dan Vani sudah sampai ditempat kerja.Mereka bekerja seperti biasanya.Tak ada kendala,semua lancar jaya.


Namun bagi April,keanehan terjadi setelah jam makan siang.Memang dari tadi pagi,pandangan teman-temannya ditemoat kerja sedikit berbeda dari biasanya.Pandangannya itu terkesan memendam rasa kesal,jika ditelisik lebih dalam oleh April.


Mereka yang biasanya sering bercanda dengan April tiba-tiba hanya diam atau hanya sekerdar melihat lalu tersenyum samar.


"Prill...Gulanya habis...Sana kamu nimbang terus cairin gulanya." Pinta Resa pada April dengan nada yang sedikit ketus.


"Nanti bantu angkat ya Mbak !" Pinta Aprik dengan nada rendah.


"Iyaa...Yang penting kamu timbang dulu sana gulanya...Cepetan,ini gukanya hanya tinggal ini saja." Ucap Mbak Resa dengan memperlihatkan drum bekas ice cream yang terisi setengah oleh gula.


April mengangguk lalu membersihkan panci tempat gula.Setelah dicuci,April membawa panci itu ke gudang untuk di isi dengan gula 13 kg.Dan ditambah dengan 3/4 air galon.


April menimbang gula sesuai ketentuannya.Setelah selesai,13 gula masuk ke dalam panci.April berdiri di pintu gudang.Aprik bermaksud memanggil Mbak Resa atau Mbak Ambar atau Febi yang sekiranya sedang menganggur.


Tapi niatnya diurungkan karena melihat mereka bertiga sedang membuat orderan.April tetap berdiri di tengah pintu gudang mengamati temannya di bagian lain.Apakah ada yang sedang menganggur dan dapat dimintainya bantuan untuk mengangkat panci berisi 13 kg di hadapannya ini.


Mas Yen menoleh melihat April.


"Maa---" Mas Yen melengos sebelum April menyelesaikan ucapannya.April yang semula hendak meminta bantuan Mas Yen pun tak jadi.Padahal Mas Yen paham maksud dari tatapan April.


Karena memang sudah biasa bahkan sering jika tukang es meminta bantuan dari bagian lain.Mas Tono pun yang langsung menyuruh mereka karena seluruh karyawan tukang es adalah perempuan.


Bahkan tak jarang Mas Tono turun tangan saat tak ada karyawan laki-laki yang bisa di mintai tolong untuk memecahkan kelapa muda.Mas Tono tak tega melihat April dan Mbak Resa yang kesusahan memecah kelapa muda sendiri.


Pandangan mata April masih menelisik seisi dapur.Berharao ada teman yang baik hati mau membantunya mengangkat panci yang berat itu.


"Hahhh." April menghela nafas berat saat menyadari jika semuanya sedang sibuk atau lebih tepatnya sedang berpura-pura sibuk mungkin.


"Bismillah..." Gumam April pelan lalu dengan sekuat tenaga Ia mengangkat oanci itu seorang diri.


April berjalan terkangkang karena kesulitan membawa panci gula yang berat.Jujur saja,April mengerahkan semua tenaganya untuk mengangkatnya.Panci yang besar membuat April kesusahan untuk memegangnya.


Saat April tengaj berjuang mengangkat panci sampai di samping kompor.Tanpa disadari April,ternyata seluruh orang yang berada di dapur diam menghentikan aktifitas mereka.


Mereka menatap April yang kepayahan.Tatapan mata merwka datar dan tak dapat diartikan.Bahkan ada beberapa yang saling lirik dengan alis yang menukik.


Brukkk...


April meletakkan panci yang berat itu di atas lantai depan meja yang terdapat kompor.Karena sudah saking tak kuatnya April lansung meletakkannya begitu saja.


Terlihat sedikit kasar memang,hingga menimbulkan suara benturan yang cukup nyaring.Tapi hal itu benar-benar murni karena ketidak kuatan April,bukan hal yang disengaja.


"Bisa lebih pelan narohnya? Kamu pikir panci itu tak bisa rusak jika kamu membantingnya seperti itu?" Ucap Mas Tono yang sedang duduk di kursi kebesarannya.Matanya masih fokus pada tumpukan kertas tak melirik April sedikit pun.

__ADS_1


Membanting? Apakah seperti itu yang namanya membanting?. Batin April mencelos mendengar teguran dari Bosnya.


April hanya diam tak membalas teguran Mas Tono.Sekarang hatinya begitu bingung.


Bagaimana aku mengangkat panci yang berat ini ke atas kompor? Aku sungguh tak kuatt.


Batin April sambil menatapi kompor.Posisi kompor berada di atas meja yang tingginya sebatas pinggang April.Tentu April akan kesusahan untuk mengangkatnya setinggi itu.


"Hugggggg" Suara April tertahan di tenggorokan tak kala bersusah payah mengangkatnya.


Tiba-tiba ada tangan yang membuat ringan bebannya.Tangan Mas Agung,Mas Agung menbantunya mengangkat panci sampai duduk sempurna diatas kompor.


Namun kali ini berbeda,Mas Agung tak bicara seperti biasanya.Ia hanya menampilkan wajah datar bak papan triplek.


"Makasih." Ucap April lalu pergi.


Sesampainya ditempatnya,April disodori 5 kg jeruk.


"Nih peras." Paksa Ambar dengan meyodorkan alat oemeras jeruk.


"Tap---"


"Aku mau merebus teh." Ucapnya lalu berlari kebelakang.


"Jika boleh memilih,aku mending merebus teh dari pada memeras jeruk.Memeras jeruk membuat tanganku perih." Gumam April sembari mengiris jeruk menjadi 2 lalu di perasnya.


"Apa Mas Yen,Mbak Resa dan Mas Agung marah padaku karena kemarin aku mendiamkan mereka ya? Kenapa hari ini mereka semua bersikap berbeda kepadaku? Mas Tono pun juga,apa Mas Tono dan lainnya sudah tau jika amu sudah dilamar? Terus mereka menjauhiku?" Gumam April cemas.


"Sudah belum Pril?" Tanya Febi yang tiba-tiba datang.


"Ahh eemmm...Ini sudah selesai." Jawab April sembari menyimpan perasan jeruk du kemari pendingin.


"Pecah kelapa sama aku yok."Ucap Febi dengan nada yang tak seceria kemarin.


"Mbak Resa sama Mbak Ambar kemana?"


"Mbak Ambar mandi,Mbak Resa belanja buah." Jawab Febi singkat.


Febi mengambil alat untuk mengeruk dagung kelapa,drum bekas ice cream untuk wadah air serta plastik.


"Padahal aku sedari tadi belum istirahat.Kulit jari tanganku saja masih mengkerut karena memeras jeruk." Gumam April pelan tapi ternyata didengar oleh Febi.


Febi melirik jari tangan April.Dan ternyata benar,kulit telapak tangannya mengkerut karena memeras jeruk,pasti perih rasanya.Namun nampaknya Febi tak perduli dengan hal itu.


April dan febi sampi di temlat biasa untuk memecah kelapa.

__ADS_1


"Kamu yang pecahin kelapanya ya !! Aku yang ngerok dagung nya aja." Ucap Febi.


"Aku?" Tanya April.


"Iya lah siapa lagi.Tak ada laki-laki disini." Ucap Febi.


Dengan kesal,April meletakkan golok di atas kelapa muda.Dan dengan keras April memukul golok itu dengan palu.Karena April sedang emosi,maka dalam sekali pukul,golok itu sudah dapat menembus kulit kelapa yang tebal.


Setelah dirasa golok menancap cukup dalam.April membanting kelapa agar golok dapat memecahkan kelapanya.Dua kali bantingan,air jelapa langsung merembes keluar.


Ditampung air kelapa itu,lalu April membanting sekali lagi.


Prakkk....


Terbelahlah menjadi 2 kelapa yang keras itu.Febi sempat terkesiap sejenak lalu mengambil kelapa yang telah terbelah dan mengerok dagingnya.


Baru 3 buah kelapa yang dikeruk Febi,tiba-tiba ada orderan masuk.


"Ada orderan minuman." Teriak Mbak yuni.


April hendak bangkit namun keduluan Febi.


"Aku saja." Ucap Febi cepat dan berlari.


Tinggallah April sendirian dengan 7 butir kelapa yang harus Ia pecahkan lagi.


Dengan kesal April memecah kelapa-kelapa tak berdosa itu.Sebagai pelampiasan kekesalannya.Padahal sebelumnya April tak pernah menyentuh golok sama sekali. Namun karena kesal,April jadi fasih dalam menggunakan benda tajam itu.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa like komen vote serta favorit yah.


Maaf jika alur ceritnya mulai membosankan dan tak menarik lagi.

__ADS_1


🙏


Happy Readingg..


__ADS_2