Takdirku?

Takdirku?
Part 132


__ADS_3

"I-ituu... A-anuu..." April tergagap bingung hendak menjawab apa.


" Kenapa Gugup? Kenapa kameranya tidak kamu hadapkan di wajahmu? Aku ganggu acara ladenmu ya?" Tanyanya.


" Ti-tidakk...Tidakk..." Ucap April cepat sambil geleng-geleng. Padahal lawan bicaranya pun tak dapat melihatnya.


" Se-sebenarnya..." April ragu untuk berkata jujur.


" Kenapa?" Tanya Salim.


" Hari ini aku menikah." Ungkap April lirih. Kamera pinsel masih menghadap ke arah belakang.


April tak enak hati dengan Salim.Pasalnya April selama ini tahu,jika Salim menyimoan perasaan terhadapnya.


Sejenak terdengar hening,namun sejurus kemudian terdengar gelak tawa Salim.


" Aha ha ha ha... Lucu sekali bercandamu April." Kekeh Salim Terdengar kekehan renyah Salim.


" Aku serius Kak." Ucap April dengan nada yang lebih serius.


April mengalihkan kameranya menjadi kamera depan.Kini terlihihat wajah April yang amat cantik dengan riasan khas adat jawa.


Mendengar itu,Salim langsung menghentikan tawanya. Ditatapnya layar ponsel yang menampakkan wajah April.


Cantikk.. Batin Salim tanpa sadar.


Awalnya Salim terkesiap,lalu detik berikutnya Salim kembali mengingat hal yang diucapkan April.


" Ka-kamu seriusan nikah Pril?" Tanya Salim tergagap. Tubunnya kaku,ekspresinyapun sama kakunya.


Terlihat April mengangguk.


" De-dengan siapa?"


" Mas Andi." Lirih April.


Deg.....


Mencelos hati Salim.


Ternyata aku kalah Pril.. Aku kalah cepat dari Mas Andi. Sia-sia sudah 7 bulan ini aku bekerja keras untuk mendapatkan uang agar bisa melamarmu. Batin Salim pedih.


" Aahh...Se-selamat ya atas pernikahan kalian." Salim berucap dengan senyum yang dipaksakan.


" Iya Kak."


" Emmm... Btw, kaau cantik sekali kalau begini. Andai saja aku yang jadi mempelai lelakinya." Ucap Salim jujur.


"Terimakasihh atas pujiannya." Lirih April.


" Ya sudah,aku tutup ya vidio callnya."


" Iya."


Panggilan terputus,menyisakn kesesakan di dada April maupun Salim.


" Huuuhhh...Seruu bangett dangdutnya." Seloroh Mas Yen yang datang kembali. Diikuti dengan Mas Apit dan Mas Agung pula.


" Iya bener Yen,biduannya behhh.... mantab bener goyangannya " Kelakar Agung mengingat betapa menghebohkannha goyangan pinggul biduan yang mampu menggoda iman.

__ADS_1


" Benerr lu... Apalagi yang pakai baju pink salem,roknya pendek banget. Wajahnya juga paling cantik,paling bahenol pula." Ucap Yen mengagumi.


" Bungkuss saja Yen." Seloroh Apit.


" Maunya sih gitu, Ha ha ha..." Kelakar Mas Yen.


Kemudian disusul datangnya para ciwi-ciwi yang sudah selesai ber-selfi ria. Terlihat wajah Anton yang ditekuk. Sepertinya kesal karena meladeni tinggkah para ciwi-ciwi.


" Pulang yuk,udah larut nih." Ajak Devi.


Jam memang sudah menunjukkan pukul 21.55. Hiburan pun juga berakhir berbarengan dengan kembalinya Mas Yen tadi.


" Yok..." Jawab semuanya.


Mereka pun berpamitan untuk pulang. Saat bersalaman,tak lupa mereka memberikan amplop berisi uang sebagai hadiah di hari pernikahan April.


" Terimakasih sydah datang ya semuaa.. Hati-hati di jalan." Pesan April.


Mas Apit adalah yang terakhir berpamitan. Mas Apit diam berdiri di hadapan April.


" Mas Apit." Lirih April.


Sungguh,Mas Apit adalah orang yang paling peka terhadap perasaan April.


Mas April memeluk April,kemudian Ia berbisik di telinga April.


" Kamu wanita yang kuat. Jangan jadi lemah hanya karena ujian dari Tuhan.Aku ingin kamu selalu tersenyum dan bahagia." Bisik Mas Apit lirih.


April melepas pelukan Mas Apit karena tak nyaman jika dipandang orang. April mengangguk lalu menyalami tangan Mas Apit yang hendak pulang.


" Sesekali telpon aku,pasti si Rafa akan merindukanmu." Ucap Mas Apit sambil mengusap gemas kepala Pril. Rafa adalah nama anak Mas Apit yang baru saja lahir 2 bulan yang lalu.


" Pasti Mas.. Pasti aku akan merindukan si gembul itu." Ucap April .


Tangannya mengepal menahan amarah. Andi pun langsung bangkit menghampiri April. Ditepianya pelan tangan Apit yang masih berada di kepala April


" Sudah mau pulang Mas?" Ucap Andi berusaha ramah.


" Iya nihh Mas,sudah larut." Jawab Apit tersenyum sinis.


Apit mengulurkan tangan pada Andi hendak berpamitan. dijabatlah oleh Andi .


Merasa mendapat kesempatan untuk menegur perbuatan Apit. Andi meremas kuat tangan Apit. Mata Andi menatap Apit tajam,seolah berkata April adalah milikku.


Terlihat jelas Apit tersenyum miring,seperti meremehkan Andi. Tangan yang saling bertaut itu beradu kekuatan,saling meremas hingga terkadang Andi dan Apit meringis kecil.


" Ehemm..." Degem April yang melihat keduanya saling bertatapan dengan tangan yang bertaut.


" Mau sampai kapan jabat tangannya?" Tegur April.


Sontak kedua pria itu langsung melepaskan tautan dengan kasar.


" Aku pamit dulu ya.Dan ini spesial untukmu." Apit menyerahkan amplop berwarna pink di tangan April.


" Pamit dulu broo." Ucap Apit pada Andi.


" Yoii... Ati-ati,kalau jatoh bangun sendiri." Ucap Andi.


" Pastii... Mana mungkin mau diem aja nungguin emak dateng." Jawab Apit menanggapi.

__ADS_1


Acara pun selesai. April dan Andi berganti baju.April sedang sibuk melepas hiasan rambut di keplanya.


" Prill... Ayo kita ke ruang tengah dulu." Panggil Ibu.


Sekarang rumah April memang sudah sepi. Hanya ada Nenek,Budhe dan Tante saja.


April diam,April tahu arah pembicaraan ini.


" April capek Buk,mau istirahat saja." Tolak Pril halus sembari mengapus make upnya.


" Nakk...." Lembut Ibu memegang bahu April.


" Kita harus selesaikan masalah ini sekarang. Semua sudah menunggu di ruang tengah. Andi pun juga sudah di sana." Ucap Ibu memberi pengertian.


"Akuu... Aku belum siap menerima kenyataan yang lebih menyakitkan Buk." Lirih April masih terus mengusap wajahnya menggunkan kapas. Namun sorot matanya terlihat kosong,penuh kesedihan.


" Kita selesaikan sekarang." Tegas Ibu.


Ibu membantu April membersihlan make up. Setelahnya,dituntunnya April menuju ruang tengah.


April duduk di samping Ibu dan Bapak. Dilihatnya Toni yang duduk di hadapan April dengan wajah kusut.


Seharian ini Toni bersiam di pojokan menunggu momen ini.


" Aprill..." Lirih Toni dengan nada tercekat.


" Ini Ayah Nakk... Ayahmuu..." Ucap Toni berusaha meraih April.


" Jangan sentuh putriku sebelum semuanya jelas." Tegas Ayah menepis tangan Toni.


" Semua sudah jelas Pak,saya sudah memberikan bukti hasil tes DNA pada kalian. Disana tertulis jelas jika 98% data saya dan April memiliki kecocokan." Jelas Toni mengiba.


" Bisa saja kamu memalsukam hasil DNA itu." Bentak Bapak.


" Saya adalah Dokter di Rumah Sakit X. Jika Bapak tak percaya dnegan hasil tes itu,Bapak bisa datang ke sana dan memastikan keakuratannya." Jelas Toni tegas.


" Kami tak bisa langsung percaya begitu saja pada Anda. Bagaimana pun,Anda adalah orang asing yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai Ayah biologis anak saya April." Ucap Ibu.


" Tidakk... Saya tidak datang tiba-tiba. Sebelumnya,sewaktu April kecil saya pernah bertemu dengan Sari. Waktu itu April sedang sakit,dan Saei membawanya Ke Rumah Sakit tempat saya bekerja." Ucap Toni.


Mendengar Itu,Bapak langsung naik pitam.


" Jika kamu telah bertemu dengan Sari dan April waktu itu. Kenapa kamu tak bertanggung jawab Haaaa?" Bapak emosi.


" Saya... saya...."


.


.


.


.


Bersambunggg...


Jangan lupa like komen vote serta favorit yah...


Dukung terus Aprilll di sini...

__ADS_1


Happy reading..


Babayyy...


__ADS_2