Takdirku?

Takdirku?
Part 131


__ADS_3

Setelah terdengar para saksi mengatakan SAH. Andi mengambil kotak cincin,lalu disematkannya di jari manis April.


April mencium tangan Andi. Tangan Andi reflek mengelus kepala April.Setelah itu,Andi mencium kening April dengan lama. Andi menikmati momen itu.


Setelahnya,Andi menyerahkan parsel satu set mukenah kepada April. Itu adalah mahar yang Andi berikan untuk April.


Penghulu memimpin pembacaan doa akad nikah agar pernikahan tersebut senantiasa mendapatkan berkah.


Setelah akad nikah selesai,kini April dan Andi sah menjadi suami istri.


Kini acara resepsi mulai berlangsung. Banyak taku undangan yang datang untuk memberikan selamat pada mempelai.


April hanya tersenyum samar menanngapi,matanya yang bengkat tak bisa menutupi kesedihannya.


Banyak juga teman-teman sekolah April dahulu. Mereka menatap heran pada ekspresi April.


Wajah April terlihat sendu,tanpa adanya sedikit mimik kebahagiaan.


Hal itu lah yang membuat kawan-kawan April berspekulasi sendiri. Mereka berfikir jika April terpaksa melakukan pernikahan ini. Makanya April terlihat sangat sedih di atas pelaminan.


Padahal hal yang sesungguhnya terjadi bukanlah itu. Bahkan lebih menyakitkan dari pada dipaksa menikah dengan orang yang tak dicintai.


" Samawa ya Aprill..." Ucap Kawan April.


April hanya tersenyum samar dan mengangguk.


Andi yang melihat kesedihan April pun tak tega. Hati Andi juga sakit,acara pernikahan yang dinanti-nantinya malahan berantakan seperti ini.


" Dekkk..." Sapa Andi yang membuat April menoleh.


" Yang kuat ya..!" Semangat Andi tersenyum menatap manik cokat April yang terlihat sayu.


Andi mengusap pelan bahu April menguatkan. Bukannya tambah kuat,April justru makin bersedih.Hingga tak terasa air matanya kembali menetes.


Andi pun panik melihatnya,takut jika dilihat tamu undangan yang lainnya.


Tanpa pikir panjang,Andi langsung memeluk April dalam dekapannya.Diusapnya punggung Aprik agar lebih tenang.


Terdengar isakan kecil dari April. Isakan yang tertahan pastinya.


" Bersedih bolehh... Menngispun juga boleh. Tapi jngan sampai berlarut-larut ya Dek... Gak baik..." Lembut Andi.


" Kita ini hambanya Allah. Jalan hidup kita sudah ditakdirkan semenjak kita di dalam kandungan. Pasrahkan semuanya pada Takdir Allah ya Dek.. Ikhlaskan,jangan simpan dendam. Dendam itu dapat merusak hatimu. Akan ada titik hitam besar jika kamu terus-terusan menumluk dendam." Andi berucap berbisik di telinga April.


April seketika langsung berhenti menagis,dieratkan pelukannya pada Andj,bermaksud mencari kekuatan di sana.Setelah tenang,April mengurai pelukan Andi.


Andi apontan meraih tisuu lalu menyeka air mata April.


" Hemmm... Ini mata kamu udah kayak di sengat lebah aja nih Dek." Canda Andi yang mengusap pipi April.


April menggeplak bahu Andi,sebal karena di goda. Namun April sedikit tersenyum.


" Aduhh... Kok di geplak sih Dek,belum apa-apa kamu sudah KDRT nihh..."


" Abisnya Mas Andi bilang yang enggak-enggak."


"He he he... Biar kamunya senyum Dek. Tapi Mas beneran gak bohong loh,mata kamu beneran bengkak." Ucap Andi.


April memang sudah tau jika matanya bengkat.Karena saat ini Ia kesulitan membuka matanya,matanya terasa amat penuh dan mengganjal.


"Untung aja sepi tamunya Dek.,jadi gak ada yang lihat kamu nangis tadi." Gumam Andi.


Ternyata sedari tadi,Ibu dan Bapak yang sedang menyambut kedatangan tamu di depan,terus curi-curi pandang mengamati April.

__ADS_1


Mereka juga merasakan kepiluan yang sama. Luka lama mereka kembali terbuka karena kedatangan Toni.


"Kasihan April Pak.." Lirih Ibu menatap Kesedihan April.


"Gustii Allah ngasih cobaan ke April dari dia kecil sampai sebesar ini Buk. April anak yang kuat mental dan fisiknya.Alhamdulillah Ia bisa bertahan sampai sekarang." Ucap Bapak memandang sedih ke arah April.


Sekarang sudah memasuki waktu isya,makanya tamu yang datang mulai berkurang.


" Iya Pak... "


" April itu Anak kita Buk,hanya Anak kita." Ucap Bapak dengan tegas. Ingatannya kembali pada perkataan Toni


" Iya Pak... Apapun alasannya,April tetap anak kita." Jawab ibu ikut menggebu-gebu.


" Ngomong-ngomong,kemana si Toni itu?" Ucap Ibu menatap Bapak.


" Noohhh..." Jawab Bapak sambil menunjuk posisi Toni berada dengan mengunakan dagunya.


Ibu mengikuti arahan Bapak,Ternyata Toni sedang duduk di pojokan. Sendirian,matanya selalu menatap ke arah April.


" Ku kira sudah pulang dia,ternyata malahan ngompleh disitu." Ucap Ibu.


" Katanya mau bicara sama April dulu habis acara nanti."


" Lahh... Kan acaranya selesainya jam 10 malam Pak."


" Ya mau bagaimana lagi Buk? Kita tunggu saja acaranya selesai,nanti kita selesaikan masalah ini sejelas-jelasnya !." Tegas Bapak.


" Benar Pak."


Kembali lagi pada April. April tengah menyambut teman-teman kerjanya di Rumah Makan dahulu.


Ada Mas Apit,Deli,Devi,su'am,Mas Yen,Mas Anton dan Mas Agung yang datang untuk memberikan selamat di hari bahagianya April.


" Aprill...." Heboh Mas Agungg.


April yang tadinya diam melamun sendirian pun langsung menoleh. Senyum tersungging secera spontan saat melihat kedatangan kawan-kawannya.


" Aaaaaaaiiii Kawann-Kawann..." Ucap April tak kalah heboh.


" Sini-sini dudukk sini..." April mempersilahkan.


Mereka semua duduk,disebelah kanan April ada su'am,sedangkan disebelah kirinya ada Mas Apit.


" Suamimu mana?" Tanya Mas Apit yang sedari tadi diam.


" Mas Andi sedang menyapa kawannya." Jawab April sambil menunjuk posisi Mas Andi.


" Mas Mas Andii..." April memanggil Mas Andi agar menghampiri.


"Mass.." Sapa Mas Apit lalu mereka bersalaman.


Karena tak kenal,Mas andi pun.memilih bergabung dengan teman-temannya yang datang,setelah selesai bersalaman dengan teman April.


" Saya tinggal ke sana dulu ya Mas,Mbak..." Pamit Andi.


" Iya Mass.."..


Kenapa matamu bengkak? Apa kamh sangat tersiksa dengn pernikahan ini Pril? Batin Andi menatap April dalam.


"Wihh dangdutnya nikmat bener. Ajib bener gendangannga." Ucap Mas Yen sambil menggoyangkan kedua ibu jarinya.


" Gass yokk..." Ajak Agung yang juga sedang bergoyang menikmati musik.

__ADS_1


" Sanaa gabungg Mas.. Banyak yang nyawer tuh pemuda diaini." Devi mendorong kedua lelaki itu.


" Malu ah.." Elaknya maaih dengan berjoget.


" Jika mau gabung ya gabung aja Mas.." Ucap April.


Mas Yen dan Agung pun saling tatap lalau mengangguk. Mereka berdua berjalan mendekat ke arah kerumunan.


" Prill..Kita foto-foto duku di pelminanmu yah. Siapa tau bisa ketularan dapat jodoh." Canda Su'am.


" Aha ha ha... Iya iya sana..."


" Ayo Mas Anton tolong fotoin kita." Devi menarik tangan Anton.


Tinggallah Mas Apit dan April disana.


" Prill..." Panggil Apit.


" Hemm?" Dehem Aprik sambil tersenyum.


" Kenaoa matamu bengkak? Apa kamu sangat tertekan dengan pernikahan ini?" Tanya Apit to the poin.


April memggeleng sambil menunduk.


" Lalu kenapa?"


" Tadi ada orang yang datang dan mengaku semabagai Ayah kandungku Mas." Lirih April.


April menceritakan semua kejadian hari ini. Apit menang sudah tau tentang masa lalu April dari Vani.


Apit terkejud mendengarnya,diusaonya kembut lengan Pril.


" Jangan mengambil keputusan di waktu marah. Apapun hal yang akan terjadi nanti,pikirkanlah perkataanmu sebelum kau lontarkan.Karena biasanya,penyesalan akan datang di akhir." Ucap Apit menguatkan.


April tersenyum dan mengangguk.


" Yaudah,aku gabung joget dulu yah.Kendangannya gokil nih,bikin badan jadi goyang." Ucap Apit.


April memgangguk dan terkekeh kecil.


April memandangi kawan-kawannya yang sibuk sendiri.Tiba-tiba ponsel ya berbunyi.


Ada panggilan vidio call masuk.April tak langsung mengangkatnya. Hatinya ragu untuk menggeser tombol berwarna hijau.


" Haloo Assalamualaikum." Ucap April setelah mengangkat panggilan teleponnya.


" Waalaikum salam Pril..." Jawab seseorang disebrang telepon.


" Kok kamera belakang sih? Ehh... Kok ada panggung oelaminan dan suara musik? Kamu lagi laden ya? (laden itu sebutan bagi pemuda desa yang ikut membantu di acara hajatan.)" Sambung orang itu.


" I-ituu... A-anuu..." April tergagap bingung hendak menjawab apa.


" Kenapa Gugup? Kenapa kameranya tidak kamu hadaokan di wajahmu? Aku ganggu acara ladenmu ya?" Tanyanya.


" Ti-tidakk...Tidakk..." Ucap April cepat sambil geleng-geleng. Padahal lawan bicaranya pun tak dapat melihatnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambunggg....


__ADS_2