Takdirku?

Takdirku?
Pasar malam


__ADS_3

"Emmmm.... Ngomong-ngomong kita mau kemana sih Mas?" Tanya April.


"Saat ini Mas gak bisa bawa kamu ke tempat yang bagus Dek. Kalau Mas ajak ke pasar malam atau taman kota mau?" Ucap Andi dengan nada ragu.


"Pasar malam ? Mau mau Mas. Kalau tempatnya gak jauh aku mau." Jawab April antusias.


" Okayy,let's go !!!" Andi menambah kecepatan laju motornya.


April sekarang sudah mencoba untuk dapat menerima Andi sebagai calon suaminya. Karena hanya tinggal 2 bulan kurang,Andi akan benar-benar menjadi suaminya.Masa depan hidupnya kelak.


"Wahhhh ramai sekali pasar malamnya." Binar April saat mereka telah memasuki area pasar malam.


Andi berjalan dibelakang April. Karena gadis itu sangat bersemangat sampai meninggalkan Andi dibelakangnya.


"Boleh naik wahana Mas?" Tanya April berbalik menghadap Andi.


"Emmmm..... Boleh tidak yaaa?" Goda Andi sedikit mencondongkan wajahnya ke wajah April.


Refleks April menarik mundur wajahnya.


"Emamg mau naik wahana apa sih? Rumah hantu?" Tanya Andi.


" Enggak ah, rumah hantu mah gak seru." Enteng April.


"Gak seru apa takuttt ? Hemmm ?" Cibir Andi menaik turunkan alisnya.


"Aissss iya deh ngaku. Dulu waktu aku masuk ke rumah hantu. Pas aku dikejar-kejar hantunya kan aku lari. Eh malahan jatoh sampai lututku dan sikuku berdarah. Karena saking kencangnya aku lari,sampai jatuhnya juga sakit banget. Celana dan bajuku sampai sobek. Dan lukanya baru sembuh setelah 2 minggu. jadi aku trauma kalau mau naik wahana rumah hantu." Jelas April sambil nyengir.


" Ha ha ha... Kasihan kamu Dek. Jadi kali ini kamu mau naik wahana apa ?"


"Sudah lama aku gak ke pasar malam. Emmmm.... Aku mau naik wahana sangkar burung dong Mas." Manja April.


"Kamu gak takut ketinggian?"


"Enggak kok,malah seruu." Jawab April antusias.


Andi pun bergegas membeli 2 tiket masuk lalu mengajak April menaiki sangkar burung.


Wahana pun mulai berputar,yang awalnya rendah menjadi semakin tinggi dan semakin tinggi.


"Wahhh sejuk sekali anginnya. pemandangannya juga bagus." April memandangi sekitarnya yang terasa mengecil.


Andi hanya diam saja mengamati April. Posisi mereka saat ini duduk bersebrangan dengan saling berhadapan.


April sibuk mengamati hingga lupa jika Ia sedang bersama Andi..


Krekkk Krekkk Krieeetttt...


"Aahhhhhh..."


"Aahhhh kenapa inii..?"


" Aaaaaaa,ada apa ini?"


Terdengar suara jeritan dimana -mana.


"Aaaaaa... Mas Mas andii." April ikut panik lalu segera mencari-cari Andi.


Wahana sangkar burung tiba-tiba macet. Tepat saat sangkar burung yang ditumpangi Andi dan April berada di posisi paling atas.


Mesin sangkar burung mati. Hingga lampu yang menerangi sangkar burung pun juga ikut padam. Seluruh penumpang sangkar burung dikanda kepanikan pada gelapnya malam.


"Heii tenangg... Mas ada disini." Andi meraih tangan April yang sedari tadi menggapai udara.


Dalam gelap,Andi mengelus tangan April memberikan ketenangan. Andi paham jika saat ini April tengah ketakutan. Terbukti dari cengkraman tangan April yang begitu erat pada genggamannya.


"A-aku takut Mas.."

__ADS_1


"Tenangg... Kita akan aman asalkan kita tak gegabah. Kita ikuti instruksi dari panitia maka kita akan selamat."


"Dimohon untuk para penumpang jangan panik dan melakukan hal-hal yang membahayakan. Tolong duduk lah dengan tenang di dlaam snagkar burung. Teknisi kami sedang memperbaiki masalahnya. Dan wahana ini akan segera aktif kembali." Ucap seseorang yang berada di bawah. Orang itu menggunakan toa agar seluruh orang dapat mendemgarkan instruksinya.


Kreeekkkk... Kriieeettttt...


Alhirnya wahana kembali berputar. Lampu kelap-kelip pun kembali menerangi sangkar. Terdengar hela nafas lega dari seluruh penumpang.


"Alhamdulillah.." Syukur April.


Andi hanya diam dengan tangan yng masoh mengelus tangan April.


"Astagfirullah... Ma-maaf Mas." April yang sadar lalu menarik tangannya.


Andi hanya terkekeh kecil.


"Katanya gak takut ketinggian ? Kok tadi Adek ketakutan ?" Ledek Andi.


"Beda ceritanya kalau macet kayak tadi Mas. Apa lagi posisi kita berqda di paling puncak. Kalau seumpama wahana ini gak bisa jalan lagi. Nanti kita paling susah untuk di evakuasi turun." Kilah April.


April kembali mengagumi pemandangan di sekelilingnya sebelum sangkar mendarat. April seolah telah lupa akan rasa ketakutannya tadi.


"Sekarang mau kemana lagi?" Tanya Andi begitu sudah turun dari wahana.


kini mereka berjalan beriringan dengan jarak 60 cm.


"Kalau pulang aja gimana Mas? "


"Kenapa pulang? Kan baru naik satu wahana." Andi mengernyit.


"A-aku gak bawa uang buat jajan." Cicit April pelan.


"Ha ha ha... Kamu ini Dekkk,Dek...Kan Mas yang ajak kamu main,jadi Mas yang akan bayar semuanya lah Dek." Kekeh Andi menggeleng pelan.


"Be-beneran Mas?"Binar April.


"Emangnya Adek mau beli apa hemmm? Bilang aja,nanti Mas belikan kok." Tawar Andi.


"Ma-mau permen kapas." Cicit April malu-malu.


Andi gemas ingin mengelus pucuk kepala April.


"Andi lamgsung pergi membeli permen kapas yang ternyata standnya persis di sebelak kanan Andi.


"Ada lagi tuan putri? " Andi menyerahkan sebungkus permen kapas yang mengembang bak guling kecil.


April menggeleng.


"Kita kemana lagi?"


" Cari tempat duduk yuk. Cari tempat yang agak luas." April berjakan emimpin mencari padang rumput yang sekiranya dapat Ia duduki.


April melihat sekeliling. Saat ini Ia tak berada jauh dari wahana para kuda yang berputar-putar. April dapat melihat senyum bahagia dari para anak-anak yang sedang manaiki wahana tersebut.


April duduk, Namun sedetik kemudian Ia menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Loh dimana Mas Andi? Apa dia meninggalkanku disini sendirian." April langsung bangun dengan segera dan celingukan mencari keberadaan Andi.


"Tega sekali Mas Andi meninggalkanku. Bagaimana caranya aku pulang nanti." Ucap April sedih sembari menunduk memeluk permen kapasnya yang masih terbungkus plastik.


"Kenapa masih berdiri disini Dek?" Suara Andi dari belakang membuatnya terkejud.


"Mas Andi."Binar April lega.


"Kenapa terlihat senang sekali?" Heran Andi.


"Ku kira Mas meninggalkanku disini sendirian." Gerutu April manyun.

__ADS_1


Manis sekali,


Andi mengangkat kedua tangannya yang memegang 2 cup pop ice. Dan plastik yang berisi 2 sosis bakar jumbo.


"Aku membeli ini untuk menjadi teman ngobrol kita."


"Hemm."


Mereka duduk berdua dengan jarak 50 cm sembari memakan makanannya masing-masing.


Sejenak suasana menjadi hening diantara keduanya. Hanya terdengar suara senang anak-anak. Serta jeritan para penjual makanan.


"Emmmmm Dek." Andi buka suara.


"Iya kenapa?" April menoleh, Mulutnya masih dipenuhi sosis yang sekarang masih di genggamannya.


Andi mengeluarkan ponselnya. lalu memencet sesuatu yang tak diketahui April.


April heran melihatnya. Andi memanggilnya hanya untuk melihatnya bermain ponsel. April malas lalu kembali memandangi wahana kuda yang berputar.


"Selamat ulang tahun Aprilia Calista." Andi berucap dengan posisi ponsek yang didekatkan ke mulutnya.


Setelah berucap, Andi membalik ponsel itu hingga layarnya menghadap ke April.


Selamat ulang tahun Aprilia Calista.


Suara cempreng terdengar mengulangi perkataan Andi.


April melihat ponsel Andi yang menmpakkan sosok bersuara cempreng itu.


Terlihat seekor kucing berwarna abu-abu. Kucing itu berdiri demgan kedua kaki belakangnya. Kucing itu tersenyum menatap kue ulang tahun yang ada di depannya.


Ternyata Andi menggunakan Aplikasi Talking Tom untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada April.


April terkekeh melihat tingkah konyol Andi.


"Matikan dulu lilinnya." Ucap Andi dengan cengiran.


April pun tersenyum lalu menekan gambar lilin yang menyala pada layar ponsel Andi. Seketika lilin padam dan si kucing Tom bersorak senang sambil bertepuk tangan.


"Dan ini hadiahnya.." Andi menyodorkan Plastik hitam pada April.


.


.


.


.


...Bersambung...


...Jangan lupa...


...Like...


...Komen...


...Vote...


...Serta...


...Favorit yah.....


...Dukung terus kelanjutan karyaku.....


...Happy Reading Readersss...😄😉...

__ADS_1


__ADS_2