
Andi datang dengan membawa 2 bungkus nasi bakar yang masih panas.
" Eemmm... Harum banget wanginya Mas." Ucap Aprip menghirup udara sembari matanya terpejam.
" Ayo kita coba rasanya, selagi masih panas."
" Lebih baik kita pesan surabi dulu. Nanti kita bisa menunggu surabinya matang, sembari kita makan nasi bakar ini."
" Boleh.."
April dan Andi beranjak menuju tempat penjual kue surabi. Tercium bau asap khas pembakaran arang. Tercium pula harum lezat aroma surabi yang baru saja di angkat dari tungku.
" Surabinya masih Bu..." Tanya April kepada penjual wanita yang umurnya kisaran 45 tahun.
" Tentu saja masih neng. Kita buka sampai jam 10 malam kok."
" Emmm.." April ragu untuk memesan surabi sesuai keinginan Ibu. April melirik Andi di sampingnya.
" Emmm , Buu.. Saya mau pesan surabinya." Ucap Andi.
" Mau yang rasa apa Mas?" Tanya si penjual.
" Eemmm.... Begini... Saya pesan rasa surabi yang tak pernah ada." Ucap Andi disertai cengiran.
Seketika Ibu penjual surabi menyipit,
" Mas dan Mbaknya ini siapanya Bu Risma?" Tanya penjual.
" Saya anaknya Bu, dan ini istri saya." Jelas Andi.
" Kok Ibu kenal dengan Ibu saya?" Heran Andi.
" Ha ha ha.. Karena hanya Bu Risma yang memesan surabi dengan sebutan seperti itu." Kikik Ibu penjual surabi.
April dan Andi saling pandang.
" Sebentar-sebentar, akan Ibu buatkan yang paliang sepesial buat Risma." Ucap penjual setelah berhasil menghentikan tawanya.
" Memangnya ada ya Bu, rasa yang seperti itu?" Tanya April.
" Tentu saja ada Mbak.." Ucapnya sembari menuang secentong adonan surabi ke tempat pembakarannya.
" Sudah hanya rasa yang ini saja? Gak ada yang lain?"
" Kamu mau surabi gak Dek?" Tanya Andi pada April.
" Boleh Mas."
" Ada rasa apa saja ya Bu? Rasa yang paling enak dan rekomended apa?" Tanya April.
Si Ibu mengipasi tungku dengan kipas dari anyaman bambu.
" Yang spesial itu rasa yang sulit untuk diungkapkan." Ucapnya dengan menahan senyum.
" Memangnya semua rasa surabinya aneh-aneh seperti itu ya?" Heran Andi.
" Surabi saya sepesial, jadi memiliki nama-nama yang spesial juga lah Mas.."
"Membingungkan, rasa apa lagi itu coba." Gumam Andi yang susses membuat penjual surabi terkekeh.
" Inii... Surabi dengan rasa yang tak pernah ada sudah matang." Ucapnya sambil meyerahkan seporsi surabi dalam kotak kecil.
" Coba buka Dek, Mas penasaran rasa apa sih?"
__ADS_1
April membuka kotak dus itu,
" Ini mah rasa oncom pedass..." Ucap Andi merengut.
" Kenapa juga bisa dinamakan rasa yang tak pernah ada." Gerutu Andi.
" Seperti rasa Samyangku yang tak pernah ada untukmu." Ucap si penjual.
" Apalagi itu samyang...Samyang itu kan mie, ini surabi." Ucap Andi tak percaya.
" Maksudnya si Ibu itu.. Rasa sayangku yang tak pernah ada untukmu Mas." Bisik April menjelaskan lelucon si penjual.
" Ohh astagaaa..."
" Samyang kan rasanya pedass, lah ini kan rasanya juga pedas. Jadi sala saja lah, jangan di ambil pusing mikirinnya." Ucap Ibu penjual surabi enteng.
Andi menepuk jidatnya melongo. Sungguh ada-ada saja ide sang penujual untuk menarik minat pembeli dengan nama-nama yang unik.
" Lalu, Rasa yang sulit untuk diungkapkan itu rasa apa?" Tanya Andi.
" Monggo dilihat sendiri." Ucapnya mengulum senyum.
" Ini mah rasa kejuu..." Geram Andi menjambaki rambutnya sendiri.
April terkekeh gelu melihat kekecewaan sang suami. Sedangkan si Ibu penjual surabi hanya tersenyum. Karena Ia sering melihat oelanggan yang modelannya seperti Andi. Banyak juga yang protes dan gemas dengan nama-nama surabi yang Ia ciptakan.
" Iyaa benar Mas.. Rasa yang suliit untuk diungkapkan itu ya keju-juran." Entengnya.
Andi manggut -manggut dengan wajah datarnya.
" Ibu memang ter ter ter the best. Sepertinya Ibu punya moto hidup, Kenapa harus dipermudah jika bisa dipersulit." Ucap Andi dengan mengacungkan kedua jempol tangannya.
" Wahh.. Makasih masukannya Mas. Nanti akan saya tambahkan kalimat seperti itu di spanduk jualan saya."
Ternyata di sebelah kanan gerobak sudah ditempel aneka gambar surabi dengan nama-nama yang unik. Pembeli akan tahu rasa apa dari gambat yang di tempel disana.
Karena Andi dan April tak melihatnya, jadilah Andi seperti orang bodoh sendiri.
" Sudahlah Bu, saya pusing jadinya." Ucap Andi yang memijit pelipisnya yang berdenyut.
" Berapa Bu semuanya?" Tanya April.
" 20.000 saja Mbak.. Harga kawan."
" Tunggu dulu, siapa nih yang berkawan?" Potong Andi.
" Ya kita lah Mas."
" Kita?" Andi mengangkat sebelah alisnya. Ibu penjual surabi punmengangguk mantab.
" Lo aja kali.." Ujar Andi seraya berpura-pura mengibaskan rambut panjang.
Gelak tawa kembali menambah ramainya jalanan. Aprip menyerahkan uang pas kepada penjual. Lalu kembali duduk di kursi trotoar untuk memakan nasi bakar yang sudah hampir dingin.
Setelah selesai makan, April mengahak Andi pulang. Ternyata sudah pukul setengah 10 malam. Angin malam sejuk menusuk kulit.
April mengeratkan pelukannya pada Andi yang tengah mengemudikan motor menuju arah pulang.
" Dingin ya?" Tanya Andi sedikit melirik dari sepion motor.
" He umm Mas..." Jawab April merapatkan diri.
Tiba-tiba, Andi menepikan motornya.
__ADS_1
"Kok berhenti Mas?" Heran April.
Andi tak menjawab, Andi membuka jaket yang Ia kenakan. Lalu dengan telaten, jaketnya Ia pakaikan pada sang istri.
" Gak usah Mas, Nanti Mas Andi kedinginan. Mas Andi cuman pakae celana pendek sama kaos pendek itu lohh." Tolak April berusaha melepaskan jaket Andi
" Mas itu kuatt, jangankan angin malam. Hujan badai, halilintar, angin ribut akan Mas trabas demi kamu sayang." Candanya.
Tiba-tiba bertiup angin yang cukup kuat, membuat jilbab April berkelepat tak tentu arah.
" Astagfirullah... Ampunn Ya Allahh... Hanya main-main saja.." Ucap Andi menepuk pelan mulutnya berkali-kali.
" Tuh Mas... Makanya kalau ngomong dijaga." Tegur April menepuk pundak Andi.
" Iya iya Maaf..."
Andi kembali melanjutkan perjalanan pulangnya. Dijalan, April kembali mengingat sesuatu.
" Mas."
" Iyaa?"
" Nanti kalau lewat depan Apotek berhenti sebentar ya." Pinta April.
" Apa ada yang mau kamu beli?" Tanya Andi.
" Iya Mas, aku mau beli sesuatu dulu. Boleh kan ?"
" Bolehh.. Sebentar lagi sampai, nanti Mas akan berhenti."
" Memangnya mau beli apa sih?" Tanya Andi penasaran.
" Emmm..." April ragu untuk berucap.
" Kok Hmmm aja ? Mau beli apa?" Tanya Andi sekali lagi.
" Nanti Mas Andi akan tau sendiri."
" Ya sudahh kalau begitu , Mas gak akan berhenti." Ancamnya.
" Issshh Mas Andi mah gitu orangnya." Gerutu April.
"Makanya kasih tau.."
" Aku mau beli...."
.
.
.
.
Bersambungg...
Hai hai haii..
Maaf ya kemarin tidak update. Paket datanya author habiss, Dompet bokek. Niatnya mau beli paket data nungguin gajian dari NT. Tapi kalau beneran nungguin gaji nulis. Pasti bakalan lama bingittsss, Entah berapa bulan atau tahun bisa tarik tunainya 😂Keburu kabur pembacaa April..
He he hee..
Tetap dukung April dengan Like Komen Vote Favorit dan beri hadiah sebanyak-banyaknya ya..
Biar bisa buat beli kuota, kalau enggak buat beli cilok 2000 pun juga boleh lah..
Happy reading..
__ADS_1
Babayy😚