
Saat ini April dan Vani sedang berhenti di Spbu hendak mengisi bensin motor April.
"Mau di isi berapa Pril ?" Tanya Vani sang pengemudi.
"15.000 aja Van." Jawab April.
"Ngokeyy.." Vani melipat jarinya membentuk simbol bulat.
April turun dari motor lalu berdiri di sampingnya.
"Emmm Pril... Aku gak punya uang receh nih.Bayar kamu dulu yah ! Nanti kalau beli bensin lagi gantian aku yang bayar deh." Ucap Vani sambil membuka jok motor.
"Ohhh ok..." Singkat April.
April sudah tak heran dengan ucapan Vani. Mungkin ini bisa dibilang ucaoan yang ke sekian kalinya. Pasalnya,setiap jadwal membeli bensin,Vani selalu saja beralasan seperti itu.
April selalu mengisi bensin motornya seminggu 2 kali. Dan setiap kali mengisi bensin memerlukan uang 15.000. Jika dua kali isi maka dalam seminghu menghabiskan 30.000 untuk uang bensin saja.
Padahal kesepakatan awal,Vani berjanji akan ikut iuran mengisi bensin. Dikarenakan Vani tak memiliki motor yang dalam masa pajak. Jadi Vani selalu menebeng April,dan April harus mengantar jemput Vani kerumahnya. Dengan imbalan ikut iuran mengisi bensin.
Awalnya sih semua berjalan dengan semestinya. Tapi Vani hanya sempat 2 kali saja ikut mengisi bensin motor April. April memaklumi atas dasar persahabatan tak boleh perhitungan.
Tapi semakin kesini ternyata Vani menyepelekan ucapannya. April pun selaku yang punya motor harus tetap mengisi bensinnya sendiri.
"Kita bakalan telat gak ya Pril ?" Tanya Vani setelah motor kembali melaju meninggalkan pom bensin.
" Gak ahh... Ini kan baru jam 7 kurang 15 menit. Kan kita harus kumpulnya jam 7."
"Ahhh...Biasanya juga ngaret dengg. Palingan nanti jam 8 juga baru otw ke tempat renangnya."
" He.em."
Memang saat ini April dan seluruh karyawan Rumah Makan Lidah Desa akan piknik bersama. Tempat tujuan piknik mereka adalah ke kolam renang yang berada di kota sebelah.
Membutuhkan waktu 1.5 jam jika berkendara di atas 60 km/jam. Tentu saja April tak akan berani berkendara secepat itu. Pastilah Vani yang akan menjadi supirnya.
Sampailah mereka di tempat kerja. Ternyata banyak yang sudah hadir dan berkumpul di parkiran. Mereka semua sudah siap jalan dengan segala persiapan yang mereka bawa.
"Semuanya sudah lengkap?" Tanya Mas Tono sedikit berteriak.
"Sepertinya sudah Mas. April dan Vani yang datang paling akhir pun sudah sampai." Ucap Mbak Ambar yang sepertinya menyindir April dan Vani yang datang paling akhir.
Punya dendan apa dia sama April ? Kenapa Ambar terlihat begitu tak menyukai April. Padahal April datang tepat waktu. Bahkan jam 7 saja maaing kurang 5 menit. Tapi kenapa Ambar bersikap seolah-olah April sudah telat ber jam-jam lamanya.
__ADS_1
" Jangan seperti itu. Lagian mereka juga belum telat.Kan kesepakatan jam 7 berangkat." Lerai Mas Apit.
" Baiklah mari kita awali perjalanan ini dnegan berdo'a sesuai kepercayaan masing-masing. Semoga kita selamat sampai tujuan dan tak ada halangan suatu apapun." Ucap Mas Tono.
" Saya akan berada di barosan paling awal karena saya yang tahu rute jalannya.Sedangkan PW akan berada di paling belakang untuk memastikan tak ada rombongan yang tertinggal." Sambung Mas Tono setelah selesai berdo'a.
" Lidah Desa... Bisa.... Bisa... Bisaa..." Lalu Mas Tono melajukan motornya membelah ramainya jalanan.
Bak konvoi antar pekerja Rumah Makan. Semua berderet-deret sejalur bagaikan ular yang panjang.
Tak terasa sudah setengah jalan mereka tempuh. Paling tidak, setengah jam lagi mereka akan sampai ditempat tujuan.
Tapi tiba-tiba motor yang dikendarai oleh April dan Vani mengalami ke anehan.
"Prill... Kamu ngerasa gak?" Tanya Vani sedikit berteriak agar April dapat mendengarnya.
" Ngerasa apa Van?" Tanya April pura-pura tak tahu.
Padahal sedari tadi April merasakan jika ban motor bagian belakang goyang-gkyang seperti kempes. April diam saja karena berfikir Vani tak merasakannya.
" Kayaknya ban motor belakang bocor deh. Ini motornya goyang-goyang." Ucap Vani sedikit khawatir.
"Aku sebenarnya sudah merasa dari tadi Van." Ucap April.
"Eh Dev Dev... Coba liatin ban belakang. Kempes apa tidak ban nya !" Pinta Vani pada Devi yang mengendara di depannya.
" Kempes sedikit doang." Ucap Devi sedikit berteriak.
"Duh gimana nih Van... Mana di kanan kiri gak ada rumah lagi,apa lagi tambal ban. Ini sawah semua Van." Keluh April khawatir.
" Bagaimana nihh kalau bemeran bocor bannya." Vani ikutan panik.
" Ehh Febb... Ban motor belakang ku kempes gak nih?" April melingok kebelakang gantian bertanya pada Febi yang sekarang ada di belakangnya.
" Emmmm... Kayaknya sih enggak. Cuma kayak kurang angin aja." Jawabnya.
Fabi pun kangsung menyalip mendahului.
"Gimana kalau beneran kempes Pril ?" Tanya Vani.
" Kamu cepetan dikit. Kita cari Mas Apit,kita tanya Mas Apit gimana baiknya. Nanti kalau beneran bocor kita bisa minta tolong Mas Apit untuk nungguin kita sampai selesai nambal ban." Saran April.
"Ok ok." Vani pun langsung menambah laju motor.
__ADS_1
Ternyata Mas apit sudah cukup jauh didepan. Bahkan sudah tak kelihatan.
"Ehh Van..Kok sekarang udah gak berasa goyang-goyang lagi yah." Ucap April menyadarinya.
"Eh iya yah... Sekarang udah gak berasa." Jawab Vani heran.
"Lah tadi berarti kenapa dong?" Sambung Vani.
"Mungkin jalanannya yang bergelombang Van. Terus karena ban motormu udah tipis jadi goyang-goyang deh."
" Masa gitu sih ?"
"Iya mungkin... Soalnya kadang aku kalau naik motor sendiri juga sering ngerasain kayak tadi. Emangnya kamu selama ini kalau lg nyetirin gak ngerasa?"
" Enggak Pril."
"Yaudah yang oenting bannya gak jadi bocor. Jadi kita aman."
Selang 15 menit kemudian mereka telah sampai di pintu masuk tempat renang.
"Kamu ada uang receh Pril?" Tanya Vani menoleh. Saat ini mereka sedang berbaris mengantri untuk mendapatkan tiket parkir.
"Eh gak ada Van.Tadi uang recehnya udah buat isi bensin." Ucao April.
"Yaidah pakai uangku aja. Aku ada nih 10.000." Vani menyerahkan uang 10.000 yang Ia ambil dari saku celananya.
"Oke.." April menerima uang itu lamu memberikannya pada tukang parkir.
"Kembaliannya kamu bawa dulu Pril !" Ucap Vani sambil melajukan motor agar bisa bergantian dengan yang lain.
" Ok." April memasukkan uang kembalian 8.000 pada saku jaketnya.
..
Setelahnya mereka buru-buru masuk ke arena berenang. Disana sudah disediakan saung-saung yang tersebar di beberapa titik. Gunanya agar para pengunjung bisa meletakkan barang bawaan mereka.
Atau untuk beristirahat setelah lelah berenang.Atau hanya sekedar makan-makan atau minum sambil melihat orang-orang bermain air.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung