Takdirku?

Takdirku?
S-2 °•° Part 9


__ADS_3

"Ini uang buat belanja, kamu nanti masak ya ! Ibu mau rewang di rumah tetangga yang mau ngadain slametan." Ucap Ibu sembari menyerahkan uang 20.000 kepada April.


" Pakai uang saya aja gak papa Buk, nanti saya akan belanja dan masak." Tolak April halus.


" Udah gak pa pa, pakai ini saja." Ibu langsung menyerahkan uang 20.000 ke dalam genggaman tangan April.


" Apa gak papa kalau aku nerima uang dari Ibu buat belanja?" Gumam April.


" Gak papa, pakai aja." Sahut Ayah yang mendengar gumaman April. Ternyata Ayah sudah berdiri di belakang April hendak keluar.


" Eh Ayah, iya Yah." Kikuk April.


Kini April bungung hendak belanja dimana. Selama ini Ibu mertuanya lah yang selalu berbelanja. Sedaangkan April hanya tinggal memasaknya saja.


Akhirnya, April pun berjalan mencari tukang sayur atau warung terdekat yang menjual sayur mayur.


April berjalan sambil mengamati sekitar, tak jarang April menyapa para tetangganya yang berada di depan rumah atau berpapasan dengannya.


" Eehhh istrinya Andi mau kemana?" Tanya Ibu-Ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya.


" Mau cari sayuran Buk." Jawab April ramah sedikit mengangguk.


Ibu itu mendekat ke arah April dengan sapu di genggamannya.


" Wahh, kamu kalau mau cari sayuran harusnya subuh tadi. Biasaya ada tukang sayur yang mangkal di pertigaan jalan." Ucap Si Ibu.


" Oiya, kamu anaknya Pak Hadi Rt sebelah kan?" Tanya Ibu itu mastikan.


" Iya Buk, benar."


" Panggil saja saya Bu Sumini. Pasti kamu gak kenal saya kan, setelah kamu besar saja saya baru ketemu kamu sekarang." Sindirnya.


April memang anak rumahan, tak aakan keluar rumah jika tak ada kepentingan. Lingkup April hanya sekolah, setelahnya selalu rumah saja.


Bukannya tak mau bersosialisasi dengan warga sekitar, April sering di katai anak haram jika bersama tetangganya. Jadi April lebih suka menghindar dari pada harus berurusan dengan para tetangga.


" Iya Buk Sumini."


" Kamu kenapa pakai pakaian kayak gitu sih?" Tanyanya sembari menelisik ujung kepala sampai kaki April.


" Seperti itu gimana Bu?"


" Ya seperti itu, semua serba hitam-hitam dan tertutup."

__ADS_1


" Saya hanya menjalanka sunnahnya Bu." April masih terus berusaha bersikap ramah pada Bu Sumini.


" Apa gak gerah dan panas tub di dalem ? "


" Lebih baik merasakan gerah dan panas di dunia, dari pada merasakan geraah dan panasnya neraka Bu." Jawab April halus dengan tersenyum, terlihat dari mata April yaang menyipit.


" Kamu kayak isis tau. " Sinisnya dengan pandangan mencurigakan.


April hanya terkekeh kecil menanggapinya.


" Atau jangan-jangan, kamu benar-benar te ro ris?" Celetuk Bu Sumini dengan mata melotot.


" Kenapa bisa Ibu berfikiran seperti itu ?" Tanya April yang merasa lucu.


" Aku lihat di tv itu ada te ro ris yang bunuh diri dengan meletakkan bom di badannya. Mereka menggunakan pakaian yang sama sepertimu. Hitam-hitam semua dari atas sampai bawah, wajahnya pun juga di tutupi kain sepertimu. Apa kamu benar-benar salah satu dari mereka?" Cecar Bu Sumini dengan pandangan menelisik.


" Bukan lah Bu, saya hanya menjalankan kewajiban untuk menutup aurat, serta niqob ini adalah sunnah yang saya jalankan." Jelas April halus.


" Bisa saja kamu bohong, mana ada penjahat yang mau ngaku."


April hanya geleng-geleng kepala, " Yasudah ya Bu, saya mau cari sayuran dulu." Pamit April.


Seyelah berjalan beberapa saat, April sampai di warung kecil di pojokan komplek.


April langsung memilah-milah sayuran yang sekiranya Ia bisa memasaknya. April memang payah dalam hal memasak. Sehari-hari, Ia hanya membantu memotong2 sayur dan bumbu saja.


" Mau masak apa ya." Gumam April bingung.


Akhirnya pilihan April jatuh pada 2 bungkus bahan sop. Ada kol, wortel, kentang serta daun bawang dan seledri. Untuk lauknya, April membeli telus setengah kilo. April hendak membuat telur balado.


April kembali dengan bmplastik belanjaan ditangannya. April hanya menganggao angin lalu perkataan Bu Sumini tadi. Baginya, Bu Sumini hanya bergurau saja.


" Dari mana Dek? Kok pergi gak bilang-bilang?" Tegur Andi di ambang pintu.


" Oiyaa, maaf ya Mas, tadi aku lupa gak pamit sama kamu. Ini aku habis belanja di warung pojok sana."


" Iya gak pa pa, lain kali kalau mau keluar bilang dulu ya. Biar Mas gak bingung nyariin kamu."


" Iya Mas."


" Kamu mau masak apa?"


" Mau masak sayur sop sama telur balado Mas." Jawab April.

__ADS_1


" Kamu sudah bisa masak?" Tanya Andi dengan senyum tertahan.


April manyun, sebal karena diledek Andi. Andi memang tahu jika sang istri beluk bisa memasak. Dan Andi pun memaklumi hal itu.


Andi sadar jika yang Ia nikahi adalah gadis berusia 17 tahun. Gadis yang baru saja lulus sekolah 4 bulan yang lalu. Andi yang lebih dewasa harus bisa menerima segala kekurangan sang istri.


Memasak bukanlah hal sulit. Andi yakin, dengan seringnya April membantu Ibu di dapur. Pasti April akan cepat bisa memasak.


" Ayo Mas bantu memasak." Andi berbisik sembari memeluk April.


" Mass... Nanti dilihat orangg."


" Biarin aja, kan sudah halal." Cengirnya.


" Ayoo ke dapur sekarang. Sudah jam 11 ini, Mas sudah hampir lapar."


" Memangnya Mas Andi bisa memasak."


" Eeitts... Jangan ragukan kemampuan memasak Mas ya."


" Baiklah-baiklahh... Aku akan belajar memasak dari suamiku. Tadi sebenarnya aku mau membuka resep makanan di google." Jujur April.


" Tak perlu, langsung saja belajar dari ahlinya." Sombong Andi menepuk dadanya pelan.


.


.


.


.


Bersambung....


Haai hai haiiii....


Jangan lupa berikan dukungan berupa


Like, Komen, vote, Favorit dan hadiahnya yaa..


Author tak akan bosan-bosan untuk selalu mengingatkan kalian.


Terima kasihh..

__ADS_1


Happy reading..


Baabayy..😉😉


__ADS_2