Takdirku?

Takdirku?
Part 117


__ADS_3

Tuuuttt Tuttt Tutttt..


Nomor yang anda tuju sedang sibuk,coballah untuk beberapa saat lagi. The number yuo are calling----.


"Tumbenn ponsel Mas Andi sibuk?" April mengernyit.


"Coba aku telepon sekali lagi." Gumam April lalu kembali memencet nomor Andi.


Tuuttt... Tutttt...


'Hallo Assalamualaikum Dek.'


'Waalaikim salam Mas.'


' Maaf baru Mas angkat. Tadi Mas sedaang ke kamar mandi. Gak mungkin kkan jika Mas menjawab teleponmu saat Mas sedang buang air.'


'He,emm...' April haanya menjawab dengan malas. Sungguh,April sedang tak ingin bercanda sekarang. Mood-nya sedang buruk,sangat sangatlah buruk.


'Ada apa menelepon malam-malam Dek? Tumben?'


' Mas harus buat akta kelahiran. Kata Bapak,kalau pakai surat kelahiran gak bisa buat daftar nikah.' Ucap April sedikit ketus.


'Eemmm.. Baiklah Dek. Besok Mas urus semuanya.'


'Kata Bapak semua harus sudah siap sebelum hari jum'at. Karena semua harus sudah di daftarkan ke KUA.'


'I-iyaa... Akan Mas usahakan Dek.'


'Ya sudah, Assalamualaikum.'


'Waalaikum salamm...'


Tuuttt .... Sambungan terputus.


" Kenapa Dek April nada suaranya ketus banget yah? Apa aku ada buat salah?" Heran Andi setelah panggilan terputus.


" Nanti aku minta tolong sama kepala dusun (Kadus) saja lah. Masih ada 2 hari untuk bekerja,lumayan uangnya untuk tambah-tambah."


Akhirnya Andi pun ke rumah kepala dusun untuk mengurus segala keperluan membuat akta lahir yang baru. Dan kepala dusun pun menyanggupi,dan berjanji akan di usahakan secepatnya.


Sementara April dan Bu Yani kini tengah berada di rumah penjahit. Suasana di sana terasa sangat panas. Terjadi perdebatan yang alot.


" Acara resepsi tinggal hari minggu besok loh Mbakk... Cuma tinggal 6 hari lagi,kenapa semua bajunya belum jadi?" Protes Aprill.


" Kemarin saya bikin jahitan sragam sekolah dulu Prill.. Jadi punyamu batu bisa ke pegangg." Sergah Mbak Diyah si tukang jahit.


" Lohhh... Saya mengantarkan bakal kain kan dari 3 bulan yang lalu Mbak. Sedangkan masa masuk sekolah baru 1 bulan yang lalu. Kenapa bisa Mbak dulukan jahitan seragam sekolah? Mbak kira kebaya saya gak penting ya?" April kadung emosi. Karena di awal Mbak Diyah sangatlah sombong.


Mbak Diyah bilang semua busa selesai kurang daru satu bulan. Sedangkan ini malah sudah 3 bulan. Dan kebaya akan di pakai 6 hari lagi,dan masih belum di jahit sama sekali."


" Ya bukan begitu Mbak. Kan saya mikirnya pasti kebaya nya bisa jadi. Jadi saya dahulukan jahitan seragam sekolah yang banyak." Ucap Diyah.


" La 2 bulan sebelum ada jahitan seragam kenapa masih gak dijahit Mbak kebaya saya?" April terus mencecar Diyah.


" Saya jahit baju kebayanya si Ningrum sekeluarga besar dulu."


" Yang lebih dulu nganterin bahan jahitan siapa?"

__ADS_1


" Kamu Prill..."


" Lalu kenapa punya saya di kerjain paling akhirr dan punya si Mbak Ningrum yang di kerjakan duluan? Apa karena Mbak Ningrum itu keponakannya Mbak? Jadi bisa nyerobot antrian se enaknya?" April meluapkan kekesalannya pada Mbak Diyah.


" Ya bukan begituu..." Fuyah masih berusaha membela diri.


" Bukan begitu gimana Mbak. Orang jelas-jelass---"


" Prilll.... Sudahh,kamu jangan marah-marah." Bu Yani menahan April agar tak terus memarahi Mbak Diyah.


" Tapi Kan Bukk...."


" Udaahhh... Biar Ibu saja yang bicara." Ibu sedikit memelototkan matanya menegur April yang loss control.


April hanya membuang nafasnya kasar,lalu berpaling ke sembarang arah.


" Begini ya Mbak Diyah. Disini yang akan melaksanakan hajatan itu saya. Yang akan menikah itu April. Jadi intinya yang terpenting itu ya kebaya keluarga saya terlebih dahulu."


" Toh kami juga yang paling awal mengantarkan bahan jahitan. Tapi kenapa punya Ningrun dan yang lainnya yang kamu dahulukan? Apa karena dia keponakanmu? Saya menjahitkan kebaya di sini bayar loh. Kok kamu memperlakukan saya seperti tak membayar." Ucap Ibu santai namun sangat penuh penekanan.


" Maksud saya bukan begitu jengg..." Sanggah Diyah.


" Kalau saya gak mengadakan hajatan. Pasti Ningrum dan keluarga besarnya tak akan membuat baju kebaya. Karena mereka buat baju ya untuk di pakai di saat April menikah nanti. Lah ini,malahan yang punya hajatan bajunya belum jadi. Bahkan beluk di sentuh sedikitpun. Padahal waktunya tinggal 6 hari lagi." Ucap Ibu lagi.


"Saya jamin bajunya akan jadi sebelum hari H jeng. Jeng Yani tenang saja."


" Baiklah... Saya pegang perkataanmu ya Diyah."


" Iya jeng,tenang saja,serahkan semuanya pada saya."


" Emmmm... Untuk model kebayanya April yang kemarin ku rasa gak cocok. April bisa pilih model baju kebaya yang lain di google lagi ya." Ucap Diyah.


April langsung menoleh seketika. Alisnya menukik terperangah.


" Bukannya model yang kemarin sudah yang ke 3 kalinya ya Mbak? Kenapa harus ganti lagi?" Sebal April.


" Setelah ku pikir-pikir. Modek kebaya seperti itu tak pantas untuk badanmu yang ramping." Elak Diyah.


Cihhh... Alasan saja bisanya. Katanya penjahit profesional. Segala jenis model kebaya dia bisa membuatnya,tinggal berikan contoh gambar lalu beres. Lah ini apa! sudah 3 model dicancel,eh kini malah suruh aku cari model yang lain lagi. Sebenarnya bisa jahit gak sih? Pakai alasan gak cocok di badanku segala.


Batin April menggerutu.


April kembali mencari-cari model kebaya melalui google. Pilihah April jatuh pada kebaya berlengan panjang. Dengan bagian belakang yang sedikit panjang di bawah bokong. Serta bagian pundak dan dadanya tertutup. Terlihat kesan sopan dan elegan dari model kebaya yang di pilih April kali ini.


" Model yang seperti ini bisa tidak?" Ucap April sambil memeperlihatkan satu model kebaya yang telah dipilihnya.


" Tenang saja,semua model saya bisa kerjakan." Sombong Diyah lagi.


" Cihhh.. Omong kosong." Gumam April pelan.


" Pilihan yang bagus." Ucap Diyah setelah melihat gambar.


" Yakin nanti gak disuruh ganti model lagi untuk yang ke 5 kalinya?" Tanya April menyindir.


"Aahhh kamu bisa saja bercandanya. " Ucap Diyah sambil menepuk udara.


" Jadi kaoan bisa diambil?" Tanya Ibu.

__ADS_1


" Pokoknya nanti saya kabarin jeng. Sebelum hari H pasti kebayanha sudah jadi." Ucap Diyah sambik mengedipkan sebelah matanya.


"Aku pegang ucapanmu Diyah."


" Siyap jengg..."


" Ya sudah kami pulang dulu. Sepertinya April sudah lelah seharian ini. Makanha emosinya gak bisa dikontrol." Pamit Ibu pada Diyah.


April yang sudah malas dan kesal memutuskan untuk keluar sedari tadi. April duduk di atas motornya,membiarkan Ibunya berdiskusi dengan Diyah.


" Ahhh tak apa Jeng. Namanya juga remaja,masih labil emsinya." Ucap Diyah.


Labill labill Mbahmuu.... April itu tak pernah marah selama ini. Mungkin karena saking kesal dan kecewanya,akhirnya dia sampai marah disini. Bahkan baru kali ini aku lihat April berbicara se ketus itu. Padahal saat dipaksa menikah dengan Nak Andi pun April tak marah.


Batin Ibu Yani demgan mata yang memicing mengintimidasi Diyah.


Alhasil,Ibu dan April kembali pulang dengan tangan kosong lagi. Aprik sampai di rumah pukul 8.49 malam. Tadi setelah dari rumah Diyah,Ibu meminta April untuk berhenti di rumah salah satu kerabat yang tak jauh dari sana.


Hanya untuk sekedar silaturahmi. Dan memberu tahu jika minggu depan April akan menikah. Jadi Ibu meminta para saudara dan kerabat untuk datang bantu-bantu kelangsungan acaranya esok.


April pun langsung masuk kamar henadak tidur.


Drrttttt... Drtttttt...


Saat mata April mulai terpejam. Tiba-tiba terdengar dering ponsel yang membuat matanya kembali terbuka.


" Siapa yang telpon jam 9 malam sihhh..." Sebal April.


" Mas Andi? Kennapa Mas Andi telpon jam segini?" Guman April setelah melihat ponselnya.


'Hallo Assalamualaikum.' Ucap April mengawali. April menjawab panggilan telepon Andi dengan malas. Dengan mata yang terkantuk-kantuk tentunya.


'Maaf telepon malam-malam Dek.Ada yang mau Mas sampaikan soalnya'


'Hemmmm,apaa?'


' Mas sudah......'


.


.


.


.


.


Bersambungg...


Jangan lupa like,komen,vote serta favorit dan berikan gift yahh...


Maaf jika ceritanya kurang menarik atau bahkan monoton. Mungkin kemampuan menulis saja baru bisa sampai di tahao yang seperti ini..


Emmmm.... Happy Readingg...


Babayy.

__ADS_1


__ADS_2