
" Ini aku buatkan susu putih hangat untukmu Mas." April masuk ke kamar sembari memegang segelas susu putih hangat yang baru saja Ia buat.
Andi yang tengah tidur tengkurap pun membalikkan tubuhnya menjadi terlentang. Menyambut kedatangan sang istri. Andi menepuk sisi ranjang tepat di sampingnya.
" Taruh dulu di meja sayang." Ucap Andi meraih pinggang April agar semakin mendekat.
" Nanti keburu dingin Mas ."
" Itu masih terlalu panas untuk di minum, biarlah menjadi hangat dulu." Andi memeluk pinggang April yang tengah terduduk di sisinya.
Andi mendekatkan wajahnya menempel ke pinggang samping April. Mengendus aroma harum tubuh April yang menenangkan baginya.
" Mas Andi lelah ?" Tanya April basa-basi.
Andu mengangguk, terasa dari pinggangnya yang bergerak karena anggukan kepala Andi. April mengelus kepala Andi yang bersembunyi di pinggangnya. Andi semakin membenamkan wajahnya ke pinggang April.
" Di pijit mau?" Tawar April.
" Memangnya Adek bisa memijit?" Tanya Andi meragukan April.
" Jangan ragukan keahlian memijitku Mas. Sini mencari posisi yang enak, akan aku pijit badannya yang pegal-pegal." Ucap April dengan tersenyum.
"Buka dulu cadarnya sayang." Ucap Andi.
" Oh iya, lupa." Jawab April cengegesan.
Memang setelah Isya, April dan Andi akan menghabiskan waktu malam mereka berdua di kamar saja. April pun akan melepas cadar serta hijabnya kala itu.
Andi bangkit duduk di hadapan April. April sedikit menunduk, membiarkan Andi melepas ikatan cadar di belakang kepalanya. Perlahan namun pasti, cadar April terlepas di tangan Andi.
Andi meletakkan cadar April di pangkuannya,
" Jilbabnya sekalian di lepas ya !" Pinta Andi memohon. April pun mengangguk.
Andi langsung meraih jarum pentul di bawah dagu April yang menjadi pengait hijabnya.
" Sampai merah dan membekas begitu lehernga Dek." Sendu Andi.
Andi mengeelus leher April yang memerah dan terlihat membekas segaris dalam karena kaitan jilbab yang terlalu kuat.
" Lain kalia jangan kuat-kuat kalau pakai jilbab. Kan jadi seperti ini, pasti ini sakit kan?" Andi menatap mata April.
" Kalau gak kuat-kuat nanti jilbabnya merosot Mas. Lagian, gak sakit banget kok. Cuma nyeri sedikit setelah di lepas jaumnya. Nanti ditinggal tidur juga sembuh kok." Ucap April.
" Pasti rasanya kayak tercekik ya Dek ? Tanya Andi.
" Gak juga."
" Ini, ganti baju dulu. Mas tadi sudah ambilkan dres selutut dengan lengan terbuka untukmu." Ucap Andi tersenyum jahil.
__ADS_1
April memang selalu menggunakan pakaian terbuka saat malam. Namun hanya di kamar saja, Kalau keluar kamar, April akan kembali menggunakan gamis serta jilbab dan cadarnya.
April selalu berganti pakaian di kamar. Terkadang saat Andi ke kamar mandi atau keluar dari kamar, April akan lamgsung mengganti bajunya. Namun tak jarang pula, April mengganti bajunya di hadapan Andi.
Sebenarnya April merasa sangat malu. Namun karena Andi memaksa dan terus saja merengek serta mengancam akan menggantikan baju April jika April tak segera megganti baju di hadapannya.
Dengan wajah merah merona, April mengganti bajunya dengan di amati sepasang bola mata milik Andi. April tak mau jika Andi yang menggantikan bajunya. Patilah tangan Andi akan treveling kemana-mana serta akan beralhir di hubungan suami istri tentunya.
" Uhhh... Enaknya.." Ucap April sembari merentangkan tangannya.
" Pasti berat pakai gamis terus ya Dek." Ucap Andi memandang April yang berpenampilan terbuka.
" Gak berat kok Mas, kan udah terbiasa selama 8 bulan ini." Ucap April tersenyum.
" Ini kan musim panas. Pasti kalau siang kamu kepanasan. "
" Pastinya iya Mas." Ucap April.
" Kok kamu betah banget nahan gerah. Apalagi kamu juga pakai cadar, pasti engap." Ucap Andi.
Bukan maksud Andi menggoyahkan iman April. Andi murni bertanya apa yang dirasakan April dan wanita-wanita di luar sana yang berpenampilan tertutup seperti istrinya.
" Lebih baik nahan gerah dan panas di dunia. Dari pada nahan gerah dan panas di neraka Mas." Jawab April menohok. Andi langsung bungkam membenarkan.
Andi menarik tangan April agar April duduk di pangkuannya. Tangan Andi menarik ikat rambut yang menguncir rambut April dengan kuat.
Seketika, rambut indah lurus nan panjang tergerai begitu saja. Rambut April sudah panjang sebatas atas pan tatnya. Semenjak memutuskan memakai jilbab dan cadar. April sama sekali belum memotong rambutnya.
Walaupun seharian di ikat dan di tutupi oleh jilbab. Tak membuat rambut April lepek dan bau. April sangat merawat rambutnya dengan baik. Karena rambut adalah mahkota bagi setiap wanita. Namun bedanya, April lebih memilih menutupi mahkotanya dari pandangan umum. Dan menyimpan nya untuk dapat dinikmati suaminya seorang.
" Iya Mas, sudah hampir 2 tahun aku tak memotong rambutku. Jadilah sepanjang ini, aku sebelumnya tak pernah memiliki rambut sampai sepanjang ini Mas." Adu April sembari mengelus rambutnya sendiri.
" Apa gak ribet mengurua rambut selebat dan sepanjang ini Dek ?" Tanya Andi. Entah mengapa, malam ini Andi sangat banyak tanya.
" Sebenarnya sangat ribet Mas." Ucap April sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
" Kenapa tidak dipotong menjadi lebih pendek saja?" Tanya Andi. Entah sudah pertanyaan yang ke berapa.
" Sebenarnya sangat ingin Mas. Tapi kalau nanti ke salon, kan aku harus membuka jilbabku. Takutnya nanti ada laki-laki yang melihat." Jelas April.
" Kan ada salon yang khusus perempuan."
" Memang ada Mas. Tapi tak jarang para laki-laki menemani wanitanya di salon Mas." Jelas April yang sering melihat pasangan berada di salon.
" Bagaimana kalau Mas saja yang potongin ?" Tawae Andi.
" Memangnya Mas Andi bisa?"
" Kalau cuma model rata sih bisa sayang. Kan hanya tinngal potong krek krek kree..." Kekeh Andi dengan tangan membentuk gunting.
__ADS_1
" Beneran bisa gak Mas ? Kalau bisa, boleh kok dipotongin."
" Bisa sayang.." Walaupun sebenarnya Andi juga tak yakin.
" Kapan mau potongin rambutku Mas?"
" Besok saja ya, tapi dipotongnya jangan terlalu pendek. Mas lebih suka jika kamu berambut panjang. Lebih terlihat anggun dan cantik. Nanti kita potong sebatas bawah bahu ya." Tawar Andi.
" Boleh Mas."
" Ehh.. Susunya di minum dulu, nanti keburu dingin gak enak." Ucap April saat teringat dengan segelas susu hangat yang tadi Ia buat.
" Kalau susu yang di gelas dingin gak apa-apa sayang. Kan masih ada yang lain. Yang sama-sama bisa bikin tubuh hangat." Ucap Andi penuh seringai.
" Ckkk.."
" Jadi mijitin Mas gak nih?" Tanya Andi.
" Iya jadi."
Andi pun berbaring tengkurap, agar memudahkan April untuk memijat punggungnya yang teramat pegal.
" Ternyata pijatanmu enak Dek. Mas menyesal karena baru bisa merasakannya sekarang." Ucap Andi dengan mata terpejam menikmati pijatan April yang terasa nyaman.
April hanya tersenyum, memberikan sentuhan-sentuhan dengan tekanan agar membuat tubuh Andi rileks.
.
.
.
.
Bersambung...
Hai hai haiii Readersss
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Favorit
Serta beri hadiah sebanyak banyak banyaknya ya readerss..
__ADS_1
Happy reading..
Babayyy😉😉