Takdirku?

Takdirku?
Part 115


__ADS_3

April berjalan ke belakang menuju parkiran viar berada. April celingak-celinguk mencari keberadaan mas Apit.


" Masss... Maas Apit..." Panggil April,namun tak ada jawaban.


April ingat perkataan Mas Agung,jika Mas Apit suka bersembunyi di atas dinding tembok atau di dalam viar.


April melihat dinding pagar kosong. Lalu April berjalan mengendap ke arah belakkanag viar. Bermaksud mengecek keberadaan Mas apit didalamnya.


" Baaaaa..." Kejut April yang kangsung melongokan kepalanya ke arah dalam viar.


"Eeemmm.. Kosong juga? Lalu dimana Mas Apit?" Heran April.


April berjalan ke depan tanoa memperhatikan jalan.


Jeduuggg...


" Aauhhh... sstttt..." Ringis April megggosok pangkal hidungnya yang terasa nyeri.


Karena tak hati-hati,April menabrak kaca sepion viar,tepat di pangkal hidungnya.


" Sejak kapan sepion ini berada di sini sihh..." Kesal April memukul keras sepion yang tak tahu tempat itu.


Ternyata sepion itu kendor. Jadi saat April memukulnya,sepion itu malah memutar lalu kembali menghantam hidung Aprill..


" Aaauuhhh... Astaggirullah..." Geram April kembali mengusap hidungnya.


Hidungnya yang sudah memerah karena terlalu banyak menangis. Kini semakin memerah bak tomat hendak meletus.


" Bwaha ha ha ha ha..." Terdengar suara tawa.


"Siapa ituu ...?" Merasa suara tawa itu berada dari atas. April pun mendangak ke atas.


" Mas Apitt..." Teriak April yang melihat Mas Apit duduk di pembatas balkon lantai 2.


Mas Apit turun dengan melompat.Setelah turun,Mas Apit mengusap pangkal hidung April.


" Sakit?" Tanya Mas Apit.


April mengangguk,lalu Ia mundur satu langkah. Bermaksud menghidar dari Mas Apit yang di rasa posisinya terlalu dekat dengannya.


April masih tahu batasan antara lelaki dan wanita. Apalagi Mas Apit adalah seorang pria yang sudah ber istri. Tak pantas rasanya jika Mas Apit terlihat sangat perhatian dengannya yang bukan siapa-siapa.


Mas Apit mengacak hijab April gemas.


" Mass..." Panggil April.


" Hee emm?" Gumam Mas Apit.


" Aku pamit ya Mas. Mungkin mulai besok kita akan jarang bertemu." Ucap Apeil langsung.


Hari sudah semakin malam,April harus segera pulang karena takut orang tuanya di rumah khawatir.


Jadi April tak ber-basa-basi lagi. Setelah menemukan Mas Apit,Ia langsung menyampaikan niatnya.


" Iya... Jangan lupakan kami ya. Jika ada waktu,mainlah ke sini. " Jawab Mas Apit.


" Terima kasih karena Mas Apit sudah baik banget sama aku. Dan maaf kalau aku banyak salahnya." Ucap April tulus dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


" Aprilll... Tolonggg,tolong jangan menangis di depanku. Akuu... Aku gak bisaa melihatmu menagis seperti ini." Mas Apit mengalihkan pandangannya ke segala arah. Menghindari tatapan mata April yang basah air mata.

__ADS_1


"Hikkss hikksss..." April hanya ter isak tak bisa menjawab.


Jujur saja,perpisahan sangatlah berat bagi April. Disaat suasana sedang akrab-aakrabnya. Mereka harus di pisahkan dengan jarak.


" Se-sebenarnya aku juga tak ingin menangiss Mas. Tapi air mata buaya ini selalu turun tanpa izin. Sungguh pencitraan bukan ? Mencari perhatian saja." Ucap April sambil mengelap pipinya yang basah.


" Saat kamu menikah nanti. Jangan lupa kabari aku." Pinta Mas Apit.


" He umm... Pasti Mas.." Jawab April.


" Kami harus bahagia setelah ini. Kamu harus bahagia setelah menikah nanti." Ucap Mas Apit memegang kedua bahu April.


" Do'akan ya Mas." Ucap April kembali ter-isak.


"Sekali lagi aku tanya sama kamu. Apa kamu benar-benar mantab akan menikah dengan om om itu?" Tanya Mas Apit tegas.


April hanya diam saja. Hanya air mata yang dapat menjawab. Mas Apit pun paham jika sebenarnya April sangat terpaksa.


Walaupun April sudah mengatakan akan menerima kehadiran Mas Andi. Tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam. April merasa takut. Takut jika setelah menikah,cinta tak dapat tumbuh di hatinya.


" Mundurrr... Jika kamu memang gak sanggup,lebih baik kamu mundur. Masih ada sedikit waktu." Ucap Mas Apit serius.


April menggeleng,


" Engak Mas... Nggak bisa. InsyaAllah aku sudah yakin dengan keputusanku ini. Walaupun berat,InsyaAllah aku kuatt.." Ucap Aprill.


Mas Apit memandang wajah April sendu. Merasa tak terima jika seorang gadis yang usianya belum genap18 tahun,yang dinggapnya seperti adiknya sendiri. Akan menikah dengan om om yang berusia 32 tahun.


Mas Apit merasa kesal,tapi Ia tak bisa berbuat apa-apa. Semua keputusan ada di tangan April. Mas apit hanya orang luar yang tak boleh ikut campur terlalu dalam.


April memegang lengan baju Mas Apit. Menurunkan tangan Mas Apit yang berada di pundaknya.


Mas Apit menunduk.Merasa kesal karena April sangat Kekeh dengan keputusannya. Mas Apit tak bisa membayangkan. April harus menikah dengan lelaki yang lebih tua 14 tahun darinya.


Sungguh,April akan lebih pantas menjadi anaknya,ketimbang istrinya.


" Do'akan aku Mas.. Do'akan semoga Allah memudahkan segala urusanku. jangan bebani pikiranmu dengan masalahku Mas. kamu punya keluarga,prioritaskan saja keluargamu Mas." Ucap April tak ingin membuat Mas Apit kepikiran.


Mas Apit menggeleng.


" Kamu sudah ku anggap sebagai adikku Pril. Aku tak ingin melihatmu tersiksa dalam kehidupan rumah tangga yaang keras. Kamu masih kecil Prill,masa deoanmu masih panjang." Ucap Mas Apit menatap April dalam.


" Do'akan aku Mas.. Do'akan aku agar selalu kuat menjalani segala takdir yang sudah Allah gariskan padaaku." Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut manis April.


" Kamu berhak bahagia Prill... Kamu berhak bahagiaa." Tegas Mas Apit menggoyangkan bahu April.


Andai kamu tahu bagaimana jalan hidupku Mas. Andai kamu tahu kisah kelam di masa kecilku. Andai kamu tahu kisah masa SMA ku yang selalu sendirian. Andai kamu tahu jika aku pernah akan menjadi korban pemerkosaan. Andai kamu tahu Mas,hidupku sudah berat sedari aku kecil. Takdir hidupku sungguh kerass Mas. Bahkan aku yang menyebapkan Ibu dan nenekku meninggal.


Batin April menangis mengingat segala perjuangan hiduonya yang begitu pilu.


" Do'akan aku Mas.. Do'akan akuu..." Hanya kata itu yang sedari tadi di ulang oleh April.


April hanya mengharaokan do'a baik dari orang-orang yang perduli dengannya. April tak ingin di kasihani. April hanya butuh suportt.


Mas Apit meninju dinding untuk melampiaskan kekesalannya.


" Jangan sakiti dirimu Mas. Gadis kecil yang kau anggap Adik ini,tak selemah yang kau pikirkan. Aku gadia kuat Mas. Aku gadis yang tangguh. Jadi jangan khawatirkan aku." Ucap Apeil tersenyum tipiss.


" Cihhh... Kuatt katamu? Bahkan aku sering melihatmu menagis dalam setiap selesai solatmu." Memang benar. Apit sering memergoki April menangis saat berada di mushola.

__ADS_1


" Aku hanya mengadu dengan Rabb Ku Mas. Aku meangis bukan berarti aku lemah. Aku hanya sedang laporan saja pada Allah." Canda April di sela tangisannya.


" Semoga Allah selalu menuntunmu ke jalan yang baik kedepannya. Semoga tak ada iar mata lagi setelah ini." Ucap mas Apit.


" Aaminnn..." April tersenyum.


" Jangan khawatirkan aku Mas. Aku pandai menjaga diri." Sambung April.


" Yaa.. Aku tahu itu."


"Hari sudah semakin larut,aku pamiy Mas. Jaga diri Mas baik-baik. Ingatt..!!! Mas Apit harus tetap minum walaupun tak ada aku yang membuatkannya untukmu." Canda April yang dibalas senyuman oleh Mas Apit.


" Setelah ini,kau tak akan merasakan kembali nikmatnya nasi goreng seafood buatanku."


" Ahh iya,kau benar Mas. Tapi sepertinya aku masih bisa datang makan kemari jika rindu masakanmu."


" Sebentar." Mas Apit kedalam,lalu kembali dengan kantong plastik di dalamnya.


" Ini... Bawa ini pulang." Ucapnya sembari menyerahkan kantong plastik.


" Apa ini?" Tanya April.


" Nasi goreng seafood extra pedas kesukaanmu. Aku membuatnya khusus untukmu. Mungkin ini kali terakhir kau memakan masakanku secara langsung. Aku juga membuatkan nasi goreng sosis yang tidak pedas untuk adikmu. Karena aku ingat jika kamu pernah bercerita jika adikmu alergi seafood."


" Terimakasih Mas. Aku jamin makanan ini akan ku makan habis tanpa sisa. Bahkan kalau bisa,akan ku makan sekalian sterofoamnya." Ucap April.


" Ayo aku antar kamu pulang. Ini sudah jam 11 malam. Bahaya jika kamu pulang sendirian."


" Nanti merepotkanmu Mas. Aku sekaramg sudah berani pulang sendirian kok."


" Tak apa. Mungkin ini akan jadi kali terakhir."


April hanya mengangguk pasrah membiarkan kemauan Mas Apit.


.


.


.


.Bersambungg


Hai hai haiii...


Mana nih dukungannya? Kok sepi sih? He he he...


Ayo terus bantu saya mengembangkan cerita ini dengan cara


Like


Komen


Vote


serta favorit yah...


Terimakasihh.


Happy readingg..

__ADS_1


Babayy...


__ADS_2