
April mengangkat ponselnya.
"Kak salim?" April mengernyit melihat nama yang tertera. Lalu memencet tombol hijau untuk mengangkat panggilan masuk.
" Halo Assalamualaikum." Ucap April mengawali.
" Waalaikum salam Pril." Jawab Kak Salim di sebrang telepon.
"Ada apa kak?" Tanya April.
"Kamu gimana pulangnya? Kenapa? Apa motormu mogok dijalan? Apa ban motormu kempes? Atau kenapa?" Tanya Kak Salim memberondong.
April jadi dibuat keder sendiri mendengar pertanyaan Kak Salim yang berentetan.
"Hah?" Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut April.
"Kamu kenapa? Aku lihat story WA-mu." Terdengar nada cemas dari Kak Salim.
"Aa -akuu ... Akuu." Gagap April.
" Kamu gak papa kan?" Tanya Kak Salim lagi.
"A-aku hanya bingung bagaimana aku pulang Kak. Vani meninggalkanku pulang bersama pacarnya. Aku belum hafal 100% arah jalan pulang Kak. Hanya ingat samar-samar saja,karena setiap hari Vani yang mengemudi di depan." Jelas April.
"Huhhh..." Terdengar Salim menghela nafas.
"Syukurlah,aku kira kamu kenapa-kenapa.Aku sedang berada di kosan sekarang. Aku tak bisa datang menjemputmu." Sesal Salim yang ternyata sedang di kos tempatnya berkuliah di kota lain.
"I-iya Kak,gak pa pa kok. A-aku bisa pulamg sendiri." Ucap April sok berani.
"Aku tahu kalau kamu itu payah dalam menghafal jalan. Jadi jangan sok berani." Protes Kak salim.
April hanya diam,karena bukan rahasia umum lagi,semua orang yang kenal April akan mengetahui jika April buta jalan.
"Kamu bisa hubungi orang rumah untuk menjemputmu gak?" Tanya Salim lagi.
"Bapak sedang merantau,Ibu gaka berani naik motor di jalan besar. Omku juga gak dirumah. Gak ada orang yang bisa jemput aku Kak." Sedih April.
"Lalu bagaimana kamu?" Tanya Salim cemas.
"A-aku akan pulang sendiri saja Kak. InsyaAllah bisa kok." April menyakinkan Salim sekaligus dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau aku suruh temanku untum menjemputmu?"
"Gak usah Kak,nanti aku malah tambah takut karena sama orang asing." Tolak April,sedangkan Salim hanya diam menghela nafas.
"Yaudah yah Kak,aku mau pulang dulu,takut semakin kemalaman dan aku malah makin gak berani nanti. He he he.." Kekeh April kaku.
"Yasudah,kamu hati-hati ya. Aku juga mau ngerjain tugas dulu,udah ditunggu soalnya.."
__ADS_1
"Iya Kak,yaudah yah Kak aku mati-in telponnya?" Ucap April.
"Eh jangann,jangan dimati-in. Biarkan tersambung saja sampai kamu sampai di rumah. Aku gak mau kamu kenapa-napa." Cegahnya sedikit memekik.
"O-ohh.. o-ke kak." Gagap April.
April pun menyalakan loudspeakernya agar mendengar suara Salim. April menaruh ponselnya di saku bajunya yang berada di dada sebelah kiri.
April menyalakan motornya,namun bukannya langsung tancap gas,tetapi April masih mengumpulkan keberaniannya.
April menatap gang depan yang terlihat remang nan sepi,rasa takut kembali singgah.
Sebel banget sama si Vani. Bisa-bisanya dia tega ninggalin aku pulang sendiri. Padahal kan dia yang paling tahu gimana kondisiku. Batin April menggerutu.
"Prill? Udah jalan?" Tanya Salim dati telepon.
"Eh emmm... be-belum Kak,ini udah mau jalan." Jawab April.
"Baca Bismillah dulu Pril." Pinta Salim.
April mengangguk lalu menurut.
"Bismillahirahmanirahim. Semoga selamat sampai rumah tanpa satu halangan apapun." Gumam April pelan dan diakhiiri dengan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Yok bisa yokk..." Gumamnya lagi lalu menarik gasnya perlahan.
Jalanan sepi,penerangan remang-remang,semua pintu rumah penduduk tertutup rapat. Terkadang malah terdengar suara lolongan anjing yang membuatnya merinding.
Disetiap belokan April selalu berhenti sejenak untuk menhingat ke arah mana Ia akan berbelok.Ingatannya akan rute pulang yang samar-samar membuatnya berhati-hati.
"Astagfirullahhalazim." Ucap April.
"Heii Aprill...Are you ok?" tanya Salim yang mendengar pekikan April.
April masih mengatur nafasnya yang memburu.
"I-iya Kak...Gak apa apa kok." Jelas April.
"Lalu kenapa kamu terdengar terkejud?" Tanya Salim.
" Tadi tiba-tiba ada kucing lewat Kak. Aku yang sedang kurang fokus jadi kaget dan hampir menabraknya."
"Hati-hati April. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Kalau kamu kenapa-napa kasihan masa depan anak kita nanti." Ucap Salim.
"Haaa? Ma-maksud Kakak apa?" Tanya April bingung mendegar kata 'Anak kita'di sebut oleh Kak Salim.
"Iya masa depan anak kita. Nanti kalau kamu kenapa-napa,kasihan anak kita gak jadi dilahirkan di dunia ini.Kan kamu dimasa depan akan menikah denganku dan kamu akan menjadi calon ibu dari anak-anak kita yang sekarang masih belum di proses. Eh,jangankan diproses. Kita saja kan belum pacaran apalagi menikah trus proses anak. He he he." Canda Salim absurd...
April mengernyit takut mendengarnya. Pasalnya Salim mengungkit masalah memproses anak. Dan hal itu sangatlah tabu di pikiran April.
__ADS_1
April pun tak menggubris candaan Salim dan melanjutkan perjalanannya yang terasa mencekam baginya.
"Yah dikacangin nih aku." Gumam Salim dari sambungan telepon yang ternyata di dengar oleh April.April hanya tersenyum tipis mendengarnya.
Sudah setengah jalan dilalui April.Kini April sudah berada di jalur desanya. Hanya perlu melewati 3 dusun untuk segera sampai dirumahnya. Sampai sini April sudah hafal betul jalur pulang.
"Alhamdulillah Kak. Ternyata aku bisa pulang melewati jalur gang yang banyak belikan tadi. Sekarang aku sudah masuk jalur desa,jadi sudah fasih lah sama rutenya." Ucap April terdengar senang.
"Iya,tapi kamu harus tetao hati-hati. Sebentar lagi kamu akan melewati jalur perbatasan desa.Kamu kan akan melewati jalanan sepi dan gelap yang sepanjang kanan dan kiri hanya ada sawah tanpa ada rumah satu pun. Jalanan itu juga rawan kecelakaan,bahkan pernah ada korban meninggal disana kan? Kamu harus hati-hati,jangan lupa berzikir supaya dilindungi oleh Allah." Ingat Salim.
Deg...
"Benar Kak,aku melupakan hal itu. Biasanya aku akan melewati jalan itu bersama 2 temanku yang lain. Tapi kali ini mereka sedang kumpul nongkrong di alun-alun kota,jadi aku pulang sendirian. Ini kali pertama buatku Kak,aku jadi sedikit takut." Ucap April memelankan laju motornya. Berharap ada kendaraan lain yang lewat agar bisa berbarengan.
"Kamu jangan takut. Kan nanti dipertengahan jalan akan ada satu rumah yang menjual nasi pecel. Kadang disana rame anak-anak muda yang sedang nongkrong kok." Ucap Salim lagi.
"Tapi seringnya kalau aku pulang sudah tutup Kak. Tapi kadang masih ada anak-anak muda yang ningkrong disana sih."
"Yaudah bismillah aja." Ucap Salim menenangkan.
"Ini udah kelihatan Kak warungnya.Lampunya masih menyala terang. Ada banyak pemuda yang nongkrong ternyata." Ucap April sedikit senang.
"Yasudah hati-hati." Ingat Salim lagi.
April pun menambah kecepatan laju motornya. Berharap dengaan adanya pemuda dapat mengurangi rasa takutmya melewati jalanan yang sepi nan gelap ini.
Semakin dekat April dengan warung itu,namun April mengernyit setelah menyadari suatu hal.
"Kak... Sepertinya disana yang sedang nongkrong bukan pemuda yang biasanya. Disana banyak pemuda yang memakai jaket levis dan motor yang digunakan satu tipe,motor racing." Jelas April
"Kamu lewat saja dengan tenang,jangan terlihat panik ok. Kamu harus berusaha bersikap sesantai mungkin saat lewat didepan mereka nanti,agar tidak menarik perhatian mereka padamu." Terdengar nada cemas dari Salim.
"Apa mereka orang-orang gak baik Kak? A-aku takut Kak." Cemas April.
"Sepertinya mereka anak geng motor yang sering dibicarakan warga sekitar Pril. Para geng motor yang meresahkan warga." Ucap Salim yang malah membuat April semakin ketakutan.
Tanpa sadar April saat ini melintas di depan gerombolan pemuda itu. April malah menatap mereka dengan mimik wajah takutnya. Tanpa sadar tangannya menarik gasnya sampai tersendat-sendat. Seperti orang yang sedang membleyer mengejek.
"Woyyy...Ngajak ribut nih bocah." Seru salah satu dari mereka sambil menunjuk April..
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa Like Komen Vote serta Favorit yah Readerss..