
April tengah mencuci baju di kamar mandi. April mencuci seluruh baju semua orang rumah. Dari kedua mertuanya, Baju dirinya dan Andi serta milik Ardi.
Ardi memang tak pernah mencuci baju sama sekali. Walaupun Ardi sudah dewasa, selama 22 tahun, Ardi tak pernah sekalipun mencuci bajunya sendiri.
April masih mencuci secara manual, mengucek menggunakan tangan. Cucian hari ini lumayan banyak, 2 ember besar full baju kotor. Padahal hanya 2 hari saja April tak mencuci.
"Mbak.." Panggil Ardi di ambamg pintu kamar mandi.
" Iya ?"
" Boleh minta tolong cucikan hoodie ku?" Pinta Ardi nyengir.
April tersenyum lalu mengulurkan tangannya meminta hoodie milik adik iparnya itu.
" Makasii embakku yang baik hati." Puji Ardi.
" Kamu selalu begitu jika ada maunya." Seloroh April yang langsung membuat Ardi bungkam.
" He he he... Ikhlas gak nih ?" Goda Ardi.
" Sudah lahh... Sana pergi,ganggu saja."
Ardi langsung pergi meninggalkan April.
" Ada untungnya juga Mas Andi punya istri. Ibu jadi gak marahin aku lagi gara-gara gak mau nyuci baju. Sekarang sudah ada istrinya Mas Andi yang mencucikan bajuku. Ha ha ha..." Gumam Ardi tersenyum senang.
Dengan susah payah April mencuci hoodie milik Aedi. Hoodie Ardi sangatlah besar dan tebal. Sangat berat jika akan diperas airnya.
" Ini noda apa sih? Kok gak ilang-ilang." Gerutu April yang tangannya mulai panas karena terlalu lama mengucek.
Hoodie Aedi berwarna putih, terdapat noda kuning yang terlihat kontras. Karena hoodie tak bisa di gosok menggunakan sikat cucian, terpaksa April harus menguceknya dengan ekstra sabar.
" Belum selesai Dek?" Tanya Andi yang tiba-tiba datang.
" Tadinya sih sudah mau selesai Mas. Tapi nihh, Ardi nitip hoodie."
" Ckk, bocah itu masih saja menyuruh-nyuruh kamu." Geram Andi.
" Biarin aja lah Mas. Dia kan adikmu, jadi sekarang juga jadi adikku. Kan aku harus bisa jadi kakak yang baik." Canda April.
__ADS_1
" Tapi gak gini juga lah sayang.Hoodie itu tebal, pasti kamu kesusahan."
" Sini Mas bantu." Andi langsung mengambil alih mencuci hoodie adiknya.
Setelah selesai, Andi membawakan 2 ember cucian yang siap di jemur ke arah halaman samping rumah. Tempat biasa sang Ibu menjemur baju.
Dengan telaten, April menjemur baju satu persatu dengan rapih. Setelah selesai, Andi menarik April untuk duduk sebentar di kursi depan teras.
Andi menarik tangan April, dilihatnya telapak tangan April yang terlihat pucat.
" Sampai kayak gini tangan kamu?" Lirih Andi mengusap telapak tangan istrinya yang mengkerut, keriput karena terlalu lama terendam air.
" Kalau mencuci ya pasti gini lah Mas. Apalagi tadi nyucinya banyak." Jelas April memberi pengertian pada Andi.
" Masak cucian hanya 2 hari bisa sebanyak itu sih. Perasaan aku sama kamu kalau ganti baju sehari cuma 2 atau 3 kali saja."
" Ya kan serumah ada 5 orang Mas. Kalau sehari ganti baju 3 kali per-orangnya. Jadi kalau 5 orang kan dikali 3. Jadi totalnya dalam 2 hari ada 30 setel pakaian. Belum lagi jika Ardi main, pasti sering ganti baju. Apalagi pasti dia pakainya celana levis sama hoodie."
" Bocah itu.... Akan aku tegur nanti. Sudah 24 tahun gak pernah cuci baju sendiri." Geram Andi.
" Memangnya Mas selama 32 tahun pernah cuci baju sendiri? Biasanya kan anak laki-laki malas kalau disuruh cuci baju."
" Pasti gak pernah cuci baju kan." Tebak April.
" Eeiitttss enak saja. Tapi tebakanmu benar sih." Cengir Andi malu-malu.
" Tuh kann... Emang dasarnya anak laki-laki tuh sukanya ganti baju doang, gak mikir nyucinya. Capek tau kalau harus nyuci celana levis sama hoodie. Kan berat, butuh tenaga yang ekstra buat meras airnya."
" Terusss nih ya, laki-laki kalau ambil baju di lemari tuh pasti selalu ditarik. Seharian lipatin baju sampai rapi, pasti sekejap jadi berantalan lagi kalau laki-laki buka pemari. Kesel banget deh jadinya." Gerutu April.
Tanpa sadar, April malah meggerutu mengeluhkan semua keresahan para Ibu rumah tangga di dunia. Andi yang mendengar hanya melongo saja.
" Ehh.. Kok aku jadi curhat sih." Ucap April setelah sadar.
" Jadi itu alasannya. Kamu selalu ambilin baju buat Mas?"
" Ya bukan karena itu saja. Yang utama tentu untuk mencari pahala." Ucap April dengan tersenyum.
" Pinter banget sih istrinya Mas." Gemas Andi.
__ADS_1
" Mau lahala yang lebih besar dari itu nggak?" Bisik Andi.
" Emang ada? Apa Mas?" Tanya April antusias.
" Menjallankan kewajiban istri."
" Kan aku sudah menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri Mas. Aku sudah masak, beres-beres rumah. Siapin segala keperluan mas Andi juga sudah."
" Ada satu yang masih belum kamu jalankan." Ucap Andi penuh seringai.
" Apa Mas?"
" Melayani suami di ranjang." Bisik Andi dengan menahan tawa.April yang mendengar langsung melotot.
" A-apa I-iya..." Gugup April.
" Iyalah Dek. Memuaskan suami di ranjang iti pahalanya besar loh."
April berfikir sejenak, April sadar jika Ia salah. Sudah sebulan lebih Ia belum menjalankan kewajibannya sebagai istri. Bukannya tak mau, April hanya takut dan belum siap untuk melakukannya.
" Ba-baiklah... Nanti malam aku akan menjalankan kewajibanku untuk melayanimu Mas." Ucap April lalu berlari masuk karena merasa malu.
Pecah sudah tawa Andi saat melihat istrinya lari terbirit-birit dengan pipi semerah tomat.
.
.
.
.
Bersambungg...
Hai ....
Jangan lupa like, komen, vote serta favorit dan berikan hadiah yahh...
happy reading...
__ADS_1
Babayy...