Takdirku?

Takdirku?
S-2 °•° Part 20


__ADS_3

" Adek sayangg..." Panggil Andi girang.


Andi baru saja pulang sehabis bekerja. Ini adalah hari terakhir Andi bekerja di rumah tetangganya. Renovasi rumah sudah selesai. Andu mendapatkan bonus yang lumayan untuk jajan.


Seperti biasa, April yang menunggu kepulangan Andi di teraspun menyambutnya dengan senyuman yang tak terlihat oleh Andi. Andi hanya tau dari mata April yang menyipit.


" Assalamualaikum Mas.." Ingat April.


" Oiyaa... Assalamualaikum Dek." Kikik Andi malu karena lupa mengucapkan salam.


" Wa'alaikum salam Mas." Jawab April mengulum senyum.


" Kelihatannya lagi seneng banget sih Mas. "


" Iya ding sayangg..." Andi mengecup kening April untuk menyalurkan rasa senangnya hari ini.


Tubuh Andi tak terlalu kotor. Karena seharian ini hanya finishing saja.


" Tadaaa...." Andu mengeluarkan 2 lembar uang berwarna merah muda.


" Kenapa?" Tanya April mengernyit dengan senyum tertahan.


Andi malah merapatkan dirinya memeluk April dari samping.


" Rezeki kita sore ini, Mas dapat bonus." Senang Andi.


Andi menyerahkan 2 lembar uang berwaena merah muda itu kepada April. Memang begitu setiap harinya, Andi akan digaji 70 ribu per-harinya. Andi akan menyerahkan semua uang itu pada April, untuk disimoan sang istri.


" Banyak sekali."


" Renovasinya sudah selesai hari ini. Yang punya rumah memberikan bonus pada para pekerjaanya karena puas dengan hasilnya." Jelas Andi.


" Kalu begitu, uang itu di simpan Mas Andi saja."


" Simpan olehmu saja Dek."


" Kan kerjanya sudah selesai. Nanti kalau mau apa-apa Mas Andi gak punya pegangan."


" Ya sudah, yang satu lembar untukmu. Yang satunya lagi Mas simpan."


" He umm.. Ayo masuk dan segera besih-bersih." Ajak April.


Mereka berduapun masuk beriringan ke dalam rumah. Apeil langsung menyiapkan segala pakaian Andi.


Sehabis isya, Andi ingin mengajak April untuk jalan-jalan menaiki motor. Sudah lama mereka tak jalan berdua menghabiskan waktu malam bersama.


" Jalan-jalan yuk." Ajak Andi sembari meringsek memelik April yang tengah menonton tv di kamar.


" Kemana Mas ? " Tanya April sembari menatap Anfi.


" Pokoknya jalan-jalan, makan angin." Ucap Andi sembari menaik turunkan alisnya.


"Ntar masuk angin dong." Kekeh April renyah.


" Ayolah sayangg... Sudah lama kita gak jalan berdua." Rengek Andi dengan kepala yang mengusel-usel di perut April.


" Baiklah-baiklahh..." April meraih cadarnya lalu dipakainya.

__ADS_1


Andi langsung bangkit dengan semangat. Digandengnya tangan April untuk keluar bersama. Di ruang tengah, terlihat Ayah dan Ibu yang sedang menonton tv...


" Yahh... Bu... Andi mau jalan dulu samma April. Mau malam mingguan." Andi berucap sambil memainkan alisnya.


" Ckkk... Kayak anak muda saja." Sindir Ibu tanpa menoleh.


" Kan memang anak muda Bu." Jawab Andi dengan merangkul pundak April.


" Mana ada malam minggu.. Kamu salah lihat hari tuh." Ucap Ayah sambil memasukkan sekeping kue kering ke dalam mulutnya.


" Masak sih?" Andi langsung berjalan cepat menuju kalender yang tertempel di dinding.


" Ahh enggak kok, beneran ini malam minggu." Ucap Andi setelah memastikan sendiri.


" Lihat lagi yang bener." Pinta Ayah lagi.


" Bener kok Yah, malam minggu." Kèkèh Andi.


" Ini hari apa?" Tanya Ayah.


" Sabtu."


" Berarti ini sabtu malam. Bukan malam minggu." Ucap Ayah enteng.


" Ckk.. Sama saja Ayahh.." Kesal Andi.


" Ya beda lah.. Untuk ABG memang oantas di sebut malam minggu. Tapi kalau untuk kamu yang sudah berusia 32 tahun sepertinya sangat tidak pantas, sudah terlalu tua." Sindir Ayah dengan tawa kecil.


" Dah lahh terserahh ... Andi sama April mau jalan-jalan dulu." Andi melengos meninggalkan orang tuanya.


Namun April mLah melepaskan genggaman tangan Andi. April berjalan menuju ke-dua mertuanya itu untuk berpamitan dan mencium tangan mereka.


" Iya, hati-hati di jalan, pulangnya jangan kemaleman ya." Ingat Ayah. April mengangguk meng-iyakan.


" belikan Ibu kue surabi yang di pertigaan jalan melati." Pinta Ibu menatap sang menantu.


" Baiklah Ibu, Ibu mau yang rasa apa?" Tanya April ramah.


" Rasa yang tak pernah ada." Ucap Ibu biasa.


Krikk.. Krikk.. Krikk ... Krikkk...


April, Andi dan Ayah salibg lirik, detik berikutnya mereka menatap Ibu yang memasang wajah biasa-biasa saja.


" Aha ha ha ha haaa...." Gelak tawa memenuhi ruang tengah. Bukan tawa lepas, namun tawa canggung yang bertujuan menghargai candaan Ibu.


" Kenapa kalian tertawa? Apa ada yang lucu ?" Tanya Ibu mengernyit.


" Mana ada surabi dengan rasa yang tak pernah ada Bu. Ibu ini ada-ada saja bercandanya." Kikik Andi dengan tangan menepuk udara.


" Kalian menertawakan hal itu ? Kalian tak percaya kalau ada surabi yang memiliki rasa seperti itu ? Kalau begitu buktikan sendiri nanti." Ujar Ibu dengan datar.


Begitulah sifat Ibu Risma. Tak pernah bisa jika di ajak bercanda. Segala hal selalu saja di buat serius. Semua keluarga pun sudah tak kaget dengan sifat Bu Risma yang terkesan cuek.


" Baiklah Ibu, nanti akan April belikan." Ucap April dengan cerianya.


" Heemm.." Namun Ibu hanya berdehem.

__ADS_1


Andi dan April pun knagsung pergi menggunakan motor matic berwarna biru milik Andi.


Di sepanjang jalan, Andi selalu menggenggam tangan April yang melingkar di pinggangnya. Andi selalu memberika elusan ringan penuh sayang pada jemari April.


" Jadi, kita mau jajan apa?" Tanya Andi sedikit berteriak.


" Hahhh..."


Suara angin dan kendaraan Lain membut indra pendengaran April tak bisa berfungsi optimal. Jujur saja, kalian pasti juga sering mengalaminya. Selalu saja hah heh hohh jika di ajak mengobrol saat berkendara.


" Mau jajan Apa kita?" Ulang Andi dengan sedikit keras.


" Aku ingin sekali makan kebab." Ucap April.


" Okeeyy... Kita langsung beli kebab."


Saat dijalan, April memgamati setiap ruko yang berjajar di sepanjang pinggir jalan. Mata April tertuju pada sebuah ruko dengan lampu yang menyala terang. Terdapat 2 orang yang berdiri di belakang etalase.. Pikiran April menerawang, sesaat setelah melintasi ruko tersebut.


April dan Andi kini tengah memakan kebab di sebuah bangku di pinggir jalan disamping pertigaan jalan melati.


Terlihat penjual surabi yang dimaksud Ibu. Dagangannya laris manis, sampai si penjual tak terlihat karena dikerumuni banyak pembeli.


April dan Andi lebih memilih menunggu sepi sembari menikmati kebab dan jus buah yang dibelinya.


" Kalau belum makan nasi, namanya bukan makan sayang. Kamu tunggu disini sebentar ya. Mas mau beli nasi bakar disana, kasihan Kakek itu sepi pembeli." Ucap andi sembari menunjuk gerobak Kakek penjual nasi bakar.


" Iya Mas, aku juga mau satu dong. Sudah lama aku gak makan nasi bakar. Aku mau yang isi ayam saja ya Mas." Pinta April.


" Siapp bu boss..." Kikik Andi hormat.


.


.


.


.


Bersambung..


Hai hai haii...


Jangan lupa


Like


Komen.


Vote


serta Faborit dan berikan hadiah seikhlasnya yah..


Semoga hari-hari para readerss di limpahkan keberkahan.


Tetap sehat dan tetap semangat..


Happy reading endd..

__ADS_1


Babayy..😙


__ADS_2