
Satu hari lagi. Acara ijab qobul dan resepsi peenikahan April akan di gelar. Banyak masalah yang sudah di lewati April.
April sering menangis di kamar jika malam tiba. Hatinya berfikir,apakah ini tanda dari Allah jika keputusan yang Ia Ambil salah?
Namun setiap April berfikir demikian. Masalah yang Ia hadapi langsung mendapatkan solusi. Dan hak itu pula yang membuat hati April ragu. Sudah benarkah atau belum keputusannya ini.
Kini April sedang berdandan. . Merias diri agar terlihat sedikit segar di hadapan para orang.
Malam ini sudah banyak tamu yang datang. Rumah April pun sudah siap,segaka dekorasi dan kursi kondangan juga sudah di gelar.
Panggung musik hiburan pun sudah tertata dengan segala macam bentuk gamelan. Karena ini di desa,jadi hiburannya pun berupa sindenan.
Bessok di acara resepsi akan terdapat 3 sinden atau bisa di sebut dengan penyanyi wanita. Akan menyanyikan atau menembangkan lagu jawa. Disertai goyangan yang menghibur para tamu undangan.
April memandangi pantulan dirinya di cermin kamarnya.April terseyum samar. Entah itu senyum bahagia atau kesedihan. Author tak tahu,hanya April yang bisa mengartikannya.
" Nakk... Teman-temanmu sudah banyak yang datang di depan." Ucap Ibu yang datang menghampiri April.
April berbalik menatap Ibunya.
" Cantik sekali anak Ibu." Ucap Ibu tersenyum mengelus lengan April.
" Tak terasa,ternyata kamu sudah besar ya Nak. Cepat sekali kamu tumbuh. Dan besok,kamu sudah akan dipinang oleh nak Andi. Kamu akan jadi jarang bertemu Ibu." Sambung Ibu sendu.
" Ibuuuu... Kok Ibu ngomongnya gitu sih. Kan rumahnya Mas Andi deket buk. 5 menit juga sampai. Pasti nanti aku akan sering-sering main ke sini lah Buk." Ucap April merangkul pinggang Ibu Yaani.
Bu Yani mengangguk lalu membalas pelukan April.
"Bu... Kok baju kebaya kita masih belum jadi? Bagaimana besok Bu." Tanya April mengalihkan perhatian.
" Tadi kata Ningrum baju kebaya kita akan jadi malam ini. Nanti akan di ambilkan Ningrum katanya." Jelas Ibu.
" Ohh begitu..."
" Ayo kita keluar. Di luar sudah banyak tamu." Ajak Ibu.
Memang sudah hak biasa. Malam sebelum resepsi diadakan. Rumah orang yang akan mengadakan hajatan pasti ramai tetangga dan kerabat terdekat.
Tak jarang pula ada tamu undangan yang memilih datang di malam ini.
"Aprilll... Tak menyangka kalau kamu yang bakalan sold out duluan. Padahal kamu yang terlihat paling alim dan tak pernah dekat dengan laki-laki. Tapi ternyata diam-diam malah nikah duluan. " Ucap Mei teman sekelas April.
Mei niat memberi ucapan selamat atau mau menghina sih? Batin April kesal.
" Ha ha ha... Iya Meii.." Jawab April tersenyum kaaku.
" Kamu tidak hamil duluan kan?" Tanya Mei dengan tatapan menelisik. Matanyya tertuju pada perut April.
April tersenyum smirk menatap Mei.
" Memangnya apa urusanmu Mei? " Tanya April tenang.
"Yaaa.... Bukna apa-apa sihh.. Hanya memastikan saja." Ucap Mei tak kalah songong.
" Kamu boleh berfikiran seperti itu. Tapi jaangan kecewa jika kenyataan tak sesuai dengan pradugamu." Ucap April sambil tersenyum.
Namun senyuman April malah diartikan sebagai ejekan oleh Mei.Mei yang kesal pun akhirnya pergi menghampiri teman-teman yang lain.
__ADS_1
April pula juga berjallan menuju ke arah rombongan teman-trman sekelasnya. Walaupun di SMA mereka tak benar-benar terlihat akrab. Tapi setidaknya mereka hadir sebagai formalitas saja.
" Haiii... Terima kasih ya sudah datang." Sapa April pada seluruh temannya.
" Haiii... Samawa ya Aprill..." Ucap Cinta menyapa.
" Masih belum ijab qobul dodoll... " Mei menggeplak kepala Cinta kesal.
" Oh iya ya.. Lupaa.." Cengirnya mengusao kepalanya.
"Ini kado dari kami yah..." Ucap Yang lain.
Terlihat beberapa kotak kado bertumpuk di atas meja saamping April.
" Terima kasih yah... Maaf merepotkann.." Ucap April sopan.
" Aahh tidak kokk..."
" Kalau begitu kami pamit dulu yaa.." Pamit teman-teman April.
" Kenapa buru-buru?" Tanya April basa -basi.
"Kita habis ini mau nongki-nongki manjah di cafe yang baru buka." Jawab Cinta.
" Ohh baiklah. Ini kan malam minggu,waktunya anak muda nongkrong." Ucap April.
Mereka pun pamit,ada beberapa dari mereka menyerahkan amplop putih sat bersalaman. Itu bagi mereka yang datang tak membawa kado tentunnya.
Tak lama setelah kepergian teman-teman sekelas April. Terdapat beberapa teman di desanya yang juga hadir memberikan hadiah kado dan amplop berisi uang.
Bisa di ketahui oleh April siapa ke 4 pemuda itu. Tak lain dan tak bukan adalah 3 keponakan Mas Andi serta 1 Adik angkat Mas Andi.
Mas Andi dan ke 4 orang itu terlihat duduk di tengah sembari menunggu acara bancakan(selametan) Yang sedang berlangsung.
" Prill.... Di suruh kebelakang sebentar." Ucap Ningrum.
" Oh iya Mbak." April lun mengikuti arah perginya Ningrum. Ternyata Ningrum menuju kamar Ibu.
April masuk kamar Ibu. Di lihatnya Ibu yang sedang menjajal kebaya yang baru saja di ambil Ningrum.
"Kenapa kebaya ibu besar sekali? Ibu sampai tenggelam mmemakainya.
" Entah lah ini Pril,Ibu juga tidak tahu." Terdengar nada kekesalan dari Ibu.
" Bagaimana ini Rum?" Ibu beralih memandang Ningrum.
" Gak tau Bulek. Tadi kata Budhe Diyah,kalau ada keluhan di suruh bawa kesana lagi kebaya-nya." Ucap Ningrum.
"Coba punya April juga dipakai dulu." Ucap Ningrum.
April membuka kebanyanya yang berada di dalam kantong plastik.Diangkatnya kebaya itu menghadap ke wajahnya.Seketika mata April memicing.
" Kenapa model kebayaku jadi seperti ini? Kenapa berubah lagi? tak meminta persetujuan dariku pula." Protes April menaruh kebayanya di raanjang Ibu.
"Sebentar.. Akan aku Vidio call Budhe Diyah." Ucap Ningrum.
Tak lama kemudian,sambungan pun terhubung menampilkan wajah Budhe Diyah.
__ADS_1
" Halooo... Ada apa Ningrum." Ucap Diyah setelah sambungan terhubung.
Ningrum tanpa berbicara langsung mengarahkan kamere pada Ibu Yani.
Diyah pun terkejud,karena hasil jahitannya sangatlah tidak pas pada badan Yani
Tiba-tiba nenek masuk ke kamar dan langsung menatap Bu Yani.
" Ya Allahh.... Kenapa kamu seperti ondel-ondel Yanii..." Pekik Nenek.
Betul sekali perumpamaan yang di katakan Nenek. Tangan Ibu sama sekali tak terlihat karena kengan kebaya yang kebesaran. Badan ibu pun amblas karena kebayanya oversize. Seharusnya kebaya akan presbody,tapi ini malah oversize.
Diyah pun mendengar apa yang diucapkan Nenek. Namun Ia hanya bisa diam saja.
April langsung memecah keheningan.Aprik menyerobot ponsel Ningrum.
" Kenapa Model kebaya saya berubah lagi? Dan kenapa puring yang semula berwarna abu- abu kini berubah menjadi warna hitam? Kemana Puring yang saya beli? Puring yang saya beli bahannha tebal,tapi kenapa sekarang diganti dengan puring hitam yang tipiss seperti saringan tahu?" Cecar April dengan nada marah.
Bagaimana tidak marah. Baju kebaya April berwarna biru dongker. Seharusnya puring( Kain yang berada di lapisan dalam kebaya yang membuat agar kebaya tidak transparan.) Aleil berwarna Abu-abu gelap. Sehingga aksen kebaya dapat terlihat.
Tapi kini yang terpasang adalah puring hitam yang sangat tipis. Gambar detail kebayanya jadi tak terlihat karena puring yang berwarna gelap.
Lalu Ibu malihat Mira yang sedari tadi hanya diam saja di belakang Ibu. Bocah itu sudah memakai kebaya yang berwarna senada dengan April.
"Kenapa anakku menjadi seperti nenek-nenek saat memakai baju ini." Ucap Ibu setelah melihat kebaya milik Mira.
" Aku gak mai pakai kebaya ini Buu..." Rengek Mira yang menatap pantulan dirinya di cermin.
Kesan ceria pada anak-anak hilang sudah. Digantikan dengan kebaya berwarna gelap dengan model kutu baru tanoa tambahan aksesoris apapun. Persis seperti baju yang sering dipakai neneknya.
.
.
.
.
.
.
Bersambungg
Jangan lupa
Like
Komen
Vote
Serta favorit yahh...
happy readingg ..
babayyy😍😍
__ADS_1