
Jam sudah menunjukan pukul setengah 9 malam. Kali ini April mendapatkan bagian piket untuk memcuci seluruh peralatan dapur Bersama dengan Mas Yen,Vani dan Mbak Resa.
April dan Vani masih belum kembali berteman akrab. Mereka hanya bertegur sapa jika ada perlunya saja.
"Hari terakhir kalian bertiga kerja disini. Eh kalian dapat jatah piket besar. Kasihan sekali ya kalian. Ha ha ha.." Ejek Mas Yen sambil menggosok pantat panci yang menghitam karena terus-menerus dibakar setiap harinya.
"Kalau Mas Yen kasihan sama kita. Mending Mas Yen yang cuci ini semua sendiri. Lalu biarkan kami mengenang tempat ini sebelum kami keluar,gimana?" Tawar Vani menyeringai.
" Mana bisa begitu. Bisa semalaman aku menyelesaikannya jika sendirian. Kalian gak lihat ? Piring,panci,wajan dan segala wadah yang kotor sangatlah banyak di malam ini?." Keluh Mas Yen.
" Tadi katanya kasihan sama kita. Kok gak sekrang minta di kaihani sih." Cibir Vani.
" Ckkk... Sudahh lah,diam saja kau. Tuhh bilas yang bersihh. " Mas Ten mengalihkan pembicaraan.
" April,Vani dan Mbak Resa. Disuruh ikut kumpul ke luar sama Mas Tono." Ucap Devi yang melongok dari samping pintu.
" Lah ini gimana ? Kita kan lagi piket." Ucap April.
" Kata Mas Tono di suruh ikut kumpul dulu."
Sontak April,Vani dan Mbak Resa menoleh menatap Mas Yen.
" He he he...." April,Vani dan Mbak Resa tertawa canggung menatao wajah masam Mas Yen.
" Pergi saja kalian,pergi !!! Tinggalkan saja aku sendirian disini bersama segunung perabotan kotor. Tinggalkan saja aku sendirian mendaki noda mbandel ini. Tinggalkan saja aku sendirian menyelami air bilasan yang sejernih susu coklat ini." Mas Yen sungguh menjiwai perannya yang sedang menjalani piket mencuci perabotan.
" Sejak kapan susu coklat jernihh ?" Tanya Vani sewot.
" Sejak tangan ini mengkerut karena terlalu lama memegang air." Mas Yen semakin mendrama.
" Sejak kapan air bisa di pegang?" Sewot Vani lagi.
" Sejakk zaman nenek moyang lu.." Sebal Mas Yen.
Mas Yen menggosok pantat dandang yang berwarna hitam sekuat tenaga. Melampiaskan kekesalnnya karena harus piket sendirian.
" Babayyy Mas Yennnnnnn.... Selamat ber-kotor kotor riaa..." Vani dengan songongnya malah terus menggoda Mas Yen. Vanu melambaikan tangannya dengan centil lalu mengilang di balik pintu.
Mas Yen yang melihat itu langsung mengangkat wajan yang dipegangnya hendak melemparkannya pada Vani. Namun hanya bercanda,mana mungkin Mas Yen berani berbuat hak seperti itu.
" Tenang saja Mas Yen. Setelah urusan di depan selesai. Namti aku dan Mbak Resa akan kembali membantu mu mencuci semuanya." Ucap April.
Sungguh, April sangat tak enak hati untuk meninggalkan Mas Yen. Perabotan kotor malam ini sangatlah banyak hingga bertumpuk-tumpuk tinggi. Pantas saja Mas Yen mengibaratkannya dengan kiasan mendaki gunung.
" Benar ya ?" Harap Mas Yen.
" Iya tenang saja. Kami keluar dulu ya,semangatt !!" Ucap Mbak Resa.
__ADS_1
Mas Yen melayangkan fingerheart nya pada Mbak Resa. Dengan sebelah mata yang menyipit dan senyum manis terhias di bibir Mas Yen.
" Hueekkkk....Geli aku lihatnya." Mbak Resa berpura-pura memuntahkan sesuatu.
" Jahat sekali kamu Sa. Kamu mengabaikan rasa cintaku." Ucap Mas Yen dengan wajah sedihnya.
"Sudah Mbak... Ayo kita segera ke depan. Nanti Mas Tono bisa marah lagi kalau kita gak datang-datang." April langsung mendorong pelan tubuh Resa agar perempuan itu segera beranjak.
Begitu sampai di depan. Sudah banyak orang yang menanti kedatangan April dan Mbak Resa.
" Lama banget sih?" Cibir Su'am yang sepertinya kesal karena kelelahan.
"Maaf,tadi kami sedang piket." Sesal April.
" April,Resa... Duduk !!" Ucap Mas Tono menggerakan tangannya sebagai isyarat.
Tanpa menunggu lama lagi. April dan Mbak Resa lngsung duduk ikut membaur dengan yang lainnya.
" Okk.. Semuanya sudah berkumpul,jadi saya akan memulai perbincangan kita sekarang." Ucap Mas Tono penuh wibawa.
"Kalian ber-11 akan resign hari ini. Dan malam ini adalah malam terakhir kalian bekerja disini. Jujur saja,selama Rumah Makan ini ada,belum pernah ada karyawan yang resign bersamaan sebanyak ini. Ini adalah kali pertama dan mungkin akan jadi yang terakhir pula. Biasanya setelah lebaran,saya akan mengeluarkan beberapa karyawan. Tapi kali ini saya tak perlu repot-repot untuk itu. Justru kali ini saya yang repot untuk mencari karyawan baru." Ucap Mas Tono langsung pada intinya.
" 11 orang akan risegn malam ini. Dan ini adalah gaji kalian di bulan ini. Gaji terakhir kalian disini." Mas Tono membagikan amplop yang sudah di beri nama pada tiap karyawan.
" Semua sudah dapat?" Tanya Mas PW yang sedari tadi hanya diam menyimak.
" Lohh kamu belom? Sudah tak ada lagi disini. Hanya itu yang di titipkan bos besar pada saya." Jelas Mas Tono.
" Beraryi uang gajimu masih di tangan bos besar. Dan mungkin Bos besar akan ke sini seminggu lagi. Jadi gaji kamu akan di tahan seminggi lagi." Ucap Mas PW.
April hanya diam saja.
Mas Tono dan Mas PW yang melihat April hanya diam saja pun saling pandang sambil menahan senyuman.
" Nihh gaji kamu bulan ini." Mas Tono meletakkan amplop putih bertuliskan nama Aprik di meja depan April.
" Lohh tadi katanya gak ada Mas?" Tanya April cengo.
" Bercanda." Ucap Mas Tono dan Mas PW bersamaan,lalu diikuti dengan tawa semuanya.
April hanya tersenyum canggung sambil menyimpan amplop putih itu.
" Ok mari kita lanjutkan. Lupakan masalah gaji." Ucap Mas Tono.
" Saya pribadi meminta maaf pada kalian semua. Mungkin terlalu banyak kata-kata saya yang terdengar sangat oanas di telinga kalian. Tapi kalian harus tahu,saya bersikap seperti itu semata-mata hanya ingin kalian menjadi lebih baik."
" Jika saya tak tegas dalam memimpin,pasti kalian akan se enaknya pada saya. Dan untuk April dan Resa saya juga minta maaf soal masalah tadi sore. Tolong jangan di masukkan ke hati ucapan-ucapan buruk saya."
__ADS_1
"Iya Mas." Jawab April dan Resa bersamaan.
" Saya ingin kalian keluar dari sini tanpa ada rasa dendam ataupun sakit hati. Dan terima kasih atas segala kerja keras kalian selama disini." Mas Tono berucap dengan tulus dan lembut.
" Sama seperti yang mas Tono katakan. Saya hanya akan menambahkan sedikit saja. Semoga kalian sukses bekerja di tempat lain. Dan untuk April dan Vani,semoga kalian berdua sukses berumah tangga. Dan jangan lupa undang kami saat kalian nikah nanti." Sambung Mas PW.
" Siap Mas." ucap April dan Vani bersamaan.
"Sebelum berpisah,mari kita mencetak memori dulu." Ucap Mas Tono.
"Ntonn... Antonn..." Mas Tono memanggil Anton yang kebetulan lewat.
" Iya Mas." Anton mendekat.
" Tolong fotokan kami bersama." Pinta nya.
Anton mengangguk,lalu mengambil beberapa gambar.
" Potret ini akan menjadi kenangan bersama kalian disini. Terimakasihh atas semuanya." Ucap Mas Tono.
" Sekarang kalian boleh berpamitan pada teman-teman kalian yang lain. Jangan ada air mata,kita tak berpisah jauh. Setelah keluar,kalian masih boleh berkujung kesini untuk menjadi custamer atau hanya sekedar main ke dapur." Ucap Mas PW.
Mendadak suasana menjadi berkabut. Bahkan sudah ada beberapa yang menangis pilu dalam diam. Tak siap meninggalkan semua kebiasaan disini.
Bagaimana tidak. Dari jam 9 pagi hingga 10 malam di lalui bersama. Makan,minum dan mandi di tempat yang sama. Serta bersendau gurau bersama.
Kita semua sudah bagaikan keluarga. Rumah Makan ini sudah menjadi rumah ke dua bagi mereka. Sungguh,perpisahan malam ini adalah hal yang terberat yang mereka rasakan.
" Huuuuu huuuuuu huu..." Suara isak tangis terdengar dari mereka ber 11 yang berpamitan.
.
.
.
.
Bersambung....
Hai hai haiii...
Jangan lupa tetap dukung aku dengam tetap memberikan like,komen,vote serta favorit yah.
Yang berkenan boleh juga memberikan hadiah poin untuk saya.Dan maaf bila banyak typo yah.
Happy readingg..
__ADS_1
Babayyy...😄😄