Takdirku?

Takdirku?
S-2 °•° Part 11


__ADS_3

" Ini ada makanan sisa tukang bikin jembatan tadi." Ibu memberikan 3 buah pisang goreng.


April yang sedang dikamar terkejud. Ibu langsung menaruh piring berisi pisang goreng itu ke atas meja di samping tv.


" Iya Bu, makasih."


Ibu langsung keluar dari kamar April. April di kamar sendirian, karena Andi sedang mandi.


" Wih ada pisang goreng, dapat dari mana ? kok cuman ada 3 ?" Andi yaang baru selesai mandi langsung masuk ke kamar. Andi hanya memakai bawahan, bertelanjang dada.


" Dari Ibu, sisa tukang yang kerja bikin jembatan tadi." Jelas April.


Kenapa Ibu memberikan makanan sisa pada April?. Batin Andi mengernyit.


" Kenapa bajunya gak dipakek dari kamar mandi sih Mas?" Tegur April yang melihat Andi bertelanjang dada. Baju kaosnya malah di sampirkan ke bahunya.


" Memangnya kenapa?"


" Aurat Mas, aurat."


" Mana ada aurat ? Dada kan tidak termasuk aurat laki-laki sayang." Andi mencubit ke dua pipi April gemas.


" Tapi kan..."


" Apa? Kamu gak tahan ya lihat roti sobek punya Mas?" Tanya Andi menggoda.


Andi menuntun tangan April untuk meraba perutnya yang terdapat garis kotak-kotak berjumlah 6. Terlihat sangat kuat, kekar dan berotot.


" Ini milikmu, jadi kamu boleh menyentuhnya kapan saja." Ucap Andi masih membimbing tangan April agar meraba perutnya.


" Dan ini..." Andi menarik ke bawah tangan April. menuju sesuatu yang terletak di bawah perut Andi.


" Ini juga milikmu.." Sambung Andi sembari terkikik geli.


April langsung berontak hendak menjauhkan tangannya dari sesuatu yang membuatnya meremang. Tapi Andi menahannya, Andi malah menggenggam tangan April agar semakin kuat memegang sesuatu itu.


" Jangan begitu Mas." Ucap April dengan pipi semerah tomat.


" Ihh, pipinya merah merona." Goda Andi. April langsung membuang muka.


" Ngapain malu-malu kucing gitu sih. Orang tiap hari kamu merasakannya juga." Seringai Andi dengan menaik turunkan alisnya.


Dengan kesal, April meremas kuat sesuatu yang menempel di tangannya itu. Setelahnya, April menepuk kuat pusaka Andi.


" Aauhh... Jahat banget kamu Dek." Rimgis Andi merasa sakit saat pusakanya diremas dan di tepuk dengan kuat.


" Siapa suruh mesum begitu."


" Aduhh... Sakitt bangett." Andi ber-ekting seperti orang yang sedang se*karat.


" Benar-benar sakit ya Mas? Apa aku terlalu kuat tadi?" Sesal April mendekat ke arah Andi.

__ADS_1


" Sakitt banget, sampai gak kuat jalan." Ringis Andi dengan mata terpejam.


" Aduhh, maaf Mas. Aku gak bermaksut membuatmu kesakitan seperti ini."


Andi meringkuk memeganhi pusakanya. Matanya terpejam hingga urat di pelipisnya terlihat menonjol. April yang melihat itu pun jadi panik.


" Aduhhh... Aku harus bagaimana Mas? Aku harus apa? Aku panggil Ayah atau Ardi biar mereka membantu kamu ya Mas." April buru-buru berjalan cepat ke arah pintu hendak mencari pertolongan.


" Ja-jangan." Andi langsung mencekal tangan April. April pun langsung jatuh terduduk di samping Andi.


" Lalu aku harus bagaimana Mas? Aku gak tau bagaimana cara meyembuhkan burung yang sakit." Panik April yang terlihat sangat polos di mata Andi.


Andi pun menjadi semakin gemas ingin mengerjai April lebih lama. Andi sangat menikmati wajah panik April yang terlihat sangat menggemaskan di matanya.


" Kamu bisa mengelusnya saja. Itu pasti akan mengurangi rasa sakitnya." Ucap Andi kembali men-drama.


Andi memasang mimik wajah yang terlihat seperyi menahan rasa sakiy yang teramat sangat.


April yang hilang akal sehatnya pun hanya manggut-manggut. April langsung menuruti perintah Andi. April mengelus lembut sesuatu yang masib berlindung di balik celana kolor.


Andi yang puas karena berhasil menjebak April pun menikmati setiap belaian April di miliknya. Matanya terpejam ke-enakan.


" Eemmmm..." Andi menahan de sa hannya. Matanua terpejam menahan hasrat.


" Tunggu dulu." April menghentikan gerakan tangannya setelah mendengar lenguhan dari Andi.


" Kenapa berhenti, ini masih terasa sakit." Ucap Andi dengan ekspresi kecewa, karena April menghentikan aktifitasnya.


" Apa kamu membohongiku Mas?" Tanya April penuh selidik.


" Aaduh duhh.." Andi kembali meringis.


April langsung kembali mengelus sesuatu itu dengan lembut. Sesuatu itu terasa keras, sangat kerass.


" Eemhh..." Andi menahan nafas.


" Apa sebegitu sakitkah Mas? I-ini sampai membesar dan sangat keras." Polos April.


" He emm.." Andi masih memejamkan matanya menahan suatu hal yang akan segera meledak.


" Ya ampun, maafkan Tuhan, bukan maksudku untuk menyakiti suamiku." Gumam April sembari terus mengelus, sesekali April memberi pijatan halus yang membuat Andi semakin erat memejamkan mata.


" Hahhh..." Andi mengehhela nafasnya dengan sangat lega.


" Eh, kok begini ? Apa ini ?" Ucap April mengangkat tangannya.Ditangannya, ada cairan lengket berwarna putih susu.


Dengan polos, April mencium cairan yang membasahi tangannya Itu. April menatap Andi sesaat. Dilihatnya Andi berbaring terlantang dengan mata terpejam dan nafas yang naik turun.


" Mas Andii..." Pekik April kesal sesaat setellah mencium cairan ditangannya.


" Kau mempermainkanmu sedari tadi." Marah April tak terima.

__ADS_1


Andi hanya tersenyum canggung sambil bangkit dari tidurnya.


" He he he... Maaf sayang." Andi berusaha meraih tubuh April untuk di dekapnya.


April menepis tangan Andi, April bangkit dati duduknya.


" Gak akan ada jatah selama satu bulan." Putis April lalu berlalu keluar hendak mencuci tangan di kamar mandi.


" Alamakk... Jangan begitu lah sayangg..." Protes Andi mengehentak-hentakkan kakinya.


April tak menggubris, membiarkan Andi uring-uringan di atas kasur.


" Pelepasan pertama untuk bekal puasa selama sebulan. Ngenes sekali nasibku, bisa berkerut kering ini mah." Gumam Andi lesu.


Drrttttt... Drrttttt.. Drttttt..


Bunyi ponsel membuyarkan kesedihan Andi. Andi meraih ponsel yang berada di atas meja di sisi kanan ranjang.


" Tante Hani, ada apa telpon di hati senja seperti ini? Gak biasanya." Gumam Andi terheran-heran.


Andi menggeser tombol hijau, hingga terdengar suara seoraang wanita setelah pangilan terhubung.


" Halo tante Hani.."


" Halo Andi."


" Ada apa tan?"


" Andi... Om Damar An. Om Damar." Terdengar nada panik dan bergetar dari suara Tante Hani.


" Ada apa dengan Om Damar ?" Tanya Andi cepat.


" Om Damar, dia--"


.


.


.


.


...Bersambungg......


...Hai hai haiiii......


...ayo dong dukung terua karya aku dengan tetap memberikan like dan komen setelah membaca part ini....


...Kasih vote di hari senin. Serta beri hadiah di setiap harinya.....


...He he he.. maafkan jika author banyak permiintaan yah.....

__ADS_1


...Happy reading readerss.....


...bbabay...


__ADS_2