Takdirku?

Takdirku?
Part 137


__ADS_3

Seminggu berlalu,April masih menjadi gadis yang pendiam. April sering termenung sendirian,dengan pandangan kosong.


Selama seminggu ini,Andi tak pernah melihat senyum April.Sungguh,Andi sedih melihat hal itu.


" Nakkk... Ajak suamimu makan dulu,sudah siang ini.." Panggil Ibu.


Andi yang kini sedang berada di teras depan pun menyahuti,karena April yang dipanggil hanya diam melamun.


" Iya Bu,sebentar lagi..." Jawab Andi.


" Baiklahh..." Jawab Ibu dari dalam rumah.


" Ayo kita makan dulu Dek.." Ajak Andi menarik tangan April. Namun di cekal oleh April.


"Mas Andi duluan saja. Aku masih mau disini." Dingin April.


"E-eem... Ya sudah kalau begitu,aku juga nanti saja." Andi kembali duduk menemani April.


April tak bergeming. Pandangannya lurus ke depan menatap jalanan yang sepi. Kakinya yang menggantung,Ia goyangkan. Semilir angin membuat jilbab yang du kenakan meliuk-liuk bak penari.


Terdengar gumaman kecil nan lirih dari mulut April yang tertutup rapat. Gumaman itu membentuk sebuah irama yang tak asing di telinga Andi.


Sholatullah salamullah,Ala thohar rasulillah


Sholatullah salamullah,Ala yasin habibillah.


Ternyata di balik lamunan April,April masih tetap setia bersholawat dalam batinnya.


Cuaca siang ini mendung,semilir angin membuat tubuh Andi meremang.


" Anginnya kencang sekali,sepertinya minum teh bisa menghangatkan badan" Ucap Andi sambil melirik April.


April menoleh menatap Andi,lalu menganggukan kepalanya pelan.


April hendak bangkit ke dalam membuatkan teh. Namun,saat pantatnya baru terangkat sedikit. Andi mencegah April.


" Biar Mas aja yang buat sendiri,sekalian mau ke kamar mandi. kamu tunggu disini ya,nanti Mas buatkan sekalian untukmu." Ucap Andi.


Tanpa menunggu jawaban April,Andi segera bangkit ke dalam.Kini,tinggallah April sendiri di teras depan.


" Eehhh ada manten baruu.Sendirian aja nih." Tegur Bu Lastri yang lewat depan rumah April.


Bu Lastri,tetangga April yang paling menyebalkan. Bermulut tajam,setajam silett.


April mendongak menatap Bu Lastri. Dilihatnya,Bu Lastri menenteng plastik hitam,sepertinya Ia habis belanja di warung.


Tak ingin di anggap sombong,April menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


" Habis nikah kok auranya jadi beda gitu sih prill. Mukamu makin terlihat suram,kayak kebanyakan dosa." Cibirnya sambil melipat tangan di dada. Kresek hitamnya pun juga masih setia di genggamannya.


April masih diam memandangi Bu Lastri. Tanpa ada niatan merspon setiap ucapan pedasnya.


" Kenapa? Sedihh? Kecewa?... Ha ha ha,harusnya kamu senang karena sudah bertemu dengan Ayah kandungmu kan. Apalagi Ayah kandungmu lebih kaya dan mapan dari pada Bapakmu yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan." Cibir Bu Lastri dengan kekehan menghina.


April menajamkan pandangannya. Merasa tak suka dengan ucapan Bu Lastri yang suka sekali ikut campur urusan orang.


" Kenapa melotot ? Bukankah benar apa yang aku katakan?" Ucap Bu Lastri semakin songong.


" Kalau aku jadi kamu nih ya. Pasti aku lebih milih ikut Ayah kandungmu yang kaya itu. Pasti hidupmu akan terjamin dan bahagia tanpa kekurangan. Lah kamu,ketemu Ayah kandung yang sukses bukannya senang,tapi malah sok sokan merajuk. Cari perhatian lebih saja." Cibirnya sambil melengos.


"Apalagi sekarang suami barumu itu sudah bangkrut,sudah kere. Pak Ridwan pun juga sudah pensiun jadi kepala sekolah. Jadi,tak ada lagi yang bisa di banggakan dari mereka. Mending kamu ikut Ayahmu saja,Jelas-jelas sudah mapan dan kaya." Bu Lastri terus-terusan nyerocos tanpa henti.


"Sudah?" Kini April buka suara. Mata April masih setia mengunci setiap pergerakan Bu Lastri.


" Sudah bicaranya?" Tanya April lagi dengan nada dingin.


Bu Lastri yang tak pernah melihat sikap April yang seperti itu pun langsung kikuk.


April bangkit dari duduknya. April berdiri menatap Bu Lastri dengan tatapan yang sulit di artikan.


Lalu,tanpa sepatah kata,April langsung pergi masuk meninggalkan Bu Lastri yang masih diam.


Melihat April yang pergi begitu saja tanpa bicara,Bu Lastri kesal.


" Dasar anak muda jaman sekarang. Tak tau sopan santun sama sekali. Tak tau cara menghormati orang yang lebih tua." Gerutu Bu Lastri dengan nada tinggi. Tangannya menggenggam seikat kangkung dan di acungkannya ke arah April.


Bu Lastri yang tadinya hendak marah langsung menahan napas. Tangan Bu Lastri masih terangkat dengan seikat kangkung di genggamannya.


" Jika Bu Lastri merasa tua. Lebih baik,mulai dari sekarang perbanyak cari pahala.Bukannya mencari dosa dengan nyinyirin hidup orang."


"Ingat umur !! Takutnya Allah lebih sayang Bu Lastri,nanti kalau tiba-tiba disuruh pulang,Bu Lastri gak punya tabungan pahala yang cukup. Disana gak boleh kridit,apalagi ngutang."


"Kridit panci di dunia aja,Bu Lastri masih suka ngelak pura-pura gaak ada dirum kalau ditagih,padahal mah sembunyi di rumah." Ujar April menohok,di Akhiri dengan senyuman miring.


April langsung masuk ke rumah,tanpa menghiraukan Bu Lastri yang ternganga karena ucapannya.


" Tehnya sudah jadii...." Girang Andi memegang 2 cangkir teh ditangannya.


" Lohh ehh.. April kemana?" Ucap Andi celingukan karena tak menemukan keberadaan April di teras.


" Lohh,Bu Lastri ngapain?"Tanya Andi yang barumenyadari keberadaan Bu Lastri. Dilihatnya Bu Lastri yang masih terngaga dengan tangan terangkat menggenggam seikat kangkung.


Bu Lastri yang tersadar langsung menoleh ke arah Andi. Dengan kesal,dilemparkannya kangkung ke arah Andi.


Plukkk...

__ADS_1


Seikat kangkung mendarat sempurna di wajah Andi. Kangkung itu langsung terjatuh ke lantai,setelah menghantam wajah Andi.


" Ajari istrimu itu sopan santun. Kurang ajar banget kalau bicara sama orang tua. Mana nyumpahin saya cepet mati pula." Sungut Bu Lastri.


Bu Lastri langsung pulang dengan langkah kali yang dihentak-hentakkan.


Andi yang tak mengerti dengan ucapanBu Lastri pun hanya plonga-plongo.


" Kangkungnya ketinggalan Bukk." Teriak Andi mengungatkan.


Mendengar itu,Bu Lastri langsung berbalik dan mengambil kasar seikat kangkung yang beradadi depan Andi.


" Huhhh..." Dengus Bu Lastri sambil memukul bahu Andi dengan kangkung itu lagi.Kini Bu Lastri benar-benar pulang.


" Ada apa sihh?" Bingung Andi.


"Lalu,kemana perginya April?" Gumam Andi.


Akhirnya,Andi kembali membawa masuk ke dua cangkir teh ditangannya. Andi meletakkan teh di atas meja. Lalu Andi melangkah ke kamar hendak mencari April.


Saat hendak masuk ke kamar.Betapa terkejudnya Andi melihat April.


April tengah berdiri di ambang pintu,di tangannya memegang kain panjang berwarna hitam. Tangan April seperti mengambil posisi siap untung mengikatkan kain itu. Tangan April yang memegang kain panjang, sudah terangkat sebatas lehernya.


" Apa yang kamu lakukann....!" Pekik Andi melihat ke arah April dengan melotot.


.


.


.


.


.


...Bersambungg......


...Jangan lupa tinggalkan jejak...


... Like...


... Komen...


...Vote serta favorit yah.....


... Boleh juga berikan bunga atau kopi buat authorr😂...

__ADS_1


^^^ Happy readingg..^^^


^^^ Babayyy😍😍^^^


__ADS_2