
" Huuuuu huuuuuu huu..." Suara isak tangis terdengar dari mereka ber 11 yang berpamitan.
Setelah mereka ber sebelas berpamitan. Kini mereka menyalami Mas Tono dan mas PW terlebih terlebih dahulu.
Setelahnya,mereka pergi menemui rekan kerja yang masih menetap. Tentunya dengan genangan air mata yang siap meledak kapan saja.
" Huuuuuu Aprilll.... Besok aku sudah tak dapat melihatmu lagi... Huuuuuu..." Tangis Febi. Febi orang pertama yang kangsung menubruk memeluk April.
April yang melibat Febi begitu emosionak pun kembali menangis. Tangan April mengusap-usap punggung Febi.
" Huuuuuu... Kamu baik-baik disini ya,yang akur sama Mbak Ambar dan Mas Agung. Huuuuuu uu..." Ucap April sesenggukan.
Febi mengangguk. Febi melepaskan pelukannya. Membiarkan April berpamitan pada yang lainnya pula.
" Aku akan sering-sering datang berkunjung untuk menemui mu." Ucap April.
" Janji yaa..." Febi menyodorkan kelingkingnya.
" Janjii..." April menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Febi. April menghapus air matanya,begitu pula dengan Febi yang juga melakukan hal yang sama.
April berpamitan pada semuanya. Mas Bagas,Mbak Ambar, Mbak Yuni,Mas Anton,Devi,Su'am dan yang lainnya. April tak bisa menyebutkan nama mereka satu persatu.
Malam ini di penuhi oleh air mata dan pelukan. Mungkin ini hari perpisahan yang menyedihkan sepanjang masa.
April berjalan ke belakang menuju dapur. Dilihatnya Mas Yen yang masih berkutat dengan cucian perabotan kotor yang tinggal beberapa saja.
April tertegun,Ia lupa jika masih memiliki tanggungan untuk membantu Mas Yen menyelesaikan piket. April berjalan mendekati Mas Yen,sepertinya Ia tak menyadari kedatangan April.
" Ma-Mas Yen.." Panggil April lirih. April merasa tak enak pada Mas Yen.
Mas Yen mendongak menatap April. Dilihatnya wajah April yang berbeda dari tadi. Wajah April yang biasanya cerah berseri. Kini mendung berkabut hitam.
Matanya yang merah dan bengkak. Hidungnya yang merah bagai tomat. Serta suara April yang parau. Membuat Mas Yen tak tega melihatnya.
" Heeiii... Kenapa sekarang wajahmu jadi jelek?" Canda Mas Yen.
April menyeka ingusnya yang ingin mengalir dengan lengannya. Sungguh jorok bukan?.
"Maafkan aku ya Mas. Karena membiarkanmu menyelesaikan semuanya sendirian." Sesal April.
"Heiii.. Sudah lahh.. Jangan merasa bersalah seperti itu. Tenang saja,tadi aku dibantu oleh Agung kok. Jadi samtai saja lahh.." Ucap Mas Yen menenangkan.
" Benarkah?" Tanya April
" He.um... " Jawab Mas Yen mengangguk.
Kini semuanya sudah tercuci berasih. Mas Yen mencucu tangannya yang penuh busa. Lalu berjalan mendekati April.
Diusapnya kepala April dengan sayang.
" Jangan seperti itu. Aku jadi tak tega melihatmu. Kau begitu jelek." Ucap Mas Yen sendu.
April memang sangat dekat demgan seluruh karyawan yang ada di dapur. Bahkan bisa di bilang, April telah dianggap Adik oleh para senior di dapurnya.
Tapi jika dengan karyawan depan,alias pramusaji. April tak begitu akrab,karena pramusaji lebih banyak menghabiskan waktunya di depan menanti pelangan.
" Aku pamit ya Mas. Maaf kalau selama aku di sini selalu bikin Mas Yen kesal dengan tingkah ku." Ucap April.
__ADS_1
" Tidakk... Adanya kamu disini,di dapur ini. Membuat suasana dapur jadi lebih hidup. Mungkin besok saat kamu sudah tak disini. suasana akan monoton lagi,seperti sebelum kamu masuk kesini." Mas Yen mengusap kepala April sayang.
" Aku ke belakang dulu ya Mas. Mau ambil tas." Pamit April sambil menghapus air matanya.
" Iya..."
Sebenarnya April ke belakang bukan untuk memgambil tasnya. Tapi April ingin mencari Mas Apit. Sejak tadi Mas Apit tak terlihat batang hidungnya.
Bagaimana pun juga,April harus pamit dengan Mas Apit. Mas Apit adalah seseorang yang sangat baik menurut April. Tak afdol rasanya jika April tak menemui Mas Apit dahuku sebelum keluar.
April celungak-celinguk du mess belakangm Suasana Mess sangat sepi,sepertinya semua orang masih berada di depan berpamitan.
" Kamu kemana Mas? Kenapa disaat aku mau pamit. kamu malah gak ada." Gumam April pelan,mematung mengamati sekitar .
Karena dirasa tak ada orang. April berbalik hendak mencari Mas Apit ke tempat yang lain.Baru dua langkah April menjauh. April mendengar suara bersin.
"Haatccii Haatcciii..."
April menoleh,mencari sumber suara.
" sepertinya dari kamar tengah." Gumam April.
April mendorong pintu kamar tengah. Dan benar saja,April melihat Mas Apit tengah berjongkok di bawah meja.
" Mas Apit." Panggil April dengan nada yang mulai serak.
April tak berani masuk ke kamar itu. Takut menjadi fitnah,karena hanya ada April dan Mas Apit yang berada di mess.
" Mas Apit ngapain jongkok di bawah meja?" Tanya April heran. April masih setia berdiri di ambang pintu.
Mas Apit diam saja tak menjawab teguran April. namun dapat dilihat,jika Mas Apit beranjak keluar dari bawah meja.
" Aduhhhh..." Kepala Mas Apit ter-antuk kolong meja.
Mas Apit keluar dengan tangan yang mengelus-elus kepalanya yang terasa nyeri.
" Kepala aman?" Tanya April.
Mas Apit tak menjawab. Pandangan Mas Apit pun tak pernah menatap April. Mas Apit selalu mengalihkan pandangannya.
"Tadi Mas Apit ngapain di bawah sana?"
" Cari kancing baju ku yang lepas terus menggelinding di bawah meja." Ucap Mas Apit.
" Kancing baju? Kan saat ini Mas Apit sedang pakai kaos. Mana ada kaos yang memiliki kancing?" Heran April.
" Aa eeee eemmm... Ka-kancung celana maksud ku." Ucao Mas Apit cepat.
" Mas Apit sekarang sedang pakai celana kolor lohh." Protes April lagi.
" Ahhh sudahlahh.. Jang---" Ucapan Mas Apit berhenti tak kala pandangan mata mereka bertemu.
Mas Apit dapat melihat wajah jelek April. Mata bengkak,hidung dan pipi me merah. Serta April yang sesekali menarik masuk ingusnya yang hendak keluar.
Pemandangan yang sedari tadi Mas Apit hindari. Kini terlihat juga,Mas Apit sangat tak tega jika melihat perempuan menangis.
Dan hal ini lah yang membuat Mas Apit memilih bersembunyi dari pada menampakkan diri. Bagi Mas Apit,lebih baik tak perlu berpamitan dari pada melihat wajah yang penuh air mata.
__ADS_1
Mas Apit sangat benci yang namanya air mata perpisahan. Apa lagi ini air mata April. Gadis cilik yang sudah Ia anggap sebagai Adiknya sendiri.
" Jangan tunjukkan wajah jelekmu di hadapanku. Aku benci melihat uraian air mata." Ketus Mas Apit lalu keluar tergesa-gesa sampai menabrak bahu April.
" Mass.. Mass Apittt... Tungguuu !!! Aku hanya ingin berpamitan padamu Mas. " Ucap April sedikit keras.
Namun sia-sia,Mas Apit sudah pergi menjauh dari pendangan April.
" Apa salahku? Aku hanya ingin berpamitan saja." Guman April kembali menangis.
" Mas Apit memang seperti itu Pril. Jadi kamu jangan terkejut melihat sikap Mas Apit yang aneh itu. Mas Apit tak akan pernah mau keluar jika ada karyawan yang resign. mas Apit paling gak tega kalau lihat perempuan menangis di depannya." Jelas Mas Agung.
April berbalik,dilihatnya Mas Agung yang berdiri di belakangnya dengan handuk yang menyampir di pundak. Sepertinya Mas Agung baru saja selesai mandi. Pantas saja Ams Agung juga tak terlihat dari tadi.
" Tapi kan niat ku baik Mas." Ucap April.
" Sejak kemarin Mas Apit sudah bilang padaku jika tak ingin bertemu demganmu saat hari ini tiba. Mas Apit benar-benar gak sangguo jika harus melihatmu menangis. Apalagi hari ini ada 11 orang yang resign,perempuan semua pula. Pasti banyak air mata. Jadi Mas Apit memilih bersembunyi." Jelas Mas Agung lagi.
" Bisa beri tahu aku Mas Apit biasanya ada dimana jika sedang berada di situasi seperti ini Mas?" Tanya April serius.
" Biasanya Mas Apit akan pergi ke samping Rumah Makan. Tepatnya di parkiran Viar. Mas Apit sering manjat dan duduk di atas tembok. Kalau tidak ya berdiam diri di dalam Viar."
"Baik Mas..."
" Emmm Mass... Aku juga mau pamit sekalian sama kamu." Ucap April pelan.
" Huaaaaaaa... Kenapa kamu tinggalin aku sama Febi Prill... Bagaimana kalau aku bingung saat bikin orderan? Siapa yang bakalan bantu aku nantinya... Huaaaa..." Mas Agung menangis meraung-raung.
April di buat panik sendiri. Padahal tadinya Mas Agung biasa-biasa saja. Tapi kenapa sekarang seperti orang yang kesurupan begini.
April yang tadinya ingin menangis. Kini malah menjadi bingung karena melihat Mas Agung yang menangis.
" U-udah dong Mas,jangan nangis lagi. Yang cewek diaini aku loh. Kan biasanya yang cengeng itu cewek. Lah ini kok malah Mas Agung yang nangis sih.." Bingung Aprill..
" Lelaki juga manusia cyinn.. Jadi juga punya perasaan." Jawab Mas Agung ngondek.
Mas Agung berniat melucu,namun air matanya terus mengalir.
" Ha ha ha.. Apaan sih Mas." Kekeh April.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like,komen,vote serta favorit yah readerss..
Dukung terua karyaku ini,jangan bosan-bosan. Jika berkenan,boleh juga memberikan hadiah untuk saya berupa poin yah..
Terimakasihh...
Happy readingg
__ADS_1
Babayy....