
Andi mengantarkan April pulang pukul 10.15 malam. Andi meminta maaf karena membawa April pergi terlalu lama. Namun kedua orang tua April tak mempersalahkan hal itu,mereka tak merasa khawatir karena April pergi dengan calon suaminya sendiri.
April pun masuk kamar dan tidur. Menyiapkan stamina untuk bekerja esok. Hari liburnya kali ini tak sepenuhnya Ia nikmati dengan berdiam diri dirumah.
Pagipun tiba,Seperti biasa April akan berangkat bekerja pukul 9 pagi. Tak lupa pula menjemput si Vani.
"Maafkan aku Mas. Aku masih beluk sepenuhnya siap dan yakin untuk memakai kain penutup ini. InsyaAllah jika hati aku sudah mantab,Kain ini akan ku jadikan yang paling istimewa." Ucap April pelan sembari mengusap 3 lembar kain cadar yang dibelikan Andi semalam.
April menarik nafas sejenak lalu menyimpan cadar itu di almari pakaiannya.
"Okk...Mari kita berangkat bekerja." Gumam April lalu beranjak berangkat.
Hanya butuh waktu 15 menit,April telah sampai di rumah Vani.
"Vaniii.... Kerja yukk !!!" Teriak April dari deoan gerbang rumah Vani.
" Ckkk... Gak usah teriak-teriak kalii. Budeg gua lama-lama kalau tiap hari lu triakin mulu." Protes Vani sembari memakai helmnya.
April mundur ke jok penumpang,membiarkan Vani menyupir motornya.
"Ha ha ha...Bisa aja lu Tong." April tertawa garing lalu memukul bahu Vani gemas.
"Ckkk,sakit Bambangg.... Itu tangan gadis perawan apa tangan kuli sih? Kasar amat." Cibir Vani.
"Ha ha ha..."
April dan Vani pun berangkat ke tempat kerja mereka.
..
Hari ini pengunjung sepi,tak seperti hari-hari biasanya. Para karyawan pun dapat bersantai sambil bergurau bersama.
"Mbak Resa, aku mau ke kamar mandi dulu yah." Ucap April sembari meringis menahan sesuatu.
"Ckk... Ke toilet aja pakek acara izin segala. Sono cepetan,keburu boker disini ntar." Mbak Resa mendirong bahu April menjauh.
"Siapa juga yang mau boker Mbak,orang cuma mau pipis aja. Udah ah,udah di ujung tanduk nihhh..." April langsung ngacir berlari ke kamar mandi.
Karena sepi,April lebih memilih ke kamar mandi pelanggan. Letaknya di depan,disebelah kiri musola.
Brukk...
"Adohhh... Auuhhh pantatkuu." Pekik April meringis.
"Aduhh maaf Nak maaf." Ucap Bapak-bapak berkaca mata.
Karena terburu-buru,April sampai bertabrakan dengan seorang Bapak-Bapak yang mungkin seusia dengan Ibunya Yani.
"Ah iya gak papa Pak, Saya yang salah karena gak hati-hati." Ucap April sembari menunduk meminta maaf. Tapi dengan kaki yang bergerak berjingkat-jingkat karena air seninya sydah meronta untuk mengalis.
"Ti---"
__ADS_1
"Maaf ya Pak... Saya mau ke kamar mandi dulu,permisi." Potong April langsung berlari pergi meninggalkan Bapak itu.
Bapak itu merapikan letak kaca matanya yang sedikit turun. Lalu tersenyum tipis melihat tingkah April.
"Dasar remaja." Gumam Bapak itu lalu kembali ke mejanya untuk menyantap makanan yang tadi Ia tinggal ke kamar mandi.
"Eh tapii...." Bapak itu kembaki berhenti dan menoleh ke belakang. April sudah tak terlihat disana.
"Wajah gadis itu terasa sangat familiar di ingatanku. Wajahnya seperti mengingatkanku pada seseorang. Tapi siapa?" Gumamnya.
"Ahh sudah lah,lebih baik aku lanjutkan makan malamku yang tertunda." Bapak itu menepuk udara lalu menggeleng dan pergi.
"Aahhh leganyaa." Seloroh April menghembuskan nafas lega.
April langsung bergegas kembali ke tempatnya bertugas setelah melihat ada beberapa orang masuk untuk memesan makanan.
"Pril buat es kerampul anget 2." Pinta Febi dengan mata yang fokus pada rakican es campur.
"Apaan sih Feb? Mana ada es kerampul anget? Yang benar aja." Kesal April.
"Eh maksudku kerampul anget 2. Maaff sihh,aku lagi fokus nginget apa aja yang di masukin di es campur nih,mangkanya agak ngaco otakku." Ucap Febi menonyor kepalanya sendiri.
April pun lanjut membuat 2 kerampul hangat lalu diberikan ke pada Deli yang sudah menunggu untuk mengantar ke pelanggan.
Setelah selesai mengantar pesanana,Deli kembali lagi mendekat ke stannya Bartander. Dimana keadaan kembali senggang,jadi bisa untuk istirahat.
"Haduhhh capek banget sih kerja jadi pelayan." Keluh Deli sambil mengipasi wajahnya menggunakan nampan.
"Enteng-enteng bagaimana? Kamu pikir ngangkat nampan yang isinya penuh penuh pesanan itu gak berat? Kamu pikir jalan dari depan ke dapur bolak-balik itu gak capek? Gak pegel?" Ketus Deli menatap Febi sinis.
"Lah bener kan,itu masih mending. Kerja jadi pelayan itu itungannya yang pling ringan kerjanya." Kekeh Febi.
" Kerjaan paling enteng dan tak bertenaga ya tukang es kayak kamu kamu itu lah. Kamu mana tau beratnya jadi pelayan. Kamu kan cuman TUKANG ES." Kata Tukang es diucapkan Deli dekan penuh penekanan.
Deggg....
April menoleh seketika mendengar perkataan Deli yang menghina pekerjaannya secara terang-terangan.
"Oohhhhh iya ya... Aku lupa,kan aku hanya seorang TUKANG ES. Iya...iyaa TUKANG ES ,TUKANG ES kayak aku mana paham sih." Febi yang geram makin menahan kekesalan.
"Kenapa harus berebut siapa yang paking capek? Bukankah kita sama-sama bekerja disini? Sama-sama dapat gaji kan? Lagi pula kita gak bisa milih juga mau ditempatkan di bagian apa kan? Jadi jangan merendahkan pekerjaan masing-masing." Ucap April memandang Deli datar.
"Loh bener kan... Kalian kan hanya Tuknag Es."
"Iya,kami hanya Tuknag Es." Jawab Febi dan April bersamaan.
Mas Apit tiba-tiba datang dan menarik halus tangan Deli.
"Eh Mas Apit... Mau ajak aku kemana nih." Sumringah Deli.
"Ikut aku ke belakang." Jawab Mas Apit tanpa memperdulikan sekitar.
__ADS_1
April hanya memandang kepergian mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Belagu banget sih si Deli itu. Sok banget menjadi orang yang paling capek. Padahal beban yang dia angkat di atas nampannya tak sebanding dengan berat panci-panti yang kita angkat." Gerutu Febi masih kesal.
"Udah sih biarin aja. Orang kayak gitu gak bisa dikasih paham." Ucap April.
"Mending kita beresin sisa-sisa bahan. Setengah jam lagi kan udah mau tutup. Nanti biar kita langsung bisa nyuci tempatnya dan ngepel lantai. Trus bisa istirahat duluan deh. Sambung April mengalihkan emosi Febi.
Febi pun menurut,Febi melakukan apa yang dikatakan April. Tapi masih dengan kekesalan di hatinya. Tak jarang Ia membanting-banting pelan wadah-wadah yang berisi bahan untuk menghilangkan kekesalannya.
Sedangkan Mas Apit dan Deli ternyata duduk di depan Viar yang teroarkir disamping pintu keluar area belakang.
"Kok ngajak aku ditempat sepi sih Mas? Mau ngapain nih?" Tanya Deli senang.
" Dell..." Panggil Mas Apit.
"Apa Mas?" Deli penasaran.
"Mas mau bilang sesuatu sama kamu."
"A-apa Mas?" Binar Deli.
"Kamu----"
.
.
.
.
Bersambunggg...
Hai hai haiiii.....
Pada kangen gak nih sama Author,udah lama yah saya gak muncul di lapak.
Maafin saya yah,seminggu ini saya sedang sibuk,waktu untuk menulis sungguh gak ada.
Sekarang Author udah agak senggang nih,mamgkanya bisa update lagi untuk mengurangi kerinduan kalian.
Jangan lupa tetap dukung author yah,jangan bosen-bosen baca kisahnya April.
Tetap Like,Komen,Vote serta Favorit yah Readers yang baik hatiii.....
Maaf juga jika banyak typo yang bertebaran.maklum, sudah seminggu jari pensiun nulis,eh sekarang nulis lagi jadi agak kagok gitu... he he he..
Happy Readingg....
Babaayyy....😄😄
__ADS_1