
April tengah berdiri di ambang pintu,di tangannya memegang kain panjang berwarna hitam. Tangan April seperti mengambil posisi siap untung mengikatkan kain itu. Tangan April yang memegang kain panjang, sudah terangkat sebatas lehernya.
" Apa yang kamu lakukann....!" Pekik Andi melihat ke arah April dengan melotot.
" Kenapa kamu berdiri di tengah pintu tiba-tiba Dekk. Kan Mas jadi kagett.." Ucap Andi sambil mengelus dadanya yang berdebaran.
Tanpa ba bi bu, April langsung menarik Andi menuju ranjang. Kini keduanya sudah duduk berdampingan di pinggir ranjang.
Tanpa bicara, April menyerahkan kain panjang yang sedari tadi dipeganggnya. Dengan bingung, Andi meraih kain itu.
Setelah perdebatan April dengan Bu Lastri tadi. April jadi membuka hatinya, tak ingin berlarut dalam kesedihan.
Seminggu Ia selalu diam. Namun dalam hatinya Ia selalu berzikir atau bersolawat untuk lebih mendekatkan diri pada sang pencipta.
Merasa mantab dengan pilihan hatinya, April membuka laci tempat Ia menyimpan cadar itu.
Lalu dengan senang,Ia hendak mencari suaminya untuk meminta persetujuan. Tapi ternyata, saat April hendak keluar. Suaminya malahhendak masuk ke kamar.
" Apa ini?" Tanya Andi sebelum menelisik kain berwarna hitam ditangannya.
" Buka saja sihh Mas.." Ucap April menuntut.
Andi langsung membuka lipatan kain itu.
" I-ini Kann..." Ucapan Andi tergantung, Matanya langsung menatap April lekat.
April mengangguk, seakan paham maksud tataoan mata Andi.
"Ini kan cadar yang dulu Mas belikan di pasar malam dulu." Lanjut Andi.
" Benar Mas.." Singkat April.
" Aku hendak menjalankan sunnah Mas. Apakah Mas Andi selaku suamiku meridhoii?" Tanya April dengan lembut.
Bukannya menjawab, Andi malah tersenyum sembari mengelus kepala April.
" Mas senang kamu sudah banyak bicara Dek.." Ucap Andi dengan senyuman yang masih terkembang.
" Ia Mas... Maafkan aku karena selama seminggu ini belum menjalankan tugasku sebagai istri dengan baik." Sesal April.
" Tak apa.. Kamu sudah kembali tersenyum seperti ini saja, mas sudah senang. "
" Mas rindu sekali dengan senyummu yang manis ini." Sambung Andi dengan mendaratkan satu kecuoan singkat dibibir April.
Malu, April memukul lengan Andi pelan.
" Mas masih menunggu malam pertama kita loh Dek." Bisik Andi tepat di telinga April.
April membeku, tubuhnya meremang saat membayangkan tentang malam pertama.
" Sudah lah Mass..." Elak April dengan pipi bersemu merah.
Andu terkekeh, tangannya terangkat untuk memasangkan cadar di wajah cantik sang istri.
#Gambar hanya sebagai ilustrasi,bukan visual... Ganbar jasil comot dari google.
" Subhanallah... Cantiknya bidadari surgaku..." Gemas Andi menangkup wajah April.
wajah April yang ayu, kini tertutup cadar sepenuhnya, kecuali kedua matanya.
Namun, dengan memakai cadar malah membuat mata coklat April semakin bersinar. Andi cemberut setelah menyadarinya.
"Pokoknya, Kamu kalau keluar rumah harus pakai kaca mata hitam." Sungut Andi tiba-tiba.
__ADS_1
"Kenapa Mas?" Heran April mengernyit. Terlihat dari mata yang menyipit.
" Matamu semakin memancarkan keindahan. Netramu yang berwarna coklat, membuat orang kagum saat dipandang. Dan aku tak suka itu. Mata ini hanya milikku !! Semua yang ada padamu hanya milikku !!" Ucap Andi posesif.
Tiba-tiba, April menarik cadar bagian atas hingga menutupi matanya. Jadilah April tak bisa melihat lagi.
" Kalau begini bagaimana?" Tanya April dengan kekehan.
" Ha ha haa... Ya nggak gitu juga sayanggg... " Gemas Andi. Andi kembali membenarkan cadar April seperti semula.
"Besok akan Mas belikan cadar dengan model yang lain. Tentunya model yang dapat menutupi mata indahmu ini." Ucap Andi mengecup kedua mata April.
Yeaahh... Kecup mengecup adalah hobi baru Andi. Bahkan Andi sering kali curi-curi kecup, saat April terlelap.
" Prilll..." Panggil Ibu dari arah luarr..
" Iya Bu." Jawab April.
Ibu masuk ke kamar April.
" Di luar ad--" Ucapan Ibu terpotong karena terkejud melihat perubahan April.
" Subhanallahh... Cantik sekali anak Ibu inii.." Ucap Ibu setelahnya.
April langsung bangkit menghambur ke pelukan sang Ibu.
" Ridhoi April untuk menjalankan sunnahnya ya Bu." Punta April memohon ijin.
" Tentu Nakk... Ibu akan selalu mendukung apapun keputusanmu, selama itu masih di jalan yang benar. Semoga kamu bisa istiqomah memakai cadar ini yaa.." Ucap Ibu..
" Aaminnn..." Ucap April dan Andi berbarengan.
" Terima kasih Bu , Ibu sudah mau meratku sedari kecil hingga aku sebesar ini. Terima kasih atas semua kasoh sayang yang Ibu berikan padaku." Lirih April mengeratkan pelukannya.
" Oiyaa... Diluar ada tamu, kalian keluar dulu temuai tamunya. Ibu akan ke dapur membuat minum." Ucap Ibu.
" Siapa Bu?" Tanya April.
" Nanti kamu akan tau sendiri." Ucap Ibu dengan perubahan ekspresi yang begitu ketara di mata April.
Melihat Itu,tiba-tiba perasaan April menjadi tak karuan.
April dan Andi berjalan ke ruang tengah. Kurang dari 2 meter, April dapat melihat siapa tamu yang datang.
April diam mematung, tubuhnya kaku enggan untuk melangkah maju.
" Aprill..." Panggil Toni yang duduk di hadapan Bapak.
Tiba-tiba, April langsung berbalik hendak pergi meninggalkan ruang tengah. Namun Toni buru-buru berlari mencegah April. Dicekalnya tangan April kuat kuat.
" Jangan pergi Nak... Jangan terus menghindar dari Ayah." Ucap Toni sendu.
April masih diam membelakangi Toni. Tangannya masih setia digenggam Toni.
Andi dan Bapak hanya diam, tak ingin mengganggu interaksi kedua Ayah dan Anak.
" Ayah... Ayah merindukanmu." Ucap Toni.
" Rinduu ?" Tanya April buka suara.
" Iya Nak.. Ayah sangat merindukanmuu.." Ucap Toni senang karena direspon oleh April.
" Baru seminggu yang lalu anda bertemu dengan saya. Lalu anda sudah mengatakan rindu? Lalu bagaimana dengan saya yang selama 17 tahun tak pernah sekali pun bertemu dengan anda? Bagaimana besarnya rindu saya yang harus tertahan selama 17 tahun?"
" Saking rindunya saya terhadap anda. Sampai-sampai membuat hati saya sakit. Sakitt, saat mengingat jika kerinduan saya terbalas dengan pengakuan anda." Ucao April dinginn.
__ADS_1
" Maafkan Ayah nakk..." Lirih Toni.
" Tolong beri saya waktu untuk menata hati saya."
" Hati saya terlampau sakit jika menatap anda. Setiap melihat anda, ingatan saya kembali ke masa kelam kehidupan Ibu saya. Hati saya sakit,seolah meradakan penderitaan yang Ibu saya rasakan." Ucap April.
Mendengar Itu, Toni melepaskan pegangannnya dari tangan April. Toni terdiam sekejap.
" Baiklahh...."
" 2 jam lagi Ayah akan pergi ke Singapur selama 4 tahun, bahkan bisa lebih. Di umur Ayah yang hampir menginjak angka 5 ini, semoga Ayah masih di beri umur agar dapat kembali lagi ke Indonesia. Dan semoga, saat Ayah kembali, Kamu sudah memaafkan Ayah dan mau menerima Ayah sebagai orang tuamu." Toni berucap sembari menunduk.
Toni beserta 15 Dokter senior lainnya, terpilih untuk melakukan projek di Singapura. Hanya dokter handal dan berkompeten yang dapat mengikutinya. Dan beruntung, Toni adalah salah satu yang dipilih dari sekian banyaknya Dokter yang ada.
Awalnya Toni hendak berpamitan dengan baik. Berharap dapat berbaikan dengan sang anak, sebelum keberangkatannya ke Singapura.
Namun ternyata salah, lagi-lagi Toni mendapatkan penolakan dari April. Toni tak menyalahkan April, karena memang itu harga yang harus dibayar Toni untuk kesalahannya di masa lalu.
" Ayah pamit pergi, jaga dirimu baik-baik."Toni memeluk April erat.
April yang masih syok dengan perkataan Toni pun tak memberontak. Toni melepaakan pelukannya. ditangkupnya wajah April.
" Kamu cantik, persis seperti ibumu Sari." Ucap Toni tersenyum
" Tetaplah seperti ini, Ayah senang bisa melibatmu menggunakan cadar. Semoga, kelak saat Ayah kembali. Kamu masih tetao menggunakan cadar seperti ini."
Toni mencium kening April lama. Mungkin ini akan menjadi ciuman pertama dan terakhir kalinya sebelum Ia pergi.
" Ayah Pamit." Toni mengusap kepala April lembut.
" Jaga April dengan baik, jangan sakiti dia." Titah Toni pada Andi.
" Baik Yah.." Jawab Andi. Andi menyalami Toni.
" Terimakasih sudah merawat April hingga sebesar ini. Maafkan pula segala kesalahanku ." Ucap Toni membungkuk pada Hadi.
" Sampaikan pula permintaan maaf dan ucapan terimakasihku pada Yani."
Toni pergi menaiki mobilnya. Mobil Toni berjalan menjaih dari rumah April.
April yang sedari tadi diam mematung,langaung ambruk bertumpu pada lututnya.
"Ayahh...." Tangis April pecahh..
Andi langsung memeluk April menenangkan.
" Bukan ini yang aku maksudd Yahh..."
" Aku tak memintnta waktu selama ini untuk menerimamu Ayahh.."
" Jangan tinggalkan aku lagi Ayahh..." Isak April histeris.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Kini Toni mengabulkan keinginan April yang meminta di beri waktu.
Kini April malah menyesal. Namun sia-sia, Toni sudah pergi jauh di negri orang. Kini tinggalah April yang kembali terpuruk dalam kesedihannya.
.
.
.
.
TAMATTT....
__ADS_1