Takdirku?

Takdirku?
Partt 105


__ADS_3

"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu kemari?" Tanya Mas Tono.


Aura Mas Tono sangatlah mengintimidasi. April di buat kaku jadinya.April menggeleng menjawab pertanyaan Mas Tono.


"Apakah benar,jika kamuu akan menikah ?" Tanya Mas Tono serius.


"Be-benar Mas." Gagap April. April merasa sedang di introgasi karena terlibat suatu kejahatan.


"Kapan?" Singkat Mas Tono.


"Bulan Agustus Mas."


"Berarti hanya kurang dari sebulan." Kejut Mas Tono.


"I-iya Mas."


"Kenapa kamu tak bilang pada saya?"


"So-soal apa Mas?"


"Soal kamu yang akan menikah di bulan depan." Ucap Mas Tono dengan sebal.


April hanya diam tak bisa menjawab.


"Jadi?" Tanya Mas Tono ambigu.


April mendongak melihat Mas Tono.


"Jadi apakah kamu akan mengundurkan diri setelah kamu menikah?"


"Pasti jawabanmu tak tau kan?" Sambung Mas Tono mencibir.


"Sepertinya saya akan mengundurkan diri Mas." Jawab April yaang membuat tebakan Mas Tono keliru.


"Oh seperti itu,lalu?" Lagi-lagi April diam tak menjawab. April tak mengerti kenapa Mas Tono suka sekali berbicara setengah-setengah.


"Ckkk kenapa kau jadi sangat lemot sekarang? Biasanya kamu sangat cepat tanggap. Apa karena persiapan pernikahan,kamu menjadi lola sekarang?" Tanya Mas Tono tanpa disaring.


#Lola:Loading lama


April mencibir dalam hati. Mulut mungil Bosnya ini sangatlah pedas bagai samyang kesukaan April. Ingin rasanya April menyiramkan susu satu drum untuk menetralisir kadar kepedasan Bosnya ini dalam berbicara.


"Lalu apa Mas?" Tanya April.


"Lalluuuuuuuu.... Lalu kapan kamu berencana akan mengundurkan diri Aprilll." Ucap Mas Tono memutar bola matanya malas.


"Akhir bulan ini,setelah saya terima gaji." Tegas April.


"Whatt?" Kaget Mas Tono memelotott.


"Eh bujugg.." Kaget April tersentak.


"Kenapa buru-buru. Kau tak boleh resign akhir bulan ini." Ucap Mas Tono cepat sambil mencondongkan badannya menatap intens April


"Kenapa Mas?" April memundurkan tubuhnya.


"Ckkk... Resa juga akan reign di akhir bulan ini. Jika kamu juga resign,maka alan jadi apa?" Ucap Mas Tono menghentak-hentakkan tangannya yang menengadah ke udara.


"Kan masih ada Mbak Ambar yang senior disini dan Febi Mas."


"Ambarr? Aku sama sekali tak dapat mengandalkannya." Ucap Mas Tono pelan takut di dengar karyawan lain.

__ADS_1


"Ambar tak bisa memegang kendali April. Ambar terlalu bar-bar dan se-enaknya sendiri jika membuat minuman. Selama ini Resa lah uang selalu menjadi juru perasa di Bartender. Resa bilang jika lidahmu hampir sama dengan Resa. Resa sering memintamu untuk mencicipi bukan?"


"Iya Mas... Kalau sekiranya Mbak Resa kurang percaya dengan rasa dilidahnya. Pasti Mbak Resa akan mencariku serta membawa sendok kecil,lalu memintaku untuk mencicipi juga." Jawab April jujur.


"Karena lidahmu dan lidah Resa hampir sama. Bedanya,hanya dengan setetes Resa dapat mengetahui kekurangannya. Tapi jika kamu,harus berkali-kali sendok baru bisa tahu kekurangannya. Yaa,sampai kamu kembung mencicipi." Ucap Mas Tono. Namun di kalimat terakhir diucapkannya dengan pelan.


"Ckk.." April berdecak pelan.


"Kalau kamu dan Resa resign,Bartender akan kekurangan personil."


"Mau bagaimana lagi Mas. Saya benar-benar akan menikah dibulan depan."


"Hahhh... Yasudah,kalian berdua boleh risegn. nanti mulai besok Agung akan saya masukkan di Bartenderr untuk membantu disana. jadi aebelum kalian berdua keluar,setidaknya Agung sudah bisa sedikit-sedikit."


April mengangguk meng-iyakan.


"Kamu boleh kembali. Lalu bilang pada Resa untuk menemuiku."


April pun menyampaikan pesan Mas Tono pada Mbak Resa. Tapi ternyata bukan hanya Mbak Resa yang dipanggil. Melainkan seluruh karyaean dipanggil secara bergilir.


Mas Tono menanyai mereka,apakah akan ada yang resign seperti April. Mas Tono mengantisipasi,agar tak ada lagi yang resign dadakan.


Kini April tengah mencuci gelas-gelas yang kotor. Didepannya ada Mas Apit yang juga sedang mencuci beberapa wajan bekas memasak. Tempat pencucian gelas dan piring berbeda. Tetapi berhadap-hadapan.


"Wokk..." Panggil Mas Apit.


"Hmmm ?" April mengalihkan pandangannya dari gelas ke Mas Apit.


Suasana yang sepi di sekitar tempat cuci membuat April jadi tak nyaman.


"Apa benar?" Tanya Mas Apit sambil terus menggosok pantat wajan yang menghitam karena terbakar api kompor.


"Apa benar kamu akan menikah?"


April diam sejenak,lalu menjawab.


"He.em..."


"Siapa orang itu?"


"Dia tetanggaku Mas. Aku dijodohkan orang tuaku." Jawab April.


"Kenapa kamu mau ? Kamu bisa menolak jika kamu tak menyukainya Pril." Ucap Mas Apit seperti tak terima.


April hanya tersenyum samar sambil menggosok gelas di tangannya. Namun pandangan tak benar-benar tertuju pada gelas. Lebih tepatnya April hanya memandang kosong.


"Berapa usianya."


"32." Singkat April.


Centanggg.....


Wajan yang sedang digosok Mas Apit terpentak seketika. Tak menyangka mendengar jawaban April. Hingga tanpa sengaja, Mas Apit menjatuhkan wajannya.


Buru-buru Apit mengambil wajan yang jatuh dan mencucinya kembali.


"Kenapa? Kenapa kamu mau ? Dia terlalu tua untukmu Pril." Protes Mas Apit. April hanya tersenyum tak bisa menjawab.


"Pernikahan itu hal sakral Pril,bukan main-main. Bukan lagi pacaran yang jika kamu bosan bisa se enaknya putus lalu cari yang baru lagi,tanpa mengubah status hidupmu.Ini menikah Pril,menikah. Jika kamu putus hubungan,alias cerai maka kamu akan mendapat gelar baru.Jandaaa....!" Tegas Mas Apit.


April menghentikan tangannya. Kini pandangannya jauh menerawang setelah mendengar ucapan Mas Apit.

__ADS_1


"Aku tau Mas,aku paham betul tentang itu. Tak ada wanita yang ingin mendapat gelar itu. Aku pun sama,aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup." Jawab April tersenyim tipis.


"Meskipun dengan Dia." Sambung April lagi.


"Meskipun kamu tak mencintainya." Tukas Mas Apit.


"Heemm... Mungkin saat ini belum,tapi entah kedepannya Mas. Siapa tahu,setelah menikah nanti,aku malah tergila-gila dan bucin dengannya." Canda April. Tapi malah terdengar seperti kalimat putis asa ditelinga Mas Apit.


"Mumpung semuanya belum terlambat,kamu maaoh bisa mengubah keputusanmu." Kekeh Mas Apit.


"Keputusanku sudah bulat Mas. Aku sudah memikirkan hal ini sebelum menerima lamarannya." Jawab April.


"Tapi Prill..."


"Tolong dukung keputusanku Mas. Tolong jangan membuat hatiku goyah lagi. Do'akan aku saja,agar aku bisa hidup bahagia bersamanya. Walaupun belum ada cinta di antara kami."


Mas Apit terdiam,


"Huhhhh.... Maafkan aku yang terlalu ikut campur dengan urusanmu."


"Tak apa Mas,dengan begitu,aku tahu jika kamu perduli padaku."Ucap April menatap Mas Apit sambil tersenyum manis.


Mas Apit pun jadi salah tingkah melihat senyum manis April. Mas Apit mencipratkan busa pada wajah April.


"Ihhhh.... Kotorr Mass.." Protes April.


"Ha ha ha...Ini rasakan ini..." Apit tak menghiraukan protes April.


"Ehem ehemmm...."


April dan Apit pun melihat orang yang berdehem.


"Ingatt sudah punya istrii,jangan sampai cinlok disini Mas. Nih lagi,katanya sudah punya calon suami. Tapi malah sibuk bermesraan dengan suami orang." Cibirr Deli.


"Woii Bambankkk... Bermesraan pala lu peang... Kalu iri bilang dongg." Tegur Mas Apit.


.


.


.


.


.


Bersaambungg..


Haii Readersss... Maaf yah,aku sekarang jarang update.


Aku merasa insecure dengan ceritaku ini. Aku merasa cerita yang ku buat kurang menarik perhatian kalian.


Eentah mengapa,setelah aku membaca novel karangan author lain,aku merasa jika ceritaku ini tak ada apa-apanya.


Hahhh,aku bingung... Bagaimana cara membuat cerita ini menarik dan banyak pembacanya. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin memutar otak untuk membuat cerita yang menarik,hidup serta mengena di hati readers...


Tapi ternyata itu sangat susah.


Terimakasih yang masih setia dengan Aprill,jangan bosan-bosan yahh,tetap like komen vote serta Favoritt,okkk...


Babayy...

__ADS_1


__ADS_2