Takdirku?

Takdirku?
S-2 °•° Part 25


__ADS_3

April kembali ke rutinitas kesehariannya. Mencuci baju, mencuci piring, menyapu dan memasak. Hanya itulah pekerjaan rumah yang April kerjakan sehari-hari.


April yang awalnya tak pandai memasak. Kini sudah bisa memasak segala menu makanan sederhana. Walaupun, tak jarang April bertanya kepada Andi yang lebih pandai memasak.


April tak malu karena Andi lebih pintar memasak. April tulus niat ingin belajar memasak. Andi pun dengan senang hati akan mengajari April cara memasak.


Seperti saat ini, April tengah memasak di dapur. April ingin memasak sayur santan daun singkong. Andi bersedia mengajari cara memasaknya.


" Mas tinggal sebentar ke depan ya sayang. Mas mau mandiin si Biru." Ucap Andi. Biru adalah burung peliharaan Andi.


April yang tengah mengaduk sayur yang hampir matang itupun memgangguk saja.


Aprik terus fokus dengan masakannya. Namun, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Tangan kekar memeluknya erat dari arah belakang.


April mengernyit, tetapi Ia biarkan saja. Andi memang sering melakukan hal itu jika April sedang memasak. Tak jarang Andi malah menggodanya di dapur.


" Cepet banget mandiin si Biru-nya Mas ?" Tanya April heran.


Pasalnya, mungkin Andi keluar belum ada 15 menit. Namun tiba-tiba sudah kembali di dapur dan memeluknya dari belakang.


Aprik merasa bahunya berat, ada benda tumbul yang menempel di sana. Dagu orang di belakangnya bersandar pada bahu April.


" Ngapain sih Mass... Aku susah gerak nihh.." Protes April sembari mengaduk sayur daun singkok yang mulai mendidih.


Dirasa orang yang di ajak bicara hanya diam saja, malah mengeratkan pelukannya. April pun memegang tangan yang melingkar di perutnya.


Kokk, tangannya begini sih. Batin April.


Ini sepertinya bukan tangan Mas Andi. Tangan Mas Andi tak sekecil ini. Kalau bukan Mas Andi yang memelukku, lalu ini tangan siapa?


April menyentak tangan yang melingkar di perutnya. Di tepusnya menjauh tangan itu. April dengan cepat menoleh berbalik badan.


" ARDII... Apa yang kamu lakukan." Pekik April cukup kuat.


" Astahfirullahalazimm... Ampuni hamba Ya Allah. Ampuni hambah yang sudah bersentuhan dengan laki-laki yang bukan muhrimku." Sesal April mengibas-ngibaskan bekas tempat tangan Ardi tadi.


" Kenapa Mbak?" Tanya Ardi santai.


" Apa yang kamu lakukan tadi Ardi. Aku ini kakakmu, jangan sekali-kali berbuat hal buruk seperti itu." Sentak April.


" Bukannya tadi kamu menikmatinya? Malahan, kamu mengelus tanganku." Jawab Ardi dengan seringai.


" Jika aku tahu itu kamu. Demi Allah aku tak akan menyentuhmu." Ucap April tegas dengan tatapan matanya yang tajam.


" Ha ha ha haa... Lucu sekali kamu April." Ejek Ardi.


"Jangan pernah kamu ulangi perbuatanmu yang seperti tadi. Atau aku akan-"


" Akan apa? Ha? Akan apa? Akan mengadukan kelakuanku kepada Ayah dan Ibu? Atau kepada Mas Andi?" Potong Andi.


" Coba saja kalau kamu berani berbicara sepatah kata. Aku pastikan jika Ayah dan Ibu tak akan menganggapmu menjadi menantunya lagi. Aku pastikan Mas Andi akan muak melihat wajahmu." Ucap Ardi dengan seringai.


" Jangan macam-macam Ardi." April mundur selangkah menjauhi Ardi.


"Aku sudah bosa bermain menjadi anak pendiam dan cuek. Inilah aku diluar, kamu menyukai sifatku yang seperti ini bukan?"

__ADS_1


" Stopp Ardi Stopp.."


" Ternyata kamu itu cantik ya Mbak. Pantas saja Mas Andi mau menikahimu." Ardi pernah melihat April sekali saat tak memakai cadar dan jilbabnya. Tepatnya saat selesai mandi dini hari bersama Andi dahulu.


" Sayang sekali aku tak pernah mengenalmu sebelumnya. Padahal kita satu desa ya, tetapi aku tak pernah melihatmu."


Andi mendekatkan tangannya hendak meraih April.


" Jangan mendekat, atau aku akan teriak." Ancam April.


" Teriak saja, semua orang sedang tak ada di rumah. Mas Andi suami tercintamu juga sedang keluar membeli pakan burung pelihaaraannya. Ucap Ardi menyeringai.


Teelihat sayur yang April masak sudah mendidih. Santannya hendak meluber keluar dari panci karena tak di aduk oleh April. April langsung mematikan kompornya.


Setelahnya, April bersiap untuk berlari keluar menjauh dari Ardi. Namun Ardi malam menghadang jalannya dengan merentangkan kedua tangannya di depan pintu.


Spontan April memukul kenjng Ardi dengan centong sayur yang masih setia dalam genggaman tangannya.


Ctakk...


Sekali pukulan, namun sangat keras. Centong sayur yang terbuat dari besi terdengar nyaring saat beradu dengan tengkorak dahi Ardi.


" Aarrggg..." Ringis Ardi merasakan sakit. Tangannya otomatis memegangi dahinya yang berdenyut.


Kesempatan bagi April. April memanfaatkan peluang itu untuk menerobos keluar dari dapur. Meninggalkan Aedi yang masih keliyengan. Namun ternyata Ardi mengejarnya.


Brukkkk...


April ditangkap seseorang dari Arah depan. Bukan ditangkap, mungkin lebih tepatnya menubruk orang yang ada di depannya.


" Mas Andii.." Girang April. April kangsung memeluk erat tubuh Andi.


" Kenapa?"


" Akuu... Aku takut Mas." Ucap April.


" Takut? Takut apa? Ada apa?" TanyaAndi heran.


" Mbakkk....." Pekik Ardi sembari memegangi dahinya.


" Ardii..." malah Andi yang menyahuti.


" Mas Andi sudah pulang?" Tanya Ardi kaget.


" Iya sudah, barusan."


" Kamu kenapa? Kenapa kalian main lari-larian? Dan lagi, tadi kamu bikang takut, apa yang kamu takutkan sayang?" Tanya Andi lada sang istri.


" Aku takut Mas. Tadi di dapur-"


" Tadi di dapur ada ular, Mbak April teriak jadi aku samperin Mas." Potong Ardi cepat.


" Lalu kenapa jidatmu memerah seperti itu?"


" O oohh inii.. Inii... ini tadi kejedot pintu karena berlari keluar dapur. Karena panik, aku sampai gak tau kalau ada pintu di depan." Alasan Ardi.

__ADS_1


" Beneran ada ular Dek?" Tanya Andi memastikan.


Mengingat ancaman Ardi, April mengangguk.


" Apa masih disana ularnya?" Tanya Andi.


" Gak tau Mas.Gara-gara Mbak April lari, aku juga ikutan lari." Kikik Ardi menetralkan suasana.


" Ckk... masak laki-laki gitu doang takut."


" Ayo kita ke dapur, kita cek bersama. Kalau ularnya masih disana kan bahaya."


" Aku iku Mas." Pinta April menggenggam lengan Andi kuat.


" Kamu masuk ke kamar saja, bahaya." Tolak Andi.


" Enggak Mas, pokoknya aku mau ikut." Kèkèh April.


" Ya sudah ayo."


Akhirnya mereka bertiga mengecek dapur. Sudah tak terlihat adanya ular di sana. Karena memang, itu hanya akal-akalan Ardi saja. Pastilah tak ada.


" sudah gak ada." Ucap Andi.


" Tadi sayurnya sudah matang?" Tanya Andi.


" He umm.."


" Coba Mas cicipi." Andi mendekat ke arah panci.


" Lah kok jadi begini bentukannya? Kenapa samtannya pecah sayang? Kamu lupa gak di aduk terus ya?" Tanya Andi.


" Panik karena ada ular Mas." Ucap April.


" Oiya, ya sudah tak apa. Tapi rasanya sudah ok kok." Ucap Andi.


.


.


.


.


Bersambung.


Hai hai hai..


Pagi-pagi enaknya ngopi atau ngeteh ditemani satu bab cerita nih.


Tetap like, komen, vote favorit dan bagi2 gift ya readerss..


Happy readingg andd


Babayy😁

__ADS_1


__ADS_2