Takdirku?

Takdirku?
S-2 °•° Part 10


__ADS_3

Cetak cetak cetak.... Krress Kress kress....( Anggap saja bunyi memotong sayuran)


April mulai merajang segala sayuran yang akan digunakan untuk memasak sayur sop.


Kebetulan, hanya ada Andi dan April di rumah. Ibu dan Ayah sedang ke rumah tetangga yang akan ada acara. Sedangkan Ardi, bocah tengik itu sedang pergi main sedari pagi.


" Kamu motongnya kurang rapi sayangg." Tegur Andi halus.


" Heem ? Salah ya?"


" Bukan salah, hanya kurang rapih sedikit." Andi mendekatkan jari telunjuk dan jempolnya.


" Lalu bagaimana? Biasanya Ibu tak pernah protes jika aku memotongnya begini." Sebal April. Pasalnya, sedari tadi apapun yang Ia lakukan selalu salah di mata Andi.


" Salah salah salahh teruss." April menyerah, Apeil meletakkan pisau ditangannya.


Andi hanya terkekeh kecil. Jika seperti ini, terlihatlah April seperti gadis kecil seusianya. Namun jika mengingat semua masalah yang April hadapi, April akan berubah menjadi wanita dewasa yang bisa menyelesaikan masalahnya.


Andi berdiri di belakang April, tubuhnya merapat ke tubuh April. Dari belakang, Andi menarik tangan April untuk kembali memegang pisau.



# Foto bersumber dari google. Jangan hujat aku karena menggunakan foto mereka yah Readers. Susah sekali mencari ilustrasi wanita yang berhijab. Ini bukan visual, foto ini hanya sebagai ilistrasi agar memudahkan kalian untuk berkhayal.


" Begini cara motong yang benar sayang." Bisik Andi dengan jemari yang menuntun tangan April agar menggerakkan pisaunya.


April hanya diam mengikuti gerakan tangan Andi. Setelah selesai, April melihat hasil potongan sayurnya. Ternyata memang terlihat lebih rapih dan sedap dipandang.


" Kita memasak sayur sop dulu yaa." Ucap Andi.


" Yang pertama pasti menumis bumbu yang sudah kamu iris kan Mas?" Ucap April antusias.


" Kamu benar." Gemas Andi mencubit hidung April.


April langsung memasukkan bumbu ke dalam wajan berisi sedikit minyak goreng yang sudah panas.


" Ditumis sampai bumbunya harum, seharum tubuhmu." Gombal Andi.


April langsung menoleh meenghadap Andi. Tangannya yang sedang memegang spatula du acungkan ke atas.


" Kok Mas Andi nyamain aku sama harumnya bumbu sih. Berarti harum tubuhku bauk dong." Sebal April dengan bibir mengerucut.


" Bukan begitu, Maksudnya Mas itu..." Andi menggantung ucapannya.


" Harum bumbu itu bisa menggugah nafsu makan. Kalau harum tubuhmu, menggugah nafsu birahinya Mas."


Blusss... Semburat merah memenuhi pipi April. April mengulum senyum dengan dada yang dag dig dug.


" Yahhh, bumbunya gosongg, jadi hitam deh." Sesal April langsung menongseng bumbu yang sudah berubah warna menjadi kehitaman.


" Seperti hitamnya duniaku jika tak ada kamu di sisiku." Andi masih sibuk dengan gombalannya.


" Ckkk Mass... Jangan terus menggodaku." Protes April malu-malu.


" Ha ha ha.... "


" Ini masih bisa di pakai kok, belum terlalu gosong."


Andi menuangkan air ke dalam tumisan bumbu. Setelah mendidih, Andi memasukkan berbagai sayuran yang sudah di cuci. Dengan cekatan, Andi menuangkan segala bumbu yang dapat membuat masakannya menjadi nikmat.

__ADS_1


Setelahnya Andi langsung melanjutkan memasak telur balado. Andi meminta April untuk mengamati Andi memasak. Agar April bisa belajar dengan cara melihat Andi.


Setelah beberapa saat, telur balado pun hampir matang.



" Ini, cicipi dulu." Andi menyodorkan sendok ke arah April. Andi meniup sebentar, agar April tak kepanasan.


" Emmmm... Enak banget Mas." Jawab April antusias.


" Besok-besok ajari aku memasak ya Mas." Pinta April serius.


" Belum bisa memasak tak apa. Yang penting agamanya."


" Agama memang penting Mas, tetapi memasak juga penting."


" Lebih penting ilmu agama sayang." Andi mengecup sekilas kening April.


" Aku pernah dengar suatu pepatah. Puaskan suamimu melalui perutnya. Istri yang pintar memasak, akan emmbuat suami betah dirumah. Seperti itu Mas."


" Itu kan hanya pepatah Dek."


" Tapi aku sangat ingin bisa memasak." Kekeh April serius.


"Baiklah baiklah, Mas akan ajari kamu memasak." Jawab Andi tersenyumm Tangannya terulur mengelus pucuk kepala April.


Jika kalian ingat, Andi dulunya mempunyai usaha sebuah Rumah Makan. Andi sendiri yang langsung terjun menciptakan segala menu makanannya.


Jadi jangan heran jika Andi pintar dalam hal memasak. Namun sekarang usaha Ansi sudah gulung tikar. Tempat Andi meng-ekapresikan keahliannya hanya tinggal di dapur rumahnya saja.


" Sudah siapp..."


April meraih piring berisi telur balado dari tangan Andi. April menyusun semua masakan yang sudah matang ke atas meja makan. Tak lupa, Ia mengambil tudung saji untuk menutupinya.


" Baru matang ya?" Tanya Ibu.


April memang belum bisa akrab dengan Ibu mertuanya itu. Ibu lebih banyak diam , hanya berbicara jika ada perlunya saja.


" Iya Buk, silahkan makan." Ucap April.


" Wahhh... Ayo kita makan sekalian, sudah jam setengah 1 ini, sudah waktunya makan siang." Ucap Ayah senang.


Ayah dan Ibu langsung mengambil posisi duduk. April mengambilkan piring untuk mereka semua makan.


Ibu mengambilkan nasi dan lauk untuk Ayah. Sedangkan April, tentu saja melayani sang suami.


" Eemmm... Enak sekali masakan mantunya Ayah." Gurau Ayah sembari menyendokkan sesuap nasi ke mulutnya.


" Ooo gitu, berarti selama ini masakan Ibu gak enak." Celetuk Ibu melirik Ayah.


" Uhukk Uhukk..." Ayah tersedak mendengar ucapan Ibu.


Ibu mengambilkan Ayah minum, Ayah langsung meminumnya hingga tandas.


" Bukan begitu... Tentu saja masakan istriku jauh lebih enak di banding masakan siapapun. Maksud Ayah itu, masakan April ter-enak nomor 2 setelah masakan Ibu." Jelas Ayah cepat.


Andi hanya menahan senyum saat melihat sang Ayah yang gelagapan. Ayah melirik dan mengedipkan matanya ke arah April. Meng-isyaratkan jika April harus menyetujui perkataannya.


" Masak?" Sinis Ibu tak percaya.

__ADS_1


" Iya lah istriku." Ayah meringsut mepet ke arah Ibu.


" Tapi memang enak kok masakan April. Ini beneran kamu yang masak kan? Bukan beli di warung makanan?" Tanya Ibu.


" Yang masak Mas Andi Buk." Jawab April menunduk.


" Mana ada, aku kan hanya gangguin kamu di dapur Dek." Sanggah Andi cepat.


" Jadi yang benar siapa?"


" Masakannya Mas Andi Buk. April hanya bantu potong-potong saja." Jujur April.


" Tidak tidak... Yang masak tadi April, terus aku yang ngoreksi rasa masakannya." Sanggah Andi lagi.


" Sudahlah Bu, makan saja yang kenyang." Potong Ayah.


" Hemmm..." Ibu hanya berdehem saja.


" Widihhh .... Lagi pada makan nih." Ardi langung mengambil piring dan mengambil makan.


" Kamu itu baru datang bukannya ucapin salam, cuci tangan dulu, langsung main comot makanan saja." Ayah mengetok tangan Ardi yang memegang centong nasi.


" Keburu laper."


" Wihh... Tumben masakannya enak banget? Biasanya gak se-enak ini. Ini siapa yang masak?" Tanya Ardi sambil terus menyuapkan nasi ke mulutnya.


Sontak semuanya kembali terbatuk, kecuali Ibu.


" Kenapa pada diam ? " Tanya Ardi cengo.


" Besok Ibu gak mau masak lagi." Ketus Ibu langsung bangkit pergi meninggalkan meja makan.


" Kamu sih Ar.." Andi dan Ayah menyalahkan Ardi atas kemarahan Ibu.


Seketika Ardi sadar atas kesalahannya. Dengan tergesa, Ardi menyusul Ibu yang tengah merajuk.


Ardi melakukan segala cara agar Ibu tak marah lagi. Dan akhirnya, Ibu luluh. Dengan catatan, satu set panci baru harus tiba minggu depan.


" Alamat di palak ini mah." Gumam Ardi ngenes.


" Lagian nih mulut kenapa asal nyerocos aja sih, tipis-tipis deh dompetku." Sesal Ardi yang tak bisa menjaga ucapannya.


.


.


.


.


...Bersambung......


... Hai hai haiii......


... Jangan lupa like, komen, vote serta favorit dan bagi-bagi hadiah ya.....


... Mohin maaf jika banyak typo. ...


... Terima kasih dann.....

__ADS_1


... Sampai jumpa....


... Babayy...


__ADS_2