Takdirku?

Takdirku?
S-2 °•° Part 17


__ADS_3

Sepertinya Andi tak mengira jika April akan bertanya seperti itu. Andi langsung diam membisu,bingung harus menjawab apa.


" Kenapa Mas Andi diam saja?"


" Iya...." Jawab Andi ambigu.


April membatu seketika. Baru kali ini Ia terfikir perihal memiliki anak. Sungguh, di awal pernikahan tak terlintas sedikitpun mengenai momongan.


Appril yang usianya baru menginjak 17 tahun lebih, membuatnya tak berfikir sampai sejauh itu. Sebenarnya bisa dibilang wajar. Karena gadis remaja seusia April tak semestinya memikirkan memiliki anak.


Usia 17 tahun adalah masa-masa kejayaan bagi para remaja. Masa di mana Ia bebas meng-eksplor dunia. Masa nakal-nakalnya serta bersenang-senang dengan teman sebaya.


Namun berbeda dengan April, April sydah menikah. April harus mengubur keinginannya untuk bisa bebas seperti teman-temannya. April harus bisa membina rumah tangganya dengan baik.


Jika April belum kepikiran untuk memiliki momongan. Berbeda dengan Andi yang sudah sangat menantikan hadirnya buah hati sebagai pelengkap keluarga mereka.


Andi yang usianya sudah 32 tahun sudah sangat pantas untuk menyandang gelar seorang Ayah. Kebanyakan kawan Andu sudah menikah dan memiliki anak. Bahkan sudah ada yang memiliki 2 sampai 3 anak.


Andi pun tak kuasa menahan keinginannya untuk segera memiliki buah hati. Tapi, mengingat usia April yang masih sangat muda. Andi tak bisa memaksakan keinginannya.


Andi takut jika metal April belum siap untuk merawat seorang bayi. Karenaa sebab itulah, selama 6 bulan ini Andi tidak menyinggung masalah anak.


" Kenapa sekarang kamu yang diam sayang?" Tanya Andi memeluk April. April bersandar pada dada bidang Andi yang tidak memakai baju.


April sangat suka jika Andi bertelanjang dada. Andi terlihat lebih tampan dan berkarisma. Sebab itulah, Andi sering membuka baju jika sedang bersantai berdya dengan April.


April mengukir abstrak di dada Andi dengan jari telunjuknya. Menyembunyikan keresahan di hati kecilnya.


" Apa kamu tak ingin memiliki anak dari Mas?" Tanya Andi.


" Bukan begitu maksudku Mas."


" Lalu?"


" Entahlah... Hanya saja, aku baru terpikir tentang anak sesaat setelah mendapat berita jika Vani melahirkan."


" Lalu?"


" Hatiku jadi sedikit kacau."


" Lalu?"


" Sebenarnya aku suka anak kecil Mas. Apa lagi bayi, sangat-sangat imut dan menggemaskan." Ucap April dengan senyum mengembang.


" Lalu?"


" Aku juga ingin memiliki anak darimu Mas." ucap April mendongak menatap Andi.


" Lalu?" Tanya Andi lagi mengulang satu kata itu. Andi berucap sembari tersenyum senang.

__ADS_1


" Tapi apakah aku bisa menjadi Ibu yang baik nantinya? Aku takut tak bisa membimbing dan mendidik anak-anak kita kelak." Ucap April dengan pesimis.


" Lalu?"


" Ak--"


" Tunggu dulu... Kenapa dari tadi Mas Andi hanya menjawab lula lalu saja? Apakah tidak ada pertanyaan yang lain? Mas Andi sudah mengulang kata itu sebanyak---" April berhengi sejenak. Otaknya berusaha mengingat, sudah berapa kali Andi mengulangi kata Lalu.


" Nahh... Sudah 7 kali Mas Andi mengatakan kata Lalu. " Ucap April setelah selesai menghitung. Jari tangannya terangkat 8, menyisakan 2 jari tangan kanan yang ditekuk ke dalam.


" Heiii... Itu delapan." Andi menekuk satu jari April yang kelebihan satu.


" Nahh iya begini." Seloroh April.


" Sebenarnya cuman 6 kali Dek." Kekeh Andi.


" Masak?"


" Iya sayanggg..." Andi mengecup mulut April yang terbuka.


" Eitsa, jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat jawab pertanyaanku Mas !!" Desak April.


" Pertanyaan yang mana?"


" Ahh sudahlah lupakan saja." Kesal April, dengan kasar April berbalik memunggungi Andi.


Andi langsung melingkarkan tangannya di perut April. Kepalanya menelusup di antara leher April. Tiupan nafas halus Andi membuat tubuh April meremang. April samhatlah tak tahan jika Andi bernafas di area leher belakangnya. Sungguh geli dan nikmat rasanya.


" Bahkann..... Mas sudah mebayangkan, kelak kita akan memiliki banyak cucu. Kita akan duduk di kelilingi cucu-cucu kita. Dan kita akan di panggil kakek dan nenek."


Sontak April langsung berbalik cepat menatap Andi. April tercengang mendengar penuturan Andi. Yang dilihat hanya tersenyum menyeringai.


" Heiii... Jauh sekali pemikiranmu Mas ." Ucap April dengan terheran-heran.


"Biarin lah... Kita kan mmemang harus memikirkan masa depan."


"Apa aku bisa menjadi orang tua yang baik Mas?" Tanya April sendu.


" Kenapa pesimis sih? Kamu kan wanita hebat." Suport Andi.


" Tapi."


" Apa kamu belum siap memiliki anak di umurmu yang baru akan menginjak 18 tahun?" Tanya Andi memastikan.


April diam saja tak bisa menjawab, Hatinya bimbang.


" Huhhh..." Terdengar helaan nafas berat Andi.


" Aku tak akan memaksakanmu untuk mengandung sekarang. Aku tahu kamu masih muda, tak sepertiku yang sudah Om Om." Andi merendah.

__ADS_1


" Bukan begitu Mas." Ucap April merasa tak enak hati mendengar ucapan Andi.


" Tapi memang benar kan? Mungkin itu alasabmu tak ingin memiliki anak sekarang. Kamu takut merasa terbebani dan terikat tak bisa bebas ke mana-mana jika sudah punya anak." Ucap Andi yang ternyata sedikit merasa kesal.


" Bukann begitu Mas." Ulang April.


Andi tak menggubris, Andi berbalik lalu memejamkan matanya hendak tidur. April yang melihat itu jadi serba salah.


" Mass.." Panggil Aprio lirih penuh rasa bersalah.


" Matikan tv-nya, aku mau tidur." Singkat Andi tak selembut biasanya.


April menghela nafas berat. Diraihkan remot tv, lalu di tekannya tombol merah hingga tv mati.


Terdengat deru nafas teratur dari Andi. April pun berusaha untuk tidur tanpa pelukan Andi..


April terus saja bergerak mencari posisi yang dapat menbuatnya terlelap. Sudah 15 menit April berusaha memejamkan matanya. Tapi nihil, matanya sama sekali tak mau di ajak untuk terlelap.


April berbaring terlentang dengan pandangan lurus menatao langit-langit kamar.


" Hahhhh..." Desah April sedikit keras. Kesal karena tak bisa tidur.


April kembali memiringkan tubuhnya mengjadap punggung Andi.


" Biasanya kamu memelukku sepanjang malam Mas. Kalau aku tak bisa tidur, kamu pasti akan mengusap-usap perutku agar aku bisa terlelap. Sekarang, aku tak bisa tidur karena kau diamkan Mas. Aku tak bisa tidur tanpa pelukannmu." Gumam April menatap lekat punggung April.


10 menit kemudian, April pun berhasil terlelap. Andi berbalik perlahan menghadap April. Andi tersenyum tipis, lebih tepatnya mengejek.


Sebenarnya Andi belum tidur, Andi hanya berpura-pura tidur saja. Andi ingin memberi sedikit pelajaran pada istrinya. Andi pun mendengar semua ucapan April tadi.


" He he he.. Maafkan Mas yang berpura-pura marah padamu." Kikik Andi tertahan.


Andi tahu, jika April akan sulit tidur jika tak dipeluk olehnya. Saat terbangun malam saja, jika tangan Andi tak melingkat di perut April. April akan langsung mencari-cari dan menarik tangan Andi agar memeluknya. Itupun dengan mata yang tetap terpejam. April akan tidur dengan gelisah jika tak menempel pada tubuh Andi.


.


.


.


Bersambunggm..


Tetap dukung aku yahh..


Yuk like komen vote favorit serta beri hadiah sebanyak-banyaknya..


Happy reading raderss..


Babayyy...

__ADS_1


"


__ADS_2