
"A-apa kamu menyukainya Dek?" Tanya Andi pelan.
April menoleh perlahan. April menundukkan pandangannya,tangannya meremas ujung hijapnya. April bungkam tak dapat menjawab perkataan Andi.
April terlalu takut untuk mengakuinya di depan Andi.
Andi lalu menarik ujung kain lengan April.Ingat !! Bukan tangannya yang ditarik,namun kain bajunya bagian lengan yang Andi tarik.
April pun maju melangkah mengikuti tarikan Andi karena tak ingin bajunya sobek karena terlalu kencang ditarik.
"Ma-mau kemana Mas." Protes April dengan tergagap.
"Menemui yang sedari tadi kamu pandang tanpa berkedip." Ucap Andi tanpa menoleh.
"Tak perlu Mas. Mari kita pulang saja." Elak April sembari mencoba berhenti dari tarikan Andi.
Andi tak perduli lalu melepaskan tarikannya. Andi berjalan 3 langkah lalu berfikir.
Andi mengambil satu kain berwarna merah marun. Dibolak-balikkannya kain itu seperti menimbang apakah baik atau tidak.
Andi menyukainya lalu Ia beralih menatap sepasang manusia yang juga sedang memilah kain.
Terlihat sang pria memakaikan kain itu pada sang perempuan. Tapi perempuan itu sebelumnya sudah memakai kain yang serupa,mungkin Ia hendak membelikannya lagi agar bisa di pakai bergantian.
Andi mengangguk paham lalu mendekat ke arah April kembali.
"Kamu menyukainya kan?" Tanya Andi tersenyum.
April tersenyum kecil malu-malu.
"Maaf yaa..." Andi meminta izin sebelum memakaikan kain itu
Andi memakaikan kain merah itu pada wajah April. Trpatnya dari bawah mata hingga menutupi keseluruhan wajah April kecuali matanya yang indah.
"MasyaAllah... Sungguh indah ciptaanmu ya Tuhann..." Gumam Andi tanpa sadar.
Andi sungguh terseponaa...Eh maaf,maksudnya terpesona dengan keanggunan April.
Cadar berwarna merah marun sangat serasi dengan gamis dan hijab pasmina April yang berwarna senada.
#Sumber hasil comot dari google ya teman-teman. Dan kira-kira begitulah penampakan April saat pertama kalinya memakai cadar. Dan yang masanginnya pertama kalinya adalah Mas Andi. Uhhh pasti April seneng bangatt
April mematung membiarkan Andi memasangkan cadar pada wajahnya.
Andi mundur selangkah setelah berhasil memasangkan cadar pada wajah cantik April.
"Kamu suka Dek?" Tanya Andi antusias.
"Su-suka Mas... Ta-tapi, Adek gak punya uang." Cicit April pelan..
"Tenang saja,Mas akan belikan untukmu. Dan semoga seterusnya kamu benar-benar akan istiqomah memakai cadar." Ucap Andi dengan senyum termanisnya.
"Ayo ngaca dulu,lihatlah betapa cantiknya dirimu memakai cadar ini Dek !!" Andi mengajak April untuk mengaca pada kaca yang sudah disediakan.
"Cantikk..." Gumam April tersenyum di balik cadar yang Ia kenakan.
Kemudian Andi meraih 2 cadar lagi yang berwarna hitam, Namum berbeda model.
"Mas bungkus ya, sekalian sama yang sudah di pakai." Ujar Andi sambil menunjuk cadar yang dikenakan Andi.
"MasyaAllah,Istri ente cantik syekalii." Ucap si penjual dengan logat khasnya. Saat berbicara pun kepalanya ikut menggeleng-geleng sesuai nada ucapannya. Seperti orang Arab. Hi hi hi...😂
"sukronnn.." Jawab Andi tersenyum. Ucapan adalah do'a kan? Jadi Andi harus menanggapinya dengan baik pula.
__ADS_1
Sedangkan April menunduk malu karena di puji cantik.
"Kenapa beli 2 lagi Mas? Ini saja sudah cukup kok." Ucap April tak enak hati.
"Tak apa, biar kamu makin mantab memakai cadar."
"Ayo pulang sekarang." Sambung Andi.
April pun bergegas mengikuti Andi. Sampai diparkiran,Andi menyerahkan helm pada April.
"Mau dilepas atau dipakai cadarnya?" tanya Andi sebelum April memakai helmnya.
"Di-dipakai saja Mas." Jawab April.
Andi mengangguk lalu segera melajukan motornya setelah April membonceng.
"Makasih ya Mas untuk hari ini." Ucap April tiba-tiba memecah kesunyian di antara ramainya kendaraan jalan.
"Jangan sungkan begitu lah Dek."
"Memamg sebenarnya aku sangat ingin sekali memakai cadar Mas. Tapi aku takut jika bar beberapa hari memakainya,lalu aku lepas lagi.Aku takut gak bisa istiqomah dan menjaga amanah Mas." Ucap April lagi.
"Semua tergantung niat Dek.Memang memakai cadar hanya sunah,tapi jika dikerjakan akan membawa berkah dan pahala bukan?"
"Benar Mas... Tapi masih terselip keraguan di hati Mas."
"Belajar pelan-pelan Dek.Pakai cadar lah jika ingin bepergian di tempat ramai dahulu. Lalu biasakan setiap keluar rumah memakai cadar.Bahkan lebih bagus lagi jika di rumah tetap memakai cadar." Ucap Andi.
"Lah lalu kapan dibukanya Mas? Kan dirumah hanya ada orang tua,kenapa masih harus pakai cadar?" Tanya April.
"Lepaslah cadar jika di dalam kamar. Biarkan dirimu dan suamimu seorang yang dapat melihat wajahmu. " Ucap Andi yang terselip kalimat modus didalam ucapannya.
"Kenapa di dalam rumah masih harus dipakai? Ya karena jika ada tamu mendadak,maka kamu tak akan gelagapan mencari-cari cadarmu." Jelas Andi lagi.
"Baiklah... Adek akan berusaha mulai dari sekarang. Emmm...Tapi pelan-pelan dulu gak pa pa kan Mas? Adek belum siap jika harus langsungan." Ucap April manjah
"Iya gak pa pa...Mulailah dari kesanggupanmu lalu tingkatkan sampai pada ketetapan yang telah ditentukan Allah."
April tersenyum mendengarnya.
"Emm Dek...."
"Iya Mas?"
"Ada hal yang ingin Mas ceritakan sama kamu. Tadi Mas lupa msu bilangnya."
"He.em?"
"Rumah Makan milik Mas benar benar sudah bangkrut Dek. Mas sudah menjualnya sebelum Mas pulang menemuimu." Jelas Andi.
April terhenyak mendengarnya.
Jadi karena hal ini,tadi Mas Andi menanyaiku tentang lelaki yang pekerja kuli dan petani? Batin April menatap kaca sepion yang memperlihatkan wajah sendu Andi.
"Kenapa diam saja Dek? A-apa kamu menyesal? A-apa kamu akan ninggalin Mas dan membatalkan tunangan ini?" Tanya Andi takut-takut.
Andi melirik sepion yang mengarah ke wajah April. Pandangan mata mereka bertemu melalui kaca sepion itu.
"Bukan begitu Mas... Rezeki bisa di cari lagi,mungkin jalan rezekinya Mas bukan dari Rumah Makan itu." Ucap April bijak.
Andi membelokkan motornya di gerobak penjual cilok.
"Mau cilok?" Andi melongok menoleh pada April yang berada di jok belakang.
"Di jajanin kan?" Polos April.
__ADS_1
"Ha ha ha... Ya iyalah lah Aprill Sayangg..." Kekeh Andi gemas.
"Apa Mas?" April memajukan kepalanya karena kuramg mendengar ucapan terakir Andi.
"Gak apa apa kok." Kikuk Andi.
"Ehem ehemm... Jadi beli cilok kagak nihh ?" Tanya si penjual cilok yang sudah tak sabaran.
"Aelahh sabar napa bang." Protes Andi.
"Ya lagian. Elu masra-mesraan di marii. Kagak kasian napa sama aye yang jomblo abadi begini."
"Ya lagian abang sihh nyolokin aci mulu. Sekali-kali nyolokin hati dedemenan abang napee dah." Lawak Andi menirukan logat si penjual cilok.
"Eh bujugg kuprett... maksudnye nyolokin aci ni bagemane?"
"Lah kan abang jualan cilok kan?"
"Ho.ohh"
"Cilok kan kepanjangan dari aci di colok bang." Jelas Andi.
"Apa iyak ya? Aye jualan cilok udah 10 taon baru tau." Ucap si penjual sambil garuk-garuk kepala.
"Lah kan di grobaknya abang juga ada tulisannya tuh. Cilok, aci di colok 500 san." April menunjuk tulisan yang menempel di kaca gerobak.
"Eh bujuggg... Kok aye baru nyadar yak?"
April dan Andi saling tatap lalu tertawa bersama.
Setelah membeli 2 bungkus cilok,Andi membawa April di pinggir trotoar. Merek duduk di motor sambil memakan cilok masing-masing.
Andi pun menceritakan semua kejadian yang menimpa Rumah Makannya. Andi merasa jika April wajib mengetahuinya.
April yang mendengar cerita Andi pun terkejud. Tak menyangka jika ada orang yang setega itu membuat usaha orang lain bangkrut.
"Semua sudah ada jalannya Mas. Jangan pernah menyesali semua yang sudah terjadi. Mari bangkit bersama,mulai lagi semua dari awal... Semangatt !!" April mengepalkan tangannya menyemangati Andi. Tentunya dengan senyum yang menawan di balik cadarnya.
Andi dapat melihat itu dari mata April yang terlihat menyipit.
.
.
.
.
...Bersambungg...
...Jangan lupa ...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...Serta Favorit yah Readerrr yang cantik-cantik,ganteng-ganteng....
...Maaf jika banyak typo yah.....
...Dan jangan bosen-bosen baca ceritaku yah.....
...Terimakasihh...
__ADS_1