Takdirku?

Takdirku?
Interview kocak


__ADS_3

April dan Vani pun sudah sampai kembali ke rumah makan.April dan Vani membersihkan pakaiannya dari sisa-sisa air hujan yang menempel di badan mereka.


"Van...Jilbabku lepek nih gak mau berdiri ujungnya." April berucap dengan nada kesal.Pasalnya jilbabnya tak mau berdiri,tetapi malah loyo menutupi jidatnya.


"Ya mau gimana lagi,orang kehujanan."


"Mana mau interview lagi.Ini mah kesan pertamanya udah jelek banget Van.Udah pakaian basah,jilbab lepek pula." Gerutu April yang masih berusaha menata ujung jilbabnya.


"Udah-udah kelamaan.Noh lihat managermya udah nungguin tuh !"


"Yang mana?" April mengangkat kepalanya lalu mencari sosok yang dimaksud oleh Vani.


"Tuh dua orang yang duduk di meja paling belakang yang menghadap kesini.Bosnya yang pakek baju batik warna merah marun."


"Gimana nih Van? Pertanyaannya susah-sudah ga?"


"Alahh udahh deh.Ya mau gimana lagi Pril,namanya juga hujan."


"Huhhhhh"


"Ayo aku temenin,cepetan."


"Duhh aku gugup nih Van,takutt."


"Alah lama lu Pril."


Vani pun mendorong April maju berjalan menuju meja tempat duduknya para meneger.April berjalan maju terpaksa,langkahnya tersendat-sendat seirama dengan dorongan yang Vani berikan.


Sampailah April dan Vani duduk berhadapan dengan kedua bos itu.April duduk dengan canggung sesekali tersenyum.


"Ehemm." Bos berdehem memulai pembicaraan.Dilipatnya tangan ke arah dagunya.


"Vani bisa pindah duduknya di meja sebelah." Ucap Bos tersebut sopan.


"Disini saja gak pa pa Mas.Nemenin April." Jawab Vani yang sepertinya tak mengerti kode dari bos itu.


"Gak usah ditemani,lagian gak akan saya bawa kabur kok temenmu.Kamu pindah duduk di samping,biar April sendiri disini sekalian belajar berani."


"Ba-baiklah." Vani mengerti lalau bangkit pindah tempat duduk.


Si Bos pun membuka surat lamaran milik April.Sibacanya cv yang April ajukan.


"Aprilia Calista?" Ucao Pelan si Bos menatap April.


"I-iya"


"Sebelumnya perkenalkan dulu yah.Nama saya Tono,bisa dipanggil mas Tono.Dan yang disebelah saya--"


"PW." Bos kedua yang sedsri tadi diam akhirnya angkat bicara menyerobot ucaoan Mas Tono.


"PW?" April bingung mendengar kata yang diucapkan orang tersebut.Pasalnya kata PW dalam istilah gaul berarti Posisi Wuenak.


"Kamu bisa panggil saya Mas PW.Jangan di artikan Posisi wuenak loh yah."


April pun hanya tersenyum canggung mendengar ucapan Mas PW.


"Jadi April serius ingin bekerja disini?" Tanya Tono.


"I-iya Mas."


"Sudah ada pengalaman kerja sebelumnya?"


"Be-belum Mas.Saya sama seperti Vani,masih sekolah."


"Santai saja Pril.Disini kita gak akan marah-marah sama kamu.Jadi kamu jangan tegang menjawab pertanyaan kami." Guyon Mas Tono berniat mencaikan suasana tegang.


"Iya santai saja,jangan tegang seprti itu Li." Sambung Mas PW.


"Li?" Tanya Mas Tono dan April berbarengan.


"Iya Li...Calii,Calista kan?"


"Ohhhh..."

__ADS_1


Wah payah nih Mas PW.Masak aku dipanggil Kalii. Batin April berontak tak terima.


"Gak boleh ya kalau dipanggil Cali?"


"Bo-boleh kok Mas.Senyamannya Mas PW aja."


"Ok lanjut sesi interview...Kemarin temenmu si Vani sudah lulus Intervieu dan keterima bekerja disini.Karena kamu rekomendasi dari Vani,maka kami percaya dan langsung memanggilmu untuk sesi interview." Ucap Mas Tono.


"Iya Mas."


"Apa alasan kamu bekerja disini?" Tanya Mas Tono.


"Ingin membantu keuangan orang tua Mas." Jawab April.


"Apa kamu serius bekerja disini? Buakn Cuma main-main saja atau coba-coba?"


"Serius Mas."


"Bisa dipegang kata-kata kamu?"


"Bi-bisa Mas."


"Baiklah...Sebelum kamu datang tadi,kami sudah beruding.Kami menerima kamu disini karena kami peecaya demgan rekomendasi Vani yang sebelimnya sudah kami interview.Jadi saya harap kamu dan Vani dapat belerja sungguh-sungguh disini."


"Beneran saya sudah diterima Mas?" Tanya Apeil tak percaya jika sesi interview semudah ini.


"Iya kamu diterima."


"Alhamdulillah...Terimakasih Mas."


"Tapi..."


Duhh perasaanku gak enak nih.Kenapa ada tapinya segala sih. Batin april ketar-ketir,takut kebahagiannya dirusak oleh kata Tapi.


"Ta-tapi ke-kenapa Mas?" Tanya April takut-takut.


"Vani kami terima disini sebagai Pramu saji atau bisa disebut pelayan atau bisa disebut jiga dengan pengantar pesanan." Ucap Mas Tono berhenti lalu kembali berujar.


"Tapi kamu tidak saya tempatkan sebagai Pramusaji."


"Memang seperti itu.Tapi lowongan untuk Pramusaji sementara ini sudah cukup alias Full."


"Ja-jadi?"


"Kamu akan kami tempatkan dibagian belakang,alias dibagian dapur. Apakah kamu mau?" Tanya Mas Tono dengan nada serius dan pandangan yang tajam mengamati gerak-gerik serta ekspresi April.


"Di- di dapur bagian apa Mas?" Tanya April takut-takut.Namun Ia harus memastikan kejelasan dari pekerjaan yang akan diterimanya.


"Kamu mau duku apa ndak? Kalau kamu mau maka akan kami jelaskan." Ucap Mas Tono enggan menjelaskan.


Bagaimana ini? Apa aku terima saja yah? cari pekerjaan kan susah,mumpung ada dan mudah ini.Tapi bagaimana jika kerjaan di belakang yang dimaksud adalah tukang cuci piring? . Batin April dengan sejuta pertanyaan dalam hatinya.


"Bagaimana? Apa kamu mau jika kami tempatkan di bagian belakang?" Tanya Mas Tono sekali lagi meminta kejelasan April.


"I-iya Mas mau." Jawab April terpaksa meng-iyakan.


Jadi tukang cuci piring pun tak apa lah.Yang penting bisa bekerja sebelum jadi istri orang. Batin April pasrah dengan konsekuensi keputusannya.


"Serius?"


"Dua rius Mas."


"Ha ha ha kamu bisa saja Cali..." Mas PW tertawa mendengar jawaban April


April mengangguk saja sambil menundukkan wajahnya malu dengan jawaban spontannya.


"Karena kamu sudah menyetujui,maka akan saya jelaskan pekerjaannya."


Deg Deg ..Jantung April berpacu.


"Kamu..."


"Dibelakang..."

__ADS_1


"Akann....."


Kenapa ngomongnya putus-putus sih ? Kenapa jadi lambat begini? . Batin April geregetan.Pasalnya Mas Tono berbicara dengan mode slowmo.


"Iya iya iya" April memganggukkan kepalanya dengan cepat-cepat tak sabar menunggu babak penentuan.


"Bekerja...


"Sebagaaiiiii......"


"Iya iya iyaa...Teruss terusss....Dikit lagi...Dikit lagi." April semakin hebohh tak sabaran.


"Sebagaiii....." Mas Tono sengaja mengulur-ulur ucapannya.


"Ya ya ya...Tidak tidak.. Teruss Terusss..."


"Bartenderrr..." Ucap Mas Tono dengan nada sumringah.


"Yaaa benarrrr...Yeyyy..." Girang April cukup keras dengan tangan mengepal-ngepal.


"Ha ha ha ha..." Mas Tono dan Mas PW pun tak kalah hebohnya.Mereka tertawa melihat respon April yang heboh.


"Astaga...Apa yang Aprik lakukann sampai seheboh itu. Bikin malu saja tuh anak." Geruru Vani yang melihat dari belakang.


"Yeeyyyy.....Eh tunggu tunggu." April yang tadinya masih bersorak lalu terdiam.


"Kenapa? Ada apa? Tanya Mas Tono dan Mas PW yang ikut heran karena Aprik tiba-tiba diam.


"Mohon maaf nih Mas.Ngoomong-ngomong Bartender itu apa yah?"


Mas Tono dan Mas PW pun saling tatap lalu kembali tertawa menertawai kebodohan tingkah April.


"Kamu ini...Sidah senangnya minta ampun kayak habis menang tebak kata.Ehhh endingnya malah kayak orang bego." Ucap Mas PW masih tertawa.


"He he he..." April menggaruk kepala menyadari tinglahnya yang berlebihan.


"Bartender itu orang yang bikin minum."


"Ohhhhh begitu,baiklah saya menerimanya.Tadinya saya berfikir kalau akan dijadikan tukang cuci piring."


"Ha ha ha..."


"Baiklah baiklah...Sekarang serius lagi.Gaji yang akan kamu terima selama 3 bulan ini adalah 900 ribu karena masih masa training.Karena kamu masih sekolah,maka sama seperti Vani.Kamu akan masuk kerja tanggal 10,2 hari setelah kamu selesai ujian nasional." Jelas Mas Tono panjang lebar.


"Baikalah Mas saya paham."


"Semua sudah sepakat,jadi sesi interview ini selesai."


"Terimakasih Mas...Saya pamit dulu."April menyalami kedua Bos itu lalu pamit pergi.


.


.


.


.


.


Bersambung


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Serta Favorit yah.


Mohon dimaklumi jika terdapat banyak typo yang beterbaran.

__ADS_1


Happy reading🤗


__ADS_2