
Halo tante Hani.."
" Halo Andi."
" Ada apa tan?"
" Andi... Om Damar An. Om Damar." Terdengar nada panik dan bergetar dari suara Tante Hani.
" Ada apa dengan Om Damar ?" Tanya Andi cepat.
" Om Damar, dia kecelakaan." Ucap Tante Hani dengan isak tangisnya.
Tante Hanu adalah suami dari Om Damar. Sedangkan Om damar adalah adik kandung dari Ibunya Andi, Ibu Risma.
" Inalillahi wainaillaihi roji'un." Spontan Andi mengatakan kalimat tarji'.
" Om Damar kecelakaan bagaimana Tante ?" Tanya Andi di sela-sela kepanikannya.
" Om Damar jatuh saat memanjat pohon. Awalnya Om Damar akan memotong pohon jati yang sudah terlalu tinggi. Saat Om Damar sudah memanjat sampai ketinggian 6 meter. Om Damar terpeleset dan jatuh." Jelas Tante Hani dengan isak tangis yang semakin menjadi.
" Apa Om Damar terluka parah?" Tanya Andi.
" Iyaa, Om Damar terjatuh tepat di atas fondasi rumah. Kepalanya menghantam beton."
" Inalillahi wainaillaihi roji'un." Andi menganga tak bisa membayangkan bagaimana kondisi Om Damar saat ini.
" Tolong beri tahu Ibumu. Nomor Ayyahmu tak bisa ku hubungi."
" Baik Tante, Tante yang tenang di sana ya, jangan panik. Tante di Rumah Sakit mana, dan di kamar nomor berapa Om Damar dirawat ?"
" Kami sekarang ada di Rumah Sakit Hidayah. Om Damar masih berada di ICU, kondisinya cukup parah Andi." Terdengar Tante Hani berucap dengan nada yang tercekat.
" Baiklah, kami akan segera ke sana ."
" Baiklah, Tante tunggu. Tante takut sendirian disini, Ahmad baru perjalanan dari Jakarta."
Andi langsung mematikan sambungan telepon, dengan cepat Andi menyambar baju kaosnya dan memakainya dengan tergesa-gesa.
Tanpa sadar, Andi menubruk April yang hendak masuk ke dalam kamar.
" Aduhh Masss..." Rengek April saat pantatnya menghantam lantai dengan keras.
" Astagfirullah. Maaf Dek, maafkan Mas." Andi langsung buru-buru membantu April untuk bangkit.
" Mana yang sakit?" Tanya Andi khawatir, Andi sadar jika tadi Ia menghantam April cukup kuat.
__ADS_1
April mengelus pinggangnya yang terasa ngilu. Andi pun langsung ikut mengusap pinggang April.
" Maaf ya Dek, Mas gak sengaja." Sesal Andi, terlihat jelas kekhawatiran di mata Andi.
" Lagian Mas Andi ngapain sih, kok buru-buru banget."
" Ya Allah... Mas lupa kalau harus memberitahu kabar buruk pada Ayah dan Ibu." Andi menepuk jidatnya saat melulakan tujuan awalnya.
" Ada apa mas?" Tanya April serius.
" Om Damar, Adiknya Ibu jatuh dari pohon. Sekarang masuk ICU." Jelas Andi cepat.
April mengekor Andi yang berjalan cepat mencari keberadaan kedua orang tuanya.
"Ibu dan Ayah ada di halaman belakang Mas." Tunjuk April yang melihat Andu kebingungan.
Andi tanpa menjawab kangsung bergegas ke halaman belakang.
" Bu, Yah." Panggil Andi.
" Ada apa sih ? Heboh bener." Ketus Ibu tanpa melihat ke arah Andi.
Ibu dan Ayah sibuk mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar tanaman sayur sawi hijau.
" Om Damar di rawat di Rumah Sakit, sekarang masuk di ICU." Ucap Andi cepat dengan nafas yang tersenggal-senggal.
" Bicara yang halus Mas, jangan buat mereka kaget. Takutnya nanti Ibu syok." Bisik April.
Andi langsung mengangguk, Andi mengehela nafasnya sebentar,
" Buk, Om Damar jatuh dari pohon. Kondisinya cukup parah, saat ini Om Damar sedang di rawat du Rumah Sakit Harapan. Om Damar masuk ruang ICU." Jelas Andi selembut dan setenang mungkin.
Andi tak ingin melihat Ibu syok lalu jatuh pingsan. Om Damar adalah Adik kesayangan Ibu. Ibu dan Om Damar sangat dekat sekali. Om Damar dan keluarganya pun sering ke rumah Ibu untuk sekedar bertukar cerita.
" Ya Allahh..." Kaget Ibu menutup mulutnya dengan siku. Tangannya yang kotor terkena tanah menjadi penghalang untuk Ibu memegang wajah.
Ibu sedikit terhungunh ke belakang, untung saja ada Ayah yang sigap menanggkap Ibu dari belakang. Badan Ibu lemas seperti tak bertulang setelah mendengar ucapan Andi.
" Semoga Damar baik-baik saja." Lirih Ibu dengan air mata yang menganak sungai.
" Ibu yang tenang, ayo kita segera bersiap. Kita berangkat ke Rumah Sakit sekarang." Ucap Ayah mengelus pundak Ibu menenangkan.
" Ayo Yah, kita ke sana sekarang." Ibu bangkit dengan tergesa, tak sabar untuk segera melihat kondisi sang Adik.
Ibu, Ayah dan Andi pun berjalan masuk ke rumah untuk membersihkan diri. Ibu di gandeng oleh Andi dan Ayah di masing-masing sisi. April hanya mengekor dari belakang, mengikuti setiap pergerakan mereka tanpa suara.
__ADS_1
" Kamu hubungi Ardi, suruh dia langsung ke Rumah Sakit." Pinta Ibu dengan nada lemas.
Andi langsung mengganti pakaiannya menggunakan celana kain panjang berwarna abu-abu serta kaos yang dilapisi jaket hoodie berwarna putih.
April pun ikut masuk ke kamar, namun Ia berdiri mematung di belakang Andi. Andi sibuk bersiap-siap, mengambil segala keperluan yang harus di bawa.
" Ayo cepetan Andii." Panggil Ayah dari luar.
" Iya sebentar." Andi berjalan cepat ke luar. Lagi-lagi April setia mengekor di belakang Andi.
Saaking panik dan terburu-buru, Andi sampai lupa mengambil helm yang masih di dalam almari. Andi putar balik untuk mengambil helm yang tertinggal.
" Gara-gara panik, aku jadi pikun." Andi menepok jidatnya pelan.
April kembali membuntuti setiap langkah Andi. April tak berani angkat suara. Melihat situasi yang panik, Ia tak berani menyela berucap.
" Lama banget sih Andi, kayak siput." Gerutu Ayah yang melihat Andi keluar dari rumah.
Ayah dan Ibu sudah stand by di motor dengan helm yang sudah terpasang. Andi pun langsung menaiki motor matic miliknya. Dinyalakan mesinnya, lalu mereka segera berangkat menuju Rumah Sakit tempat Om Damar dirawat.
" Bismillah..." Ucap Andi pelan, lalu melajukan motornya.
Baru akan belok di pertigaan samping rumah, Andi mengerem motornya mendadak.
" Astagfirullah." Pekik Andi kaget.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Hai hai haiii..
ayooo jangan lupa pencet tombol Like, lalu tinggalkan sedikit jejek berupa komentar. Lalu senangkan hati author deengan menekan tombol berbentuk hati.
Serta buatlah author nyeengir dengan memberi vote dan hadiah sebanyak banyaknya.
Maaf kalau ada salah-salah ketik.
__ADS_1
happy reading..
Babayy😉😉😉