Takdirku?

Takdirku?
S-2 °•° Part 4


__ADS_3

Krikkk Krikk Krikk...


Sepasang sejoli itu berada dalam kecanggungan. April yang takut jika Andi meminta hak-nya hanya diam pura-pura tak ingat.


Sedangkan Andi, pria itu sangat ingin mengajak sang istri untuk menyempurnakan ibadah. Namun Andi bingung, harus dari mana Ia memulainya.


Mereka berdua kompak berbaring terlentang di atas ranjang. Kaku, tanpa pergerakan ataupun suara sedikit pun. Bahkan suara jangkrik terdengar jelas di otak mereka.


" Emmmm..." Dengan kompaknya mereka berdua bergumam.


" Kamu duluan." Lagi-lagi April dan Andi herucao berbarengan.


" Ladies first." Ucap Andi dengan gentleman.


" Eemmm... Aku mau tidur." Ucap April cepat lalu bergegas memiringkan tubuhnya membelakangi Andi.


Grepp...


Andi pun tak kalah cepat, melihat pergerakan April. Andi buru-buru menarik April masuk ke dalam dekapannya.


" Aahh.." Pekik April lirih karena terkejut.


" Jangan keras-keras, nanti kedengeran yang di luar." Bisik Andi tepat di telinga April.


Hembusan nafas hangat Andi membuat tubuh April meremang. Bulu kuduknya pun berdiri, terlihat dari rambut-rambut halusnya yang menegak.


Kamar Andi memang tidak kedap suara. Maklum, orang di desa, kebanyakan masih berdinding kayu.


"A-apa yang Mas Andi lakukan." Gugup April sambil berusaha melepas pelukan Andi.


Bukannya terlepas, Andi malah semakin mengeratkan pelukannya, mengunci pergerakan tubuh istri kecilnya itu.


" Menagih perkataanmu tadi pagi." Andi semakin merapatkan tubuhnya menempel April.


" Gerah Mas." Elak April.


" Sudah sebulan lebih loh Dek." Bisik Andi manja.


Kedua insan itu memang bercakap dengan berbisik. Takut jika obrolannya terdengar sampai ke luar kamar.


" A-apanya?" Lirih April pura-pura bodoh.


" Dosa loh kalau nolak ajakan suami." Andi membenamkan wajahnya di leher belakang sang istri.


April terpejam sesaat. Merasakan sensasi geli di area tengkuk lehernya.


" Mas sudah sabar menunggu sampai sebulan lebih loh Dek. Apa kamu gak kasian sama Mas?" Desak Andi sembari mengendus tengkuk leher April.


Andi adalah pria dewasa. Di wajahnya terdapat kumis dan janggut tipis-tipis. Hari ini Andi belum bercukur, sehingga rambut-rambut halus Andi memberikan sensasi geli setiap bersentuhan dengan kulit April.


April menggeliat kecil, tak tahan dengan kegiatan yang dilakukan Andi.

__ADS_1


" Dek..." Manja Andi semakin menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke tengkuk leher sang istri.


Andi sengaja menggelengkan kepalanya gemas, agar April semakin merasa geli akibat kumis tipis miliknya.


" Mass... Geli." Protes April menggeliat.


Andi langsung membalikkan tubuh April agar menghadap ke arahnya. Dan lagi, Andi kembali membenamkan wajahnya ke ceruk leher April. April semakin kaku di buatnya.


Andi mengecup sekilas tulamg selangka April yang menonjol. Leher putih mulus, dengan tulaang selangka yang nampak jelas, benar-benar menggoda Andi selama sebulan ini.


Untung saja April menggunakan hijab serta cadar saat keluar dari kamar. Jadi, hanya Andi lah yang dapat menikmati keindahan tubuh sang bidadari surganya itu.


Andi berpindah menatap manik coklat April. Netra coklat itu bergerak tak terarah, menandakan jika April tengah gugup.


" Jangan terlalu gugup seperti itu." Bisik Andi.


Kini mata Andi fokus menatap bibir ranum April yang berwarna pink alami. Andi menelan salivanya dengan susah payah.


Dengan berani, perlahan namun pasti, Andi memiringkan kepalanya. Dikecup sekilas bibir yang menggoda itu. Tak puas, Andi kembali mengecup dengan lama. Hanya mengecup, bukan *******.


" Boleh ya sayang . Ya ya ya ya..." Pinta Andi dengan pandangan memohon.


" Ta-tapi aku tak tau apapun tentang hal seperti itu Mas." Alasan April.


" Kita ikuti naluri, Mas pun juga tak berpengalaman dalam hal seperti itu." Jujur Andi.


" Aku belum pernah melakukannya Mas." April terus saja mencari alasan agar dapat lolos dari terkaman Andi.


" Bukan begitu makaudku Mas. Tapi... Tapi aku takut."


" Mas janji akan pelan-pelan, sangat sangat pelan." Bujuk Andi.


Tangan Andi perlahan masuk ke punggung April, menyingkao sedikit baju belakang April agar memudahkan pergerakannya. Ansi mengusap lembut punggung mulus April.


" Mas..." Protes April menggeliat.


April langsung kembalu membalikkan tubuhnya membelakangi Andi.


Kau pikir dengan membelakangiku, aku tak bisa leluasa menyentuhmu hemm? Batin Andi tersenyum lucu.


Dengan nakal, Andi perlahan menyusupkan tangannya ke dalam baju April. Tangan Andi meraba perut April, semakin ke atas dan keatas. Sedikit lagi, Andi dipastikan dapat meraihnya.


" Andiii..."


Pergerakan tangan Andi terhenti, April dan Andi kompak menahan nafasnya.


" Andii.." Panggil Ibi dari luar kamar.


Andi enggan menjawab, Andi kesal karena kegiatannya terganggu dengan langgilan sang Ibu.


" Pintunya belum di kunci loh Mas." Ucap April.

__ADS_1


April takut jika tiba-tiba Ibu membuka pintu kamar, lalu melihat posisi April dan Andi saat ini.


" Tolong bantu Ayahmu memindahkan kursii sebentar." Teriak Ibu.


" Gagal lagi gagal lagi." Gerutu Andi mengacak rambutnya kesal.


" Cepetan Mas, udah di tungguin Ayah tuh." Ucap April.


" Iya Buk, sebentar." Teriak Andi.


" Ngapain sih, baru juga jam 8 kok sudah di kamar." Ucap Ibu kesal karena Andi tak kunjung keluar.


" Udah bangun nih Dek." Melas Andi melirik kebanggaannya.


April melirik sekilas,memang benar terlihat sesuatu yang menonjol. Buru-buru April berbalik dan memasang selimut sampai menutupi kepalanya.


Andi dengan wajahnya yang ditekuk keluar dari kamar.


" Lama banget." Protes Ibu melotot.


Andi tak menggubria omelan Ibu, Ia langsung berlalu menuju sang Ayah yang ternyata sudah bersiap memindhkab kursi bersama Ardi.


" Kusut amat tuh muka." Celoteh Ardi.


" Cerewettt..."


.


.


.


.


.


Bersambung....


Hai hai haiii...


Ayo beri Like, komen, vote serta Favorut buat Andi.


Beri juga hadiah agar babang Andi semangat lagi.


Yang masih punya vote, boleh lah bagi bagi sama April.


He he he...


Happy readingg..


babayy...😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2