Takdirku?

Takdirku?
Membuka hati


__ADS_3

"A-apa ini Mas?"


Andi hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh April.


April lalu membuka kantung kresek hitam itu. Terlihat sesuatu yang terlihat kecil di bagian paling bawah kantung kresek.


April mendongak untuk melihat Andi. Andi hanya menyengir canggung.


April memasukkan tangannya untuk merogoh isi dari kantung kresek itu.


April menarik tangannya perlahan begitu jemarinya dirasa mencengkram sesuatu.


2 buah gelang berwarna hitam terlihat dalam genggamannya.


"Gelang? Untukku? " Tanya April.


Andi mengangguk meng-iyakan.


"Maaf ya Dek."


"Maaf kenapa Mas?"


"Mas belum bisa ngasih kamu sesuatu yang mahal. Maaf juga jika Mas kurang romantis."


"Hadiah tidak dilihat dari harganya Mas. Tapi dari ketulusan hatinya. Makasih yah Mas untuk hadiahnya,aku suka sekali." April tersenyum manis untuk menghilangkan rasa insecure Andi.


"Syukurlah jika kamu suka Dek." Andi tersenyum lega.


"Ini dua-duanya untukku semua? Atau kita pakai gelang couple ?"


"Emamg kamu mau pakai gelang couple dengan Mas Dek? Tanya Andi dengan binar.


"Kenapa enggak Mas?"


Andi tersenyum lalu meraih kedua gelang tersebut dari tangan April.


"AP adalah inisial dari Andi Pratama.AC adalah inisial dari Aprilia Calista. Mas pakai yang inisial namamu. Dan kamu pakai gelang yang ada inisial namanya Mas ya Dek." Andi menyerahkan kembali satu gelamg berinisial AP.


"Baiklah Mas." April memakai gelang tersebut.


Cantikk,sangat cocok ditanganku. Batin April senang.


April melihat pula tangan Andi.Andi memakai gelang itu di pergelangan tangan sebelah kanannya. Tepat berjejer dengan jam tangan miliknya.


"Lohh... Mas juga suka pakai gelang dan jam tangan di sebelah kanan ya?" Tanya April.


Kebanyakan krang akan memakai gelang atau jam tangan di pergelangan tangan kiri. Mungkin karena merasa terganggu jika menggunakan barang tersebut di tangan kanan.


"Iya Dek,sudah kebiasaan dari jaman sekolah."


"Tapi kan kalau buat nulis jadi radak mengganggu pererakan Mas."


"Ya gak papa,karena udah biasa ya jadi nyaman-nyaman saja buat Mas."

__ADS_1


April mengacungkan tangan kanannya pada Andi.


"La kamu juga pakainya di sebelah kanan tuh. Gak ribet,gak susah buat nulis?" Ganti Andi mengulang pertanyaan yang sama.


"Jawabannya ya karena sama dengan Mas Andi. Sudah terbiasa, Ha ha ha..." Jawab April dengan kekehan kecil.


Raut wajah Andi mendadak berubah sendu. Dan April menyadari perubahan itu.


"Kenapa?" Tanya April singkat.


"Mas boleh tanya sama Adek?"


April mengangguk meng-iyakan


"Kalau seandainya Mas bukan anak dari kepala sekolah. Dan bukan pemilik usaha Rumah Makan. Apa Adek tetap akan meneruma lamaran Mas waktu itu?" Tanya Andi dengan pandangan fokus menelisik ekspresi April.


April diam sesaat,tak siap menerima pertanyaan yang dilontarkan Andi.


"Jika seandainya Mas hanya pemuda biasa yang kerjanya hanya bertani atau kuli bangunan misalnya?" Sambung Andi memperjelas ucapannya.


"Huhhhhh..."April memghembuskan nafas sejenak.


"Jawabannya tetap sama." Singkat April.


Terlihat binar senang dari wajah Andi.


"Walaupun Mas tak memiliki penghasilan tetap? Apa kamu tak takut hidup susah setelah menikah dengan Mas yang seumpama hanya seorang kuli bangunan atau petani?" Tanya Andi lagi.


"Mas tau apa alasanku menerima lamaran ini ?"


"Karena aku menghormati keputusan Bapak dan Ibu. Aku tak bisa membantah ucapan mereka. Mereka dengan sepenuh hati merawatku,aku yang bukan darah dagingnya. Aku yang hanya anak pungut. Aku yang hanya anak hasil pemerkosaan." Ucap April dengan nanar.


Kini ganti Andi yang terdiam mendengar ucapan April.


"Kenapa Mas diam? Mas menyesal karena telah menjadikanku sebagai calon istrimu?" Cecar April.


"Bu-bukan begitu..." Andi menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku hanya anak yang beruntung di rawat Bapak dan Ibu. Tanpa mereka,aku tak mungkin hidup sampai sekarang. Mengingat,sewaktu Ibu kandungku hanyut di kali, aku terlempar dan memgalami pendarahan di kepala bagian belakang." Jelas April lagi.


April merasa Andi belum mengetahui jelas tentang masa lalu April. Mungkin Andi hanya mendengar kisah simpang siurnya saja. Jadi April ingin Andi mengetahui semuanya sebelum April resmi menjadi Nyonya Andi.


April tak ingin di kemudian hari Andi menyesal karena telah menikahi April yang memiliki masa kecil yang buruk.


"Apa Mas tak malu dan tak merasa risih denganku yang terlahir dari hasil pemerkosaan? Bahkan sampai sekarang aku sama sekali tak mengetahui siapa Bapakku yang sebenarnya." Ucap April dengan sendu


"Heiii... Jangn berucap seperti itu. Jangan pernah merendahkan dirimu sendiri di depan orang lain. Kamu yang sekarang bukan kamu yang dulu. Kamu yang sekarang adalah Aprilia Calista yang solihahh." Ucap Andi tersenyum.


Andi ingin sekali memeluk sembari mengelus pucuk kepala April untuk menenangkan gadis itu. Tapi niat itu diurungkan karena mengingat mereka bukan muhrim.


"Aku hanya ingin memberi tahumu Mas. Sebelum kau menyesal di kemudian hari." Jelas April lagi dengan pandangan kosong.


Andi tak kuat,Andi memegang lengan April yang berbalut kain gamis itu. Di hadaokannya wajah April pada matanya.

__ADS_1


"Dengarkan aku baik-baik Dek. Aku mencintaimu karena Allah. Aku menyayangimu karena Allah. Dan aku akan memilikimu atas izin Allah. Semua masa kelam di masa kecilmu bukanlah kesalahanmu,namun itu adalah takdir yang sudah ditetaokan oleh Allah.Ingatt !!! Aku akan menghalalkanmu atas izin Allah,aku menerima dirimu yang sekarang,maupum dirimu di masa lalu." Ucap Andi serius dengan tatapan mata yang tegas.


Mata April berkaca-kaca mendengar penuturan Andi. Badannya membeku tak mampu bergerak.


"Te-terimakasih." Akhirnya hanya 2 kata yang mampu lolos dari bibir ranum milik April.


"Astagfirullah.... Ma-maafkan Mas sudah lancang menyentuhmu." Gugup Andi yang sadar jika tangannya masih memegang lengan April.


April hanya menunduk,menghapus setitik air mata haru akibat pengungkapan Mas Andi.


"Maafkan Adek yang belum bisa menerima kehadiran Mas Andi sepenuhnya. In Sya Allah,Adek akan berusaha mengisi hati ini dengan nama Mas Andi,hanya nama Mas Andi. Dan tentunya atas izin dan kehendak Allah." Ucap April serius sembati memegang dadanya.


Andi tersenyum mendengarnya.


"Mas akan sabar menunggu saat itu tiba. Tapi jangan bentengi hatimu jika Mas hendak mengukir nama di dalamnya." Gombal Andi yang membuat semburat merah muda di pipi April.


"su-sudah jam 9 malam. Ma-mari kita pulang Mas." April yang gugup memgalihkan pembicaraan.


April langsung bangkiy dan berjalan memimpin menuju parkiran. Sedangkan Andi hanya terkekeh kecil melihat April yang malu-malu.


Tapi bari beberapa meter melangkah. April berhenti mendadak saat melihat sesuatu yang mengunci perhatiannya.


Andi pun ikut diam melihat April yang tiba-tiba mematung. Lalu Andi mengikuti arah pandngan mata April.


Andi paham apa maksud dari kebisuan dan mematungnya April ditempat.


"A-apa kamu menyukainya Dek?" Tanya Andi pelan.


April menoleh perlahan. April menundukkan pandangannya,tangannya meremas ujung hijapnya. April bungkam tak dapat menjawab perkataan Andi.


.


.


.


.


...Bersambung......


...Hai hai haiii para readersss tercintahh......


...Akhir-akhir ini kok jarang nunjukin eksistensinya sih. Ayo dong terus dukung Authot melalui karya ini....


...Beri ...


...Like ...


...Komen...


...Vote...


...Serta Favorit yahhh......

__ADS_1


...Terimakasihhh...babayyy😄😄😋😉...


__ADS_2