
Baru akan belok di pertigaan samping rumah, Andi mengerem motornya mendadak.
" Astagfirullah." Pekik Andi kaget. Andi mengusap wajahnya kasar.
" Bagaimana bisa aku melupakan istriku." Geram Andi marah pada dirinya sendiri. Andi membuang nafas kasar
Andi tersadar jika April tak ikut bersamanya saat melihat kaca sepion. Andi langsung putar balik dengan cepat. Sesampainya di deoan rumah, Andi melihat April yang masih berdiri di ambang pintu.
" Maafkan Mas yang melupakanmu Dek." Lirih Andi sembari meraih tangan April untung di genggamnya. April hanya diam saja tanpa ekspresi
" Ayo kita ke Rumah sakit berasama." Ajak Andi menatik tangan April.
" Aku kira Mas Andi memang sengaja meninggalkanku." Ucap April pelan.
" Mana ada, aku hanya terlalu panik tadi." Jelas Andi.
Andi mengambil helm lalu di pasangkannya di kepala April. April pun hanya diam menurut.
Akhirnya Andi dan April pun melaju pergi. Cukup lama mereka berkendara, kira-kira menghabiskan waktu 30 menit untuk bisa sampai di Rumah Sakit.
Andi menggandeng tangan April untuk masuk bersama. Terlihat orang-orang berdiri di depan ruang ICU.
" Dari mana saja kamu ? Kita sudah sampai dari tadi, kamu malahan ngilang." Tegur Ibu.
" Ada yang ketinggalan tadi, jadi Andi putar balik lagi." Jawabnya sambil melirik tipis ke arah April.
Tak lama, Dokter keluar dari ruang ICU, kompak semua menoleh dengan raut wajah yang cemas.
" Bagaimana keadan suami saya Dokter." Tanya Hani cepat dengan nada bergetar.
" Pasien mengalami pendarahan di kepala bagian belakang. Pasien harus segera di operasi." Ucap Doketr.
Seketika tangis para wanita pecah. Bahkan Tante Heni langsung tak sadarkan diri.
" Pasien harus segera ditindak lanjuti." Potong Dokter.
" Lakukan yang terbaik Dokter. " Pinta Ibu.
Semua orang kembali menunggu didepan ruang operasi. Tamtr Hani yang sudah sadar, mondar-mandir gelisah. Ibu dan Ayah duduk di kursi tunggu, sedangkan Andi bersandar pada dinding du depan orang tuanya. April? Wanita berniqob itu juga duduk sendirian.
April terabaikan, sedari awal April hanya mengekor tanpa diperhatikan. April akan mengikuti kemana suaminya pergi. Tapi sepertinya, suami dan mertuanya lupa jika ada April yang sedari tadi tak dihiraukan kehadirannya.
" Bagaimana keadaan Bapak." Tanya Ahmad dengan nafas tersenggal.
Setelah mendengar kabar buruk tentang Bapakknya. Ahmad langsung mencari penerbangan ekspres agar bisa cepat sampai di rumah.
" Nakk..." Tante Hani langsung berhambur memeluk sang anak. Menumpahkan semua rasa kekhawatiran. Tante Hani menceritakan semua kronologis kejadian.
Karena luka du kepala belakang Om Damar serius, oprasi berjalan sangat lama. Sudah 2 jam mereka menanti lampu ruang operasi berubah menjadi warna hijau.
Hari sudah larut, jam menunjukkan pukul 9 malam. Ahmad ijin pergi keluar, Ahmad pergi mencari nasi bungkus untuk di makan semua.
Tak lama Ahmad datang membawa kresek berisi nasi bungkus yang dibelinya di depan Rumah Sakit. Ahmad datang bersama Ardi. Mereka berdua berpapasan saat di luar.
__ADS_1
" Makan dulu ya Bu." Pibta Ahmad mendekat ke arah sang Ibu.
" Enggak Nak, Bapakmu di dalam juga belum makan, pasti dia lapar." Ucap Tante Hani dengan mata kosong.
Ahmad membagikan satu bungkus dan satu air mineral ke pada semua orang yang ada disana. Mereka lalu menyantao makan malam yang sudah sangat terlambat. Dengan perasaan yang masih di selimuti kekhawatiran. Rasa nasi pun menjadi hambar, karena hati dan fikiran terfokus pada keadaan Om Damar.
April masih diam menunduk, April memegangi perutnya yang melilit. April sangat lapar, karena dari siang dia belum makan. Melihat keluarga suaminya tengah menyantap makanan tanpa membagi padanya, April kecewa.
Dirogohnya saku gamisnya, " Alhamdulillah, nemu uang 10 ribu." Gumam April pelan.
" Aku keluar dulu Mas." Pamit April pada suaminya yang berada sedikit jauh dari tempatnya duduk.
April bangkit dan berjalan gontai ke luar. April menuju warubg tenda yang berada di pinggir jalan.
" Apa uangku yang cuma 10.000 ini cukup ya?" Ucap April sembari mendekati warung.
" Permisi Bu."
" Ia nengg mau makan apa?" Tanya Penjual.
" Menu paling murah di sini apa ya Bu?" Tanya April.
" Nasi rames neng, cuma 7 ribu."
" Sat--" April hendak memesan satu bungkus. Tapi diurungkannya.
" Maaf ya Bu, gak jadi beli. Uang saya kurang." Bohong April.
" Ckk... Kalau niat mau makan ya bawa uang. Gak punya uang kok belakak bertanya." Ketus penjual.
" Nenek jualan apa?" Tanyaa April yang mendekat ke arah perempuan tua dengan seorang anak kecil.
" Jualan nasi pecel Kakak." Ucap gadis cilik yang kira-kira baru berusia 3 tahun.
April terkekeh, Ia mengelus lembut kepala gadis kecil itu. Kunciran rambut gadis itu sudah berantakan. Kendor karena karet yang digunakan sudah longgar.
" Nama Adek cantik ini siapa ?" Tanya April berjongkok di hadapannya.
" Namaku Aila Kakak." Jawabnya tersenyum cerah.
" Namanya Aira, bicaranya masih cadel." Jelas Nenek.
" Ooh Aira, nama yang cantik seperti orangnya." Ucap April sambil menoel hidung mancung Aira.
" Usiaku 3 tahun Kakak. Aku membantu Nenek jualan nasi pecel." Celoteh Aira.
" Wahhh Aira pintar sekali." Bangga April.
" Aila kan anak yang baik Kakak." Ucapnya dengan tersenyum melihatkan senyum manis.
" Aku mau nasi pecelnya satu ya Nek." Ucap April.
" Alhamdulillah.... Tunggu sebentar ya Nak." Ucap Nenek senang.
__ADS_1
Nenek meracik makanan dengan tangan yang gemetar. Mungkin karena kelelahan atau kedinginan.
"Umur Nenek berapa?" Tanya April.
" 63 Nak.." Jawab Nenek dengan tersenyum.
Nenek mengambil daun pisang, diletakkannya nasi di atasnya lalu segala sayuran pelengkap yang sudah di rebus. Setelahnya Nenek menyiramkan sambal kacang di atasnya. Tak lupa, peyek kacang menjadi pelengkapnya.
Nenek dan Aira berjualan keliling dengan berjalan kaki. Semua dagangannya di tata di atas tampah lalu di angkat di atas kepalanya..
" Ini Nak, silahkan dimakan." Nenek menyerahkan satu pincuk nasi pecel yang terlihat menggugah selera.
" Wahhhh.... Enak sekali Nek." Ucap April senang sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Kakak Kakak.." Panggil Aira dengan sedikit menarik baju April.
" Aira gak boleh begitu, jangan tarik-tarik baju Kakaknya !" Tegur Nenek.
" Gak apa-apa Nek." Ucap April lembut.
"Ada apa sayang?"
" Itu yang kakak pakai apa? Kok Aila gak pakai sepelti itu?" Ucapnya khas logat anak kecil.
"Ini? " April memegang sesuatu yang dipertanyakan Aira.
" Iya Kakak."
.
.
...
.
.
.
Bersambung.
hai hai haiii Readersss
Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan beri hadiah yaa...
Maaf kalau banyak typo. Maaf juga karena kemarin gk up. Authornya sibuk bantu mertua yang sedang ada acara soalnya..
Happy reading readers
__ADS_1
Babayyy😄