
April masuk ke dalam rumah dengan setengah berlari. April menggenggam kuat kantung krrsek yang berisi nasi jagung. Sebelah tangannya menekan dadanya yang kembali terasa amat sesak.
April langsung menuju kamar, tanpa menghiraukan siapapun. Hatinya yang baru saja Ia tata rapih, kembali berantakan akibat pertanyaan Bu Wati.
Braakkk...
April menutup pintu kamar dengan sedikit di banting. April langsung melemparkan plasti berisi nasi jagung ke atas meja. April langsung menubruk Andi yang masih rebahan sembari menonton tv.
" Huu huuuu uuu." Pecah sudah tangis April yang sedari tadi Ia tahan.
Andi yang tak tahu apa-apa hanya diam mematung. April menagis sesenggukan dengan kepala yang Ia tekankan di bantal, bertujuan untuk meredam suara tangisnya agar tak sampai terdengar keluar kamar.
Andi meringis merasakan sakit di area dadanya. Tak kala April yang secara tiba-tiba menubruk tubuhnya dengan kuat.
" Ada apa sayangg ?" Tanya Andi yang melihat April begitu kacau.
April hanya geleng-geleng kepala, isakan jelas terdengar lirih. Lagi, baru saja sang istri menerima keadaan. Tapi kembali Ia dapati istrinya menangis berlinangan air mata.
Andi langsung maraih wajah April, bersimbah air mata membasahi wajah dan cadarnya. Andi membuka cadar April, agar April yang merasakan engap.
" Menangislah sepuasmu, lepaskan semua rasa sakit yang membuatmu sesedih ini. Tapi berjanjilah, setelahnya kamu harus kembali tersenyum." Ucap Andi sembari merengkuh April dalam dekapan eratnya.
April menangis dalam dekapan dada bidang Andi. Dadanya begitu sesak setiap kali menerima pertanyaan semacam itu.
Andi mengelus kepala April yang masih tertutup jilbab. Andi memberikan kekuatan dalam kenyamanan yang Ia berikan. Andi tak tau, hal apa yang membuat wanitanya menjadi down kembali.
Setelah durasa tangis April mereda. Andi melerai pelukannya, ditangkupnya wajah April dan di tempelkan keningmya ke kening April.
" Sudah siap untuk bercerita?" Tanya Andi masih dalam posisi yang sama. Hidung keduanya ikut menyatu bersentuhan.
April mengangguk dengan sisa sesenggukannya.
" Kita mulai dari mana?" Tanya Andi.
" Tapi lebih baik kita duduk dulu. Posisi seperti ini kurang nyaman bagiku sayang." Cengengesan Andi karena tengkuknya terasa nyeri.
April langsung bangkit duduk bersila di hadapan Andi.
"Jadii?" Pancing Andi agar April mulai bercerita.
" Tadi saat beli nasing jagung, Bu Wati menanyaiku Mas." April mulai menceritakan semuanya kepada Andi.
__ADS_1
" Memang benar aku belum hamil Mas. Tapi apa harus diperjelas seperti itu di depan orang-orang? Tanpa Bu Wati berkoar-koar pun semua orang juga sudah tahu Mas. Dengan ucapan Bu Wati yang seperti itu membuat dadaku sesak." Tambah April dengan memukul dadanya yang terasa oenuh dan sesak.
Andi langsung menangkap tangan April yang mengepal memukul-mukul dadanya sendiri.
" Jangan sakiti dirimu sendiri." Ucap Andi tegas dengan tatapan yang tajam.
April memukul dadanya sendiri terlalu kuat. Hingga terdengar bunyi bug bug bug di setiap hantaman yang tertangkap di pendengaran Andi.
Andu tak suka jika April menyiksa dan menyakiti dirinya sendiri karena tekanan orang disekitarnya.
"Hatimu memang disakiti mereka. Tapi fisikmu, jangan kau sakiti sendiri. Kamu tak dapat mengontrol perkataan mereka. Tapi kamu dapat mengontrol dirimu sendiri." Ucap Andi dengan menunjuk dada April, tepat di area jantungnya yang berdetak kencang.
Sebelah tangannya menggengkan tangan April yang masih setia mengepal kuat. Andi melepaskan genggaman tangan April. Ditautkannya jari-jari mereka hingga menyatu menyebarkan kekuatan.
" Ada aku di sini, jangan pernah merasa sendiri saat menghadapi mereka yang tak menyukaimu." Ucap Andi menggenggam jemari April.
" Lepaskan.. Jangan simpan dendam dan kebencian di hati. Jangan kotori hatimu yang tulus dengan rasa benci serta dendam. Jangan biarkan hatimu memiliki noda hitam karena adanya kedua sifat buruk itu." Sambung Andi.
Andi menjalin kontak mata kuat dengan April. April senantiasa mengunci pandangannya ke arah kedua mata Andi. April menaruh kekuatan di sana. Sorot mata Andi yang seakan mengatakan semua akan baik-baik saja, sukses membuat diri April melunak.
" Aku tak bisa berjanji Mas." Ucap April masih menatap lekat manik Andi.
"Jangan berjanji, tapi berusahalah. Semua akan lebih mudah jika kita lalui dengan hati yang lapang." Ucap Andi lembut dengan mengelus kepala April.
" Tapi, apa aku masih boleh menangis saat hatiku merasa sedih karena perkataan menusuk mereka Mas?" Tanya April polos.
" Menangislah sepuasmu disini." Andi menepuk dadanya.
" Mas siap menjadi tempatmu bersandar saat bersedih. Satu pesan dari Mas, setajam dan semenyakitkan apapun yang nereka katakan kepadamu. Jangan sekali-kali kamu mengeluarkan air mata di hadapan mereka." Andi membelai pipi mulus April yang terlihat memerah.
"Bagaimana jika aku tak sanggup menahannya Mas?"
" Tahanlah sekuat yang kamu bisa. Lalu menangislah semaumu jika kamu berada dalam dekapanku. Tapi berjanjilah, setelahnya kamu harus kembali tersenyum."
" InsyaAllah Mas."
" Jika kamu meneteskan air mata di hadapan mereka yang merendahkanmu. Maka mereka akan senang dan terus-menerus menjatuhkanmu. Berbeda jika kamu terlihat tegar dan kuat di hadapan mereka. Pastilah mereka akan diam karena lelah sendiri dengan ocehan mereka." Andi tersenyum.
"Jangan simpan dendam dan benci disini ya sayang." Sekali lagi, Andi menunjuk dada April.
"Maafkan segala sifat buruk mereka. Allah saja maha pemaaf terhadap hambanya."
__ADS_1
" Aku tak bisa berjanji Mas. Mungkin lisanku dapat berucap jika aku memaafkan mereka. Tapi mungkin tidak dengan hatiku. Seberapa sering lisanku berucap memaafkan mereka. Tapi pasti masih tersisa rasa sakit di dalam sini. Aku berucao memaafkannya, tapi hatiku selalu mengingat perlakuan buruk mereka." Ucap April menunjuk dadanya sendiri.
" Berusahalah sayang, April istriku adalah wanita yang baik hati dan pemaaf."
" Akan ku coba Mas."
" Tapi ngomong-ngomong. Apakah tadi kamu tidak jadi membeli nasi jagungnya?" Tanya Andi mengalihkan topik pembicaraan.
" Oh astaga Mas.. Dimana tadi aku melemparkan plastik berusi nasi jagung itu." Pekik April mencari keberadaan palstik.
Ternyata sang plastik tergeletak terbalik di pojokan sudut meja. Sedikit lagi akan terjatuh, karena posisinya terlalu ke pinggir.
Andi kangsung mengambilnya, dibukanya plasti itu.
" Emmm..." Gumam Andi dengan melirik April.
" Kenapa? Apa semuanya tumpah berceceran." Ringis April tak enak.
" Tak semuanya, hanya beberapa bungkus saja." Andi tersenyum canggung.
" Jadi bagaimana Mas? Apakah masih bisa dimakan?"
" Bisa kok sayang. Masih ada 3 yang selamat, aku berikan kepada Ibu dulu."
.
.
.
.
Bersambung.
Hai hai haii...
Readeraku yang tersayang, jangan lupa tetao dukung Aprik dan Andi loh ya. Ayo berikan like komen vote favirit dan guft sebanyak banyaknya.
Terimakasihh..
Happy reading.
__ADS_1
babayyy🙂🙂