
Bulan Ramadhan tahun ini banyak membuat cerita bagi April.Malam ini adalah malam Takbir,besok adalah Hari Raya Idul Fitri.
Sejak sore April tak tenang,mengingat Putra yang akan datang meminta izin pada Bapak.April takut jika Bapak dan Ibu tak merestui hubungan mereka.
TOK TOK TOK
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" jawab April dari dalam kamar,
"Apa itu Putra ya?" gumam April.
April berjalan membuka pintu,di depan pintu terdapat Putra yang tengah berdiri menggunakan celana panjang kain berwarna abu-abu dengan atasan kaos berwarna biru dongker.
"Haii" sapa Putra tersenyum melihat April yang mematung.
"Kamu beneran dateng Tra?" ucap April tak percaya.
"Iya dong,buktinya aku sudah ada didepanmu kan" balas Putra santai.
"Aku kir....." ucap April terpotong karena teriakan ibu.
"Siapa yang datang Pril,kok ga disuruh masuk?" tanya Ibu dari dalam.
"Emmm anu Buu, ii..iyaa ini disuruh masuk tamunya" gugup April.
"Aduh,gimana inii, aku harus bagaimana Tra?" April berjalan mondar-mandir dengan tangan memegang dagu.
"Gimana apanya sih sayangg,ayo kita masuk dulu ya !" ucap Putra menenangkan.
Keadaan ini sungguh terbalik,seharusnya Putra lah yang merasa gugup,tapi disini justru April yang terlihat tak tenang.
"Kamu yakin mau bertemu sama Bapak?" tanya April untuk yang kesekian kalinya.
"Iya,ayo kita masuk,pasti Ibu dan Bapakmu sudah menunggu didalam sayang !"
"Ok,ayo kita masuk" April menarik nafas untuk menenangkan diri.
Nampak Ibu dan Bapak sudah duduk menunggu di kursi ruang tengah.
"Duduk dulu nak...?" tanya Bapak
"Putra,Saputra Pak" jawab Putra memperkenalkan diri.
"Ah iya,nak Putra.Rumahmu dimana?"
"Rumah saya dekat dengan sekolahannya April Pak,hanya 2 gang sebelah kanan gapura desa." jelas Putra.
"Oh iya iya"
"Emmm,maksud saya datang ke mari ingin meminta izin Bapak dan Ibu untuk mengajak april jalan-jalan" jelas Putra sopan.
"Ibu ajak April buat minum di dapur dulu !" pinta Bapak.
__ADS_1
"Iya Pak,ayo Pril bantu ibu buat minuman dulu" April dan Ibu beranjak menuju dapur.
Sebelum pergi,April memandang Putra yang sedang duduk didepan Bapak.Putra tersenyum seolah mengatakan semua akan baik-baik saja
"Jadi nak Putra,apa kamu benar-benar serius dengan April?" tanya Bapak to the poin.
"Iya Pak" jawab Putra.
"Bapak tidak ingin April terluka karenamu.April Yatim Piatu,dia sudah kehilangan orang tuanya sejak Ia kecil.Selama ini hidup April kurang beruntung,Bapak berharap kamu tidak mengecewakannya"
Putra diam,Ia mulai gugup dengan penjelasan Bapak Hadi.
"Jika niatmu berpacaran dengan April hanya untuk main-main,sebaiknya akhiri saja dari sekarang.Tapi jika kau berniat serius untuk membimbing April sampai pelaminan,maka Bapak akan mengizinkanmu" imbuh Bapak.
"Rokok?" tawar Bapak menyodorkan sebungkus rokok pada Putra.
"Bapak saja" Tolak Putra halus.Suasana mulai canggung,Putra pun semakin gugup.
"Selama ini Bapak belum bisa membuat April senang,jika hadirmu bisa membuat April tersenyum bahagia,Bapak tak akan menghalanginya." Bapak menyesap ujung rokoknya,
"Walaupun kami bukan orang tua kandungnya,tapi kami tak ingin melihan April bersedih" sambung Bapak.
"I..iya Pak" putra Gugup diam memandang asap yang keluar dari rokok Bapak.
"Baru kali ini April mengenalkan laki-laki pada Bapak.Mungkin saat ini kamu sangat berarti bagi April. April tak pernah dekat bahkan berpacaran.Kamu merupakan kesan pertamanya,jika kamu memberi kesan buruk dalam kisah percintaan April yang pertama ini,maka akan mempengaruhi kehidupan April kedepannya.Bapak tak mau April menutup diri karena kamu permainkan." Bapak menatap Putra,menilai setiap gerak-gerik yang Putra tunjukkan.
"Ingat kata-kata Bapak,jika kamu tak berniat serius dengan April,maka Akhiri tanpa menanamkan luka yang dalam bagi april.Akhiri sedini mungkin,sebelum April benar-benar mencintaimu." ucap Bapak lagi
Putra Mati Kutu, Ia tak bisa mengatakan apapun.Ucapan Pak Hadi sungguh mengena dihatinya.Putra yang tak pernah berniat serius dengan April menjadi tersinggung.Tak pernah Putra kira,jika Ia akan di beri wejangan yang sangat menyentuh oleh Orang tua pacarnya.
.
.
"Kenapa kita duduk disini Bu? Nanti minumannya jadi dingin" Tanya April heran.Minuman sudah jadi,tetqpi Ibu terus menahan April untuk tetap berada di dapur.
"Tunggu disini dulu,bjarkan Baoakmu bicara berdua dengan Putra" jelas Ibu.
"Oohh" April hanya ber oh ria.April takut Putra salah bicara sehingga membuat bapak menolak hubunganmya dengan Putra.
"Kamu kenal sama Putra dimana?" tanya Ibu memecah lamunan April.
"Emmm,dari facebook Buk" jawab April jujur.
"Menurutmu Putra bagaimana? Apa dia baik sama kamu?"
"Putra baik kok Buk,Putra juga perhatian sama April" jelas April membela Putra
"Waktu kamu buka bersama terus jalan ke stadion,kamu nggak diapa-apain Putra?" tanya Ibu penuh selidik.
April tersenyum melihat ibu.April tahu jika saat ini Ibu tengah khawatir denganya.Ibu tak ingin April Berakhir seperti Sari karena salah memilih pasangan.
"Nggak kok bu,Insya Allah April bisa jaga diri.April akan jaga satu-satunya aset berharga milik April agar tak dijamah oleh Putra ataupun orang lain,sebelum April menikah Bu" jelas April mengerti ke khawatiran Ibu.
__ADS_1
"Ibu percaya padamu" Ibu tersenyum,
"Ayo kita antar minumannya,kasihan Putra pasti dia sudah tegang menjawab pertanyaan Bapakmu !" ucap Ibu lagi.
"Iya bu"
April keluar membawa nampan berisi 2 cangkir kopi intuk Bapak dan Putra
"Diminum dulu" ucap April memandang Putra yang terlihat tegang.
"Iya,ayo diminum dulu nak kopinya" sambung Ibu.
"Ii...iya Bu" jawab Putra gugup
"April,kamu segera bersiap,Bapak mengeijinkanmu pergi dengan putra" terang Bapak
"Uuhuhkk uhukk" Putra tersedak mendengar perkataan Bapak.Tadinya Putra berfikir tidak akan mendapatkan ijin setelah mendengar semua wanti-wanti yang Bapak ucapkan.
"Hati -hati nak Putra" tegur Bapak
"I ..Iya Pak,Kopinya ternyata masih panas" elak Putra menyembunyikan kegugupannya.
"April siap-siap dulu" ucao April berlalu pergi ke kamar.
"Malam ini Bapak mengizinkanmu pergi bersama April.Jaga dia,jangan kau rusak dia.Berangkat dengan utuh,maka pulang harus kembali utuh juga.Paham nak Putra?" tanya Bapak penuh penekanan.
"I...iya pak,saya akan menjaga April.Terimakasih atas izinnya" ucap Putra menunduk.
April keluar dari kamar menggunakan celana levis biru,atasan bewarna coklat susu dan pasmina bewara senada dengan atasannya.
"Hati-hati ya nak" ucap Bapak
"Iya Pak,kami pamit dulu" ucap Putra pamit menyalami Ibu dan Bapak.
Ibu dan Bapak ikut keluar,saat didepan pintu,
"Jaga April untuk Bapak!" ucap Bapak menepuk pundak Putra.
"Iya pak,Assalamualaikum" jawab Putra menunduk.
"Waalaikumsalam"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambungg....