Takdirku?

Takdirku?
S-2°•°Part 18


__ADS_3

Semenjak percakapan malam itu. April menjadi sadar, April ingin memiliki momongan segera. Mengungat usia suaminya yang sudah melebihi kepala 3.


Hari-hari April masih berjalan seperti biasa. Rutinitas yang selalu di ulang setiap hari. Alhamdulillah, Andi sekarang sudah bekerja. Tak jauh, Andi bekerja sebagai tukang bangunan di rumah tetangganya yang akan di renovasi.


Lumayan untuk menyambung hidup. Walaupun hasilnya sedikit, tapi April tak pernah mengeluh setiap di beri uang oleh Andi. April akan menerimanya dengan senyum manis. Agar Andi merasa di hargai, tak diremehkan.


April tengah duduk di teras depan rumah Andi. April menunggu Andi yang sebentar lagi akan pulang.


" Tumben sekali, sudah hampir jam 5 sore Mas Andi belum juga pulang." Gumam April menatao jam dipergelangan tangannya.


April sangat suka memakai jam tangan. Tiap hari, jam kecil akan melingkar indah di pergelangan tangannya.


" Assalamualaikumm.." Ucap Andi sedikit keras.


" Waalaikum salam." Girang April langsung bangkit dari duduknya.


Padahal Andi baru sampai di depan pagar rumahnya. Tetapi Andi sudah mengucapkan salam, seperti isyarat jika Ia akan segera sampai.


Andi tahu jika sang istri pasti sudah menunggunya di teras rumah. Karena setiap hari, April akan menyambutnya pulang dengan senyuman manisnya.


Andi berjalan mendekat ke arah April. Nafasnya terlihat berat, terengah-engah karena lelah. Baju kaos panjang serta celana trainingnya pun terlihat sangat kotor dan basah.


April tersenyum haru, melihat sebegitu berjuangnya sang suami untuk memberinya nafkah.


" Dekk.." Sapa Andi dengan senyum lelahnya.


April langsung meraih tangan Andi untuk di ciumnya dengan takzim.


" Kotor sayangg.." Tolak Andi menjauhkan tangannya dari gapaian April.


April tak menghubris. Dengan sedikit kuat, April menarik tangan Andi. April mencium tangan Andi yang kotor tanpa rasa jijik.


" Dengan tangan yang kotor ini, Mas Andi mencarikan aku nafkah yang halal. Dengan tangan yang kotor ini, membuktikan besarnya perjuangan Mas Andi sebagai suamiku yang bertanggung jawab." Ucap April tersenyum. Digenggamnya tangan Andi dengan erat.


Andi tersenyuk mendengarnya. Andi ingin sekali mengelus pucuk kepala April. Namun sayang, lagi-lagi karena tangannya yang kotor. Andi mengurungkan niatnya, karena tak mau meninggalkan jejak noda di jilbab sang istri.


" Cium dikit boleh gak sih ?" Tanya Andi dengan gemasnya.


Bibirnya sudah gatal ingin mengecup sang istri yang ditinggalnya sejak pagi.


" Apa sih yang gak boleh." Kekeh April lalu mencium pipi Andi sekilas.


Benar saja, terjiplak noda coklat di cadar April. Wajah dan seluruh tubuh Andi memang kotor karena tanah basah.


" Nah kan, jadi kotor kan cadarnya."


" Gak papa, nanti kan bisa dicuci." Jawab April.


Andi mendekatkan wajahnya, Andi mencium kening April lembut. Mencurahkan rasa rindu sehari tak bertemu.


" Ayo masuk, Segeralah mandi, aku akan menyiapkan pakaian untukmu Mas." Pinta April.

__ADS_1


Andi mengangguk, tetapi sebelumnya Andi mencuci kakinya terlebihdahulu di keran samping rumah. Tak ingin mengotori lantai keramik.


April meraih topi yang dipakai Andi. Topi yang sudah basah keringat serta lumpur.


" Aku akan mencuci ini dulu Mas. Mas Andi segera mandi, namti pakaiannya akan aku antarkan ke kamar mandi." Ucap April lalu berjongkok membasuh topi milik Andi.


Setelah selesai, April menggantung topi itu di sisi rumah agar bisa segera kering, walau hanga diangin-anginkan.


April langsung bergegas mengambilkan baju untuk Andi, sebelum Andi selesai.


" Mas, ini bajunya." Ucap April dari luar kamar mandi.


Ibu dan Ayah sedang nonton tv di depan. Sedangkan Ardi tentu saja masih keluyuran.


Andi membuka pintu sedikit, menjukurkan kepalanya dari celah pintu. April mengulurkan lakaian milik Andi. Namun dengan jahil, Andi malah menarik April masuk ke dalam kamar mandi bersama Andi.


" Mas Andii.." Pekik April tertahan karena tak mau terdengar oleh mertuanya.


" Sssttt... Jangan berisik." Bisik Andi memeluk April dari belakang.


" Mas Andi ngapain narik aku ke dalam sih."


" Pingin manja-manjaan aja sama kamu." Cengirnya sembari menyimpan dagunya di pundak April.


"Nanti aku basah Mas." Rengek April meronta.


" Tadi aja pas masih kotor mau di cium2. Nah ini cuman air saja masa takut?" Elak Andi.


" Basah Mass.." Rengek April dengan suara pelan.


" Yang mana yang basah ? Yang atas atau yang bawah ?" Goda Andi sambil mengelus perut April yang masih berbalut gamis.


" Mas..."


Bukannya melepaskan, Andi malah menyesap leher April dengan hangat. Andi sungguh lelah seharian bekerja. Pekerjaannya pun bisa di bilang berat, tak seperti saat dirinya masih memiliki Rumah Makan.


Andi ingin menghilangkan rasa penat tubuhnya dengan bermesraan dengan sang istri. Hanya istrinya lah yang mampu menghilangkan segala rasa lelah.


" Jangan di sini Mas." Tolak April dengam kesadaran penuh.


Sebenarnya April ragu untuk menolak Andi. April takut dilaknat oleh malaikat. Seperti sabda Rasulullah yang pernah Ia dengar.


Rasulullah SAW bersabda: “Ketika seorang laki-laki mengajak istrinya baik-baik ke ranjang (berhubungan ****), lalu sang istri menolak keras (membangkang), sehingga sang suami marah besar kepadanya, maka malaikat akan menjauhkannya (laknat) dari kasih sayang (rahmat) sampai subuh.” (Sahih Bukhari, No. Hadits: 3272).


" Sebentar saja boleh ya sayang." Pinta Andi dengan suara beratnya.


" Apa Mas Andi gak capek ? Mas Andi belum istirahat sama sekali loh." Elak April.


" Mas masih kuat jika 2 atau 3 ronde lagi.." Jawab Andi mantab.


" Tapi Mas.."

__ADS_1


" Dosaa sayangg.... Menolak keinginan suami itu dosa." Ucap Andi mengancam dengan seringai nakal.


Andi menundukan majahnya di bahu April. Sesekali Andi meniup leher April yang Ia singkapkan jilbabnya tadi.


" Selalu saja mengancam." Gumam April.


" Mas hanya mengingatkan sayang. Boleh ya ? Ya ya ya ya..."


" Nanti kalau ketahuan orang lain gimana?"


" Gak akan sayangg..."


" Baiklahh.." April menyerah. Dirinya takut jika benar-benar dilaknat malaikat.


Andi langsung semangat 45. Tangannya turun ke bawah untuk menyingkap baju gamis yang di kenakan April.


Allahu akbar... Allahu akbar.


Tiba-tiba terdengar suara azan magrib berkumandang. Masjid yang letakknya tepat di sebrang jalan depan rumah Andi, membuat suara azan begitu keras.


Lemas sudah Andi, dilepaskannya April dalam pelukannya. April tersenyum lega melihatnya.


" Aiissshh..." Gerutu Andi.


" Jangan salahkan azan magrib Mas. Salahkan dirimu yang tak tahu waktu." Kikik April.


" Baiklahh... Sore ini kamu lolos."


April langsung keluar dari kamar mandi. Membiarkan Andi memakai bajunya, atau mungkin menenangkan junior yang sudah terlanjur terbangun.


.


.


.


Bersambung...


hai hai haii..


Kangen gak nih sama April? Kangen kann ? Ya kangen lah masak enggak...!!


.🗣 " maksa banget sih thor..


Biarin lahh..


Tetap like komen vote favorit serta beri hadiah buat author yahh readerss..


Happy readingg..


Babayy😋😋

__ADS_1


__ADS_2