Takdirku?

Takdirku?
Part 106


__ADS_3

"Huhhhhh..... Hahhhh..." Berkali-kali Andi menghela nafas. Disekanya keringat yabg mengalir deras bak air terjun di pelipisnya.


Bajunya sudah menempel pada badannya,basah kuyup bermandikan keringat. Matahari yang sangat terik bagaikan memanggang Andi hidup-hidup.


Tak bisa dibayangkan oleh Andi. Panas matahari yang begini saja,yang hanya 38 °c sudah membuat Andi kelabakan. Bagaimana kelas di akhirat saat dikumpulkan di padang mahsyar,yang jarak matahari hanya satu jengkal dari kepala.


"Yang bener kerjanya,jangan.males-malesann. Aelahh..." Tegur Mandorr menepuk pundak Andi.


"I-iya bang iya.." Andi kembali mengangkat 2 ember berisi campuran pasir dengan semen.


Andi sekarang berada di proyek pembangunan sebuah pabrik. Andi terpaksa meng-iyakan tawaran temannya yang bekerja sebagai kuli disini.


Andi bekerja sebagai kuli bangunan. Pekerjaan yang sangat berat bagi Andi,harus panas-panasan dan memgamgkat beban berat.


Andi yang terbiasa mengurus rumah makan nya. Hanya duduk manis di ruangan tertutup nan sejuk. Kini harus banting stirr menjalani pekerjaan yang sangat kasar.Belum lagi kata-kata mandor yang membuat telinga gatal.


"Istirahatt... istirahattt..." Teriak Mandor sambil memukuli besi hingga berbunyi teng teng teng. Sudah seperti anak teka saja😂


"Ayo lah kita mgadem dulu bangg..." Ajak kawan Andi sambil menyenggol pelan bahu Andi.


Andi tersenyum lalu mengikuti para pekerja yang lain yang duduk di bawah pohon rindang.


Sekali lagi,Andi menyeka keringatnya yang terus mengalir. Dilepasnya topi di kepalanya,lalu di buatlah topi itu untuk kipas-kipas diwajahnya. Berharap dapat mengurangi rasa gerah bodyy yang Andi rasa.


"Pasti sangat terasa berat bagi mu An." Ucap kawan SD Andi bernama Galuh.


Galuh adalah tetangga Andi,rumah Galuh hanya berjarak 3 rumah dari rumah Andi.Galuh dan Andi memang berteman akrab, dan tak jarang mereka nongkrong bersama.


Sudah banyak warga desa yang mengetahui kebangkrutan usaha Andi,termasuk Galuh juga salah satunya. Banyak yang mengungkapkan rasa kasihannya.


Bagaimana tidak,Keluarga Andi seperti ditimpa kesialan yang bersamaan. Pak Ridwan yang menjabat sebagai kepala sekolah,kini jiga lengser karena umurnya yang sudah tua.


Sedangkan Andi yang selama beberapa tahun belakangan sukses usaha Rumah Makannya. Kini bangkrut tanpa menyisakan secuil keuntungan,Bahkan menguras tabungan Andi. Bisnis yang susah payah dibangum dari nol,kini bubar hanya dengan waktu 1 bulan. Sungguh tragisss.


"Woyy broo,malah ngalamun luu." Galuh menepuk bahu Andi.


"Eh... Apa apa kenapa?" Bingung Andi.


"Ngalamunin apa sih? Nikmatin saja prosesnya lahh.." Goda Galuh yang hanya dibalas senyuman oleh Andi.


"Memang semua akan terasa berat,itu hanya karena kamu belum terbiasa." Sambung Galuh.


"Kau benar Gal. Aku hanya belum terbiasa. Jadi otot-ototku terkejud dan kaku semua,sampai terasa amat nyeri berhari-hari. Ha ha ha..." Canda Andi berkata jujur.


" Ah kauu ini bisa saja. Aku dulu saat pertama ikut kerja kuli banginan juga sama sepertimu. Bahkan aku sempat tak bisa bangun dari tempat tidur karena badanku rasanya remuk. Kira-kira seperti tertimpa beban berat 1 ton. Ha ha ha..." Kelakar Galuh.


"Mana ada begitu." Protes Andi.


" Seriuss An,gak bohong. Tapi kalau buatku sih mending capek kerjaa jadi kuli bangunan. Dari pada capet cari kerja. Kalau capek bekerja masih ada hasil cuannya. Tapi kalau capek cari kerja,malah menghabiskan cuan untuk foto kopi dan ongkos riwa-riwi."


"Yaa kau benar lagi Gall... Kau sangat pandaii menyemangatiku."

__ADS_1


"Kita kan kawannn." Ucap Galuh mengepalkan tangan kanannya lalu ditepukkan di dada sebelah kirinya.


"Woyy pada bercanda aja. Kalian pada mau makan siang kagak? Waktu istirahat tinggal 15 menit nih." Sela salah satu pekerja.


"Wahh gaswat nih An,aku makan dulu,laperr..." Ucap Galuh langsung ngacir meninggalkan Andi.


" Lahh... Kau bocah baru tak makan siangg?" Tanya pekerja tadi dengan garangnya.


"Nggak Bang,masih kenyang." Bohong Andi.


"Ckkk...Noh makan rotii." Ucap Pekerja itu melemparkan sebungkus roti pada Andi. Andi buru-buru menangkapnya.


"Gak usah repot-repot bang. Saya beneran masih kenyang kok." Elak Andi tak enak.


"Alahh jangan sok tak mau kau lahh... Aku tahuu,kau ini sedang berhemat untuk biaya kawin kau kan? "


Andi diam.


" Berhemat boleh. tapi jangan lupa makan,kerja kita berat,kalau tak isi stamina bisa K O kita. Bukannya dapat uang buat kau kawin,malah menghabiskan uang buat ongkos biaya rumah sakit karena sakit lambung kauu."


Andi tersenyum mendengarnya. Ternyata dibalik sifat garangnya para pekerja kuki bangunan. Masih terdapat rasa empati dan solidaritas di antara mereka.


Walaupun sama-sama berjuang untuk mendapatkan rupiah. Tapi mereka tetap peduli terhadap sesama. Tak akan membiarkan rekannya mati kelaparan.


"Malasih Bang."


"Alaahhh...Banyak bicara kau ini. Cepatlah makan,sebelum kau mati kelaparan. Tak mau aku mengurusmu."


Terima kasih Ya Allah,karena engkau sudah mengirimkan orang-orang baik di sekitar hamba. Terima kasih atas nikmat yang limpahkan pada hamba. Batin Andi lalu menggigit roti ditangannya.


Sambil makan,otak Andi terus berfikir.


"Aku masih memiliki sisa uang penjualan motor 4 juta. Dan tabunganku hanya tersisa 2 juta. Aku hanya memiliki modal 6 juta untuk biaya resepsi. Semoga upah gajiku sebagai kuli bangunan selama sebulan ini dapat mencukupi kekurangannya. "


"Mudahkan lah Ya Allah. Hamba ingin menyempurnakan ibadah hamba dengan menghalalkan seorang wanita. Semlga kau berikan keberkahan atas segala rezeky yang kau titipkan pada hamba." Gumam Andi sambil menerawang jauh.


Andi mengeluarkan ponselnya. Ponsel jadul Andi,ponsel layar sentuh keluaran lama. Ponsel baru Andi pun tak luput di jualnya. Kini hanya menyisakan ponsel jadul itu dan ponsel nokia senter.


"Sudah lama tak menghubungimu Dek. Mas rindu denganmu." Gumam Andi memandangi potret wajah April yang diambilnya secara candid saat jalan-jalan di pasar malam dulu.


"Pasti Kamu sedang bekerja sekarang. Apa lagi sekarang weekend,pasti rumah makan sedang ramai di jam makan siang seperti ini."


Andi tersenyum,tangannya yang kotor ternoda semen mengusap layar ponselnya.


"Busedd... Kau sudah gila karena kelaparan yak? Dari tadi ku pandang,kau senyam senyum terus tak jelas." Tegur si pekerja tadi.


"Ahhh Abang bisa aja. Saya sedang melihat poto calon istri saya lah bang."


"Mana coba aku lihat. Secantek apa dia,sampai membuatmu tersepona denganya."


"Terpesona Bangg,bukan tersepona." Andi membenarkan ucapan Pak Asep.

__ADS_1


"Aahh itu lah pokoknya. Lidahku terseleoo mengatakan kata-kata yang baguss."


Andi terkekeh geli sambil menyodorkan ponselnya pada Bang Asep.


"Waahhhhh.... Mana muka diaa? Tertutuop tiraii pulaa.." Protws Pak Asep mencibir.


"Ini bukan tirai bang,tapi namanya cadarr."


"Aahhh itu lah pokoknya."


"Hanya saya yang boleh melihat wajah cantiknya bang. Nanti takutnya abang oleng dari istri abang ke calon istriku." Canda Andi.


"Mana ada macam itu. Ada-ada saja kau ini. Aku suda lapokk,sudah bau tanah. Mana mau gadis perawan denganku."


"Banyak juga orang tua yang punya istri remaja loh bang."


"Alahh...itu kan mereka punya banyak monayy monayy... Apa pula yang tak bisa di beli dengan monayyy." Ucap Pak Asep.


"Atau jangan-jangan wajah calon istri kau jelek yee, Giginya maju tak bisa mingkem ye? Makanya ditutop pakai tiraii." Sambung Pak Asep lagi.


"Mana ada begitu Pak. Calon istri saya hanya mengikuti sunahh Pak. Kan perempuan di sunahkan menggunakan cadar,laa calon istri saya sedang belajar menjalankan sunah ituu."


"Betuk kaa?"


"Betul lah bang. Betul betul betull." Goda Andi yang mendapat jitakan dari Pak Asep.


"Kau ini,seperti kartun yang sering ditonton cucuku dirumah. Sebal kali aku dengarnya." Cibirnya melengos.


"Kenapa Bang?"


"Ya kalau cucuku sudah nonton itu kartun. Remot tv pun sudah jadi kepemilikannya. se isi rumah harus menonton kartun 2 bocah botak itu. mana sering di ulang-ulang ceritanya pula. Kasihan buyutnya yang sudah tua. Melihat si botak berbaju bisru itu makan ayam goreng. Buyutnya pun juga meminta karena ngilerr... Jadi lah aku keluar uang lagi untuk membelikan 2 potong paha ayam. " Kesal Pak Asep.


"Tak apa lah pak. Menyenangkan hati orang tua,nanti akan mendapat balasan dari Allah."


"Ahhh benar juga kau ini. Ternyata kau itu pintar juga agama. Kenapa tak jadi ustazah saja?"


"Ustads pak Asepp,Ustaddd bukan Ustazahh... Ustazah itu perempuan lahh..." Jelas Andi.


"Ohh sudah ganti kaa?" Bingung Pak Asep.


.


.


.


.


Bersambungg..


Jangan lupa like,komen,vote serta favorit yah..

__ADS_1


Babayy😄😄😄


__ADS_2