
PET
Gelapp...Satu-satunya lampu yang berada digudang padam.
"Aaaaaaaaaaaa." Pekik April ketakutan.
April reflek berjongkok dengan menutup kedua telinganya.Dadanya sesak,April sulit bernafas di ruang tertutup nan gelap itu.
April memejamkan matanya erat,menutup matanya rapat-rapat.Tangannya meremas dadanya yang terasa menyesakkan.
Gelappp....Sangat gelap,ditambah suara grusak-grusuk yang semakin jelas terdengar.Terdengar beberapa kardus-kardus berjatuhan di gudang yang gelapp itu.
"Astagfirullah Astagfirullahh Astagfirullah..." Gumam April sembari menutup matanya rapat-rapat.
Tubuh April bergetar hebat.
"Ehemm..." Terdengar suara deheman.Suara itu terdengar seperti suara laki-laki.Deheman itu terdengar sangat dalam dan berat.
April lantas membelalak.Matanya awas menoleh ke kanan dan ke kiri.Suara deheman serak yang terdengar sangat menakutkan.
Ingatan April melayang pada kejadian di depan gudang sekolahan.Badannya gemetarr hebatt ketakutan.Rasa trauma kembali muncul.
"Tolongg...Tolonggg...Tidakkk....Jangannn..."Gumam April merancau tak jelas.
April terbayang-bayang kejadian buruk yang pernah menimpanya.April hampir menjadi korban pelecehan seksual atau bahkan pemerkosaan.
Di lingkup gudang,disuasana yang sepi, serta deheman suara laki-laki.Mengingatkannya pada ketakutannya pada laki-laki.
Rasa trauma dengan laki-laki yang semula sudah luntur,Kini kembali muncul lagi dalam benaknya.
"Jangannn...Jangan sentuh aku...Jangann..." April menggelengkan kepalanya kuat-kuat.April beringsut mengesot ke pojokan gudang.
Nafasnya memburu,sesakk....
Brakkkk....
Pintu terbuka dengan kerasnya,Sekilas April melihat siluet tubuh tegap laki-laki yang berdiri di ambang pintu.
Brukkk....
April ambruk tak sadarkan diri karena rasa ketakutan yang teramat sangat.
"Happ--- Astaga Aprillll..." Pekik laki-laki yang membuka pintu tadi.Ternyata lelaki itu adalah Mas Apit.
Mas Apit bergegas berlari menghampiri April yang jatuh tak sadarkan diri.Dan disusul dengan yang lainnya pula.
"Astagaaa...." Pekik Vani ikut terkejut.
"Prill...Prilll...Bangun Prill,jangan bercanda." Mas Apit menepuk-nepuk pipi April berusaha menyadarkannya.
"Prilll...Prilll..." Mas Apit maaih terus berusaha membangunkan April.
"Woee woee woeee lampunya nyalainn...." Teriak Mas Agung.
"Ohh iya iyaa..."Jawab Febi berlari.
__ADS_1
Setelah lampu menyala semuanya jadi nampak kelihatan jelas.
"Kenapa-kenapa?..." Mas Yen muncul menyembul dari dalam kardus.
"Kenapa pada panikkk?" Disusul Mas PW yang juga muncul dari dalam kardus besar yang muat satu orang dewasa.
"Apa aja yang kalian lakuin? Kenapa Aprik sampai pingsan kayak gini." Geram Mas Apit sembari mengangkat kepala April dan diletakkan dalam pangkuannya.
"Lah kenapa jadi nyalahin kita.." Protes Mas Yen membela diri...
"Udah-udah jangan ribut dulu.Mending April angkat dulu bawa keluar dari gudang." Ucap Mbak Resa menengahi.Mbak Resa sangat khawatir melihat keadaan April.
"Badannya sangat dingin." Ucap Mas Apit saat menggendong April dalam dekapannya.
"Pasti karena ia sangat ketakutan." Sambung Vani sendu.
April di angkat lalu dibaringkan di atas karpet tempat bermain.Karena memang Rumah Makan ditutup sejak awal,dan hanya arena tempat bermainlah yang cukup luas dan terlapisi karpet.
"Ambil minyak kayu putih." Ucap Mas Tono.
Mbak Yuni langsung berlari mengambil minyak kayu putih yang dipinta Mas Tono.
"Ini Mas..."
"Kamu aja yang balurin Sa.Aku gak enak kalo pegang-pegang badan April.Nanti dikiran cari kesempatan dalam kesempitan lagi." Sergah Mas Apit.
Mbak Resa dengan cekatan langsung mengoleskan minyak kayu putih ke arah hidung April.Lalu dilanjutkan di leher,telapak tangan dan telaoak kaki April yang terasa amat dingin.
Karena April pada dasarnya tak menyukai aroma minyak kayu putih,April pun langsung sadar sesaat sesudahnya.
"Heiii it's okayy..." Mas Apit berucap menenangkan April yang terlihat ketakutan.Tangan Mas Apit terulur kedepan menggapai angin.
April yang melihatnya langsung kembali beringsut mundur menjauh.Orang-orang pun dibuat bingung karena sikap April.
Vani yang tak mengetahui jika April pernah memiliki trauma berdekatan dengan orang,terutama laki-laki pun juga ikut bingung melihat tingkah April.
"Gak papa...Tenangg...Ada kita disini." Mbak Resa perlahan mendekat dan memeluk April untuk menenangkan.
Nafas April yang semula memburu kini berangsur teratur,menandakan April mulai tenang.
"Kamu kenapa?" Tanya Ambar yang sangat tak peka dengan keadaan April.
Sontak seluruh orang langsubg melayangkan tatapan tajam pada Ambar.Ambar yang ditatap begitu pun menjadi salah tingkah.
Ambar mengangkat kedua tangannya sembari mundur selmagkah.Menandakan Ia mengaku salah.
"Sudah tenang sekarang?" Tanya Mbak Resa melepas pelukannya.
April mengangguk.Sebenarnya batin April masih berperang untuk menekan rasa trauma yang kembali muncul. April tak ingin teman-temannya mengetahui jika April memiliki trauma.
"Kamu ketakutan sat digudang tadi?" Tanya Mas Apit.
"I-iyaa.." Jawab Aprik terbata.
"Maafkan kami yah..." Pinta Mas Apit.
__ADS_1
April tak mengerti maksud Mas Apit berkata demikian.
"Maafkan kami yang sudah keterlaluan mengerjaimu seharian ini.Dan paling parahnya sampai membuatmu pingsan ketakutan karena terkunci digudang yang gelap."
April hanya diam mencerna perkataan Mas Apit.
"Kami adalah dalang dari semua kejadian yang meimoamu hari ini." Sambung Mas Apit lagi.
April mengedarkan pandangannya pada orang-orang disekelilingnya.Tatapan mata mereka mengisyaratkan rasa bersalah yang teramat dalam.
"Termasuk membuatku seharian menerjakan pekerjaan berat? Dan mengunciku di dalam gudang yang gelap sendirian?" Tanya April pelan dengan pandangan menatap lulus ke depan.
Sedetik...Dua detik...Tiga detik.
Tak ada sepatah kata pun yang terdengar oleh telinga April.
"Iyaa benarr?" Ucap April meminta kejelasan.
"Benar." Jawab vani mantab.
"Kenapa? Apa salahku? Apa karena aku sudah memiliki tunangan ? Maka kalian semua mengucilkanku?" Tanya April tanpa ekspresi.
"Bukan seperti itu..." Jawab semuanya kompak.
"Lantas atas dasar apa? Apa salahku sampai kalian begitu tega denganku?"
Lagi-lagi hanya diam yang menghiasi.
Vani yang tak sabar akhirnya berdiri pergi menjauh.
April hanya memandangi kepergian Vani begitu saja.
"Atas dasar ini." Ucap Vani yang yang langsung kembali setelah beberapa saat kemudian.
April mendongak melihat Vani.April terbengong melihat alasan mengapa Ia diperlakukan begitu buruk di hari ini.
"Selamat ulang tahun." Ucap semuanya kompak.Dengan senyum manis yang menghiasi.
"Happy birtday..."
"Happy miladd..."
"Barakallahu fi umrikk..."
.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1