Takdirku?

Takdirku?
S-2 °•° Part 15


__ADS_3

Andi menubruk tubuh seorang gadis saat hendak keluar pintu Rumah Sakit.Cukup keras, sampai gadia itu terhuyung hendak terjatuh. Namun dengan sigap, Andi menangkap tubuh gadis itu.


" Astagfirullah." Pekik Andi dan gadis itu terkaget.


" Sayangg.." Pekik Andi senang. Andi kangsung memeluk tubuh sang istri.


" Kamu dari mana saja ?" Tanya Andi setelah melerai pelukannya.


" Mmmm, dari luar." Jawab April enteng.


" Cemas aku cari kamu."


" Ayo kita makan, kamu belum makan dari tadi siang." Andi menarik tangan April, Namun April menahannya.


" Kenapa ?" Heran Andi.


" Aku sudah makan."


"Dimana ? Bukannya tadi Ahmad tak memberimu nasi bungkus ?"


" Aku cari makan sendiri di luar." Jawab April.


" Ya Allahh... Maafkan Mas ya sayang." Sesal Andi, Andi membingkai wajah sang istri, agar menatap wajahnya.


" He em." April hanya menjawab dengan gumamam.


" Adek marah sama Mas ?"


" Kenapa harus marah?"


" Karena sedari tadi Mas melupakan keberadaanmu." Sesal Andi.


" Tak apa, aku mengerti." Ucap April santai.


Andi memelul April lalu mengecup sekilas pucuk kepala April. Digandengnya tangan April.


" Ayo kita kembali ke dalam." Ajak Andi.


" He um."


5 menit berjalan, Andi dan April sampai di depan ruang operasi. Kini suasana nampak berbeda, Andi pun langsung menarik April kuat untuk segera berlari mendekat ke depan ruang operasi.


" Ada apa ini ? Kenapa semuanya begini ?" Tanya Andi dengan nafas ngos-ngosan.


Tante Hani pingsan dalam dekapan Ahmad. Ibu menanangis meraung-raung dalam pelukan Ayah. Sedangkan Ardi bersandar lemas pada tembok.


Tak lama Dokter keluar, di susul beberapa suster yang mendorong brankar pasien. Ada tubuh yang terbaring tertutup selimut putih. Tertutup sampai kepala, menutupi semua tubuh. Terdapat noda merah di selimut putih bersih itu.


" Gak mungkinn..." Andi menggeleng kuat .


" Gak mungkin Om Damar ninggalin kita semua." Lirih Andi tak bertenaga.

__ADS_1


April menutup mulutnya tak percaya. April ikut merasakan kesedihan keluarga Tante Hani.


" Jenazah akan kami mandikan dan kami kafani terlebih dahulu, sebelum di bawa pulang oleh pihak keluarga." Helas Suster.


" Damarr Yah... Damar meninggal." Ibu Histeris.


" Ikhlaskan Bu, ikhlaskan Damar pergi." Ayah menenangkan Ibu.


Karena tak kunjung sadar, Tante Hani di bawa ke ruang rawat. Tante Hani drop dan harus di infus karena tubuhnya lemah.


" Aku akan pulang untuk memberi kabar orang rumah. Agar yang di rumah bisa menyiapkan segala keperluan untuk pemakaman." Ucap Ahmad dengan menahan air mata.


" Kamu disini saja temani Ibumu. Kamu juga harus mengurus segala ketentuan di sini." Tukas Ayah.


" Kenappa tidak telfon orang rumah saja?" Saran Andi.


" Nenek dan Kakekmu mana punya ponsel." Ayah mencebik.


Nenek dan Kakek, orang tua dari Ibu memang tinggal bersebelahan dengan Tante Hani.


" Biar Andi dan April yang pulang." Ucap Andi.


" Itu lebih bagus, biar Ardi membantu Ahmad menyelesaikan urusan disini." Semua mengangguk setuju.


April dan Andi langsung berjalan cepat menuju parkiran. Selama perjalanan pulang, tak ada percakapan di antara keduanya. Hening sudah, hanya suara kendaraan lain yang membuat riuh suasana.


" Mas Andi yang sabar, ikhlaskan kepergian Om Damar." Ucao April buka suara.


" Padahal 3 bulan lalu, malam hari sebelum kita menikah. Om Damar masih bercanda denganku Dek." Ucap Andi.


" Ikhlaskan kepergian Om Damar Mas. Jangan buat jenazah Om Damar berat meninggalkan dunia."


Tak lama mereka sampai di rumah Om Damar. Ternyata Nenek dan Kakek sudah menunggu dengan cemas di teras rumah Tante Hani.


" Kenapa kalian ke sini? Lalu bagaimana keadaan Damar?" Tanya Nenek cepat.


Sekali lagi, Andi mengusap matanya yang berkaca-kaca. Sekuat mungkin Andi menahan tangisannya.


" Om Damar sudah tiada Nek. Om Damar sudah kembali dalam dekapan sang pencipta." Lirih Andi.


" Inalillahi Wainailaihi roji'un." Ucap Kakek dan Nenek bersamaan.


Nenek memegangi dadanya yang sesak. April maju, memeluk tubuh renta Nenek agar tidk terjatuh.


" Kita duduk dulu nek." Ajak April menuntun Nenek lerlahan.


Andi pun menuntun Kakek, karena Kakek tak kalah syoknya dengan Nenek.


Sebelum sampai di rumah Tante Hani. Andi dan April menyempatkan datang ke rumah Kepala Desa untuk melapor.


Tak lama, terdegr sura Kepala Desa mnggema keseluruh desa. Kepala Desa menyiarkan kabar duka melalui spiker masjid. Para warga yang mendengar pun langsung berlarian menuju rumah Om Damar hendak memastikan.

__ADS_1


Para Ibu-Ibu langsung mengambil alih dapur. Para Bapak-Bapak langsung mengambil tenda dan kursi plastik untuk para tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa.


April berbaur pada Ibu-Ibu, karena Andi lagi-lagi sibuk dengan urusannya sendiri. April kembali di tinggalkan.


2 jam kemudian, ambulans datang. Diikuti Ayah dibelakangnya dengan motor. Ibu, Ahmad dan Tante Hani ikut menaiki ambulans. Tante Hani tak henti-hentinya menangis di samping jenazah Om Damar.


" Ambulans sudah datang."Ucap salah seorang warga memberi tahu.


Seluruh tamu takziah langsung bangkit. Memberi penghormatan terakhir bagi jalmarhum Om Damar.


Dan lagi, Tante Hani ambruk. Ahmad dengan sigap langsung menggendong sang Ibu untuk di tidurkan dikamar. Ibu Risma menemani serta menangkan Tante Hani yang terus menangis dengan mata terpejam.


Prosesi pemakaman berjalan lancar dan cepat . Karena Jenazah Om Damar sudah fimandikan dan di kafani dari Rumah Sakit. Keluarga dan warga langsung menyolatkan serta menguburkan.


Keranda diangkat, siap untuk menuju pemakaman terdekat. Sebelum keranda benar-benar melaju. Ada satu tradisi yang harus dilakukan oleh pihak keluarga.


Keranda yang di angkat 4 orang, dibawahnya diletakkan satu nampan berisi makanan serta kuluban sayur dan lauk lainnya. Anak serta cucu dari jenazah harus mblusuk atau melewati bawah keranda. Saat itu, anak dan cucu dari jenazah harus mengambil secomot nasi lalu memakannya.


Karena hanya Ahmad anak Om Damar. Ahmad pun belum memiliki istri dan anak. Jadi hanya Ahmad sendiri yang melakukan tradisi itu.


Ahmad ikut rombongan yang mengangkat keranda. Ahmad ingin mengantarkan sang Bapak ke peristirahatan terakhirnya. Dibantu dengan Andi dan Ardi, serta Ayah.


Setelahnya, semua rombongan berangkat menuju pemakaman. Dipaling depan ada 2 wanita memegang baskom yang berisi bunga yang sudah di campurkan dengam uang recehan koin. Wanita itu bertugas untuk menaburkan bunga di setiap jalan sampai ke pemakaman.


April berada di barisan tengah, bersama orang-orang yang tak dikenalinya.


Tante Hani dan Ibu tidak ikut ke pemakaman karena kondisi yang tidak memungkinkan.


.


.


...Bersambung....


...Hai hai haii......


...Jangan lupa selalu tinggalkan jejak....


...Like...


...Komen...


...Vote....


...Favorit. ...


...Hadiah dan bagi tips koin yahh.....


... Jangan bosen-bosen dnegan April dan Andi yah.....


...Happy reading readerss....

__ADS_1


...Babayy.....


__ADS_2