
Malamnya, April tengah gelisah di dalam kamar. Selepas kejadian di dapur, April enggan untuk keluar dari dapur. April tidak berani mengadu ke Andi karena ancaman Ardi.
" Ngapain sih Dek, dari siang kok di dalam kamar terus gak mau di ajak keluar?" Ranya Andi heran. Andi baru saja dari depan mengobrol dengan Ayah.
" Gak apa-apa sih Mas. Cuma lagi pingen di dalam kamar saja." Elak April.
Andi menyipit, seperti ada sesuatu hal yang disembuntukan sang istri. Karena tak biasanya April bersikap seperti itu.
" Mass.."
" Hemm ?"
" Emmm... Bisa tidak kalau kita gilir tidur di rumah Bapak." Ucap April lirih.
Selama satu tahun ini, April selalu menuruti kemauan suaminya. April tak pernah minta menginap di rumah Bapaknya jika bukan Andi yang mengajak.
Bagi April, sebagai seorang istri haruslah selalu mengikuti kemanapun suaminya berada.
" Kenapa tiba-tiba sayangg..?" Tanya Andi heran.
" Gak apa-apa Mas. Cuman lagi pingin tidur di sana saja." Elak April.
" Kangen ya sama Ibu Bapak dan Mira?"
" He emm.." April beralasan.
" Baiklah, mumpung baru jam 7 malam. Mau ke rumah Bapak sekarang atau besok saja?" Tawar Andi.
Andi akan selalu menuruti kemauan April. Apalagi, April sangat jarang sekali meminta sesuatu padanya. Dan kini, April hanya meminta menginap di rumah orang tuanya. Dengan senang hati Andi akan menuruti kemauan sang istri. Apalagi jarak rumah yang hanya beda RT saja. 5 menit naik motor pun sampai.
"Emmm.. Besok saja gak papa Mas."
Malam itu April tidur dengan perasaan senangnya. Sudah sebulan lebih Ia menginap di rumah Andi. Dan besok, Ia akan menginap di rumah orang tuanya.
Paginya, sekitar pukul 10. Andi benar-benar membawa April menginap di rumah orang tuanya.
April disambut senang oleh keluarganya. Apalagi adiknya Mira, bocah kecil yang sekarang sudah hampir lulus kelas 6 itu sangatlah rindu padanya.
" Bantuin Adek buat pr dong Kak." Pinta mira membawa setumpuk buku.
" Bolehh... Mata pelajaran apa Dek?"
" Ipa."
April mulai sibuk membantu Mira mengerjakan pekerjaan sekolahnya. Andi hanya berbincang-bincang di teras bersama Bapak.
" Nih Ibu buatin lumpia isi rebung buat temen belajarnya." Ibu datang dengan 2 piring lumpia yang baru saja digoreng.
Ibu meletakkan satu piring di hadapan April. Dan sepiring lagi di bawa Ibu ke teras untuk di berikan kepada Bapak dan Andi yang sedang mengobrol santai disana.
" Wahhh makasih Buk. Ibu memang ter the best deh." Girang Mira dengan mengacungkan kedua jempol tangannya.
Sesi belajarpun break. April dan Mira berhenti sejenak untuk menikmati kelezatan lumpia isi rebung yang masih hangat-hangat.
__ADS_1
" Ehh Kak.."
" Apa Dek?"
" Kakak masih ingat sama Riri teman kakak?"
" Ingatt... Memangnya kenapa Dek? Eh tapi, kok kamu kenal sama Riri Dek?" Heran April.
" Ya kenal lah Kak, Riri teman kakak itu adalaah kakaknya temen sekolahku." Jelas Mira.
" Trus kenapa tiba-tiba bahas Riri Dek?"
" Tadi sore kan aku ke rumah Dini, Dini itu nama adiknya Kak Riri."
" Iya terus?"
" Kata Dini, sekaramg Kakaknya pakaiannya sama loh kayak Kakak." Ucap Mira dengan mulut penuh lumpia.
" Sama gimana?"
" Iya sama-sama pakai gamis dan pakai cadar." Jelas Mira dengan anggukan.
" Benarkahh?" Tanya April penuh binar.
" Iya beneran, kemarin pas adek mau pulang sempet ketemu sebentar sama Kak Riri. Memang benar Kak Riri pakai cadar."
Terima kasih Ya Allah, karena engkau sudah membukakan pintu hidayahmu kepada Riri. Batin April senang.
" Eee malah pada cerita, sudah belom belajarnya? Udah larut malam ini loh." Tegur Bapak.
" He he he.... Sebenarnya belum selesai sih Pak, masih kurang sedikit. Tapi besok saja deh lanjutinnya." Cengir Mira sambil mengucek matanya yang sudah memerah karena kantuk.
" Ya sudah sana tidur, besok kan sekolah." Cetus Bapak.
" Iya Pakk.." Mira langsung membereskan buku-bukunya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
" Kamu juga masuk ke kamar Pril."
" Iya Pak."
Andi yang berdiri di belakang Bapak pun tersenyum. Matanya jahil, Andi memicing dengan alis yang Ia naik turunkan menggoda April.
Bapak langsung mengunci pintu dan masuk ke kamar pula. Andi dengan cepat mengulurkan tangannya agar di gandeng oleh April.
" Yok bobo yok." Ucap Andi dengan nada imutnya.
" Issh, kayakanak kecil bahasanya." April memicing.
Andi celingukan, kanan kiri aman tak ada siapapun. Semuanya sudah masukke dalam kamar. Dengan cepat, Andi menggendong April ala bridal style.
" Aahh..." Pekik April pelan karena terkejut. Spontan April mengalungkan kedua tangannya ke leher sang suami.
__ADS_1
" Mas Andii.." Protes April.
" Apa sayangg..."Andi mencium bibir April sekilas.
" Nanti dilihat orang."
" Gak akan, semuanya sudah masuk ke kamar, tinggal kita yang masih di luar." Jawab Andi sembari berjalan menuju kamar.
" Ini ada acara apa sih ? Kok akunya sampai digendong segala?" Heran April, karena tak biasanya Andi beraikap semanis ini. Apalagi, saat ini tengah berada di rumah April.
"Gak ada apa-apa, cuman pengen manja-manjaan aja sama kamu." Jawab Andi dengan senyum menggoda.
" Jujurr." April memicing.
" He he he... Hari ini kan waktunya kita gas pol sayang. Di kalendermu, tanggalnya sudah warna biru." Ucap Andi.
" Memangnya kalau warna biru kenapa?" Tanya April pura-pura tak paham.
" Issh, belagak sok polos pula istriku ini." Gemas Andi menghujani April dengan ciuman di seluruh wajahnya.
" Iihh geli Mas, itu jenggot tipisnya belum di cukur." Kikik April.
" Biarin, yang penting malam ini kita berproses duku untuk membuat Andi junior. Malam ini kan kamu masuk masa subur, jadi waktunya kita untuk usaha lebih ekstra bukan?" Bisik Andi.
" He emm.." April mengangguk dengan malu. April menyandarkan kepalanya di dada bidang Andi.
Sepasang sejoli itu langsung masuk ke dalam kamarnya, April membuka pintu dengan tetap berada dalam gendongan Andi.
Ceklek....
Suara lampu utama ruang tengah di matikan.
Terlihat Wanita sedang mematung dengan tangan yang sedari tadi menempel pada saklar lampu.
" Aissh.... Dasar anak-anak. Gak lihat apa kalau di sini ada orang." Gerutu Ibu yang ternyata sedari tadi berdiri di pojokan ruangan.
" Bisa-bisanya bermesraan di depan orang tua."
Ternyata, setelah semua orang masuk kamar. Ibu masih di ruang tengah hendak mematikan lampu. Tapi oh tapi, tangannya yang sudah memegang saklar lampu harus terhenti tak kala melihat kemesraan sang anak dan menantunya.
" Ibu ngapain masih berdiri di pojokan? Mau cosplay jadi hantu penunggu pojokan dalam kegelapan malam yang mencekam?" Tanya Bapak yang melongokkan kepalanya dari kamar.
"Enggak... Mau cosplay jadi tiang lampu." Sinis Ibu.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1