Takdirku?

Takdirku?
Terlalu Perhitungan


__ADS_3

" Woyy Van... Kenapa gak nyebur luu? Takut bedak lu luntur kalau kena air yah? Ha ha ha..." Ejek Mas Yen ketika melihat Vani hanya diam di pinggiran kolam.


Vani memang hobi berdandan. Maka tak heran jika di ejek seperti itu oleh Mas Yen.


"Ckkk...Sialan kamu Mas." Protes Vani tidak terima.


" Kamu kenaoa gak ikut turu Pril?" Tanya Mas Yen dengan nada ramah. Yen tak menanggapi protes dari Vani.


"Emmmm..."


" Kenapa? Ganti lah gamismu. Ayo kita berenang bersama-sama. Kamu bawa baju renang kan?" Tanya Mas Yen lagi.


" Bawa sih."


"Yaudah cepetan ganti baju. Rugi kamu kalau kesini gak renang."


" Iya deh."


April pin pergi mengganti baju. 5 menit kemudian April telah kembali.


"Lah kenapa masih oakek jilbab?" Tanya Mas Yen heran.


"Emangnya gak boleh ya?" Tanya April.


"Ya aneh aja." Jawab Yen canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


April yang awalnya memakai gamis berwarna coklat susu. Kini berganti menggunakan celana training hitam dengan kaos panjang yang over size serta jilbab instan berwarna senada dengan kaosnya.


" Emangnya apa yang kamu harapkan Mas? April pakai bikini seksi gitu?" Ketus Vani menatap Yen sebal.


"Iya lah... Ehh emmm maksudkku,ya enggak lah. A-Aprilkan anak baik-baik. Gak kayak kamu Van."


" Emangnya aku anak apa hah?" Ketus Vani tak terima.


" Anak gak baik." Jawab Yen asal lalu menarik Vani mencebur ke kolam yang dalamnya 1 meter."


"Aahhhh... "


"Mas Yennnn..." Pekik Vani kesal.


"Aha ha ha ha..." Yen tertawa puas.


"Jadi basah semua kan akuu ihhh..." Vani berucap sembari menyeka air yang menghalangi pndnagannya.


"Pffttt... Ha ha ha. " Yen tertawa begitu kerasnya sembari menunjuk wajah Vani.


"Pffttt." April pun juga berusaha menahan tawanya.


" Kenapa pada ketawa sih? Ada yang lucu apa?" Tanya Vani cengo.


Tawa Mas Yen semakin menjadi akibatnya.


"Ihhh ada apa sihh.." Vani kesal,Ia menghentak-hentakkan kakinya di dalam air kolam.


" Lihatlah wajahmu bodohh... Hitam sudah pipimu. Ha ha ha."


"Aaaahh Masakk." Vani buru-buru mengambil kaca di skau celananya. Vani mengelap kaca itu terlebih dulu karena basah oleh air.


" Ahhhh...Aku keliru pakai mascara. Kenapa juga salah ambil yang tidak waterproof sihh... Jadi luntur semua kann.." Vani mengomel sendiri sambil berkaca.


Vani menghapus jejak hitam yang mengalir dipipinya dengan air kolam.Vani mencuci wajahnya hingga bersih dari noda lunturan mascara.

__ADS_1


" Jiahhhh....Benar kan apa kataku. Kamu takut masuk ke kolam karena takut make up mu luntur kan." Ejek Mas Yen.


"Diammm...Yenn cerewettt." Vani geram.


"Ha ha ha...Bidadari sudah jadi badut." Setelah berucap Mas Yen langsung menyelam berenang menjauh dari amukan Vani.


April hanya terkekeh kecil melihat itu.April lalu ikut menceburkan diri perlahan ke dalam kolam.


Sementara kawan-kawan yang lain sibuk menjajali segala arena wahana air yang tersedia.


Tak jarang mereka menaiki prosotan tertinggi yang membuat April merasa ngeri-ngeri syedap melihatnya.


"Pril... Yok naik prosotan yang paling tinggi. Tinghinya cuma 17 meter kok." Ajak Mas Agung menarik tangan April.


April reflek kembali menarik tangannya. Ia terkejud karena Agung memegangnya.


Mas Agung pun langsung terduam saat melihat respon April.


"Ma-maaf Mas." Ucap April tak enak hati.


"It ok... Yok naik prosotan bareng yang lain !"


"Aku takut Mas. Mas Agung aja deh." Tolak April halus sambil tersenyum.


"Aahhh cemen kamu Pril."


"Yaudah deh..Vani aja Yok." Mas Agung langsung menarik Vani tanpa ampun.


"Aihhh ....Aku gak mau Mass...Aku juga takutt." Vani berteriak histeris. Tangannya melambai-lambai meminta pertolongan April.


"Nikmati saja Vani. Dadaahh..." Dan sayangnya,April bukannya mencegah Mas Agung. Tetapi malah melambaikan tangan berdadah ria sambil menikmati ekspresi panik Vani


"Tolongg Aprilll...Aku gak mau naik prosotan itu. " Vani berucap dengan wajah memelas. Tangannya menggapai udara meminta pertolongan April.


"Aprillll.... Sini naik ban karet di kolam arus sama aku." Ajak Febi yang melintas di kolam samping April.


Febi tengah duduk sendirian di ban karet yang berbentuk 2 bulatan yang menyatu. Ban itu muat untuk 2 orang.Febi mengapung setengah terlentang di atasnya.


"Okayy..." April pun menghampiri Febi lalau ikut duduk di bagian depan.Tapi menghadap kesamping agar tetap bisa mengobrol tatap muka dengan Febi.


Sakung asyiknya mengobrol dengan Febi. mereka jadi lupa waktu.


"Oeee... kalian gak ganti baju? Udah pada bersih-beraih nih. Yang lain juga lagi pada makan di saung." Tegur Mas Pw.


"Astaga... Kita terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu. Ayo kita cepet ganti baju kering Pril."


April dan Febi pun menuju kamar mandi bersama.


"Kamu mau mandi atau cuma ganti baju Pril?" Tanya Febi sebelum masuk dalam bilik.


"Aku mau membilas tubuh saja Feb. Soalnya aku gak bawa sabun."


"Mau gantian sabun sama aku? Nanti setelah aku mandi baru gantian kamu." Tawar Febi.


"Gausah feb. takutnya kelamaan nanti."


Mereka pun mandi. Hanya memerlukan 15 menit saja. April lebih dulu keluar dari dalam bilik.


"Febb... Kamu masih didalam?" Ucap April sedikit keras.


"Iyaaa... lagi pakek celana nih. Tungguinn !!"

__ADS_1


Ceklikk...


Akhirnya Febi keluar dari dalam bilik.


"Yokk kita ikut gabung anak-anak yang lain." Ajak April setelah melihat Febi keluar.


"Tunggu dulu. Aku mau dandan dulu biar tetap syantik." Ucap Febi mengedipkan sebelah matanya genit.


April hanya terkekeh geli dan mengangguk. Lalu Ia duduk di kursi sembari menunggu Febi selesai berias.


Drrrttt Dreetttttt...


Ponsel April disaku gamisnya bergetar.Ada pesan masuk dari Mas Apit.


📥Cepatlah kembali. Semuanya sudah berkumpul di depan saung. Sebentar lagi kita akan foto bersama.


Begitulah pesan yang dikirim Mas Apit padanya.


"Ayo buruan Feb. Ini Mas Apit barusan Chat aku."


"Oh iya kah? Yaudah ayok."


April dan Febi pun berjalan cepat menuju saung tempat tas dan jaket mereka berada.


Saat masih dalam jarak yanh cukup jauh. April bisa melibat jika teman-temannya sudah ada yang berfoto-foto. Ada juga yang sudah memakai jaket dan menenteng tasnya.


"Ayo kita lari Feb. Yang lain udah lada mau pulang tuh." Ucap April tergesa gesa.


"He.umm."


Sesampainya di saung. April dapat melihat Vani yang sepertinya habis makan pop mi. Terbukti dari tangannya yang memegang wadah kosong yang akan di buang ditempat sampah.


"Oiyah Pril.Tadi uangku yang delapan ribu di saku jaketmu aku ambil." Ucap Vani singkat sembari berjalan menjauh.


April melongo mendengarnya.


Hanya uang 8.000 saja kau sangat perhitungan denganku Van. Bagaimana jika aku juga perhitungan dengan uang bensin yang tak pernah kau berikan padaku? Apakah kamu masih akan bersikap seperti itu? Perjalanan sejauh ini pun kamu hanya modal uang parkir 2.000 rupiah. Sedangkan orang lain yang menebeng mereka memberikan uang 10.000 pada pemilik motor. Sedangkan kamu? Dengan tidak sopannya mengambil kembalian 8.000 dari saku jaketku tanpa seizinku. Setidaknya tunggu lah aku datang dan izinlah untuk membuka-buka barangku.


Batin April sedikit kesal dengan sikap Vani.


.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Serta pencet tombol Favorit yah !!!


Dukung terus karyaku yahh para Readersss...

__ADS_1


Happu readinggg😍😍😄😉


__ADS_2