
" Tunggu-tunggu. Apa ini Mas ? Kenapa begini Mas." Potong April memandangi Andi.
Andi diam saja,tak tau harus berkata Apa.
"Jawab Mas." Desak April.
"I-itu karenaa....Emmmm,anuu..." Andi bingung hendak menjawab apa.
"Kenapa Mas? Kenapa telapak tanganmu jadi seperti ini ?" Tanya April lagi sambil mengelus telapak tangan Andi.
"Ka-karena bekerja."Gagap Andi.
"Mas sudah dapat pekerjaan? Tapi pekerjaan apa yang sampai-samppai membuat tanganmu seperti ini Mas?" Khawatir April.
Andi memang bercerita dengan April jika Ia sulit mencari kerja karena hanya menggunakan ijazah tamatan Sma.Andi sudah berusaha melamar pekerjaan di kota,namun hasilnya tetap nihil.
Ternyata Allah maha baik.Saat Andi sudah pasrah,tiba-tiba datanglah Galuh yang menawarkan ketja sebagai kuli bangunan.
Andi tanpa pikir panjang lagi langsung meng-iyakan ajakan Galuh. Apapun pekerjaannya akan Andi lakukkan,asalkan halal.
"Emm... Mas sudah 10 haru bekerja Dek." Ucap Andi.
"Bekerja apa Mas? Tumben gak cerita sama aku?" Heran April.
"Ku-kuli bangunan."
April emnghentikan tangannya yang mengelus tangan Andi. April memandang manik mata Andi yang menyejukkan hati.
"Mas tunggu disini sebentar ya." April beranjak hendak pergi.
"Mau kemana Dek?" Tanya Andi.
"Mas disini dulu,aku kesana sebentar."
5 menit kemudian April kembali duduk disamping Andi. April kembali menenteng kantong kresek berwarna putih.
"Beli apa Dek?" Tanya Andi penasaran.
" Beli ini Mas,Betadin,kapas dan beberapa plester." Jawab April sambil membuka isi dari kantong olastik yang di tentengnya.
Untung saja ada Apotek 24 jam di sekitar tempat mereka berada. April tak tega melihat telapak tangan Andi yang penuh luka goresan. Terlihaat merah memar dan seperti bekar darah yang sudah berhenti.
"Pasti sangat perih kan?" Tanya April smabil membuka tutup betadin.
"Tidak kok.,masih perih hatiku dulu,saat kamu masih mencuekkan Mas Dek." Goda Andi.
April menekankan kapas yang sebelumnya sudah diberi betadin ke luka di tangan Andi.
"Ahh sstttt...." Ringis Andi spontan.
"Katanya gak perihhh.." Cibir April masih terus mengolesi dan sesekali ditiupnya agar Andi tak merasa perih.
"He he he... Perih sih kalau terkena air semen. Terus kalau di buat ngangkat ember adukan pasir yang berat juga terasa nyeri." Adu Andi manja.
April memplester luka Andi yaang telah di obatinya.
"Sudahh siap.." Ucap April mengelus sekali telapak tangan Andi.
"Terima kasih calon istri kuu..." Goda Andii..
"Sama-samaa."
"Apa ada lahi yang terluka? selain di tangan?" Tanya April.
"Emmm....." Andi ragu sejanak.
"Bilang aja Mas,sekalian aku obatin,biar gaak infeksi namti Mas." Desak April agar Andi mengaku.
"Di telapak kaki Mas Dek." Cicit Andi pelan karena merasa tak enak.
"Yang mana,sebelah kanan atau kiri Mas?"
" Kanan."
" Maaf ya Mas,aku permisi." Ijin April lalu mengangkat kaki kanan Andi dan di letakkan di atas pangkuannya.
"Eh eh eh... Gak usah dek." Tolak Andi tak enak.
"Gak pa pa Mas." Ucap April halus.
__ADS_1
"Kaki Mas bauk jigong loh Dek." Alasan Andi.
"Ha ha ha... Yang bauk jigong itu mulut Mas,bukan kaki." Kekeh April pellan.
"Oh iya ya." Andi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Tapi beneran gak usah Dek." Tolak Andi lagi.
"Gak pa pa Mas." Kèkèh April lalu melepas sepatu Andi.
Andi yyak memakai kaus kaki. Jadi memudahkan April. Biasanya Andi akan menggunakan kaos kaki. Tapi karena Kakinya yang sakit jadi Andi tak memakainya.
"Sttttt... pasti ini sangat lah sakit." Gumam April yang masih dapat di dengar Andi.
"Ini kena apa Mas? Kenapa bisa sampai kaya gini?" Tanya April sambil meringis.
Padahal Andi yang terluka,tetapi April yang meringis seolah merasakan perihnya luka Andi.
"Yang luka kakinya Mas Dek.Kenapa kamu yang meringis seperti merasa kesakitan?"
"Entah lah Mas. Ngilu aja lihatnya." Ucap April sambil mengolesi betadin dengan pelan.
"Ini tadi kena besi,tak sengaja besinya ke senggol. Tapi ini hanya lecet sedikit saja kok."
"Tapi kan letaknya di telapak Kaki. Jadi pasti kalau dibuat jalan terasa sakit." April kembali memplester luka Andi. Memastikan luka itu tak kemasukan debu maupun kotoran yang lainnya.
April memakaikan kembali sepatu Andi,namun ditahan dengan tangan Andi.
"Biar Mas pakai sendiri Dek sepatunya." Tolak Andi karena merasa tak enak."
April mengangguk,lalu menurunkan kaki Andi dari oangkuannya dengan perlahan.
Andi memakai kembali sepatunya.
"Habis berapa buat beli obat tadi Dek? Sini Mas ganti uangnya." Andi hendak mengeluarkan dompet dari saku jaketnya.
"Tak usah Mas. Gak seberapa juga kok." Tolak April mendorong tangan Andi agar memasukkan dompetnya.
Ting Ting Tingg...
Bungi mangkok di ketung berbunyi nyaring. Ada kang bakso malang lewat di depan Andi dan April duduk.
"Siapp Mas..." Dengan senangnya,pedgang bakso malang itu melenggang ke arah Andi.
"Makan baso malang dulu ya Dek. Mas lapar,belum makan tadi." Bohong Andi,padahal sebelum berangkat menemui April,Andi sudah makan bersama keluarganya.
April mengangguk saja,karena melihat asap yang keluar dari panci, terlihat sangat hangat. Membuat April jadi ingin.
"Baso malangnya 2 posri ya bang." Pesan Andi menunjukan angka dua dengan jarinya.
" Pedas atau tidak nih?"
"Pedas semua bang." Jawab Andi yang sudah tahu jika April menyukai sesuatu yang pedas.
"Mau komplit atau rikuess bagemana nih?" Tanya penjual lagi.
"Paket komplit plit plit plitt bangg..." Jawab Andi lagi.
"Mau makan di sini apa bungkus bawa pulang?" Tanya oenjual lagi.
"Makan disini Bang."
"Mau makan pake mangkok, atau mau di cucrup dari plastik aja nih?"
Hilang sudah kesabaran Andii meladeni tukang bakso yang kebanyakan bertanya ini.
"Astaga bangg...kalau makan disini ya oakek mangkok lah. Kalau pakek plastik namanya mah dibungkus." Ucap Andi menahan emosi.
April hanya senyam-senyum sendiri melihat perdebatan Andi dan pedagang baso malang itu. April tahu jika sebenarnya si tukang bakso hanya menggoda Andi saja.
" Ya kali kan Mas. Mau makan disini tapi pakek plastik saja. Lan lumayan,saya jadi gak repit cuci mangkoknya. He he he.." kekeh si penjual tanpa rasa bersalah.
"Terserah abang saja lah, capek saya jawab pertanyaan abang. Sekali lagi abang tanya,bakal dapat hadiah dah."
Si abang hanya hanya diam saja tak menjawab. sedetik kemudian,si abang kembali membuka mulutnya hendak berucap. Tapi buru-buru Andi memotongnya.
"Tu----"
"Stooppp... Jangan tanya -tanya lagi Bang. Sebell saya jawabnya." Kesal Andi.
__ADS_1
"Yeeeee... siapa juga yang mau nanya. Jadi orang su'uzon aja lu Mas. Saya kan cuma mau bilang.. Tunggu sebentar yaaa.. Gitu aja." Ucap Si penjual sambil meracik 2 mangkok bakso malang.
Andi diam saja,sedangkan April mengulum bibirnya menahan tawa.
"Nihh bakso nya sudah jadi. Eh tapi kalau di malang,nyebutnya mah bukan bakso Mas." Ucap si penjual.
Andi yang sudah terlanjur sebal tak menggubris ucapan Kang bakso.
"Lalu disebutnya apa Bang?" Kini ganti April yang menanggapi kecerewetan penjual kaki lima itu.
"Bakwan malang."
"Ohhh begituu..." Ucap April sambil menerima mangkok dari kang bakwan malang.
"Si Masnya sensian nih Mbak. Kayaknya lagi dapet deh." Cibir kang bakwan malang sambil menyerahkan bakwan lmalang milik Andi.
" Saya lelaki tulen ya bang. Mana bisa dapett..." Protes Andi menerima mangkok Bakwannya.
"Ah ah auuu panas panass panass..." Andi kembali memberikan mangkok oti pada kang bakwan malang dengan tergesa.
"Hati-hati Mas,tangan Mas Andi kan luka,jadi wajar kalau lebih sensitiff..." Ingat April.
"Nahh dengerin noh kata pacarnya." Ucap Kang bakwan malang dengan nada yang terdengar menyebalkan.
Kang bakwan malanh meletakkan mangkok punya Andi di kursi depan andi.
"Lama-lama lu ngeselin ya bang."
"Kalau kesel ya iatirahat atuh Mas." Elaknya.
"Bang.."
"Apaan?"
" Lu belum pernah di jejelin bakwan malang satu gerobak ya?"
"Dari pada di jejelin ke saya,mendingan saya jual aja lah Mas. Bisa dapat untongg..." Ucap penjual dengan menaik turunkan alisnya serta kedua jari telunjuk dan jempolnya yang digesek-gesekkan.
"Ckkk... Dasar mata duitan." Cibir Andi.
"Dah lah Mas,cepetan makannya. Biar saya cepet balekk."
" Belum juga di suap bang,sudah di suruh cepet aja." Protes Andi sebal.
" Noh saya tambahin satu bakwannya lagi. Biar makin kenyang. Pasti Mas kelaparan karena berdepat dengan saya. Ha ha ha..."
April tak menghiraukan keduanya. April sibuk memakan Bakwan malang yang terasa amat nikmat di mulutnya.
Kuahnya yang girih nan panas,serta rasa kriuk dari bakwan malang itu sendiri,membuat permainan tekstur yang epik di lidah April.
"Bangg... Nambah sambelnya boleh nggak?" Tanya April membuat perdebatan di antara lelaki itu terhenti.
"Boleh Mbak,semuanya juga boleh." Ucap si oenjual dengan genit.
"Eh... Lu mau bikin calin istri saya diaree? Sambel se botol di suruh ngabisin. kira-kira dong bang. 3 minggu lagi saya mau nikah nihh,jangan cari penyakit." Protes Andi.
"Lahh.. Lu mau ya Mbak nikah sama pria modelan dia?"
"Ati-ati makan omongannya yang crewet Mbak. kalau ngomel ngalahin emak-emak komplek." Bisik kang bakwan.
Apeil hanya terkekeh lalu mengambik sesendok sambal.
"Jangan bilang macam-macam lu Bang."
.
.
.
.
Bersambungg...
Jangan lupa like,komen,vote serta favorit yah readerss..
Kalau readers baik hati,boleh lah beri poin hadiah buat saya,hihihi.
Terimakasihh.. Babayy...
__ADS_1