Takdirku?

Takdirku?
Di Campak Kan


__ADS_3

"Mas Andi..." April mengernyit mengetahui prang yang mencarinya ternyata adalah Mas Andi,calon suaminya.


April pun duduk dihadapan Mas Andi.Mas Andi yang tadinya sedang menyeruput segelas es teh pun jadi tersedak.


"Uhuk uhuk uhukk..."


"Hati-hati kalau minum. Pelan-pelan aja kenapa sih. Gak akan aku minta juga kok." Ucap April dengan nada ketus tapi tersirat perhatian didalamnya.


Pasalnya April langsung bergerak mengambilkan tisu untuk mengelap air yang membasahi bibir dan tangan Andi.


Andi yang mendengar nada bicara April pun tersenyum tipis di sela-sela batuknya.Andi tahu kalau saat ini pasti April masih kesal dengannya karena tak hadir saat acara wisuda tadi.


Tapi Andi senang karena se kesal-kesalnya April,tapi April masing memperhatikan Andi.


"Maaf." Ucap Andi yang membuat April terdiam dengan tangan yang masih menggenggam tisu.


"Maafkan saya yaa ." Seru Andi sekali lagi dengan senyuman manisnya.Andi memegang tangan April yang masih berada di depan dagunya itu.


April yang diperlakukan seperti itu pun gelagapan.April menarik tangannya canggung dengan pandangan yang di alihkan.


"Adek gak mau maafin Mas nih?" Ucap Andi lagi karena tak mendapat jawaban dari April.


"E-emangnya salah Mas Andi apa? Kenapa minta maaf ke aku?" Tanya April pura-pura tak tau.


"Critanya ngambek nih sama Mass...Terus Mas dikode-kode biar ngakui kesalahan Mas gitu?" Goda Mas Andi jahil.


Hari ini Mas Andi kenapa sih? Kok berubah jadi banyak bicara dan so sweet gini? Biasanya kan dia cuek banget,bahkan gak pernah nge-chat aku duluan loh. Kok ini beda banget,salah makan kali ya? Atau kepalanya habis kebentur sesuatu? sampai-sampai dia berubah jadi manusia yang hangat ? .


Batin April bertanya-tanya.April terheran-heran dengan sikap Andi saat ini.


"Kenapa kulkas dingin sekarang berubah menjadi tungku api yang hangat?" Tanya April ambigu.


"Maksudnya?" Tanya Andi mengernyit.


"Mas Andi,yang sikapnya dingin,sedingin kulkas.Kenapa sekarang banyak bicara dan perhatian?" Tanya April lagi namum dengan ungkapan yang jelas.


"Pffttt." Andi menahan tawa mendengar ungkapan April.


Ternyata dari tadi dia diam memikirkan sikapku yang tiba-tiba berubah perhatian ya? Ha ha ha,Aprill....Aprill.


Batin Andi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya karena Mas takut Adek marah.Jadi ya Mas baik-baikin Adek lah.Nanti kalau Mas cuek malah runyam urusannya." Jawab Andi dengan jujur.


April menganga mendengarnya.Bisa-bisanya Andi berucap dengan begitu jujur.


"Maafin Mas karena Mas gak datang saat wisuda tadi ya." Ucap Andi.


"Gk usah minta maaf,lagian gak penting juga kok."


"Penting...Kamu itu penting buat Mas." Sergah Andi cepat.


April hanya mendengus mendengarnya.


Krusek krusekk.


April dann Andi mendengar bunyi benda bergesekan dari Arah belakang.Namun April mengabaikannya.


"Isshhh....Diemm lah Gung." Protes Mas Yen yang mendorong Mas Agung menjauh.


"Apaan sih Yen,aku kan juga mau ngintip." Mas Agung berucap sembari menekan kepala Yen agar lebih kebawah.


"Kalian bisa diem gak sih? Nanti ketahuan April kalau kalian gerak terus dan berisik begini." Ucap Mbak Resa pelan namun penuh penekanan.


"Yen nih gak mau nunduk dikit.Kan aku juga mau ngintip,tapi gak kelihatan gara-gara kehalang rambutnya Yen." Keluh Mas Agung sembari menarik rambut Yen.


Posisi ketiganya kini sedang mengintip April dari balik dinding penghalang.Mereka bertiga berjajar dan mengintip dari celah-celah dinding yang terbuat dari anyaman bambu.

__ADS_1


Resa berada dipaling bawah dengan berjongkok.Yen berada di tengah dengan membungkuk.Sedangkan Agung berada di paling atas berdiri.


Seharusnya Agung yang berada ditengah karena Agung lebih pendek dari Yen.Karena saking asyiknya mengintip mereka jadi tak memperdulikann Agung yang kesusahan mengintip sambari berjinjit-jinjit.


Mereka bertiga kembali fokus mengintip April dan seorang laki-laki yang masih belum mereka ketahui identitasnya.


"Sepenting apa aku bagi kamu Mas?" Tanya April.


"Mas gak bisa mengukurnya Dek."Ucap Andi.


"Kenapa? Karena saking gak pentingnya kan?" Sergah April ketus.


"Karena..."


"Karena apa?" April semakin heran dengan sikap Andi yang bertele-tele dan banyak alasan.


"Karena Mas gak bawa meteran." Ucap Andi pada akhirnya.


"Hahhh ? Meteran ? Apa hubungannya Mas?" Tanya April bingung.


"Meteran kan buat ngukur Dek."


Krik krik ....Krik krikk.


Sepi


Sunyi


Senyap.


Sungguh garing lelucon Andi.


"Hedehhh..." April menghela nafas berat.


"Baiklah,Mas akan jujur kenapa gak datang di acara wisuda tadi."


April diam,hatinya dag dig dug berdangdutan dengan meriahnya.


"Mas sadar kalau hari ini kamu wisuda karena Ayah nelpon dan kirim pesan ke Mas berkali-kali.Karena ponsel Mas yang terus bunyi,lalu Mas lihat."


"Dan Mas baru buka pesan dari Adek pukul 1 siang.Begitu ingat Mas langsung meninggalkan Rumah Makan yang sedang kacau.Lalu Mas bergegas pulang untuk menemui Adek."


"Tapi ternyata Mas tetap saja terlambat.Mas sampai disekolahan pukul 5.Akhirnya Mas menemui Ayah dulu,lalu Mas kerumahmu habis magrib."


"Ternyata kata orang tuamu,kamu berangkat bekerja.Jadi Mas kangsung kesini menyusulmu." Jelas Andi panjang lebar.


Andi tak ingin April salah paham dan marah kepadanya.


Sampai segitunya kah perjuangan Mas Andi untuk menemuiku? Tapi sedang ada masalah apa dengan Rumah Makan Mas Andi? Badannya sekarang terlihat kurus,kantung matanya pun sangat terlihat jelas.Segenting itu kah masalahnya?.


Batin April menerka-nerka.


"Adek kenapa diam saja? Gak percaya sama penjelasa Mas?" Tanya Andi sendu.


"April percaya Mas." Ucap April singkat namun menenangkan hati Andi.


"Kamu itu kayak nasi goreng buat Mas Dek !" Seru Andi.


"Hah?"April mengernyit heran.


"Iya...Sama-sama sepesial." Jawab Andi dengan senyuman.


"Ha ha ha...jokesnya receh banget sih Mas."


Andi tersenyum senang karena sudah bisa membuat April tertawa.


"Lebih baik sekarang Mas Andi pulang saja lalu istirahat.Mas Andi tidur,tuh kantung matanya hitam banget kayak matanya kunti." Cingir April yang perhatian atau meledek sebenarnya?.

__ADS_1


"Ba---"


Gedubrak...


Bunyi sesuatu terjatuh yang lumayan cukup keras.Andi dan April menoleh ke sumber suara.


"Aduhhhh...."


"Aduhh sakit Antonn....Kenapa orang segede ini ditabrak sihh." Keluh Resa sambil menyingkirkan tumpukan nampan yang menimpanya.


"Aduh aduhh soryy...Aku gak tau kalau kalian sedang disini." Ucap Anton sembari menata nampan yang bertebaran.


Anton yang sedang terburu-buru membawa setumpuk nampan menabrak barisan Agung,Yen dan Resa.Karena posisi berjajar mereka saat mengintip April memang menghalangi jalan untuk masuk kebelakang.Jadilah Anton yang oandangannya terhalang nampan menabrak mereka bertiga.


"Lagian kalian ngapain sih berjejer ditengah jalan?" Sebal Anton lagi.


"Kita lagi ngintipin April yang sedang di apelin laki-laki noh di depan." Ucap Yen pelan-pelan sepertinya agar tak didengar April.


"Iyaa...Kita lagi ngintipin April,jadi jangan berisik nanti ketahuan."Sambung Resa dengan meletakkan tangannya di bibir.


"Lah...Apr--"


"Hussstttt...Udah di bilangin ngomongnya jangan keceng-kencng.Nanti kedengeran sama April Anton." Agung menutup mulut Anton yang belum selesai berkata.


"Apa?" Ucap April dengan sedikit keras.


Sontak ketiga manusia yang mengintip tadi menegang.Dengan lambat mereka menoleh menatap April yang ternyata sedari tadi sudah berdiri dibelakang mereka.


"Eh Aprill...Ngapain disini Pril?" Tanya Resa belagak polos.


"Eh iya Aprill...Kok disini,Mas-Masnya gak ditemen---nin...Loh kok udah gak ada Mas-Masnya?" Yen terkesiap sambil menunjuk ke arah meja yang tadi April duduki yang sekarang sudah kosong dan hanya menyisakan satu gelas yang nangring sendirian di atas meja.


Saat mendengar suara gaduh tadi.April sudah mengira jika cecunguk bertiga ini sedang mengintipnya.Jadi saat mendengar kegaduhan yang kedua kalinya,April segera menyuruh Mas Andi pulang dengan alasan masih harus bekerja.


Sepeninggalannya Mas Andi,April langsung ke belakang.Dan benar saja,saat sampai di jalan penghubung ke belakang.April melihat ke tiga cecunguk sedang terjatuh dengan nampan yang menimpa mereka.


"Bueehhh buehhh....Lepasin tangan elu Gung..." Geram Anton menarik tangan Agung yang menutupi mulutnya.


"Ehh maap lupaa.. he he he" Cingir Agung cengenesan.


"Cuihh...tangan lu abis kena apa ihh...Amiss bangett.." Gerutu Anton mengusap mulut dan hidungnya.


"Ohh ini...Tadi aku habis bersihin cumi-cumi,lupa belum cuci tangan." Ucap Agung polos sembari mengendus tangannya sendiri.


"Ihhh...huekkk.." Anton buru-buru berlari menuju kamar mandi untuk mencuci mulut dan hidungnya.


"Eh eh eh...ini nampannya ketinggalan." Teriak Agung melambai pada Anton yang sudah ngacir.


April pun juga berlalu begitu saja tanpa menghiraukan mereka bertiga.


"Loh eh lohh kokk..." Agung bingung celingak-celinguk.


"Gak usah lah loh lah loh...Tata nih nampan terus bawa ke belakang." Ucap Yen dan Resa bersamaan lalu pergi meninggalkan Agung sendirian dengan setumpuk nampan.


"Eh eh kok gitu sihh.." Protes Agung yang melihat semua orang pergi.


"Ckkk...kayaknya waktu kecil emak gua lupa gak bawa gue ke imunisasi campak deh." Gerutu Agung sendirian.


"Karena gue selalu di campak kan saat sudah besar."Sambung Agung lagi dengan wajah masamnya.


Sontak seluruh pembaca menyuarakan suara jangkrik ke arah Agung.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2