
"Ngapain sih di dalam? Ini kan toilet cowok. Jangan bilang kamu masuk dalam toilet cowok dengan sengaja!" ujar Nero. Mereka syok dengan munculnya Lisa dari arah itu. Lisa mendelik ke arah Nero.
Mata Lisa masih merah dan berair, tapi dia sudah bisa meringis malu. Juga bisa memukul lengan Nero.
"Jangan berteriak. Kamu bisa membuatku sangat malu," desis Lisa. Nero menutup mulutnya dengan cepat. Lisa menghapus sisa airmatanya. Hidungnya masih merah karena menangis. Srutt, srutt, hidungnya jadi berair juga karena menangis.
Aksa yang ada di dalam melongok keluar. Gadis yang masih menutupi wajah darinya itu terlihat ngobrol dengan seseorang. Dari arah Aksa berdiri, dia tidak bisa melihat orang yang sedang berbicara dengannya tadi.
Gadis itu aneh, gila dan menggelikan. Untung saja tidak orang lain yang ke toilet ini karena letaknya yang lumayan tersembunyi.
Aksa masuk ke dalam lagi untuk menyelesaikan masalah urinernya.
**
"Ibu mencarimu. Dia sedang berbicara dengan perawat." Sabo memberitahu.
Di lobi, Ibu Lisa masih membicarakan soal operasi suaminya. Lisa datang langsung mendekati ibunya.
"Bapak sudah masuk ruang operasi. Saat ini sedang di operasi." Sekarang masih patut berlega hati. Setidaknya ayah Lisa sudah ditangani sebagaimana mestinya.
Ada yang terlupakan. Dia Giri, adik laki-laki Lisa. Sekitar jam enam petang dia datang bersama adik ayah Lisa, bibi Sarah yang saat ini sedang menjalani proses perceraian dengan suaminya.
"Bagaimana keadaan bapak?" tanya Giri cemas dan khawatir.
"Bapak masuk kamar operasi," sahut Ibu. Bibi Lisa mendekati kakak iparnya. Menepuk punggung tangan Ibu yang terlihat sedih tapi tidak meneteskan airmata pun. Ibu lebih kuat.
__ADS_1
Trio berandal sudah pulang. Sebenarnya mereka memaksa tinggal. Tapi setelah Ibu Lisa dengan tegas menyuruh bocah-bocah yang masih berseragam itu pulang, mereka patuh.
Meskipun Bapak segera di tangani, tapi ada yang perlu di pikirkan lagi ... biaya operasi yang pastinya tidak murah.
***
Masih memakai seragam sekolah, Lisa mendatangi cafe kemarin. Gadis ini celingukan. Sebenarnya tadi sempat ragu mau berangkat ke sini atau tidak. Namun Lisa akhirnya berangkat juga karena teringat raut wajah sedih ibu kemarin.
Dan ajaibnya Nyonya itu masih saja ada di tempat yang sama. Duduk di kursi dekat dinding kaca seperti kemarin. Lisa mengerutkan kening sambil usap-usap dahi heran. Mungkin untuk memudahkan Lisa mencari makanya beliau tetap berada di meja yang sama.
Lisa datang tanpa memberi tahu. Karena dia berencana kabur kalau memang keadaan tidak menyenangkan. Jadi Nyonya itu tidak tahu nomor ponselnya. Lisa membuka pintu cafe.
Tring! Bunyi bel menandakan ada orang yang memasuki cafe.
"Selamat dataaangg ..." sapa pegawai yang berada di balik meja kasir ramah. Lisa tersenyum. Melihat kedatangan Lisa, Nyonya itu sumringah. Matanya berbinar. Berdiri untuk menyambut Lisa. Bola matanya melihat seragam sekolah yang di pakai Lisa.
"Ya." Lalu Lisa duduk di ikuti Nyonya itu.
"FasQa! Cepat keluarkan beberapa makanan yang ada di menu!" perintahnya tiba-tiba.
"Baik," jawab seorang pegawai cafe. Dengan lugas dan tegas Nyonya ini menyuruh pegawai itu. Bahkan menyebut nama pegawai tanpa melihat name tag di dadanya.
Lisa mencoba memindai Nyonya cantik yang duduk di depannya. Siapa nyonya ini?
Saat lima menit kemudian muncul bermacam-macam makanan cantik yang dibawa oleh dua pegawai cafe. Makanan berat ada. Camilan manis ada. Dan minuman menyegarkan juga tersedia. Mata Lisa berbinar senang melihat makanan itu. Tapi sorot mata berbinar tadi lenyap saat tiba-tiba pikirannya berganti mode waspada.
Bagaimana kalau nanti harus bayar sendiri?
__ADS_1
"Sebelum kita bicara, lebih baik kamu makan dulu. Aku yakin kamu pasti kelaparan karena baru pulang sekolah."
"Maaf, saya tidak lapar," tolak Lisa. Dia berlagak seperti itu karena takut isi dompet usang-nya bakal tipis, karena harus membayar makanan cantik ini.
"Benarkah?" Kedua alis nyonya itu terangkat. Tidak. Lisa berbohong. Dia tidak mau memakannya kalau harus mengeluarkan uang dari dompetnya sendiri. Karena pasti sangat mahal.
"Sayang sekali ..." Nyonya itu terlihat kecewa. Lisa juga sebenarnya sangat kecewa. Dalam hati dia menggigit bibir sedih tidak bisa menyuapkan makanan enak dan cantik di depan mata ke dalam mulutnya. "Aku sengaja menyuruh mereka menyiapkan dan membawakannya karena aku yakin kamu akan datang," terang nyonya itu membuat kerut di dahi Lisa terlihat.
"Menyuruh mereka menyiapkan untuk saya? Jadi mereka ... " tanya Lisa seraya melihat ke arah karyawan cafe ini.
"Benar. Mereka adalah pegawai ku. Aku adalah pemilik cafe ini."
Yups! Rasa penasaran mu terjawab nona Lisa. Pertanyaan mu juga terjawab. Mengapa nyonya ini selalu di sini? Mengapa selalu di duduk di meja yang sama? Karena dia adalah pemilik cafe ini. Dia bebas melakukannya.
"Jadi makanan ini untuk menyambut kedatangan saya, Karena Anda yakin saya pasti datang?"
"Benar. Aku merasa pasti bertemu denganmu lagi. Jadi Ini memang jamuan makan yang sengaja aku berikan kepada kamu sebagai tamuku. Terimalah sebagai terima kasihku karena mau memenuhi undangan ku untuk berbicara lebih leluasa."
Bingo! Lisa manggut-manggut paham dan berpura-pura tenang. Dalam hati dia berteriak dan menari kegirangan karena jamuan makan enak dan cantik secara ... gratis!
Namun ... ada hal penting daripada sekedar mendapat makanan ini secara gratis. Biaya rumah sakit Bapak.
"Saya ... ingin bicara dengan Anda."
____
TUNANGAN PALSU
__ADS_1